Getaran Apakah ini?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Kamis siang di sekolah saat itu sedang diguyur hujan deras. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku yang ingin segera pulang dengan terpaksa menunggu sejenak di sekolah hingga hujannya mereda. Cuaca siang itu tidak bersahabat, hujan begitu deras hingga aku dan teman-teman harus menunggu cukup lama di sekolah karena terjebak hujan.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 dan hujan telah mereda, aku yang amat teringin pulang segera saja melangkahkan kakiku menuju parkiran untuk mengambil motor. Suasana sekolah masih ramai sore itu, banyak siswa-siswi yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing termasuk anak hizbul wathan (hw) yang sedang melakukan gladi bersih untuk persiapan upacara milad muhammadiyah dan hw esok hari. Terlihat kakak-kakak kelas 12 sedang mengobrol di samping parkiran dan beberapa anak jurusan administrasi perkantoran (AP) juga mengambil motornya setiba aku di tempat parkiran.

Sejenak kutunggu hingga mereka usai mengambil motor, sambil melangkahkan kaki kulihat ke arah masjid yang berada di depan parkiran motorku dan betapa bahagianya aku saat melihat sosok laki-laki yang begitu kukenal bahkan aku memiliki perasaan terhadapnya. Yah dia laki-laki itu yang sedang duduk sendiri di serambi masjid, masih kuingat dengan jelas saat aku baru mengetahui namanya bertepatan dengan hari kelahirannya 30 September dan saat itu juga aku langsung mencari tau facebooknya dan berteman dengannya.

Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, kami memang sering bertemu di masjid sekolah karena sekolah kami berhadapan (aku di smea dan dia di stm) dan setiap kali bertemu kami saling bertukar senyum walaupun kami belum tau nama dia yang selalu disenyumin tapi lewat senyuman itu lah kami merasa begitu dekat dan tertarik ingin mengenal satu sama lain.

Kembali ke cerita awal di parkiran motor, kulirik dia dan terlihat dia sedang memandangiku sambil tersenyum dan kubalas kembali senyumnya. Senyum yang sama yang selalu kulihat setiap kali bertemu dengannya, senyum yang mampu membangkitkan geloraku disaat aku begitu terpuruk, senyum yang mampu menghipnotisku hingga aku terpaku melihatnya, senyum itu amat manis hingga tiada henti ku memikirkannya, senyum yang akhirnya menimbulkan sebuah getaran yang tak terkendali. Getaran apakah ini?

Masih di parkiran ketika ku mendekat ke arah motor, kulihat motorku masih di antara beberapa motor dan aku begitu bingung bagaimana mengeluarkannya. Masih dalam kebingungan dan belum sempat mencari bantuan dia laki-laki yang sedari tadi duduk di serambi masjid datang berlari menghampiriku terlihat dari raut wajahnya bingung antara membantuku atau tidak, dan aku sangat terkejut tiba-tiba dia sudah di sampingku dan bertanya “pundi?” dengan malu-malu kujawab lirih “ini” sambil menunjuk ke arah motor revo berhelm putih itu. Dan taukah bagaimana rasanya? Jantungku berdegup kencang, seluruh tubur gemetaran begitu hebatnya, wajahku pucat pasi, tenggorokanku seakan-akan tercekik, aku salah tingkah dan rasanya begitu lemas oleh getaran yang amat hebat dan tak terkendali itu hingga terlihat jelas ketika memegang motor pun ikut gemetar. Tanpa kusadari dia sedang memperhatikanku dan tertawa karena melihatku dengan wajah pucat dan gemetaran itu. Hal itu membuat wajahku memerah menahan malu.

Selama di parkiran kami tidak berbicara apapun, kami sibuk dengan fikiran masing-masing. Aku berfikir apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Karena aku tak sempat melihatnya dan aku yakin yang ada dalam fikirannya (laki-laki itu) adalah mengapa aku bisa gemetaran seperti itu? Apakah ini cinta? Ataukah hanya cara setan untuk menggoda? Hanya sebuah kebimbangan yang ada.

Terbuyarkan oleh lamunan saat motorku telah dikeluarkannya, aku mendekat ke arahnya untuk mengatakan terimakasih. Semakin mendekat dag dig dug jantungku makin tak terkendali, namun kucoba menutupi dan memberanikan diri. Dalam hati kukatakan aku harus kuat untuk katakan terimakasih padanya meskipun lidahku kelu dan tenggorokan serasa tercekik akhirnya keluarlah kata itu “terima kasih Mas”. Hanya itu yang dapat kukatakan, dan dia balas dengan anggukan kepala dan berkata “Hati-hati” sambil berlalu untuk kembali ke masjid.

Dalam setiap langkahnya kuperhatikan dari jauh berharap dia akan menoleh ke belakang dan memandangku. Dan senangnya aku ternyata dia mendengar bisikan hati, dia menoleh ke arahku dan kita saling memandang dalam kebisuan ada rasa kenyamanan tersendiri ketika aku memandang matanya. Aku melihat sebuah ketulusan dari pancaran matanya, namun ku tak mengerti apakah itu cinta? Kami berpandangan cukup lama hingga suara adzan menyadarkan kami, ternyata waktu ashar telah tiba dengan sigap segera dia mengambil air wudhu sementara aku berlari menemui teman-temanku yang berada di halaman sekolah.

Tak mampu menutupi kebahagiaan yang dirasa hati, dengan panjang lebar kuceritakan peristiwa yang kualami satu menit yang lalu. Dan beragam respon kuterima dari mereka, ada yang terkejut, tertawa, senang, serta meledek. Namun apapun respon dari mereka atas kejadian itu, aku tak terlalu menghiraukannya karena rasa bahagia atas gemetaran itu telah mengalahkan semuanya.

Kembali menuju parkiran untuk mengambil motor dan dia telah usai berwudhu tapi tak langsung masuk ke masjid, melainkan memandangiku dengan tatapan yang sama tulus dan menenangkan. Beberapa kali ku menoleh ke arahnya dan dia tetap memandangiku berharap kejadian tadi terulang kembali meskipun baru beberapa menit berlalu. Ingin rasanya aku ke masjid untuk sholat ashar berjamaah dengannya, namun teman-teman telah menungguiku untuk pulang bersama. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan lagi-lagi ku menoleh untuk tersenyum kepadanya.

Dalam perjalanan pulang ku terus-menerus kepikiran atas kejadian tadi, hingga membuatku tersenyum-senyum sendiri saat di jalan. Orang-orang menatap aneh melihat keadaanku yang demikian, tapi apa peduliku aku sedang bahagia dan tak ingin terusik karena tatapan mereka. Yah begitulah suasana asmara.

Cerpen Karangan: Laela Nur Safitri

Cerpen Getaran Apakah ini? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Senja Sepotong Cokelat

Oleh:
Senja ini. Seharusnya aku menutup jendela kamarku karena gerimis yang melanda sejak siang mendinginkan suhu kamarku. Tapi senja ini.. Membuatku teringat 10 tahun yang lalu… — Dia di sana.

Telephone Number 1

Oleh:
“boleh ya.. please…” ucap Liza di depan Zaldi sambil memohon. “nggak ah aku nggak mau..” ucap Zaldi acuh, padahal ia ingin sekali memberikannya pada anak tomboy di depannya ini.

Menunggu Ikhwan Yang Baik

Oleh:
Rasa gundah yang semakin hari semakin menggangguku. Menanti sebuah suara dering yang timbul dari handphone yang kuletakan di atas meja tepat di sebelah kursi tempat aku bersandar. Suara yang

Kupendam Saja

Oleh:
Di depan kesekretariatan tua itu, aku pertama melihat kamu, iya waktu pertama kamu menjadi MaBa (Mahasiswa Baru). Disaat itu aku tertarik denganmu, dengan tingkah humorismu kamu membuat aku lebih

Sebuah Isyarat

Oleh:
Pecahan gelas Sobekan buku-buku Serakan baju Bantal Selimut Kacau.. Inef cuma bisa mengacak-acak rambutnya sambil menangis, sejenak berhenti, lalu menangis lagi. Rasa kesal yang teramat berat sedang dirasa olehnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *