Goresan Ayat Cinta (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 14 January 2020

Adzan isya kini sudah lalu berkumandang,. Terlihat kini gadis cantik dengan balutan jilbab coklat batik tengah terburu meninggalkan masjid guna menemui Umi Ria, yupp.. Ega
“Ealah.. aduh..” kesal Ega mendapati tasbihnya jatuh, dia merunduk, hendak mengambil tasbih berwarna hijau pupus dengan kombinasi putih itu, beriringan dengannya kembali menegakkan badan hendak melangkah, dirinya sedikit terhenyak, mendapati dua orang pemuda tampan beberapa langkah ada di depannya. Bukan, tepatnya lebih kepada satu pemuda tampan dengan baju biru muda itu.

“Loh.. Ega? Kok udah keluar?” tegur Irwan sekilas melihat masjid besar yang terlihat masih banyak jamaah disana
‘Dia bahkan tak mau menoleh..’ batin Ega yang entah masih terpaku menatap sosok Ridho yang menjatuhkan pandangannya, berpura pura menatap alquran yang di tangannya
“Ega?” panggil Irwan
“Eh.. iya, maaf.. kenapa Ustad?” Tanya Ega yang tadi tak memperhatikan ucapan Irwan
“Kok udah keluar? Kan masih ada arahan dari Ustad Faisal” ulang Irwan
“Emh. Saya dipanggil sama Umi Ria, ustad” ujar Ega
Irwan hanya mengangguk tanda meng-iya-kan. ia beralih melihat jam tangannya
“Ya udah. Kalau gitu, kami duluan yah.” Pamit Irwan yang mendapat anggukan dari Ega
Irwan pun melangkah memasuki masjid. Lain hal nya Ridho yang masih berdiri di tempatnya..

“Permisi A’..” ujar Ega menunduk lalu melangkahkan kaki hendak melewati Ridho, namun, saat tepat di sampingnya..
“Tunggu” ujar Ridho
Langkah Ega terhenti.. masih dengan sikapnya yang menjatuhkan pandangan, tak berani menatap Ridho.
“A..ada apa A’?” Tanya Ega hati hati, mencoba mengatur detak jantungnya sendiri yang sudah bergemuruh dengan kencangnya
Ridho masih terdiam, dia memutar arah badannya, melangkah dan kini berdiri tepat di hadapan Ega, membuat Ega kian menunduk menjatuhkan pandangannya. Genggaman kedua tangannya yang tengah memegang mukena itu pun kian ia pererat
“Ini.. untuk kamu..” ujar Ridho mengulurkan alquran yang di pegangnya pada Ega
Ega perlahan mengangkat wajah, menatap Ridho dengan tatapan pertanyaan.. Ridho justru tersenyum..
“U..untuk saya?” ulang Ega dengan lirih yang mendapat anggukan dari Ridho
Ega perlahan mengulurkan tangan menerima alquran itu.. detak jantungnya kian tak terkendali. Melihat fakta bahwa orang yang dia kagumi selama ini memberikan sebuah alquran langsung dari tangannya tersendiri tanpa perantara kepadanya. Ini seolah memberikan kesejukan pada hatinya bak disiram salju, dibanding ia berangan senang saat menerima surat itu pertama kali. Ini seratus kali lipat menyejukkan hati.
“Titipan dari Umi Diah.” Imbuh Ridho yang membuat semua angan indah Ega terbuyar seketika
Gurat kecewa kini terlihat di wajah Ega..
“Semoga kamu baca dengan sungguh sungguh.. assalamualaikum” ujar Ridho lalu melangkah menuju masjid begitu saja
Ega masih terpaku, masih dengan rasa kecewanya..
“Titipan Umi Diah.. kenapa pula Umi Diah..” lirihnya kesal menatap Ridho yang kini sudah memasuki masjid besar itu. Ega menghela nafas panjang.. mau tak mau…
“Waalaikumsalam”
Dengan kecewa ia kembali melangkah menuju gedung besar lurah pondok.

Ega memandang alquran cantik yang berwarna biru putih berkilau pada covernya itu. Sungguh indah, benar benar indah.. namun, alangkah indahnya bila itu juga bukan dari Umi Diah, melainkan memang nyata dari Ridho sendiri. Tapi itu hanyalah sebuah angan. Angannya yang tak terwujud.
Ega kembali menghela nafas, memantapkan langkah menuju ruangan Umi Ria
“Assalamualaikum Umi..” ujar Ega memberi salam memasuki ruang lurah pondok, masih dengan membawa mukena juga alquran dari Ridho tadi. nampak Umi Ria tengah membaca sebuah buku disana.. ia mengangkat wajah, tersenyum dengan tenang
“Waalaikum salam.. sini, duduk Ega” jawabnya lembut

Ega kini perlahan melangkah mendekati Umi Ria, sikapnya yang tertunduk segan masih ia pertahankan. Ia menarik kursi, duduk di seberang meja di hadapan Umi Ria
“Udah tau Kenapa Umi panggil kamu Ega?” Tanya Umi Ria
Ega mengangguk lemah. Sudah ia bisa pastikan bahwa Umi Ria akan menegurnya kali ini.
“Ini semua karna kesalahan Ega, maaf Umi, akhir akhir ini Ega sering telat bahkan kemarin gak ikut kelas Umi” ujar Ega
Umi Ria tersenyum, menutup buku bacaannya, lalu meletakkannya di meja, Nampak disana beberapa buku serupa tertumpuk dengan rapi
“Boleh Umi tau alasannya?” Tanya Umi Ria
Ega perlahan mengangkat wajah, menatap wanita dengan wajah ramah tengah tersenyum tenang padanya. Perlahan ia mengangguk..
“Ega.. Ega dapat surat” lirih Ega dengan hati hati
“Surat?”

Kedua manik mata pemuda tampan itu tertuju pada cincin cantik di tangannya.. Ridho, masih berdiam di masjid walau sudah tak ada lagi orang disana, kecuali beberapa santri yang memang ada tugas membersihkan beberapa bagian masjid juga memasang beberapa karya yang sudah jadi kali ini, termasuk Riri.

Pandangan Ridho kini beralih pada tulisan kaligrafi yang ada di dinding masjid.. besar dan sangat indah, perpaduan cat yang begitu singkron membuatnya kian menawan.
“Aku mohon dengan sangat..” gumam Ridho memandang tulisan kaligrafi itu dengan tangan yang masih memegang cincin,.
Jelas dalam ingatannya saat dimana goresan demi goresan handam juga cat dia menulis kaligrafi itu, terlebih seseorang datang membantunya hingga terciptalah karya yang luar biasa indah terpasang di dinding masjid..

“Ridho” tegur seseorang membuyarkan lamunan Ridho. Ridho segera menyembunyikan cincin yang di tangannya.
“Iya Wan?” jawabnya yang memang ditujukan pada Irwan
Irwan duduk di sampingnya, Nampak membawa sebuah kertas juga pena..
“Surat lagi?” Tanya Ridho
Irwan menghela nafas panjang, mengangguk lemah..
“Untuk yang terakhir kalinya” ujar Irwan. Ridho terdiam.. begitu enggan kini ia menanggapi. Terlebih kata `Terakhir kalinya`
“Saatnya untuk jalani cinta yang halal” imbuh Irwan yang membuat Ridho tersenyum begitu paksa. Dia kembali menoleh kearah tulisan kaligrafi itu. Memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam guna memasok oksigen lebih berharap juga untuk menguatkan hatinya
“Dho?” tegur Irwan
Ridho menoleh,
“Tulis surat Ar-Ruum ayat 21 ..” ujar Ridho tiba tiba

Air mata Ega kini hadir tanpa ia minta saat melihat alquran di tangannya.. namun beriring dengan senyum manisnya, ia perlahan membuka alquran itu..
“Ya Allah..” lirihnya kian menghadirkan air mata
Ia peluk alquran indah itu, memejamkan mata yang kian membuat air matanya deras mengalir
`Ustad Irwan? Kenapa bisa Ustad Irwan yang malah nulis surat buat kamu Ega? Ustad Ridho yang pernah bilang sama Umi tentang keinginannya taaruf sama kamu, bukan Ustad Irwan’
Kata kata Umi Ria kini terngiang di fikirannya..
Ega membuka matanya..
‘Alquran ini bukan dari Umi Diah.. tapi ini Alquran Ustad Ridho’
Kembali, kalimat yang sebenarnya menyejukkan hati itu terngiang.. Ega kembali melihat alquran itu..
“Ya Allah.. salahkah hamba memiliki rasa ini..” gumam Ega menyentuh alquran indah itu. Bayangan tentang ustad Ridho kembali menguasai fikirannya. Namun begitu sesak dadanya saat kembali mengingat perihal surat yang dia terima bukanlah darinya, malah Ridho sendiri mengetahui bahwa Irwan mengirim surat untuknya

“Ega” panggil Riri yang tiba tiba memasuki kamar
Dengan segera Ega menghapus air matanya..
“Kamu kenapa?” Tanya Riri kini duduk di samping Ega, Ega menunduk.. menggeleng lemah..
“Aku gak papa” jawab Ega dengan parau
Riri menyerah, tak akan lagi bertanya. Bilapun dia bertanya.. tak akan dia mendapat jawaban dari sahabat karibnya itu
“Aku dapet titipan dari Ustad Irwan” ujar Riri kemudian menyodorkan sebuah surat..
Ega terdiam.. kini bahkan dengan terang terangan Ustad Irwan menitipkan surat pada sahabatnya sendiri. Perlahan, ia menerima surat itu, sedang alquran indah tadi masih dipegangnya.
“Gak ada niat buat dibaca gitu?” Tanya Riri sesaat setelah Ega masih dengan diamnya terpaku melihat sepucuk surat itu. Jujur.. dia menjadi tak begitu bersemangat.
Namun.. rasa penasarannya kini sedikit berlebih. Dia pun membuka surat itu..

“Ya Allah..” gumam Ega saat melihat baris awal ternyata adalah sebuah surat Ar-ruum ayat 21
Dimana itu adalah ayat tentang kasih sayang..
Air matanya tak lagi dapat ia bendung, ia tutup surat itu.. tak lagi ada niat untuk membaca
“Kenapa Ega?” Tanya Riri heran
Ega menggeleng lemah, mengalihkan pandangannya, ia letakkan suratnya. Riri yang penasaran kini mengambil surat itu. Membacanya..
“Ustad Irwan bener bener serius sama kamu Ga..” lirih Riri membaca surat itu, ia membalikkan kertas, masih ada beberapa kalimat disana..

“Tiga hari ini tak kan ada kamu ataupun aku untuk bertegur atau sekedar melihat dalam diam seperti sebelumnya.. aku akan halalkan pandanganku padamu setelah tiga hari ini..” gumam Riri membacanya
Ega kian menangis mendengarnya.. dia benar benar tak ingin itu terjadi. Hatinya serasa kian sesak memberontak. Ia memeluk alquran indah pemberian Ridho itu, memejamkan matanya, kian membuat airmatanya deras mengalir lembut di pipinya.
Riri menghela nafas.. mengusap lembut bahu sahabat karibnya

Pagi kini menyapa. Para santri kini mulai sibuk dengan aktifitas hariannya.. tak terkecuali Ega yang memang sudah menjadi kesibukannya menggores handam kaligrafi bersama dengan Riri sahabatnya.
“Ga.. kayaknya Ustad Irwan beneran gak ada deh hari ini” ujar Riri
Ega menghentikan tangannya yang hendak kembali mencelupkan handamnya ke tinta.. kini kembali teringat kalimat terakhir disuratnya..
‘A’ Ridho juga belum terlihat sejak tadi..’ batinnya masih berharap bahwa Ridho adalah orang yang menulis suratnya
Ya.. Ridho ataupun Irwan tidak terlihat sejak tadi, padahal ini kelas mereka.. hanya ada santri yang membuat tulisan kaligrafi tanpa bimbingan atau arahan dari mereka
“Kita lihat apa iya sampai 3 hari” ujar Ega kemudian melanjutkan goresannya pada kertas karton yang sudah berhasil membuat beberapa huruf sambung disana
Riri hanya terdiam, mengangkat bahu, seolah mengatakan `okey`
Ega dalam hati benar berdoa, bahwa dia bisa melihat Irwan secepatnya agar bisa meyakinkan hatinya perihal surat itu..

“Umi..” ujar Riri tersenyum melihat Umi Ria datang
“Gimana? Ada kesulitan?” tanyanya menghampiri Riri dan juga Ega
Riri menggeleng..
“Umi.. Ustad Irwan kemana Umi? Kok tumben gak ngisi kelas?” Tanya Riri yang sukses membuat Ega menoleh.. Umi Ria melirik Ega, tersenyum penuh arti
“Ustad Irwan ada izin untuk hari ini” ujar Umi Ria
“Emmh.. terus, Ustad Ridho juga izin?” Tanya Riri
Umi Ria Nampak sedikit berfikir mendengar pertayaan Riri
“Umi rasa enggak, tadi Umi liat Ustad Ridho ngobrol sama Ustad Faisal, mungkin gak ngisi kelas Karena ada tugas dari Ustad Faisal” jawab Umi Ria
Cukup sudah.. jawaban yang sungguh membuat Ega benar benar menyesal ikut mendengarkan.. sudah cukup jelas bahwa yang hari ini tidak ada di pondok adalah Ustad Irwan. Dia benar penulis surat itu. Pupus sudah harapan Ega..

Keadaan seperti itu bertahan hampir benar sampai dua hari.
Sejak kemarin, bahkan terhitung hari ini yang sudah petang Ustad Irwan benar tak terlihat. Namun Ega juga tak melihat Ridho sekalipun Umi Ria mengatakan kemarin dia melihatnya bersama Ustad Faisal.. dua ustad tampan itu tak Ega temui 2 hari ini

“Ayo Ega” tegur Riri mendahului Ega keluar dari kamarnya
“Kalau memang ini memang yang terbaik..” gumam Ega mencoba tersenyum melihat alquran indah itu. Dia beralih mengambil mukena. Beranjak meninggalkan kamar mengikuti Riri yang menuju Masjid guna shalat berjamaah.

Sedikit obrolan beriring dengan langkah dua sahabat karib ini menuju masjid besar itu.. membuat Ega sedikit melupakan betapa hatinya yang kalut dan perasaannya yang kacau
“Ega!” seru Riri tiba tiba menghentikan lengkah
Ega mengerutkan kening.. melihat sahabatnya yang kini terpaku melihat ke arah masjid, menghentikan celotehannya. Ega yang penasaran kini mengikuti arah pandang Riri..
“Itu.. Ustad Irwan..”
Ega tercekat.. terdiam memandang pemuda tampan yang tengah berbicara beberapa santri itu. Benar, itu Ustad Irwan.
“Ini.. ini belum tiga hari kan?” Tanya Riri
Senyum kini perlahan terukir di bibir soft pink Ega. Ia menggeleng pelan..
“Belum.. ini masih terhitung dua hari..” ujar Ega lirih dengan senyuman indahnya

Cerpen Karangan: Ulan Albaar
Blog / Facebook: Ulan Al-Baar
Ulan Albaar, Dhogalovers Official

Cerpen Goresan Ayat Cinta (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Start With You

Oleh:
Felly terus melangkahkan kakinya. Kepalanya terasa begitu berat saat ia hendak pergi dari rumah. Yah.. rumah yang sama dengan neraka. Penuh siksaan meskipun harta melimpah. Banyak pikiran yang terlintas

Semanggi Berhelai 4

Oleh:
Persahabatan adalah segalanya dalam hidup. Dia akan berubah menjadi dewasa layaknya kedua orang tua yang senantiasa menasehati. Sebagai kakak dan juga adik yang selalu setia. Aku sangat beruntung mempunyai

Bukan Bunga Di Tepi Jalan Lagi

Oleh:
Hidupku tak karuan, berjalan entah kemana. Datangnya senja selalu mengantarku segera bergegas menuju kamar untuk bersolek. Dengan pakaian super mini dan make up tebal, kulangkahkan kaki ke tempat biasa

Cinta Yang Tak Ingin Kuungkapkan

Oleh:
Aku mengagumimu bukan karena tampanmu, kulit putihmu, harta orangtuamu, tapi aku mengagumimu karena ilmumu, imanmu, dan rendah hatimu. Aku memang bukan wanita salihah, berilmu, juga bukan anak orang kaya.

Satu Hari Berdampak Selamanya

Oleh:
Terdengar suara ketukan pintu dan suara dari luar pintu kamarku. “Re!” Ucapnya. Panggilan itu membuatku menutupkan novel yang sedang aku baca. “Iya bu, masuk saja!” Ucapku dengan sedikit berteriak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *