Gadis Sepertiga Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 28 October 2016

“Shodakallahhuladzim…”
Nada menutup Al-Qur’an lalu menciumnya, seraya berdo’a “Ya Allah lindungilah aku dari sifat sombong, iri dan dengki. Jauhkanlah aku dari segala sesuatu yang membuat diriku buruk di mata MU.” Nada pun melepas mukena dan merapikanya.

Seperti biasa, seusai solat isya Nada langsung membuka leptopnya dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Nada adalah putri seorang kiai yang memiliki pondok pesantren di daerah Malang. Tubuhnya yang tinggi, putih dengan wajahnya yang mungil dan memiliki mata sipit dengan bulu lentik, bibir merah tipisnya yang saat tersenyum selalu menampakan lesung pipinya yang membuat dia semakin cantik. Hidung mancung yang ia dapat dari ayahnya membuat wajahnya semakin sempurna seperti mimik orang arab. Wajar saja jika banyak lelaki yang mengidam-idamkan Nada, setiap kali ia berjalan dari parkiran menuju kelas, setiap mata memandang tertuju padanya, seraya mengagumi keindahan wajah yang dimilikinya. Nada adalah wanita soleha yang memiliki kepribadian yang baik, sifatnya yang tegas dan selalu mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain terkesan karena kata-katanya selalu dilandasi dalil-dalil. Penampilanya selalu sederhana dan elegan dengan kerudung panjang menutupi dada yang ia kenakan selalu menjadi ciri khas tersendiri untuknya.

Saat ini Nada duduk di bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri islam di Malang. IPKnya selalu cumlaude dari semester satu sampai semester akhir, dia mendapatkan beasiswa dari kampus karena kecerdasannya itu yang selalu mendapat IPK di atas 3,80. Walaupun cantik dan cerdas nada tidak pernah sombong dan memilih teman. Baginya siapapun temannya itu asalkaan dia baik dan mau berteman dengannya. Ia selalu bergaul dengan siapapun tanpa melihat kasta. Nada selalu bertutur kata sopan dan lembut kepada siapapun.

Kumandang azan subuh terdengar, Nada sudah berada di masjid sejak sepertiga malam untuk mengerjakan solat-solat sunah. Seperti solat tahajud, Hajat dan Witir. Seusai solat subuh Nada biasa mengajari para santri yang notabennya pelajar SMP dan SMA membaca Al Qur’an. Setelah selesai Nada langsung bergegas bersiap-siap untuk ke kampus. Sebelum ke kampus Nada sarapan bersama ayah handa tercintanya. Berhubung ibunya sudah meninggal semenjak Nada berusia 7 tahun, nada selalu sarapan berdua bersama ayahnya.

“Abi, Nada berangkat dulu yahh….”
“tunggu sebentar ndo, ada yang ingin abi bicarakan denganmu.” dengan tampang serius Abi memandang wajah Nada. Nada pun terheran-heran karena raut muka yang ditunjukan abinya itu.
“iya Abi, abi mau bicara apa sama Nada?”
“kamu sudah hampir wisuda ndo, umurmu juga sudah pantas untuk menjalin rumah tangga, Abi ingin kamu segera menikah selepas wisuda, agar kamu bisa terjaga dari sesuatu yang diharamkan Allah. Abi pun sudah mempunyai calon untukmu, dia laki-laki baik anak teman ayah. Dia lulusan kedokteran dari Al-Azhar dia sangat soleh dan abi harap kamu mau mengenalnya.”
Nada tak menduga Abinya akan berkata demikian kepadanya. Nada pun kebingungan untuk menjawab pertanyaan Abinya itu, karena takut salah menjawab dan melukai perasaan Abinya. Nada pun menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan matanya beberapa saat. lalu menjawab dengan nada halus.
“Abi, bukannya Nada tidak ingin menuruti kemauan abi ataupun hendak mengecewakan abi, Nada sangat menghargai keputusan abi tapi nada belum siap untuk menjalin rumah tangga. Nada masih ingin mengabdikan diri untuk masyarakat dan berguna untuk bangsa ini. Nada masih ingin berkelana untuk membagikan ilmu yang sudah Nada dapat selama ini di pondok maupun di bangku kuliah. Dan Nada pun ingin memilih pendamping hidup sesuai pilihan Nada sendiri. Yang pasti sesuai dengan kriteria yang abi inginkan.”
Sambil tersenyum abi menjawab “Abi bangga denganmu ndo… Abi sangat menghargai keputusanmu. Tapi kamu harus membawa pendampingmu yang soleh dan benar-benar berjuang di jalan allah.”
“insyallah Abi… Kalau begitu nada berangkat ke kampus dulu yah bi.” nada pun mencium tangan abinya dan bergegas ke kampus dengan mobilnya.

Dari belakang Zahra merangkul sahabatnya yang sedang melamun itu “assalamualaikum ukhti, masih pagi udah ngelamun aja. Lagi mikirin apa hayo…~
“walikumsalam… Aku bingung ra, Abiku menyuruhku untuk segera menikah setelah wisuda. Abi juga sudah menyiapkan pilihannya untukku, tapi aku belum siap dengan keputusan Abi .”
“tak apa jika kamu menolak asalkan dengan niat yang baik, aku tau kamu masih ingin berbakti untuk masyarakat dan mengamalkan ilmu yang sudah kamu dapat”
“terimakasih ra, karena sudah menjadi sahabatku yang baik” sambil memeluk zahra
“oh yah nad, setelah wisuda kita jadi kan?”
“insyallah jadi ra..”

Zahra adalah teman Nada sejak semester satu, dia berasal dari Surabaya dan dari desa yang cukup terpencil dengan keadaan penduduk yang minoritas pengetahuan agama islamnya. minum-minuman, judi dan pelecehan s*ksual masih kerap terjadi di desanya. Tujuan sejak awal Zahra kuliah adalah untuk mengembangkan desanya tersebut. Dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan oleh masyarakat di desanya itu. Bulan lalu Zahra mengajak Nada untuk membantu memberi pembinaan di desanya itu. Nada yang mendengar cerita sahabatnya itu langsung terketuk pintu hatinya untuk ikut membantu dan berperan serta berdakwah di desa tersebut.

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, dimana saat para kaum hawa memakai kebaya. Dan para kaum adam memakai kemeja putih Serta toga yang mereka kenakan. Para keluarga datang dengan pakaian rapi serta membawa serangkaian bunga untuk mereka serahkan ke anak-anak kebanggaannya masing-masing karena telah resmi mmenjadi sarjana. Nada datang ke kampus bersama Abinya dengan kebaya hijau dan baju ciri khas para wisudawan yang lain. Kecantikannya semakin terpancar dengan make up yang tidak terlalu tebal dan tatanannya yang feminin. Senyum indah yang terpancar dari bibirnya menambah aura kecantikan wanita muslimah itu. Nada sangat bersyukur karena telah dapat lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan. Nada menjadi mahasiswi terbaik pasca kelulusannya itu.

Nada turun dari mobil bersama Abinya seusai acara wisuda di kampus. Para santri menyambut Nada dengan iringan hadroh yang dibawakan oleh para santri putra. Santri putri membawa beberapa rangkaian bunga mawar yang akan diberikan kepada ustazah tercintanya itu. Nada turun dari mobil, menerima beberapa rangkaian bunga dari para santri, memeluk para santri dengan perasaan senang dan terharu. Seusainya mereka berfoto bersama di depan pondok tercintanya itu. Semua santri sangat senang dan berantusias memberikan selamat kepada ustazah tercintanya itu, senang bercampur sedih, yah itulah yang dirasakan seluruh santri termasuk Abinya. Karena setelah satu minggu kemudian Nada akan pergi mengabdi kepada masyarakat, menyiarkan agama islam yang sudah menjadi kewajibannya. Nada akan pergi ke surabaya bersama Zahra, membantu menyadarkan para masyarakat di sana agar dapat menjauhi kebiasaan buruk.

Satu minggu berlalu, Zahra bersama Nada berpamitan kepada abinya untuk berangkat ke surabaya, suasana haru mengalir di dalam ruang tamu. Abi sebenarnya khawatir akan keputusan yang diambil Nada untuk pergi ke kota surabaya itu. Tapi Nada terus meyakinkan abinya bahwa dia melakukan ini sebagai bentuk pengabdiannya kepada negeri serta masyarakat, karena telah diberi kecerdasan yang harus ia baktikan kepada masyarakat.

“Abi, Nada pamit dulu. Nada mohon restu dan keiklasan Abi. Abi harus jaga kesehatan yah…” sambil memeluk abinya
“iyah ndo.. Jaga dirimu baik-baik di sana, niatkan semuanya untuk berjuang di jalan Allah semata.” Setelah berkata Abi mencium kening Nada
“assalamualaikum abi” sambil mencium tangan Abinya
“walikumsalam” sambil menepuk-nepuk bahu Nada.

Nada pun bergegas naik mobil bersama Zahra, mobil perlahan berjalan meninggalkan pondok dan menuju surabaya. Setelah beberapa jam di perjalanan mereka hampir sampai ke tempat tujuan, medan yang dilalui cukup sulit karena jalannya masih belum rata dan rusak. Mereka turun tepat di depan gang menuju rumah Zahra, mobil sudah tidak dapat menjangkau kediaman Zahra, karena jalannya licin dan sempit. Di sebelah kanan gang terlihat para pemuda yang sedang bermain kartu dan ditemani minuman keras. Nada tidak kaget karena sebelumnya sudah diceritakan bagaimana keadaan desa tersebut. Mereka tetap berjalan ke arah rumah Zahra, sesampainnya di sana mereka disambut keluarga serta kepala dusun. Tak lupa jamuan sederhana yang dihidangkan oleh keluarga Zahra.

Selepas sholat isya Nada bersama Zahra dan kepala dusun membahas kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh Nada selama di sana. Nada harus mengajar TPQ yang sudah lama vakum pada sore hari. Di pagi harinya seusai solat subuh Nada mengajarkan baca tulis Al-Quran kepada ibu-ibu rumah tangga, Mengisi pengajian rutinan setiap malam jumat untuk para jamaah seusai solat isya, mengisi pengajian di hari minggu pagi untuk para pemuda pemudi desa. Nada menyepakati semuanya dengan senang dan tanpa mengharapkan imbalan apapun, yang dia harapkan hanyalah semua yang dia lakukan bermanfaat untuk banyak orang.

Suara azan subuh berkumandang nada sudah berada di masjid sejak jam tiga pagi untuk melakukan solat tahajud, Nada biasa membaca Al-Quran sambil menunggu azan subuh. Jama’ah pun berlangsung, seusainya nada mengajari para ibu-ibu untuk membaca Al-Quran. Pelan-pelan, dan penuh dengan kesabaran Nada mengajarkannya. Saat Nada tengah asik mengajari ibu-ibu membaca Al-Quran di balik satir ada seorang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengan kiai di sana. Pemuda itu bernama Azam. Dia pemuda asli surabaya yang tampan. Azam lulusan kedokteran dari Al-Azhar yang tengah mengabdikan diri di desa tersebut. Azam anak seorang kiai yang cukup terkenal di surabaya. kiai Mustofa, beliau adalah ayah azam yang sering mengisi pengajian di berbagai tempat. Azam terpesona mendengarkan suara wanita yang dari sepertiga malam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran itu. Azam menanyakan kepada pa kiai tentang gadis yang membuatnya terpesona itu. kiai pun menjelskan tentang mengapa dan untuk apa kedatangan Nada ke sini. Azam semakin penasaran dengan Nada yang menurutnya wanita soleha yang ia idam-idamkan selama ini.

Keesokan harinya Zahra mengajak Nada untuk menghadiri dan membantu acara imunisasi di balai desa, Zahra mengenalkan Nada kepada Azam selaku teman lamanya serta dokter yang akan melakukan imunisasi di balai desa. Zahra dan Azam sudah saling kenal sejak SMA, Azam sengaja meminta bantuan kepada Zahra untuk membantunya, karena Azam tahu bahwa Zahra baru saja pulang dari Malang.
“Assalamualaikum zam, udah lama yah…”
“Walikumsalam ukhti…oh nggak juga kok,” selintas azam memandang ke arah Nada, lalu tersenyum
“kenalin ini Nada, temenku dari Malang. Nada dia Azam, teman SMA ku.”
Nada pun tersenyum melihat Azam, mereka tanpa sadar berbincang-bincang dengan asyik. Mereka mengenal satu sama lain, serta berbincang tentang keberadaannya di desa tersebut.

Setelah acara imunisasi selesai mereka diajak makan siang bersama oleh kepala desa dengan menu yang alakadarnya. Mereka semakin akrab satu sama lain, membincangkan pengalaman-pengalaman mereka masing-masing. Mereka sering saling sapa dan bertemu di TPQ, karena kebetulan Azam juga mengajar TPQ di sana.

Setelah lima bulan berlangsung Azam semakin yakin untuk mengkhitbah Nada untuk menjadi calon istrinya. Dengan keberaniannya Azam bicara langsung kepada Nada bahwa dirinya menyukai Nada sejak pertama bertemu. Azam ingin menghalalkan hubungan mereka dengan suatu ikatan pernikahan. Nada pun tersenyum sambil berkata “jika kamu benar-benar serius silahkan datang bersama keluargamu untuk menemui ayahku dan meminta restu kepadanya.” Azam sangat senang mendengar jawaban yang didengarnya.

Dua hari setelah itu Nada pulang ke kampung halamannya dan memberitahukan kabar gembira itu kepada Abinya. Abinya pun ikut senang mendengar kabar demikian. Keesokan harinya rombongan keluarga Azam datang ke kediaman Nada. kiai mustofah turun dari mobil bersama istrinya dan juga Azam. Saat melihat ke arah calon besannya tersebut beliau tak menduga, ternyata calon besannya adalah temannya dulu saat di pondok pesantren. Mereka langsung berpelukan selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu. Mereka tidak menyangka perjodohan yang pernah mereka rencanakan akan berhasil dengan cara seperti ini. Karena sebelumnya kiai mustofah menerima pesan permohonan maaf karena perjodohan mereka tidak bisa dilanjutkan karena nada tidak bisa menerima perjodohan dari ayahnya itu.

Nada dan Azam sangat terkaget dengan pembicaraan Abinya itu. Nada tak menyangka ternyata pria yang ia tolak dari perjodohan Abinya itu adalah Azam, pria yang saat ini ada di hadapannya. Azam pun tidak menyangka wanita yang menolaknya itu adalah Nada, wanita baik dan soleha yang saat ini sangat dicintainya. Tapi mereka berdua sangat bersyukur dapat dipertemukan dengan cara seperti ini. Seperti dalam surat An-Nur ayat 26, “Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” Mereka saling bertatap muka lalu tersenyum satu sama lain.

Cerpen Karangan: Retno Asih
Facebook: Re Re
Asal kota dari tegal
mahasiswa semester 3 di IAIN PURWOKERTO
hobi menulis dan membaca.

Cerpen Gadis Sepertiga Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudah Cukup

Oleh:
“Lo gak ikut nyokap-bokap lo ke Paris Fan?” Tanya Bram, si vokalis band Pro Fine, kepada salah seorang personil Pro Techo yang baru datang di studio pribadi Pro Fine.

Kaukah Itu?

Oleh:
“Oke, waktu kalian tiga menit untuk menghafal semua kata ini dari sekarang” Nafisa memberikan penjelasan kepada anak-anak yang tengah duduk di hadapannya. Sesekali dirinya melirik ke arah teriknya matahari.

Hijrah dan Hijab

Oleh:
Fajar perlahan-lahan mulai menampakan sinarnya dari ufuk timur, matahari bersinar lebih cerah pagi ini seolah memberi isyarat kebahagiaan setelah malam menyelimutinya tadi. Ada yang aneh di sekolah hari ini.

Abu Abu Dalam Biru Langit

Oleh:
Pagi yang ceria, meski Sang Mentari malu-malu menampakkan sinar hangatnya. Musim telah berganti. Memanggil angin mendung, menyibak kabut tebal yang menyelimuti bumi. Begitu sinarnya tiba, semua bahagia, bunga bermekaran,

Ooh Cinta, Haruskah Begini?

Oleh:
Cinta, sebuah kata yang tak asing lagi bagiku, tapi aku tak tau betul bagaimana rasanya jatuh cinta.. Cinta, jika ingat kata itu maka akan muncul di hatiku rasa amarah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *