Goresan Ayat Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 14 January 2020

Langkah jenjang milik Ega kini menelusuri koridor pondok pesantren dengan dinding yang berhiaskan berbagai tulisan indah kaligrafi karya santriwan santri wati, namun itu agaknya tidak membuat langkahnya santai dengan menikmati hiasan dinding itu, justru semakin ia percepat setengah berlari menuju kamarnya..

“Aku mohon..” gumamnya kini benar benar berlari menuju kamar asramanya
“Maaf” kata yang beberapa kali ia ucapkan karena tak sengaja menyenggol bahkan menabrak santri lain yang tengah berjalan. Tak menyurutkan niatnya untuk segera sampai di kamarnya
“Ega” panggil seseorang dengan suara khas yang sudah sangat dikenal Ega. Sukses menghentikan langkahnya, Ega berbalik badan.. melihat gadis cantik dengan jilbab ungu tengah menatapnya heran,. Riri, biasa ia dipanggil. Teman satu kamar Ega, di tangannya terlihat ada dua buah buku kitab, ia melangkah, mendekat ke arah Ega

“Kamu ngapain sih lari lari?” tanyanya pada Ega yang kini mencoba bernafas dengan normal. Nafasnya belum beraturan
“Aku mau ke kamar, ada sesuatu yang musti aku ambil” jawab Ega
Riri mengerutkan kening
“Mau ambil apa?” ujar Riri
Belum sempat bibir Ega terbuka untuk menjawab, terasa ada seseorang kini menepuk bahu Ega
“Umi..” gumam Riri
Ega membolakan matanya mendengar ucapan Riri. Umi? Habislah..
Segera Ega menjatuhkan pandangannya
“Mau ambil apa Ega?” Tanya wanita paruh baya kini berdiri disamping Ega, Nampak serasi dengan memakai jilbab syar`I yang ia kenakan
Ega urung dengan jawabannya, rasanya detak jantungnya menjadi berhenti karena ia terlalu banyak berdetak dengan cepat kali ini. Belum juga tenang dengan tujuannya mengambil entah apa itu di kamarnya, kini ditambah diinterogasi oleh Umi Ria

“Udah ninggalin kelas Umi tadi.. kamu kemana?” Tanya Umi Ria
Ega menelan salivanya dengan tercekat. Dia baru sadar, berarti dia sudah lama pergi sejak tadi pagi sampai lupa dengan mengikuti kelas
“Ega.. Ega ada di perpus Umi,” jawab Ega masih dengan tunduknya
Umi Ria menghela nafas panjang, jawaban yang sama dengan waktu yang sebelumnya. Entah kenapa akhir akhir ini Ega selalu ke perpustakaan sampai lama, seringkali membuatnya terlambat untuk sekedar ikut kegiatan, bahkan kali ini tidak mengikuti kelas..
“Kalian boleh ke kamar kalian.. tapi untuk kamu Ega, ba`da Isya temui Umi, Umi tunggu di ruang lurah pondok” ujar Umi Ria
Mau tak mau Ega mengangguk..
“Yaudah, Umi permisi dulu, assalamualaikum” pamit Umi Ria
“Waalaikum salam..”
Umi Ria pun kini melangkah berjalan menjauh dari dua gadis cantik itu. Yang kini membuat Ega bernafas dengan lega.

“Kamu kenapa sih Ga? Akhir akhir ini aneh banget, sampai ditegur Umi tuh” ujar Riri
Ega menggeleg pelan, kembali memutar badannya, melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar asramanya, tak menghiraukan pertanyaan sahabat karibnya
“Ye.. Ega!” seru Riri kini mengikuti langkah Ega
“Kamu tuh ditanyaain juga” kesal Riri
“Aduh.. udah deh Ri, nanti aku bakal ceritain semuanya ke kamu, tapi aku benar bener lagi bingung sekarang” ujar Ega yang entah kini memikirkan apa dalam sahutan nada omongannya
“Bingung kenapa?” Tanya Riri yang memang tergolong orang yang hiperkepo
Ega mendengus kesal, menghentikan langkahnya yang kini sudah berada di depan pintu kamar asramanya. Melirik dengan tajam pada sahabatnya
“Aku udah bilang, aku bakal ceritain, ada baiknya kamu diam, atau aku gak jadi cerita” ancam Ega
Riri mengerjap malas, selalu saja.. rasa penasaran pada dirinya bukan hal yang salah kan?
“okey, aku diem” ujarnya lalu mendahului Ega memasuki kamar
Ega menggeleng pelan.. ikut memasuki kamarnya

Berbeda dengan Riri yang langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang tempat tidur, Ega langsung kini terfokus pada almari kecil dekat tempat tidurnya, mencari sesuatu yang ada di tumpukan buku dan kitabnya
“Kamu nyari apa sih Ga?” tegur Riri
Ega tak menjawab, beralih duduk di bibir ranjang dengan tangannya kini penuh memegang setumpuk surat
“Surat undangan pengajian?” Tanya Riri kini ikut duduk disamping Ega
Ega menggeleng lemah.. memberikan surat itu pada Riri
Riri hanya menerimanya, matanya membulat seketika saat membaca surat pertama itu..
“Ini dari siapa Ega?!” serunya yang langsung mendapat bungkaman dari Ega
“ssttt..” lirih Ega
Riri mengangguk, sukses membuat Ega melepas tangan yang membungkam mulutnya. Ega berjalan ke arah pintu, menguncinya..

“Ini dari siapa?” Tanya Riri dengan nada suara yang direndahkan
Ega justru kembali mnghela nafas panjang.. menggeleng lemah
“Justru itu, aku sering ke perpus karena pengen tau siapa orang yang ngirim aku surat itu” jawab Ega
Riri kembali membaca surat itu..

`Aku bukan hanya ingin menikmati indah nya rasa cinta, alangkah lebih indahnya cinta kalau memang itu semua karena Allah.. halalkanlah cintaku..` gumam Riri membaca beberapa deret kata dengan tulisan yang bisa dibilang indah itu

“Apa kamu tau siapa kira kira pengirim surat itu?” Tanya Ega kini duduk kembali di samping Riri yang tengah fokus pada bacaan surat suratnya
“Darimana kamu dapat surat ini?” Tanya Riri
Ega mengangkat bahu..
“Siapapun.. kadang ada yang dititipin santri lain, tapi paling sering ada diantara buku buku perpustakaan.. dan itu semua ada namaku” ujar Ega

Riri kembali memeriksa surat surat itu, iya.. Ega Noviantika, jelas tertulis dengan indahnya di pojok amplop.
“Pernah kamu bales?” Tanya Riri yang mendapatkan anggukan dari Ega
“Setiap surat aku balas.. tapi, aku gak pernah nanyain siapa dia sebenarnya. Menurutku itu gak terlalu ngebuat aku teledor, sampai terakhir yang kamu baca itu,” ujar Ega yang membuat Riri kembali membaca dengan seksama surat di tangannya
“Dia bener bener serius” ujar Riri yang kembali mendapat anggukan dari Ega
“Tapi dari kemarin setelah aku balas surat itu, gak ada balasan lagi” ujar Ega
“Jadi itu yang ngebuat kamu sering ke perpus? Buat nunggu balesan surat ini?” Tanya Riri yang untuk kesekian kalinya mendapat anggukan pelan dari Ega
“Tapi.. gimana kalau ini Cuma ulah santri iseng?” Tanya Riri
Ega menggeleng lemah..
“Cara tulis dan bahasanya.. bukan untuk main main” gumamnya
Riri terdiam terpaku melihat surat itu, dalam hati memang membenarkan..

“Aku bakal bantu kamu buat cari tau siapa pengirim surat ini, tenang aja” ujar Riri yang mendapat senyuman dari sahabat karibnya.
“Tapi.. apa gak sebaiknya kamu bilang ini ke Umi Ria? Siapa tau dia bisa bantu” ujar Riri
Ega terdiam,. Dalam hati membenarkan. Umi Ria pasti bisa membantunya. Tapi..
“Entahlah Ri..”
Riri mengangguk pelan, merapikan surat surat itu
“Udah.. kamu tenangin dulu fikiran kamu, sekarang, kita ada tugas Aula, buat persiapan lomba, ngebantuin anak anak kaligrafi, mereka kekurangan pasukan buat nulis” ujar Riri
“Pasukan? Perang kali ah!”

“Iya ustad, insyaallah.,” ujar seorang santri setelah mendengar penuturan dari seorang pemuda tampan yang ia panggil Ustad itu, sungguh, sebuah panggilan yang bisa dibilang sangat `dini` bila menilik kembali usia ustad itu, Ustad Ridho. biasa ia dipanggil.
“Iya.. kalau gak ada di kelas, cukup aja lah panggil kak Ridho, jangan ustad” ujar Ridho dengan senyuman khasnya. Ya.. kiranya dia memang juga merasa seperti itu.

“Ustad Ridho” panggil seseorang
Ridho menoleh, pemuda tak kalah tampan dengannya kini menghampirinya dengan senyum yang bisa dibilang menambah karisma tersendiri
“Kalau begitu, saya permisi dulu kak, assalamualaikum” ujar santri tadi berpamitan pada Ridho
Ridho tersenyum mengangguk
“Waalaikumsalam..” jawab Ridho
Santri itu pun kini berjalan menjauh dari dua pemuda tampan itu. Dua pemuda tampan yang sama sama dipanggil ustad di usia mereka yang muda
“Gimana? Ada perkembangan Ustad Irwan?” Tanya Ridho
Pemuda tampan yang dipanggil Ustad Irwan tadi pun tersenyum, menepuk bahu Ridho
“Udah lah, gak usah ada `Ustad` Nya.. kedengeran terlalu gimana tau Dho,” ujar Irwan dengan santainya. Ridho hanya mengangkat bahu,
“Okey.” Kata Ridho singkat
Irwan beralih dengan helaan nafasnya yang dalam.. seolah mengumpulkan tenaga hanya sekedar untuk berbicara
“Dapat respond yang baik kayak sebelumnya, mungkin ini yang terbaik,” ujar Irwan yang membuat Ridho kian memperhatikan kalimatnya,
“Terus?”
Irwan membenarkan kopiahnya
“Dia bener bener penasaran siapa penulis surat itu.. bahkan sekarang hampir tiap hari dia nungguin surat balasan setelah terakhir aku nulis surat waktu itu” ujar Irwan
Ridho tersenyum simpul mendengarnya..
“Terus?”
“Yaaa… itu aja sih, kalau memang ini beneran adalah langkah awal buat sempurnain ibadah, hal yang ditulis disurat terakhir yang aku tulis, mungkin lebih baik segera” ujar Irwan
Ridho terdiam.. seolah memikirkan sesuatu..
“Niat baik justru jadi gak baik kan kalau ditunda tunda?” Tanya Irwan
Ridho tersenyum paksa, mengangguk muram..
“Yaudah, kita ke Aula.. ada banyak tugas buat diawasi” ajak Irwan yang lagi lagi mendapat anggukan dari Ridho. keduanya kini berjalan beriringan menuju aula yang memang sudah Nampak dengan ramainya santri santri membuat berbagai hiasan lukisan kaligrafi

“Jadi.. yang nulis itu Ustad Irwan?” Tanya Riri pada Ega yang masih terpaku yang menghentikan langkahnya dan berhenti bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan percakapan dua ustad tampan itu
“U..Ustad Irwan?” lirih Ega seolah bertanya pada dirinya sendiri. Jantungnya seolah mati tanpa menjalankan tugasnya untuk berdetak setelah mendengar penuturan itu.
“Kenapa…” lirih Ega tanpa sadar masih dalam lamunannya
Kini teringat kembali betapa senangnya ia mendapat surat surat itu, dengan riangnya ia menulis balasan surat itu,. Namun rasa senang itu pun beralasan. Alasannya adalah Ega berharap surat itu dari seseorang yang Ega kagumi selama ini dalam diam.. guru kaligrafinya.. satu satunya guru yang ia panggil Aa’.. Ridho

Riri melambaikan tangannya di depan wajah Ega
“Ega?” tegur Riri
Ega menggelang lemah..
“Enggak..”
“Enggak? Apa yang Enggak?” ujar Riri merasa aneh
Ega menggeleng lemah..
“Kita ke tempat Umi Ria” ujar Ega mendahului Riri. Riri mengerutkan kening.. tak mengerti akan sikap sahabatnya
“Kadang bukan Cuma sikap kamu yang gak aku ngerti, tapi aku juga gak ngerti kenapa aku bisa tahan buat jadi orang kepo terus terusan gara gara jadi temen kamu” gerutu Riri lalu melangkahkan kaki mengikuti Ega yang sudah lebih dulu mendahuluinya menuju ruang lurah pondok
“Tunggu, kamu disuruh kesana saat ba`da isya.. bukannya sekarang Ega” ujar Riri
“lupakan saja, dahulukan yang penting!” ujar Ega kesal
“Apa yang lebih penting dari tugas kalian?” ujar seseorang

Ega menghentikan langkahnya.. seorang perempuan paruh baya dengan jilbab coklat kini menghampirinya. Ibu culas, salah satu guru pembimbing di pondok itu
“Umi Diah..” gumam Riri sedikit beringsut di balik badan Ega
“Ustad Ridho tadi nyuruh anak Khot untuk buat karya di Aula.. kenapa kalian masih disini?” selidik Umi Diah
“Kami.. kami hanya ingin bertemu dengan Umi Ria” jawab Ega
“Umi Ria sedang tidak ada di pesantren, Umi Ria masih pergi ke toko buat beli handam, apa kalian gak mau sekedar bantu santri lain buat kaligrafi? Kalian senior disini, seharusnya tanpa disuruh kalian musti tau apa yang harus kalian lakukan” omel Umi Diah
Ega dan Riri tak menjawab. Memilih bungkam daripada omelan pedas bertambah dari Umi Diah
“Ayo, kita ke Aula” ajak Umi Diah seraya menarik tangan Riri dan juga Ega

Cerpen Karangan: Ulan Albaar
Blog / Facebook: Ulan Al-Baar
Ulan Albaar, Dhogalovers Official

Cerpen Goresan Ayat Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“braak…”. Skuterku menyerepet seorang pemuda “Astagfirulloh dek! kamu gak papa kan.” Kuhampiri pemuda yang kutabrak tadi “Tidak apa apa kok mbak, hanya lecet saja.” Jawab pemuda itu sambil mengusap

Maaf Ukhti Dia Milikku

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama Zahra dan Qonita praktek KKN di kampung Belati. Zahra sengaja memilih di kampung ini karena ia bisa leluasa bertemu dengan lelaki yang telah melamarnya

Aku yang Terlambat

Oleh:
Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang hamba yang hidup di bawah langit sang Illahi dan di atas tanah sang kholid. Sama sepertimu, aku juga hanyalah seorang insan yang dianugerahi

Cinta Yang Suci

Oleh:
Aku sudah memakai jilbab sejak kecil. Saat itu guru madrasahku berkata kalau, “Memakai jilbab itu kewajiban. Soal tingkah laku itu lain lagi. Intinya kita harus menutup aurat.” Setelah guruku

Kisahku dan Gadis Berjilbab Biru

Oleh:
Siang itu waktu menunjukkan tepat pukul dua siang, dan aku pun mulai beranjak dari tempat tidurku untuk segera bergegas berangkat kerja. berhubung waktu itu ada jadwal meeting dengan client

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *