Goresan Ayat Cinta (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 14 January 2020

Hati Ega kian berdebar memasuki masjid besar nan indah itu.. lima hari sudah ia tak bertemu Ridho,. kalimat yang tertulis di surat itu hanyalah untuk tiga hari, kembali membuat Ega was was dengan yakinnya kalau Ridho yang menulis surat itu. harapan dan doa masih lirih terlantun dari bibirnya sejak tadi pagi, berharap dia bertemu Ridho untuk hari ini.. ia pasrahkan hatinya dan juga segalanya. Tak kurang dia ikhtiar untuk mengetahui siapa pengirim surat itu
“Aku mohon dengan sangat..” lirih Ega menatap karya kaligrafinya yang sudah jadi. Anak Khot lain pun sudah memasangkan karya terbaik mereka di masjid. Sungguh menjadi kian indah masjid itu penuh dengan ukiran dan goresan ayat ayat Alquran menghiasi.

Kedua mata indah Ega kini sedikit memicing memperhatikan sebuah karya kaligrafi indah bergoreskan cat warna emas. Tengah terpasang dengan mewahnya di dinding tempat imam. Sungguh mata siapapun akan langsung memandangnya mengingat itu adalah tempat dimana semua mata tertuju. Benar benar indah.. tatanan hurufnya yang benar benar sempurna membuat orang yang memandanganya sudah pasti menggumam takjub

Ega mendekat ke arah kaligrafi itu.. perlahan, ia sentuh karya itu..
“Subhanallah..” lirih Ega tanpa sadar air matanya menetes tanpa ia minta menyaksikan karya yang luar biasa indah..
“Kamu suka?” ujar seseorang dibelakang Ega
Ega menyeka air matanya, berbalik badan.. alangkah terkejutnya ia saat melihat sosok Ustad Ridho kini ada di hadapannya
“A’ Ridho..” lirih Ega
Ridho tersenyum manis melihat gadis berjilbab putih di hadapannya tengah menatapnya dengan lekat. Manik mata Ega bahkan seolah mengatakan sesuatu padanya entah apa..

“Itu untuk kamu” ujar Ridho tiba tiba
“A..apa..”
Ridho melangkah perlahan, mendekat ke arah Ega yang masih tak paham dengan maksudnya.
“Halalkan pandanganku untukmu..” ujar Ridho Pelan
Ega terkesiap mendengarnya
“Aa’ yang tulis surat itu?” Tanya Ega dengan tatapan tak percaya
Ridho tersenyum, menggeleng pelan.
“Ustad Irwan yang tulis surat itu.. aku bukan orang yang pandai nulis indah.. hanya untaian kata yang bisa kusampaikan sebagai wakil perasaanku,” ujar Ridho
jelas sudah.. Benar Irwan yang menulis surat untuknya, tapi tepatnya bukan dari Irwan, tapi itu dari Ridho..
“Tapi kenapa Aa’ gak bilang? Dan soal alquran itu.. kenapa Aa’ bohong? Kenapa juga Aa’ pergi tiga hari ini?” ujar Ega beruntun
Ridho tersenyum
“Apa perlu Aa’ bilang kalau kamu juga udah tau sebenarnya siapa yang nulis surat itu?” ujar Ridho
Ega menggeleng pelan.
“Dan soal Alquran.. Itu memang alquran Aa’.. Aa’ gak bohong, Aa’ Cuma mau sampaiin amanah dari Umi Diah yang nyuruh kamu lebih sungguh sungguh baca Alquran, makanya Aa’ kasih kamu Alquran Aa’..” jawab Ridho mengimbuhi
“Terus kenapa Aa’ pergi lima hari ini? Aa’ gak tau gimana rasanya aku yang khawatir..” ujar Ega
Ridho menghela nafas panjang, memandang kaligrafi indah itu.
“Butuh waktu yang gak singkat untuk karya itu.. Itu untuk kamu..” ujar Ridho kembali memandang Ega

Perlahan Ridho menngangkat tangan kanannya, Nampak cincin indah ia sodorkan pada Ega
“Izinkan aku halal menikmati indahnya senyummu.. izinkan aku halal memandang wajah indah cipataan Tuhanku.. Izinkan aku membimbingmu.. Izinkan aku menjadi rumahmu.. Tempat keluh kesahmu.. tempat kasih sayang dan cintamu.. Izinkan aku menjadi imammu..” tutur Ridho dengan lembut

Jantung Ega seolah berhenti berdetak mendengarnya, tangannya gemetar. Kedua mata indahnya tak kuasa membendung air mata yang tiba tiba hadir tanpa ia minta.. angannya, keinginannya, benar terwujud. Seorang yang selama ini ia kagumi dan ia harapkan kini berdiri di hadapannya, menuturkan
hal yang sangat indah di telinganya.

Gaun putih tulang kini tampak anggun dipakai oleh Ega, polesan make up membuatnya kian terlihat menawan. Pandangannya masih tertunduk melangkah perlahan digandeng oleh sang ibunda mendekat ke arah penghulu dan juga calon imamnya.
“Ega catik banget” gumam Riri kagum melihat sahabat karibnya

Ega kini duduk di samping Ridho yang Nampak begitu gagahnya dengan kemeja putih dan jas hitamnya. Ibunda Ega memasangkan selendang putih pada Ega dan Ridho. kembali jantung keduanya berdegup kencang, perasaan yang wajar bila diingat.
Sederet mahar terbungkus rapi dalam bingkai dan kotak kaca.
Dan dengan bacaan basmallah ijab qabul dimulai

“Ya Ridho bin Ahmad, uzawwijuka ‘ala ma amarallahu min imsakin bima`rufin au tasriihim bi ihsanin, ya Ridho bin Ahmad..”
“Labbaik”
“Anakahtuka wa zawwajtuka makhthubataka Ega Noviantika binti Rahmad bi mahri mushaf alquran walatil ‘ibadah haalan” ujar penghulu menjabat tangan Ridho, Ridho menghentakkan tangannya tanda terima
“Qabiltzu nikaahahaa wa tazwijahaa bil mahri madz-kuur haalan” jawab Ridho dengan lantang dengan satu tarikan nafas
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah”

Air mata Ega jatuh dengan sendirinya setelah mendengar ucapan itu. Perlahan ia membuka kedua mata, merasakan tangan lembut kini menyentuh pipinya. Senyum manis kini terukir indah di bibir soft pinknya menatap seorang pemuda yang sah menjadi imamnya. Ega meraih tangan kanan Ridho, menciumnya dengan lembut

“Aku mohon bimbingan mu A’..” lirihnya
Ega mengangkat wajah,. Ridho tersenyum manis menatapnya
“Bismillah..” jawab Ridho

Kini Ridho merengkuhnya mencium kening Ega dengan lembut. Ega memejamkan mata, tenang dan nyaman perasaannya kali ini. Begitu berbeda dengan beberapa hari lalu yang begitu tertekan dengan perasaannya sendiri.

Pernikahan yang dilaksanakan di masjid besar dipenuhi lukisan kaligrafi itu benar benar terasa khitmad. Sederhana, namun begitu bermakna, Apapun itu, sebuah cinta sejati dari Allah tak mungkin salah tujuan.

THE END

Cerpen Karangan: Ulan Albaar
Blog / Facebook: Ulan Al-Baar
Ulan Albaar, Dhogalovers Official

Cerpen Goresan Ayat Cinta (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Dipadang Ilalang

Oleh:
Senja hari ini begitu indah, semilir angin begitu merdu diikuti tarian lembut sang ilalang. Suasana ini mengingatkanku pada kejadian dua tahun yang lalu sebelum aku di rawat di rumah

About ’26 (Part 1)

Oleh:
Cinta? satu kata berjuta rasa. Kau tahu cinta membutakanku cinta membuatku lupa dengan duniaku sendiri. Dan cinta membuatku berubah menjadi orang lain hanya karena cinta semu seseorang. Tak pelak

Kau Pilihanku

Oleh:
Seberkas cahaya memamerkan binar indah sang surya, menghujam keindahan budaya di alam tercinta. Burung-burung gereja turut serta bergembira dengan kicauan indah bernada, mengantarkan para pengais rezeki untuk segera berkarya

Salahkah Dengan Cinta

Oleh:
Kasih … Aku mengenalmu tanpa sengaja. Menjalani kebersamaan, hingga Allah menanamkan benih cinta yang belum tepat waktunya, untuk menguji keimanan kita. Hingga kita terlena akan hakikat cinta tersebut. Memaknai

Pesan Untuk Kekasihku

Oleh:
“Enda…” Suara pangilan yang di dengarnya, ia menoleh melihat siapa yang memangil namanya ternyata Arinda teman Aritsyah yang juga teman nya tapi lain jurusan, Enda mengambil jurusan agama sedangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *