Hakim Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 31 October 2017

“Mendadak santri. Haha”
Sekilas celotehan itu melintas di pendengaranku begitu cepatnya, aku yang sedang mencoba untuk menambah Hafalanku di teras langsung berlari ke teras belakang, tempat di mana santri tidak ada yang berani ke tempat tersebut. Karena halaman tersebut merupakan halaman yang sangat luas dipenuhi oleh pepohonan besar, dan santri lain menganggapnya takut jika berada di tempat ini.

Aku menenangkan diriku di sini, namun tetap saja air mata mendarat di pipiku, dan ingatanku memaksa untuk mengingat masa lalu pahitku. Masa dimana aku kehilangan hal yang sangat berarti bagiku.

Sebelum aku masuk di Pondok Pesantren Miftahul Qur’an ini, sebelumnya aku tinggal di sebuah kota yang dipenuhi oleh remaja. Di Kota itu para remaja sangat berbeda jauh dengan lingkungan pesantren, saat itu pun pakaianku tak serapi ini. Dengan kaus pendek, celana Jeans, dan rambut panjang yang selalu aku gerai. Pada saat itu, di malam hari aku keluar rumah untuk menemui kekasihku, Yoga. Pria yang telah menemaniku selama satu tahun belakangan ini, meskipun usiaku telah dewasa dan seharusnya sudah saatnya aku mencari pria untuk masa depanku, tapi tetap saja orangtuaku melarangku untuk dekat dengan Pria, sehingga aku terpaksa menjalani hubungan tanpa sepengetahuan orangtuaku.

Angin bertiup kencang, suara petir pun menggelegar menyertainya.
“Sepertinya sudah saatnya pulang.” ucapku.
“Iya, tapi tunggu sebentar dulu, sepertinya motorku membutuhkan bensin.” Jawab Yoga sambil menghentikan motornya di tepi jalan raya. “Kaira, kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau isi bensin untuk motorku.” sambungnya.

Aku menunggu Yoga sambil memainkan Ponselku. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menyekapku dari belakang. Sehelai kain yang berhasil membuatku tak dapat berkata, serta tali yang mengikat tanganku membuat aku tak dapat bergerak. Aku terpaksa duduk di tempat duduknya dan membawaku entah ke mana.

Tetes demi tetes air jatuh membasahi bumi, aku tak tahu harus bagaimana. Akhirnya aku menjatuhkans diri ke permukaan tanah. Aku jatuh tersungkur. Kepalaku terbentur oleh batu. Aku tak sadarkan diri.

Kain basah masih melekat di tubuhku, hembusan angin membelai halus tubuhku sehingga aku sadar dan terbangun. Aku mulai membuka mataku, namun penglihatanku belum begitu jelas. Hanya hiruk pikuk gemuruh suara gaduh yang menguasai pendengaranku. Aku baru menyadari, aku telah berada di rumahku, dan aku tidur telentang di ruang utama dikerumuni oleh keluargaku.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Ayahku dengan nada cemas.
“Ayah, ini salahku yang tidak meminta izin keluar pada Ayah, mungkin karena Ayah tak Meridhoiku sehingga aku mengalami hal ini.” aku mulai angkat bicara.
“Bagaimana caranya kamu bisa keluar?” Ayah menekanku.
“A.. Aku, aaaah..” Jawabku, meringis.
“Ya sudah kakak istirahat dulu saja, biar aku antar.” Ucap Neisya yang meraih tanganku dan membawaku ke dalam kamar. Setelah itu, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan selanjutnya.

Matahari terbit menyertai Fajar, bulan pun pergi ke permukaan bumi yang lain. Aku bangun dari tidur ku kemudian turun ke lantai bawah. Namun rupanya aku melihat rumah begitu ramai dan permadani terhampar di lantai, rumahku seperti telah menerima banyak tamu. Namun anehnya bendera kuning terpasang di depan rumahku.

“De, siapa yang meninggal? Mengapa kakak tidak mengetahuinya?” tanyaku.
“Semua ini karena kakak, karena kecerobohan kakak semalam, ibu meninggal setelah mengetahui apa yang terjadi. Kakak tidak sayang ibu ya? Kaka kan tahu ibu itu sakit-sakitan!” jawab Neisya membentakku. Aku pun tak pernah menyangka Neisya bisa mengatakan hal ini. Mungkin karena dia memang tak lagi memaafkanku.
“Sudahlah, Ayah tak menyalahkanmu. Jangan pernah menyalahi takdir. Mungkin ini sudah jalannya. Tapi, Kaira.. Ayah telah memutuskan perkuliahanmu dan akan memasukkanmu ke pondok Pesantren. Ayah berharap kamu bisa memperbaiki diri di sana.” Permintaan Ayah begitu membuatku bingung, tapi aku tak bisa menolaknya.

Aku mengingat semua kejadian itu dengan sangat jelas, tak henti-hentinya air mataku mengalir disela-sela lamunanku. Namun tiba-tiba Ustadz Ibnu yang berumur 5 tahun lebih tua dariku menghampiriku dan meruntuhkan lamunanku.
“Kamu sedang apa di sini? Sudah mau Magrib.” bisik Ustadz Ibnu dengan penuh rasa waspada karena khawatir akan menjadi Fitnah.
“Tidak, aku hanya merasa rindu dengan suasana sore yang teduh. Ya sudah, saya permisi assalaamualaikum.” Ibu jariku menyekat air mata.
“Iya, setelah itu ambil Alqur’an dan perkuat lagi hafalanmu. Waalaikumussalaam”.

“Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa tatawallaw…” Pada saat aku sedang menyetorkan hafalanku kepada Ustadzah Hana, yaitu wanita cantik yang selalu menggunakan cadarnya, aku dilempari oleh cemoohan yang kesekian kalinya aku terima.
“Wanita malam.. Pintar sekali, hafalannya sudah banyak.” ternyata comoohan mereka tidak hanya sekedar cemooh, tapi mengandung fitnah juga. Aku tak menyangka mereka bisa memfitnahku.

“Latifah! Apa yang kau ucapkan? Tarik kembali ucapanmu. Namamu mengandung arti lembut dan tidak sepatutnya lisanmu setajam itu.” Ucap Ustadzah hana membelaku, aku hanya tersenyum pahit.
“Kami tidak menerima dia. Dia itu wanita yang sangat tega kepada ibunya, dia juga membohongi ibunya, keluar malam hanya untuk menemui kekasihnya.” Tegas Latifah.
Seketika kelas Tahfidzul Qur’an Lil Banat gaduh karena banyaknya orang yang berbisik.
“Apakah itu benar, Kaira?”
“Iya Ustadzah. Itu benar. Tapi Demi Allah! Saya tek seburuk itu, tak ada yang saya lakukan selain menikmati jus di sebuah Cafe bersama kekasihku dulu. Soal meninggalnya ibu aku tak tahu apa-apa.” Jelasku.
“Kalian sudah mendengar penjelasannya kan? Saya minta tolong kalian jangan memojokkan dia. Kaira ingin merubah hidupnya, tolong bantu dia. Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Berdamailah. Karena sudah jelas dalam Al-Qur’an yaitu Wassulhu khoirun, perdamaian lebih baik untuk kalian.” kemudian semua menyalamiku dan meminta maaf padaku. Latifah terlihat sangat menyesal dengan apa yang dia katakan.
“Maafkan aku.” Ucap Latifah. Aku membalasnya dengan tersenyum kepadanya.

“Kaira, kamu dipanggil ke ruang komunikasi.” ucap salah satu santriwati.
“Baiklah.” Aku tak banyak bertanya karena aku telah menduga, pasti ayahku meneleponku.

“Kaira, ada telepon untukmu” Ucap Bu Maryati.
“Assalaamualaikum Kaira. Ini Ayah, maaf malam-malam Ayag mengganggu aktifitasmu.”
“Waalaikumussalaam Ayah, tidak Ayah. Justru aku senang karena aku merindukan Ayah. Bagaimana kabar Ayah?”
“Kabar Ayah baik, tapi ada hal yang ingin Ayah sampaikan. Neisya masuk rumah sakit, Ayah membutuhkanmu agar bisa pulang ke rumah, kalau gitu sudah dulu karena masih ada yang harus Ayah urus, assalaamualaikum.” Ucap ayah dengan isak tangisnya.
“Waalaikumussalaam”
Aku tercengang. Tak tahu harus berbuat apa, tapi aku mencoba untuk tetap tenang. Kali ini aku mencoba untuk menghubungi Yoga. Mungkin saja Yoga bisa membantu untuk menemani Ayah.

“Yoga. Ini aku, Kaira. Masih ingatkah kamu padaku?”
“subhanallah.. Kaira, ya tentu saja aku tetap mengingatmu. Dan akan terus menunggumu.”
“Tolong jangan bahas itu. Aku meneleponmu untuk menyampaikan sesuatu, tetapi sebelumnya aku ingin bercerita mengenai apa yang aku alami di sini.”
“Iya, silahkan. Pasti hafalanmu sudah banyak ya?” tanya Yoga.
“Ya, benar. Tapi tidak hanya itu. Tapi aku heran, mengapa semua temanku mengetahui aib masa laluku, tentang ibu. Aku tak mengerti dengan semua ini.”
Yoga tak menanggapi apa yang aku katakan. Hanya saja sesekali terdengar suara helaan nafasnya.

“Yoga? Kau masih di sana?”
“Iya. Aku masih di sini. Sebenarnya.. Aku lah yang menyebarkan hal itu. Aku sengaja memberitahu Latifah tentang aibmu. Karena setelah aku telusuri, Latifah lah orang yang sangat membencimu. Jadi aibmu tersebar dengan sangat cepat.” Ucap Yoga.
“Mengapa kamu lakukan hal sejahat itu?” air mataku pun mulai menetes.
“Aku hanya ingin kamu kembali, tidak meninggalkanku lagi.”
Apa yang Yoga katakan membuat aku sangat terpukul, kuputuskan sambungan teleponku dan aku merasa tak ingin lagi menghubunginya.

Matahari terbit menyapa, aku berjalan menuju kantor untuk menyampaikan pemberhentianku.
“Assalaamu’alaikum Ustadz”
“Waalaikumuusalaam Kaira, ada apa?” jawab Ustadz Ibnu.
“Aku, aku akan menyatakan pemberhentianku.”
Ustadz Ibnu terdiam “Baiklah, mari masuk. Akan ada yang saya sampaikan juga kepadamu, di depan pimpinan, yairu Ustadz Yusuf dan Ustadz lainnya.”
Kemudian aku memasuki Kantor yang terdapat sekumpulan Ustadz serta Ustadzah yang tengah sibuk.

“Assalaamu’alaikum Ustadz ustadzah”
“Waalaikumussalaam. Kaira, ada apa? Silahkan duduk.”
Kemudian aku duduk diantara Ustadzah Hana dan Ustadzah Fahira, sedangkan Ustadz Ibnu duduk beberapa meter di seberangku di antara Ustadz Yusuf, Ustadz Fadlan, dan Ustadz Burhan.
“Ada apa Kaira?” Tanya Ustadz Yusuf.
“Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada guru semua yang telah membantu saya sehingga saya dapat menghafal 3 Juz dalam kurun waktu satu tahun, namun mohon maaf. Saya menyatakan pengunduran diri saya, hari ini. Karena adik saya masuk Rumah sakit, dan saya tidak dapat membiarkan ayah mengurus nya sendirian.”
“Sangat sayang sekali, namun itu sudah menjadi keputusanmu. Dan itu pun keputusan yang sangat baik bagimu” Sahut Ustadz Burhan.
“Namun, tidak hanya itu. Akan ada saya sampaikan kepada ustadz dan ustadzah semua” “Kaira, ada rasa yang berbeda untukmu, sejak lama saya selalu memperhatikanmu dan mengharapkanmu dalam doa. Dan saya sangat yakin padamu setelah saya sering mendapatkanmu dalam istikhorohku” Jelas Ustadz Ibnu. Wajahku mulai memerah karena rasa malu.
“Tapi… Masa laluku…”
“Semua itu tidak menjadi masalah. Karena bila hati tidak mampu mengelola masalah dengan positif, maka akan menjadi penyakit hati. Bila hati mampu memaknainya dengan baik maka akan menjadi tenang. Bagi saya, kamu menyukapi semua masalahmu dengan sangat bijak. Tanpa ada keluhan, dan kamu bisa merubah masalah itu dan menjadikanmu seorang wanita Penghafal Qur’an. Maka marilah berjalan bersamaku.” Jelas Ustadz Ibnu dengan penuh keyakinan.
Aku terharu mendengar seseorang yang dapat menerima kesalahanku.
“Aku tak bisa menjawabnya. Karena Ayahku perlu mengetahui ini” Jawabku.
“ya, tidak masalah. Saya akan membawamu pulang dan meminta para Ustadz dan Ustadzah menemaniku untuk mengkhitbahmu.” Jawab Ustadz Ibnu.
“Subhanallah. Sungguh bijaknya Ustadz Ibnu. Menyampaikannya dan ingin menghalalkannya. Kamu memang pria yang baik.”

Allah sungguh Adil, dibalik banyaknya rasa pahit yang tersisip di dalam perjalanan hiduku, ada sesuatu yang berbauh sangat manis jika mampu memaknainya secara positif. Bagi Hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin berubah, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula

Cerpen Karangan: Nida Shofiyatul Mardiyah
Facebook: Nida Hamiida
Hai..
namaku Nida Shofiyatul Mardiyah, teman-teman biasa panggil aku Nida/Sofi sekolah di Man 4 Karawang. terimakasih banyak sudah mau membaca cerpen saya sampai tuntas. hehe, maaf jika karya saya masih sederhana. karena hooby menulis baru saja saya miliki saat saya masuk MAN. kalian bisa menghubungi saya di akun facebook saya : Nida Hamiida, atau Nida Shofiya. trims

Cerpen Hakim Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takdir dan Harapan Cinta

Oleh:
Sore yang sangat kelam di sekitar rumah yang sepi, dedaunan yang jatuh seakan begitu iklas merebahkan dirinya ke tanah, setitik demi setitik air hujan menetes membasahi rerumputan. Sore itu

The Sweet Smile Man

Oleh:
“Kamu memang bukan pacar pertama aku, tapi kamu cinta pertama aku Fatma…!!!” teriak Adit saat Fatma menjauh pergi. “Gombal..!” Fatma balas berteriak sambil terus berlari meninggalkan Adit. Merasa sudah

Dia Bukan Jodohku

Oleh:
Angin pagi musim dingin menyapa seorang pemuda yang sedang menghafal Al Quran dalam perjalanan. Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh, ia sudah keluar dari flatnya di Matariah menuju Hussein. Kegiatannya

Suara Hati Sarah

Oleh:
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Para siswa Madrasah Aliyah segera berhamburan keluar kelas. Terlihat dua orang perempuan yang sedang sibuk mengeluarkan sepeda dari parkiran, sambil mengobrol. “Sarah, ntar belajar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *