Hijab Mengantarkanku Pada Cinta Sejati (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

“Hmm are you serious? Aku gak percaya,” kataku dengan cueknya.
“Aku serius Zee, bahkan kalau bisa setelah lulus nanti aku mau ketemu dengan orangtua kamu untuk minta izin nikahin kamu Zee!” seketika itu juga aku kaget dengan kata-kata Ray barusan. Nikah? Itu bukan hal yang sepele! Ada-ada saja Ray ini, mungkin karena beberapa bulan gak ketemu ia jadi aneh seperti ini.
“Married? Itu hal yang tidak sepele, gak semudah itu kamu bilang gitu ke aku Ray. Mungkin saja kamu bisa bilang begitu padaku, mungkin beberapa bulan tidak ketemu lagi kita gak akan sibuk dengan urusan masing-masing. Cowok zaman sekarang tuh sama aja, cuma bisa ngomong aja,”

“Hmm, oke tapi apa yang kamu bicarakan tentang aku barusan, akan aku tunjukkan bahwa itu tidak benar, aku benar-benar mencintaimu Zee,” bahkan sekarang Ray memasang wajah serius sekali. Aku rasa omongannya benar, jika aku perhatikan. “Apa yang membuat kamu suka dan cinta sama aku? Sedangkan aku tidak pernah melakukan apa-apa untukmu? Kenapa kamu enggak suka sama Lyra saja? Atau cewek-cewek alumni angkatan kita aja sewaktu dulu?” aku memangku tangan di dagu dan tetap memperhatikan bunga sakura yang ada di taman.

“Enggak, cinta itu enggak bisa dipaksain gitu aja Zee! Aku suka dan cinta sama kamu karena ini!” Ray memegang kerudungku dengan pelan dan berusaha untuk tidak menyentuhku. Seketika itu juga, aku tidak menyangka bahwa ternyata ada laki-laki yang melihatku dengan hijab yang aku kenakan.
“What? Kenapa harus kerudung? Bukankah para laki-laki menyukai kecantikan wanita berambut panjang?” tanyaku. “Tapi, menurutku. Cuma laki-laki yang spesial di dunia ini yang menyukai dan mencintai wanita berhijab demi Allah,”

“Yaps! Aku rasa akulah laki-laki spesial itu! Benarkah?” Ray kegirangan. “Ayolah Zee, jangan kamu tutupi perasaanmu ke aku, aku tahu kalau kamu juga punya perasaan yang sama denganku, iya kan iya kaan?” ledek Ray dengan tawanya yang lepas. Sepertinya aku salah jika berkata seperti itu di depan Ray.
“Iiihh kamu jangan baper deh ya! Siapa juga,” aku tetap cuek dan santai walaupun sebenarnya aku gengsi pada Ray.
“Zee, aku tahu perasaan kamu. Kamu itu wanita spesial yang ada di hidupku Zee, aku gak nyangka bakalan ketemu perempuan sebaik kamu, cewek kayak kamu tuh langka tahu gak di dunia ini!”

“Dikata Badak, langka? Hahahaha,” aku tetap saja menanggapinya dengan candaan.
“Iiihh aku seriusan nih! Aku suka sama kamu dan sayang sama kamu, selama ini aku cuma bisa berdoa untuk kebaikan kamu, untuk nutupin rasa sayang aku ke kamu!” Ray masih terlihat serius, dan Casey posisinya semakin jauh saja mencari tempat selfie yang tepat sambil bernyanyi-nyanyi sendirian. “Kalau kamu gak percaya, aku akan berjanji jika kita memang jodoh, kita pasti ketemu lagi di mana pun itu bahkan di tempat dan waktu yang tidak terduga, dan jika kita hanya sebatas teman, maka salah satu dari kita sudah menikah lebih dulu, i promise!”

“Kamu berjanji? Itu bukan janji Ray, itu memang kodrat Allah untuk menjanjikan jodohnya masing-masing. Tapi jika kamu mau berjanji, maka berjanjilah agar kita selalu menjaga hubungan baik,”
“Aku berjanji,” Ray menunjukkan kedua jarinya sebagai tanda bahwa ia berjanji.
“Oke Zee, jika kita bisa menikah suatu saat nanti aku akan mengajakmu ke Perancis setelah kita menikah hehe,”
“Ya ampun, kamu pikirannya udah ke nikah aja Ray. Kamu buru-buru pengen nikah ya?”

“Enggak juga, ini kan pengandaian. Pembuktian kalau aku benar-benar serius denganmu, aku benar-benar mencintaimu Zee. Dengan hijab yang kamu pakai, aku yakin semua yang kamu tutupi itu hanya untuk suami kamu kelak, dan aku yakin sekali bahwa calon pangeran hidupmu adalah aku,”
“Ayolah, jangan berkata saja. Jika kamu benar, maka datangilah Ayahku di rumah, sekarang aku harus pulang karena ada tugas yang harus aku selesaikan hari ini, terima kasih sudah percaya padaku,” aku berdiri dan memanggil Casey, dan Casey pun berlari ke arahku.
“Assalamu’alaikum Ray,”
“Wa’alaikumsalam Zeehara!”

Beberapa tahun kemudian, akhirnya aku lulus dengan gelar sarjana yang aku raih. Selama pertemuanku dengan Ray pula di taman sewaktu di Jepang, itu adalah pertemuan terakhirku dengan Ray di Jepang. Bahkan contact person Ray, aku sudah tidak memilikinya lagi. Aku sangat senang sekali bisa kembali ke Indonesia dengan kesuksesan yang sudah ku raih selama di Inggris. Sekarang aku masih memikirkan kata-kata Ray yang sempat ia katakan sewaktu di Jepang. Maka, aku bicara pada kedua orangtuaku. Dan sepertinya mereka ingin bertemu dengan Ray.

Maka aku mencari-cari contact person Ray yang bisa dihubungi. Aku mencari dari grup alumni SMA, pergi ke rumahnya, hingga bertanya ke teman-teman terdekatnya berhubung aku sedikit-sedikit tahu siapa saja orang yang berada di sekitar Ray termasuk Alex, tapi akhirnya aku menemukannya juga! Aku mendapat nomor telepon dari salah seorang sahabatnya. Kemudian aku meneleponnya dengan ragu-ragu. Namun aku ingin mempertanyakan apakah perasaannya yang dulu padaku masih ada? Jika iya, aku akan memintanya untuk menemui orangtuaku di rumah.

Kriiinngg.. Kriiinggg..
“Halo assalamu’alaikum?” salamku, dan aku dapat mendengar suara laki-laki dari sana.
“Wa’alaikumsalam, maaf ini siapa ya?” tanyanya.
“Ini Zeehara, apa benar ini nomor telepon Ray?”
“Zeehara? Iya ini aku Ray! Dapat dari mana nomor teleponku?”
“Alhamdulillah akhirnya bisa ngomong sama kamu juga Ray!”
“Hey jawab dulu pertanyaan aku Zee!”
“Oh iya, aku dapat dari sahabat kamu yang bernama Alwan.”

“Oh Alwaan? Oh iya, kamu apa kabar Zee? Selama ini aku menunggu kabar darimu,” tanya Ray.
“Baik kok, kamu sendiri gimana?”
“Baik jugaa hehe, oh iya sekarang kegiatan kamu apa? Kuliah gimana udah lulus dari Inggris?”
“Alhamdulillah aku sudah lulus dan aku seneng banget! Akhir-akhir ini aku sedang mencari kerja di Indonesia, yaa agak sulit jugaa. Gimana dengan kamu juga?”
“Alhamdulillah sekarang aku juga udah lulus dari USA, dan akan mencari kerja di USA juga.”
“Hmm, jadi sekarang kamu masih di USA? Kapan ke Indonesia?”
“Sekarang aku di Indonesia Zee, liburan dulu. Itu baru rencana saja, oh iya aku mau nanya sesuatu.”

“What is that?”
“Apa kamu sudah punya pacar di sana?”
“Hahaha, what did you say? Boyfriend?” tanyaku dengan tertawa kecil.
“Hmm yes,” jawab Ray dengan sedikit ragu.
“Dari dulu kan kamu tahu, kalau aku enggak punya pacar dan gak mau pacaran, tapi yang naksir sih banyaaakk hehe,”
“Benarkah?”
“Enggak enggak cuma bercandaa, kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyaku.

“Aku masih mengharapkan kamu Zee, asal kamu tahu itu.” Suara Ray terdengar melemah.
“Justru inilah yang ingin aku tanyakan padamu Ray, orangtuaku ingin bertemu denganmu, aku ada di Indonesia dan ada di rumahku yang dulu, kamu tahu kan?”
“Haa? Yang benar? Aku tahu rumahmu! Oke, aku akan pergi ke sana besok!”
“Secepat itukah?”
“Bukankah lebih cepat lebih baik?”
“Baiklah, maaf kalau mengganggu, ku tunggu besok di rumah,”
“Oke aku akan datang pukul 5 sore, karena siangnya aku harus mengisi acara.”
“Oke, see you!”
“See you!”

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, Ray datang dengan penampilan yang rapi, kemeja biru dongker dengan sepatu kets yang lengkap dengan tas ransel setengah penuh, tepat pukul 5 sore. Ia mengetuk pintu rumah, sedangkan ayah dan ibu sedang ada di dapur. Kemudian aku persilahkan Ray masuk ke ruang tamu, dan aku memanggil ayah dan ibu.

“Assalamu’alaikum Zee?” salam Ray.
“Wa’alaikumsalam, ayo masuk Ray, aku panggil Ayah sama Ibu dulu,” aku mempersilakan Ray duduk di sofa.
“Ayaah, Ibuu.. Ray sudah datang, ada di ruang tamu,”
“Baik, Ayah dan Ibu segera kesana,”

Ketika ayah dan ibu duduk di sofa, Ray menyalami keduanya. Aku pun mengambilkan Ray minum dan menyuguhkan beberapa toples kue. Kemudian aku duduk di sofa yang lain, memperhatikan pembicaraan mereka bertiga.
“Jadi gini Tante, Om. Maksud saya datang ke mari, mau melamar anak Tante sama Om,” kata Ray dengan sedikit gugup.
“Oh jadi kamu ingin melamar anak saya?” tanya ayah. “Memangnya kamu ini sudah bekerja?”
“Iya, saya sudah bekerja di salah satu perusahaan sebagai karyawan swasta, alhamdulillah ketika saya melamar langsung diterima. Begitu juga harapan saya kali ini,” jelas Ray. “Hmm enggak cuma itu Om, Tante, saya juga hobi foto-foto gitu.”

“Selfie maksud kamu?” tanya ibu yang tampaknya salah paham.
“Ehh enggak Bu, maksud Ray dia hobi fotografi, bukan foto selfie,” jelasku.
“Oh, Ibu kira selfie.”
“Nak Ray, sebelumnya kami sudah mengetahui tentang Nak Ray dari Zeehara. Kami sudah menyetujui hubungan kalian berdua, dan sebaiknya cepat-cepat saja daripada timbul fitnah,” kata ayah.
“Jadi Om setuju kalau saya dan Zeehara menikah?” raut wajahnya Ray tampak senang tak terbendung. “Alhamdulillah,”
“Iya, saya setuju,” lanjut ayah.

Setelah lamaran itu, satu minggu kemudian aku mendapat pekerjaan. Dan beberapa bulan kemudian kami menikah di suatu gedung, suasana pernikahan bertema bunga edelweis putih dan angsa putih. Mengapa kami memilih bunga edelweis putih dan angsa putih? Karena bunga edelweis adalah bunga abadi yang hanya bisa didapatkan di puncak gunung, sedangkan angsa adalah simbol cinta, dan warna putih adalah suci, jika digabungkan, maka akan berarti “Cinta Abadi yang Suci” Tentunya pernikahanku ini aku turut mengundang teman SD, SMP, SMA, orang terdekat dan juga Casey sahabatku dari Inggris. Syukurlah Casey bisa datang ke Indonesia, dia menginap di salah satu hotel dekat dengan gedung resepsi.

Ray juga mengundang rekan kerja, teman SD, SMP dan SMA, ia juga tidak lupa dengan Alex, dan Alex pun bisa menghadiri pernikahan kami, jauh-jauh Alex dari Amerika ke Indonesia. Ia juga ternyata menginap di hotel yang sama dengan Casey. Di acara resepsi, aku juga melihat geng Fanatic yang sampai sekarang masih bersahabat. Aku jadi teringat masa-masa SMA dulu aku pernah dicaci oleh mereka, tapi sekarang itu berubah jadi kebahagiaan, karena sekarang Cheryl, Natasya, dan Fisca sudah berhijab.

“Hai Zee, Ray. Congratulation ya, semoga kalian langgeng amiin. Oh ya Zee gue mau minta maaf ya kalau gue dulu pernah menghina lo,” kata Cheryl.
“Gue juga Zee, kita udah punya banyak dosa sama lo,” lanjut Natasya dan Fisca.
“Hahaha gak apa-apa kali, itu kan dulu. Sekarang kalian sudah berhijab? makin cantik tahu gak! Asal sifat kalian yang dulu harus dirubah juga ya,” kataku.
“Hmm kapan kalian akan menyusul kami?” kata Ray dengan alis terangkat.

“Oalaaahh haha soal pernikahan insya Allah ada deh jodohnya haha,” kata Cheryl.
“Gue juga beberapa bulan kedepan mau married nih Zee, kalian dateng ya!” kata Fisca.
“Iya kita pasti dateng kok, ayo silahkan makanannya tuh entar keburu habis sama emak-emak rempong loh haha,” canda Ray. “Wahaha lo bisa aja Ray, ya udah kita ke luar dulu ya, gak nyangka kalian bisa jodoh juga,” kata Natasya.
“Alhamdulillah.” jawabku dan Ray.

Di akhir acara, kami diperintahkan oleh kedua orangtua kami untuk melepas 2 merpati putih ke angkasa, kata orang zaman dulu sih biar cintanya selalu abadi karena burung merpati juga termasuk simbol cinta. Kami memegang burung merpati masing-masing, aku memegang merpati betina, sedangkan Ray memegang merpati jantan. Kami berdua melepaskan mereka bersamaan, seiring terbangnya merpati itu, di situlah kebahagiaan kami yang sebenarnya.

Cerpen Karangan: Lingga Bhatavinurel Irawan
Facebook: Lingga Bhatavinurel

Cerpen Hijab Mengantarkanku Pada Cinta Sejati (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dermaga Tua

Oleh:
Dingin sekali.. rasa-rasanya melebihi dingginnya puncak Gunung Sindoro yang pernah kudaki dulu, Bukan… bukan cuacanya, lebih tepat ke hati dan rasa ini yang dingin, kaku, seperti tidak tau mau

Ku Bawa Cinta Sampai Ke Surga

Oleh:
Cinta memang selalu menjadi sesuatu yang bisa saja menggusarkan hati seseorang yang biasanya tenang. Bisa saja membuat kita yang biasa merasa istimewa. Bisa juga biasa-biasa saja. Semua itu tergantung

Prinsip

Oleh:
Aku mencintainya, sangat mencintainya. “Walau sepihak”, tandasku pada hati yang seenaknya menciptakan rasa itu. Ditambah hujan dari mataku enggan sepakat untuk tak nampak di hadapan orang lain. Guess where

Thanks Irma

Oleh:
Claudi. Gadis kelahiran Spanyol ini baru saja tiba di sebuah perkampungan di pinggiran kota Bandung. Dia mencari seseorang yang notabennya adalah teman chatting Claudi. Mereka sudah membuat janji akan

Dalam Pinta Harap, Kau Nyata

Oleh:
Kali ini aku tak lagi samar dengan perasaanku. Hembusan angin, derai air mata, kesunyian, seperti sudah menjadi sahabatku. Semua sudah meresap dan menyatu dalam hidupku. Nyanyian angin di dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *