Hana dan Ricky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 28 November 2015

Setelah menanti selama bertahun-tahun, akhirnya aku pun mendapatkan gelar sarjana. Seminggu setelah aku di wisuda, aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku di utara Kalimantan. Rasa rindu bercampur dalam kalbuku, mengingat aku akan bertemu dengan orang-orang yang ku cintai yang selama ini ku tinggalkan. Rasanya semua pengorbanan itu telah terbayar karena aku berhasil lulus dengan predikat terbaik, cumlaude. Malam ini ku habiskan waktuku untuk mengemasi barang-barang yang akan ku bawa besok. Rencananya pagi-pagi sekali aku akan pulang kampung. Karena barang-barang yang akan ku bawa lumayan banyak, aku harus ekstra hati-hati dan merelakan waktuku malam ini hanya untuk berkemas-kemas. Sementara teman-temanku yang lain masih asyik menikmati dinginnya malam kota ini.

Satu jam berlalu. Akhirnya aku selesai mengemasi semua barangku. Semuanya sudah masuk ke dalam koper, tak tersisa kecuali selembar kertas yang tergeletak di lantai marmer kamar kost-ku. Ku pikir sudah selesai berkemas, ternyata masih ada yang tersisa. Dengan cepat ku ambil kertas itu. Ku lirik sekilas, sepertinya hanya catatan barang atau nota pembelian. Tapi, ku baca sekali lagi. Ternyata itu catatan yang ku tulis lima tahun yang lalu dilihat dari tanggal yang tertera di sana.

27 Juli 2009
Hana & Ricky
“Bisakah kita bertemu tanggal 27 Juli 2014,
Di tempat pertama kali kita bertemu.”
Pukul 15.00 Wita
Love
Hana.

Aku ingat sekarang. Aku pernah menulis catatan itu untuk diberikan kepada Ricky. Sengaja aku menulisnya dua lembar, satu untukku dan satunya lagi untuk Ricky. Ternyata kertas itu masih utuh. Padahal aku sudah tidak mengingat hal itu lagi. Well, Ricky adalah cinta pertamaku. Pertama kali aku bertemu dia di sebuah taman ketika aku kelas 3 SMP. Sejak itu, aku dan Ricky memutuskan untuk bersama. Kami menangis dan tertawa bersama. Semuanya sangat indah. Sekarang, bagaimana kabarnya? Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya sejak hari itu, hari perpisahan kami.

Aku memang seorang muslim. Aku juga tahu mana yang baik dan buruk menurut Islam. Sebenarnya, Islam tidak pernah mengenal yang namanya pacaran. Di dalam Islam hanya ada ta’aruf, yaitu proses mengenali calon istri atau suami. Dan, pacaran termasuk mendekatkan kita kepada zina. Sementara zina sangat dilarang di dalam Islam. Semua itu ku ketahui dari buku yang ku baca. Aku kembali mengingat semuanya. Ketika aku bersama dia, hal itu bukanlah hal yang benar. Tapi, aku begitu menyayanginya. Sehingga aku takut untuk melepaskannya. Aku tahu, aku tidak seharusnya bersama dia. Aku belum halal untuknya. Aku belum menjadi miliknya yang sah. Pergolakan di dalam batinku begitu kuat saat itu. Tapi, tetap saja aku masih bersama dia.

Setahun aku menjalani hubungan ini. Walaupun aku dan dia tidak pernah berbuat hal yang melanggar hukum agama dan norma, tetap aku merasa gundah. Aku tidak tahu apa yang salah denganku saat itu. Hingga akhirnya, Tuhan membukakan pintu hatiku dan dia. Sebuah takdir yang menurutku begitu kelam membuat aku harus merelakan dia. Hari itu, sejak pagi dia tidak menghubungiku. Berkali-kali ku kirim pesan kepadanya, tapi tak pernah dibalasnya. Hingga takdir itu datang.

“Hana, maafkan semua kesalahanku. Hari ini aku sadar. Aku telah melakukan hal yang salah. Seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Kebersamaan kita telah mengundang dosa untuk kita berdua.” Aku terkejut. Aku tidak mengerti dengan maksud pembicaraannya. Sementara suara hujan semakin deras. Sayup-sayup sampai aku mendengar suaranya di telingaku. Ia meneleponku malam itu.

“Aku takut, Hana. Aku takut kepada Allah. Aku takut atas dosa yang mungkin tidak sengaja kita lakukan. Aku betul-betul takut. Aku harus bagaimana?” Remuk hatiku mendengar kalimat-kalimatnya. Aku sadar akan terjadi sesuatu yang buruk dengan hubungan kami.
“Sebaiknya kita berpisah saja, untuk sementara. Maafkan aku, Hana. Bagaimana menurutmu?” Ia bertanya padaku. Apa yang harus ku jawab jika ia sudah mengambil keputusan itu?
“Kalau itu memang maumu, kalau itu memang yang terbaik untuk kita. Aku hanya bisa menerima hal itu. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan.” Aku menggigit bibirku, menahan air mataku agar tidak mengalir.

“Tapi, aku berharap kita bisa bersama lagi. Aku ingin kita bersama lagi nantinya. Setidaknya jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, semoga Allah menyatukan kita di akhirat nanti, di surga-Nya.” Aku hanya bisa berkata seperti itu. Hatiku begitu hancur. Aku tidak pernah menyangka jika ia memutuskan hal itu. Tapi, aku harus menerima keputusannya.
“Aku berharap kamu selalu bahagia, Ricky. Walaupun kita harus berpisah seperti ini, tapi ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu.” Itu kalimat terakhir yang ke luar dari mulutku.

Luapan perasaan sedih yang begitu dalam. Aku harus merelakan kepergiannya. Aku tidak bisa menahannya karena ia sudah menggunakan alasan seperti itu. Ku seka air mataku. Mengingat semua kenangan itu membuatku merasakan lagi luka itu. Setelah enam tahun berlalu, tetap saja luka itu belum sirna. Semenjak kepergiannya pula, tidak ada yang mengisi hati ini. Kosong. Tetapi, di bagian yang lain namanya masih tersimpan rapi di hatiku. Akankah ia masih mengingat janji itu? Janji sebelum ia pergi. Janji jika perpisahan ini hanya sementara. Aku merebahkan tubuhku. Aku ingin agar malam ini cepat berlalu. Tanggal 27 tinggal beberapa hari lagi. Besok, apapun yang terjadi, aku harus kembali ke rumahku.

Seminggu kemudian, aku telah berada di rumah. Selama seminggu ini, ku habiskan waktuku untuk jalan-jalan ke rumah temanku, ke sekolah lamaku, bahkan ke acara pernikahan temanku. Begitu melelahkan. Aku tersadar kalau hari ini tanggal 27. Bukankah aku harus pergi untuk menemui Ricky. Tapi, aku ragu. Haruskah aku datang ke tempat itu? Bukankah dia belum tentu juga akan datang? Aku kembali bingung. Sementara waktu yang tersisa hanya satu jam. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika aku meminta saran sahabatku? Sekelabat ide tergambar di otakku.

“Ada apa, Hana? Kenapa nelepon jam segini?” ku dengar suara Salsa dari ponselku. Sahabatku yang paling baik, yang sangat mengetahui lika-liku perjalanan cintaku dan Ricky.
“Aku harus bagaimana? Hari ini tanggal 27. Tepat seperti hari itu. Haruskah aku bertemu dengannya seperti yang ku tulis di surat itu? Aku betul-betul bingung, Sa.” Dengan tidak sabar aku meminta sarannya.
“Kamu sendiri maunya gimana? Kamu mau datang atau tidak? Bukankah kamu sendiri yang mengajak dia untuk bertemu? Masa kamu tidak datang, Han.” Salsa menasihatiku. Kalau dipikir apa yang dikatakannya benar juga.
“Tapi, aku takut. Bagaimana jika dia tidak datang? Bagaimana jika hanya aku saja yang belum bisa melupakan dia? Sementara dia sudah melupakan aku.” Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Kebiasaan lamaku kambuh lagi.

“Apa salahnya jika kamu datang? Tidak ada yang marah, kan? Kenapa gak kamu coba aja. Siapa tahu dia juga datang. Jangan menyesal jika kamu gak bisa bertemu dia hanya karena kamu tidak datang. Ayolah, mana Hana yang ku kenal. Hana yang selalu semangat dan pantang menyerah.” Salsa begitu menyemangatiku. Benar, kenapa aku tidak mencoba? Aku tidak akan tahu kebenarannya kecuali jika aku datang.

“Apapun yang terjadi, bagaimanapun hasilnya nanti, itu pasti yang terbaik untukmu setelah penantian panjangmu. Aku akan selalu mendukungmu, Hana.” Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi. Apapun yang terjadi nanti, aku sudah siap menerima semuanya.
“Ya, sudah. Aku akan pergi. Doakan aku, ya. Semoga hari ini, semua penantianku terjawab.” ku dengar Salsa mengucapkan aamiin. Ya, semoga penantianku tidak tersia-sia.

Dengan cepat ku siapkan segalanya. Setelah mandi sebentar, aku pun siap untuk pergi. Aku sengaja memakai sepeda supaya tiba lebih cepat. Tepat jam 3 siang, aku sampai. Ku cari bangku di bawah pohon supaya aku tidak terkena sengatan matahari. Tak lupa ku bawa sebuah novel kesukaanku. Tempat ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena matahari masih sangat terik sehingga tidak ada seorang pun yang datang. Beberapa anak kecil terlihat bermain futsal di lapangan. Menunggu, satu kata yang sangat tidak aku sukai. Sejak aku masih kecil, aku sudah tidak suka yang namanya menunggu. Tapi, demi Ricky aku melakukan hal ini.

Ku baca novelku untuk mengusir kejenuhan yang hadir. Kenapa dia belum datang? Apakah dia sudah lupa dengan pertemuan ini? Aku begitu cemas. Aku takut semuanya tidak sesuai dengan harapanku. Ku lirik arlojiku. Sudah pukul empat. Adzan Ashar sudah bergema sejak tadi. Jika saja tidak berhalangan, aku pasti sudah salat. Aku yakin dengan salat hatiku yang semakin kacau akan kembali tenang. Ricky, ku mohon datanglah. Temui aku di sini. Biar ku tahu, masih adakah aku di hatimu? Masihkah kau mengingatku? Aku sendiri juga bingung. Sebenarnya apa tujuanku mengajak dia bertemu? Bukankah kami tidak pernah berkomunikasi lagi? Lalu, untuk apa aku bertemu? Sisi hatiku bertanya padaku. Benar. Apa tujuanku datang ke tempat ini?

Bukankah sudah jelas, jika dia datang berarti dia masih mengingatmu, masih menyayangimu. Dengan begitu kamu bisa bersama dia lagi. Bisik hatiku yang lain. Itu juga benar, pikirku. Jika dia datang berarti masih ada harapan untukku. Itu tidak benar! Sisi hatiku membantah. Jika dia datang, belum tentu karena dia masih mencintaimu. Siapa tahu dia hanya ingin mengiyakan ajakanmu untuk bertemu. Dan belum tentu juga dia akan datang. Bagaimana jika dia sudah menikah? Aku semakin bingung dengan pergolakan batinku. Tidak, apapun yang terjadi. Kamu harus menunggunya. Mungkin ini kesempatan terakhirmu untuk bertemu dia. Asalkan dia bahagia, kamu pasti bahagia juga. Sisi malaikatku berbisik. Ya, aku akan menunggunya bagaimanapun hasilnya.

Sudah satu setengah jam berlalu sejak aku datang. Tetap saja tidak ada tanda-tanda akan kemunculannya. Rabb, kuatkanlah hatiku. Aku ingat, dulu dia bilang kalau semua ini hanya sementara. Perpisahan kami hanya untuk sementara. Akankah ia menepati kata-katanya itu? Bisakah aku mempercayai kata-katanya? Aku kemudian berdiri. Ku langkahkan kakiku menuju kolam di tengah taman. Ku basuh wajahku. Rasa segar dan sejuk menjalari tubuhku. Begitu nyaman. Ya, aku hanya memberi dia waktu 30 menit lagi. Jika dia tidak datang, maka aku tidak ada pilihan lain lagi selain pulang.

Sambil berjalan, ku lihat beberapa remaja SMA berkumpul bersama teman-temannya. Ah, aku jadi merindukan teman-teman SMA-ku. Bagaimana kabar mereka sekarang. Memang, masa-masa SMA merupakan masa-masa yang paling indah. Aku kembali ke tempat pertama kali aku datang tadi. Bangku di bawah pohon. Ku baca kembali novelku. Ku bolak-balik lembarannya dengan tidak karuan. Lima menit lagi. Aku akan pergi dari tempat ini. Aku sudah lelah dengan semua ini. Cukup. Cukup sampai di sini, pikirku. Ia tidak akan datang. Tidak akan pernah. Aku beranjak menjauh dari bangku itu. Ku langkahkan kakiku menuju sepedaku. Tiba-tiba aku berhenti. Ku dengar ada suara memanggilku.

“Hana, kamu Hana, kan?” Suara itu tidak pernah aku lupakan.
Ku balikkan tubuhku. Ku lihat sesosok laki-laki yang sangat aku rindukan. Ricky, akhirnya dia datang juga.

“Maaf aku terlambat. Aku baru pulang kerja. Dari kantor aku langsung ke sini. Makanya aku bareng temanku, Rian. Aku benar-benar menyesal telah membuatmu menunggu lama.” Pantas saja ku lihat ada seseorang yang duduk tidak jauh dari kami. Berarti itu temannya Ricky. Ya tidak masalah dia mau datang dengan siapa. Yang penting dia sudah ada di sini.
“Iya, gak apa-apa kok. Bagaimana kabarmu sekarang? Udah nikah, ya? Ayo, kita duduk dulu!” Sambil berkata seperti itu, aku pun duduk. Ku lihat dia tersenyum mendengar pertanyaanku. Apakah itu sebuah pertanyaan yang konyol?

“Hana, kamu itu lucu sekali, ya. Tidak pernah berubah. Selalu saja terlalu berterus terang. Aku baik-baik saja, kok. Alhamdulillah, Allah selalu menjagaku. Soal nikah, mungkin sebentar lagi. Soalnya aku udah punya calon. Tinggal melamar dia saja lagi.” Buk, sebuah benda keras menghantam dadaku. Ternyata dia mau menikah. Lalu untuk apa dia datang menemuiku?
“Begitu, ya. Kalau gitu selamat deh. Tinggal aku aja lagi yang belum punya calon. Lalu, kamu datang ke sini untuk apa? Bukankah kamu sudah punya calon istri? Untuk apa kamu menemuiku saat ini?” Sambil menahan rasa haru, aku bertanya padanya. Setidaknya biar semuanya jelas untukku.

“Emm, maaf kalau aku menyinggung perasaan kamu. Aku tidak tahu kalau kamu masih sendiri. Kamu belum bisa melupakan aku, ya? Sebenarnya aku datang ke sini untuk menemui calon istriku.” Apa lagi ini? Untuk apa dia mengajak wanita itu ke mari? Apa cuma mau menyakiti hatiku saja?
“Maksud kamu apa dengan menemui dia di sini? Kamu ingin memperkenalkan dia padaku, begitukah? Kamu keterlaluan sekali. Untuk apa kamu memperkenalkan dia padaku? Tidak cukupkah sakit yang dulu ku rasa?” Aku ingin menangis, tapi ku tahan air mataku. Mataku mulai berkaca-kaca.
“Aduh, aku tidak bermaksud seperti itu, Hana. Sebenarnya wanita yang ku maksud itu sudah datang. Dan ia telah berada di depanku.” Ricky diam, membiarkan aku mencerna setiap kalimatnya.

“Maksud kamu, wanita itu aku. Benarkah?” Akhirnya tangisku meledak. Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
“Iya, Hana. Wanita yang ingin aku nikahi adalah kamu. Maukah kamu bersamaku lagi? Setelah perpisahan kita dulu. Maukah kamu menikah denganku dan hidup bersamaku sampai ajal memisahkan kita?” Ya, Rabb. Ini merupakan keajaiban yang tak pernah ku duga.
“Aku mau, aku mau hidup bersamamu. Menemanimu dalam sukadan duka.” ku terima permintaannya. Aku tak mengira jika penantianku selama ini tak sia-sia. Aku betul-betul bahagia.
Sekarang aku percaya jika jodoh itu tak akan ke mana. Aku berharap, aku bisa hidup bersama dengannya di dunia dan di akhirat kelak. Aku ingin hidup bersamanya selama-lamanya. Aku mencintainya karena-Mu, Allah.

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi

Cerpen Hana dan Ricky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putra Sang Dekan (Part 2)

Oleh:
Bulan berlalu, daun berguguran, burung-burung berkicau (hubungannya? kagak ada sih) Reva akhirnya tiba pada sesi sidang keduanya. Wacana perjodohan kak ikwan dan nunung lenyap bak ditelan bak mandi. Nunung

Dalam Doaku Termuat Namamu (Part 1)

Oleh:
Sekarang aku telah memasuki masa masa perkuliahan, aku berkuliah di sebuah Universitas yang bercorakan keislaman, yakni UIN Malang. Karena dari dulu aku menginginkan mengenyam pendidikan yang memiliki background keagamaan.

Thanks Irma

Oleh:
Claudi. Gadis kelahiran Spanyol ini baru saja tiba di sebuah perkampungan di pinggiran kota Bandung. Dia mencari seseorang yang notabennya adalah teman chatting Claudi. Mereka sudah membuat janji akan

Definisi Cinta (Part 3)

Oleh:
“Karena aku Islam dan kau Kristen.” Potongku telak. Dan mampu membuat ia terdiam. “Karena kita berbeda agama. Dan aku tak mungkin bisa menikah dengan orang yang tak seagama denganku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *