For You My Prince (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 18 April 2017

“Kenapa? Dari tadi ibu liat kamu galau terus, lagi mikirin apa, sih?” wanita paruh baya itu duduk di sebelah Nana yang merenung memandang jendela. Ia dapat melihat rumah mewah yang tak jauh dari rumahnya, rumah yang di dalamnya ada seorang pria yang sudah menyakitinya. Memporak-pondakan perasaan dan hatinya.
“Lagi jatuh cinta,” jawab Nana seadanya, yah memang itu kenyataannya.
“Jatuh cinta? Sama siapa?” Ibunya mulai penasaran.
Nana mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya. “Kayaknya sekarang aku harus mulai jujur sama Ibu,” Nana menggeser posisi duduknya, mendekati sang Ibu kesayangannya. Berusaha membangun suasana nyaman ketika mengutarakan unek-unek yang semakin menggebu-gebu di setiap harinya. Mungkin, dengan bercerita pada Ibunya akan membuat perasaan lebih tenang dan lega. Meskipun tentang cinta, Nana yakin Ibunya akan mengerti.

“Gini, bu. Aku tuh lagi jatuh cinta sama anak pemilik rumah itu,” Nana menunjukkan telunjuknya ke arah rumah yang sedari tadi diperhatikannya. Rumah dengan desain elegan dan cat berwarna gading. “Ibu kan tau sendiri, dia itu satu sekolah dan satu kelas sama aku. Jadi wajar kan kalau aku suka sama dia, orang dianya ganteng banget.”
“Terus?”
“Aku udah beberapa kali ngasih tau perasaan aku yang sebenernya, tapi dia selalu cuek. Bahkan aku udah dandan yang cantik cuma pengen bikin dia lirik aku, tapi…, ahh semuanya sia-sia.”
Ibunya mengerutkan kening setelah mendengar kisah putrinya yang sangat mengibakan. Tapi tanpa sepengetahuan Nana, ibunya itu diam-diam mengulum senyumnya.
“Ternyata cinta bukan dilirik dari penampilannya, tapi mungkin karisma yang dimilikinya,” Nana pasrah, menyerah tak akan memaksakan harapannya untuk menjadi kenyataan.

“Kamu gak salah jatuh cinta sama anak itu?” tanya Ibunya tak menyangka.
“Emang kenapa, bu?”
“Jadi selama ini kamu liatin kecantikan kamu di depan dia?”
Nana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya allah Naa, mana mempan!”
Nana mulai bingung dan tercenung kala itu juga. Sebenarnya apa yang tengah dikatakan ibunya ini?
“Aaah kamu ketinggalan zaman. Sini dengerin ibu.”

Beberapa hari yang lalu, Ibu Nana tiba-tiba kedatangan tamu. Tamu pria dan wanita paruh baya, mereka nyatanya adalah sepasang suami dan istri. Wanitanya memakai jilbab panjang dengan kerudung yang menutupi bagian kepala badannya, dan prianya juga berpakaian panjang layaknya seorang Ustad. Dengan kedatangan mereka membuat Ibu dari Nana itu merasa malu dan minder, karena ia jarang memakai kerudung, Ibu Nana memang cuek dalam penampilannya. Tapi, dia mencoba bersikap ramah di depan mereka dan mempersilahkan mereka masuk.

Ternyata, maksud kedatangan mereka adalah untuk bersilaturahmi kepada para tetangga. Untuk menyambungkan tali persaudaraan pada sesama. Bahasa yang mereka gunakan juga sangat sopan dan kadang diselingi dengan bahasa arab.
“Rasanya tidak enak jika kami satu komplek tidak saling mengenal satu sama lain. Ada baiknya kita bersilarurohim agar memperkuat tali persaudaraan. Kita ini satu, jadi sudah seharusnya kami berkenalan.”
Ibu Nana hanya tersenyum dan menjawab dengan sopan pula. Kedua orang di hadapannya ini begitu membuatnya merasa kagum. Dia juga berandai-andai bahwa anak laki-lakinya itu bisa berjodoh dengan anaknya, Nana.

Lumayan banyak yang mereka bincang-bincangkan.

Setelah mendengar cerita dari ibunya, kini Nana berdiri di depan cermin. Ia dapat melihat lekak-lekuk tubuh wajahnya dalam pantulan bayangan cermin. Pandangannya kosong, tak ada sirat bahagia ataupun sedih. Ternyata selama ini ia mencintai seorang anak yang mempunyai ilmu agama tinggi. Tanpa sepengetahuannya, mau bagaimanapun ia berdandan cantik tak akan pernah membuat pria pujaannya tertarik. Harapannya seketika pupus.

Nana melangkahkan kakinya ke dekat lemari, dia membuka lemari tersebut dan mulai mencari sesuatu.

Tak lama kemudian, Nana kembali berdiri di depan cermin dengan sebuah kerudung segi empat warna ungu muda di tangannya. Nana melipat kerudung itu membentuk segitiga. Perlahan, ia mulai memakaikan kerudungnya di atas kepala, sekarang rambutnya sudah tertutupi dengan kain indah itu. Nana dapat melihat jelas penampilannya sekarang, ia tak bisa berkomentar apa-apa, apakah ini pantas atau tidak? Cantik atau tidak? Bagus atau sebaliknya?

Jika seperti ini, apakah Adlan akan meliriknya?

Nana membuka kerudungnya dengan kasar lalu melempar benda itu ke atas kasur dengan raut sebal. Apakah dengan berkerudung akan mendapatkan cinta dari Adlan? Dia sudah berkata bahwa ia sudah mempunyai seorang wanita pilihan. Dalam benak Nana, pasti perempuan itu cantik dan berjilbab syar’i, yang pastinya mempunyai sifat sangat baik serta ilmu agama yang sangat luas. Sangat berbeda jauh dengan dirinya.

Mungkin cinta bertepuk sebelah tangan benar-benar telah terjadi dalam hidupnya.

Esoknya, Nana kembali ke sekolah. Tepat di lawang pintu, Caca menghampirinya dengan sangat antusias dan bersemangat. “Nanaaaa!!” teriaknya kegirangan sembari menyimpan kedua tangannya di bahu Nana.
“Kenapaa?”
“Na! Ada kabar bagus buat lo!”
“Kabar apa?” tanya Nana dengan nada rendah, moodnya benar-benar sudah hilang.
“Adlan! Adlan!”
Nana mengernyit. “Adlan?”
“Adlan bilang sama gue kalau dia pengen bicara sama lo! Dia lagi nunggu lo di lapang basket!”
Nana melongo, ia baru saja mendapat kabar yang tidak disangka-sangka. Diajak bertemu dengan laki-laki dingin yang tak pernah bicara itu? Apakah telinganya tak salah mendengar?
“Duuh kebanyakan mikir deh! Udah sanaaa, siapa tau dia mau ngasih lo kepastian.”
Masih dalam rasa tak menyangkanya, Nana lantas berlari dari hadapan Caca menuju tempat yang diberitahu sahabatnya itu. Semoga saja ini bukan candaannya. Apa memang seperti ini cinta? Sempat disakiti tapi tetap saja menanggapi apa yang dilakukan pria yang menguasai hatinya, tetap saja tak bisa mengusir dia dari dalam pikiran.

Kedua kakinya tiba dalam ruang lapangan basket yang lumayan gelap. Nana melambatkan langkahnya menyusuri ruang itu sambil memandang di sekelilingnya. Perlahan, matanya menangkap sesosok pria yang tengah berjalan ke arahnya. Sudah pasti itu adalah Adlan.
Sama-sama berjalan, keduanya pun berhadapan dengan dekat.

Adlan memandang wajah Nana yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Gadis itu tampak murung dan tak bersemangat, bukan Nana yang ia kenal. Nana mengunci mulutnya rapat-rapat, dan tak mau melihat wajah Adlan, takut jika cintanya malah tetap berlanjut dan tak akan pernah berhenti.

Nana tidak tahu, jika kemarin Adlan sempat melihat tangisannya di belakang sekolah dengan Caca. Adlan juga bisa mendengar ucapan-ucapannya.

“Maaf, Na,” ujar Adlan di tengah keheningan.
“Sekarang aku tau, kamu siapa,” ucap Nana. Gadis itu bahkan tidak menggunakan bahasa lo guenya lagi karena merasa tak enak.
“Siapa?”
“Selama ini aku salah, aku salah karena udah cinta sama kamu. Aku bahkan malah mempercantik diri aku supaya dapet perhatian dari kamu, tapi nyatanya tetep gak mempan juga. Dan sekarang aku tau, kamu gak akan pernah suka sama aku, karena kamu pasti laki-laki yang soleh dan pastinya pengen dapetin perempuan yang alim,” jelas Nana.
Adlan tersenyum sampai membuat Nana mendongkak. Mengapa pria ini malah tersenyum?
“Terus?”
“Mana mungkin kamu mau pacaran sama aku?!”
“Na, apa setiap anak ustad juga anaknya alim? Contohnya, gue, apa gue sealim itu? Kalau gue laki-laki yang gitu, mana mungkin gue sekolah di sini. Yang ada, gue bakal tinggal di pesantren,”
“Maksudnya?”
“Gue emang gak terlalu terikat sama ilmu agama, tapi gue punya satu janji. Iya emang bener kata lo, gue ini pengen dapetin perempuan yang alim. Dan janji gue adalah itu, bisa nikah sama perempuan yang tutup semua auratnya.”
“Ya yaaa aku tau!”
“Tapi kalau lo cinta sama gue, apa lo bisa tutup aurat lo?”
Seketika Nana tercenung. Apa sekarang Adlan telah memberinya kesempatan?
“Kamu mau ngasih kesempatan? Terus? Gimana sama perempuan incaran kamu itu?”

“Nanaaa…,”
“Apa?”
“Kapan sih lo pekanya?!”
“Peka apa?” Nana semakin bingung.
“Perempuan yang dimaksud gue itu elo.”
“Hah?” kedua matanya terbelalak.
“Itu sebabnya gue tanya, apa lo bisa tutup aurat lo?”
Nana yang masih terkejut hanya gelagapan dengan kedua pipi yang bersemu merah. Jantungnya berdegup kencang.
“Jadi… Jadi…”
“Gue cuek kaya gini karena gue sama sekali gak tertarik sama perempuan-perempuan di sini. Dan maksud gue gak pernah lirik lo itu, karena gue pengen buktiin kalau gue suka sama perempuan bukan dari penampilannya.”
“Jadi… Sekarang apa? Kita pacaran aja!” seru Nana antusias. Dia benar-benar senang telah mendapat jawaban dari Adlan yang jauh dari benaknya. Tak menyangka jika Adlan juga menyimpan perasaan yang sama.
“Tapi maaf Na, gue gak bisa jadi pacar lo…,”
Saat itu pula ekspresi Nana berubah.
“Gue gak bisa pegang tangan lo saat gue nyatain perasaan gue ke perempuan yang gue cinta. Gue gak bisa ngejalanin hubungan kaya pasangan lain. Karena yang gue tau, itu semua adalah hal yang haram, kita bukan mukhrim. Meski gue gak terlalu paham tentang ilmu agama, yang gue pegang teguh cuma itu. Gue gak bisa jadi pacar lo dan lo juga gak cocok jadi pacar gue, lo lebih cocok jadi istri gue, nanti.”
Nana bungkam. Sulit untuk merangkaikan sebuah kalimat. Semua kata hilang dari pikirannya.

“Apa lo bersedia, Nana? Lo bisa nunggu itu? Gue akhirnya bisa ngungkapin yang sebenernya. Karena gue takut kalau lo akhirnya berhenti cinta sama gue.”
“Aku cinta banget sama kamu Lan! Mana mungkin aku gak mau nunggu itu? Dan kamu tenang aja, aku bakal berusaha buat tertutup…,”
“Bukan karena gue, tapi karena keikhlasan lo, Na.”
Nana menangguk-anggukan kepala penuh semangat.
“Udah. Gue cuma pengen bilang hal ini aja. Jangan nangis lagi,” tutup Adlan sebelum pergi, dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Nana yang tengah berteriak kegirangan dalam hatinya.

Sungguh, Nana sangat bahagia, hasratnya terbang setinggi awan. Cintanya sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, ia tak akan pernah menjalani kata pacaran. Tak apa, yang penting ia bisa mendapatkan cinta dari pria pujaannya. Apakah ini mimpi?

Impiannya kini telah menjadi kenyataan. Cinta pertama yang begitu indah, penantiannya tak sia-sia. Pria yang membawanya pada sebuah kata cinta serta yang membuatnya menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Nana tahu, semua perempuan diwajibkan untuk menutup seluruh auratnya. Dan mulai sekarang, ia harus bisa menjalani perintah Tuhan itu. Tidak semua pria menginginkan kecantikan dari perempuan, sekarang Nana mengerti akan hal itu.

Tak selamanya cinta membawa pengaruh buruk. Malah, cinta itu yang menuntun Nana untuk menjadi perempuan yang lebih baik. Cinta bukan hanya dijalankan dengan sebuah hubungan antar kekasih. Seperti apa yang Adlan katakan. Nana mempunyai satu prinsip, yaitu tak akan memamerkan kecantikannya pada pria manapun, ia hanya akan memberikan itu kepada suaminya, nanti.

Mengapa dulu Tuhan tak pernah memberikan pria untuknya? Nana mendapat jawabannya.

Perempuan baik hanya akan mendapatkan pria baik pula, begitupun sebaliknya. Kita hanya perlu intropeksi diri. Jika yang kita dapatkan adalah laki-laki brengsek, lihat bagaimana dengan kita sendiri, apakah kita juga brengsek? Tuhan memberikan Adlan untuk Nana, mengapa? Yah mungkin, Nana memang perempuan yang baik, itu sebabnya Tuhan memberinya jodoh yang baik pula. Jadi, jangan pernah bersedih saat Tuhan tak kunjung memberikan jodoh.

Satu perempuan hanya untuk satu laki-laki. Jangan pernah memberikan tebaran pesona kepada para lelaki, kamu hanya boleh memberikan itu pada jodoh kamu, kelak.

Nana menutupi seluruh auratnya, dari mulai kepala hingga ujung kaki. Kerudung berwarna pink dan jilbab warna pinknya juga terkesan indah dan cocok di tubuhnya. Tak lupa cadar panjang yang menutupi hidung mancung dan bibirnnya yang merah, kini yang terlihat hanya kedua matanya saja. Kini Adlan sudah berada di depannya, pria itu memandang Nana tanpa berkedip, mengagumi perempuan yang sudah sah menjadi istrinya. Perlahan, tangannya terangkat, menyentuh cadar yang menempel di wajah Nana, lalu pelan-pelan Adlan membukanya. Setelah berhasil terbuka, Adlan bisa mengintip senyuman merekah di bibir Nana. Gadis itu tersenyum untuk suaminya, hanya diberikan untuk suaminya seorang, untuk pangerannya seorang. Mereka saling memandang penuh kekaguman.

“Aku gak akan biarin orang lain liat kecantikan kamu. Aku gak akan biarin orang lain liat senyum kamu. Karena kecantikan dan senyum kamu, itu semua adalah milik aku. Dan kamu, harus persembahin itu cuma untuk aku, Nanaku.”

Nana kembali tersenyum.

Adlan lantas menggendong tubuh Nana. Nana sempat tergelak tapi akhirnya dia tertawa, disusul dengan tawaan Adlan pula. Dia membawa Nana menuju kamar dengan candaan mereka. Adlan membuka pintu kamar dan menutupnya lagi dengan rapat

Kini, yang terlihat hanya permukaan pintu. Entah apa yang dilakukan mereka pada malam itu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Jaisi Quwatul
Facebook: Jaisii Quwatul Airen Lsg

Cerpen For You My Prince (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stalker

Oleh:
Kamis, 02 Januari 2014 Matahari di atas tangga menyambutku pulang. Namun dia masih tetap membaca saat aku ada di dekatnya. Dan aku mencoba duduk bersila tanpa bermaksud mengusik bacaan

Berpisah

Oleh:
Kenalkan namaku Halwa. Aku mengajar paud. Usia ku 20 tahun. Aku memiliki kekasih bernama Hasan. Kami menjalani hubungan selama hampir 4 tahun. Akhir-akhir ini dia berubah. Dia bahkan tidak

Ramadhan in Love

Oleh:
Sifa adalah seorang pelajar di sebuah SMA favorit di daerahnya, ia berhijab semenjak menduduki bangku MTs, ia adalah gadis desa yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Pengetahuan

Love You Good Bye

Oleh:
Aku merindukanmu Hanya itu yang ingin gadis itu sampaikan. Gadis yang kini berdiri dengan mata nanar di koridor sekolahnya, membiarkan rambut tergerainya berantakan akibat terpaan angin yang berlalu lalang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “For You My Prince (Part 2)”

  1. sofranyta says:

    Nice (y) aku suka banget cerpen ini wuwww apalagi aku juga suka drakor Naughty Kiss #best-lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *