Hijrah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 18 May 2018

Hanafi terus memandangi foto gadis slengekan itu. Sore ini dia akan menemuinya di taman kota. Terdengar dari suaranya di telepon gadis itu jutek, galak dan keras kepala. Tapi demi almarhum ayahnya yang tengah berjanji pada Om Wawan (sahabat ayah Hanafi) bahwa ketika anak-anak mereka sudah dewasa akan dijodohkan.

16.00 Taman kota
Hanafi melihat sekeliling. Setiap perempuan dipandangnya, dibandingkan dengan foto yang di tangannya. Tapi ia tidak menemukan wajah yang sama dengan foto itu. Ia pun menelepon gadis itu segera.
“Assalamualaikum, adek di mana?”.
“Eh gue udah liat lu, biar gue aja yang samperin ke situ.” Telepon terputus begitu saja.

Lima menit kemudian ada seorang perempuan datang menghampiri Hanafi yang sedang celingukan di bangku taman.
“Bang, lu nyari gue kan?..”.
“Astagfirulloh, anda siapa?”.
Hanafi dikagetkan dengan perempuan berpakaian ala preman. Jeans panjang sobek di mana-mana, kaos oblong tanpa lengan belum lagi rambut pirang yang membuat Hanafi tidak berhenti menggumam. Tidak salah lagi itu adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya.

Malam ini Hanafi tidak bisa tidur gegara gadis berambut pirang itu. Dalam hatinya berbisik “Apa aku bisa merubahnya menjadi perempuan yang lebih baik seperti permohonan kedua orangtuanya?”. Hanafi menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memandang foto gadis itu lagi. Tersenyum, sebenarnya ia begitu mengagumi paras gadis itu. “Andaikan dirinya berhijab, pasti… sangatlah cantik.”

Tanggal pernikahan semakin dekat. Tidak ada satu hal positif pun yang Hanafi tahu tentang calonnya ini. Yang ia ta tahu gadis itu keras kepala. Satu hari sebelumnya Hanafi bertemu gadis itu dan gadis itu tetap tidak mau menerima perjodohan ini. Hanafi khawatir ketika hari H nanti gadis itu menolaknya mentah-mentah untuk dipinang.
“Bang, gue siap menikah sama lu demi ayah dan ibu.”
Begitu isi pesan singkat dari gadis itu. “Subhanalloh…” Hanafi kemudian membalas pesan singkat gadis itu.

April, 13.00
Resepsi pernikahan Hanafi dan Hawa berlangsung hikmat dan lancar. Senyum Hanafi melebar ketika melihat istrinya berhijab seperti yang ada diangan-angannya. Hawa terlihat sangat cantik dengan kebaya putih adat jawa dan hijab yang menutupi rambut pirangnya itu.

“Dek, kamu cantik hari ini.” Bisik Hanafi kepada Hawa ketika duduk di pelaminan disaksikan orang banyak.
Tapi Hawa tersenyum kecut dan acuh. Hanafi menunduk dan menghela nafas panjang.
“Bang, lu jangan ge-er ya. Gue mau nikah ama lu bukan karena gue cinta ama lu.” Bisik Hawa. “Gue itu bukan orang baik, alim, solehah bang. Jangan ngarep deh gue ini berjodoh ama lu.” Sambungnya lagi.
“Setidaknya aku bisa bersanding denganmu hari ini.” Hanafi menatap Hawa dengan senyuman.

Hari pertama setelah pernikahan…
“Jangan pernah menyentuhku sedikitpun. Atau kita akan cerai.” Gertak Hawa pada suaminya. Hanafi menyeruput kopi pertama buatan Hawa yang disediakan di meja kamar.
“Baiklah. Kalau begitu aku tidur di sofa saja dek.” Kemudian beranjak pergi. Hawa membawakan bantal dan selimut untuk Hanafi tidur di sofa. Satu-dua-tiga malam sudah Hanafi tidur di sofa. Hawa menyediakan bantal dan selimut. Kopi manis, hangat di meja kamar. Selalu seperti itu.

Hingga suatu ketika..
“Bang, lebih baik carilah wanita diluar sana yang bisa memberimu keturunan. Gue kagak bisa.” Hawa menyalakan korek api dan membakar ujung rokoknya.
“Ayolah bang, gue ini kagak baik buat lu.” Hawa bermain dengan kepulan kecil asap rokoknya.
“Baiklah.” Hanafi hanya menjawab singkat. “Buanglah rok*kmu. Ini yang membuat kamu tidak baik.” Tanpa kata Ya dari Hawa, rokok itu sudah terjatuh di lantai karena Hanafi membuangnya. Hawa hanya bisa melongo tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Mulai sekarang ikuti kata-kataku”, kata Hanafi menatap tajam pada Hawa.
“Lu sadar gak bang, tindakan elu ini bisa jadi pemicu..”, dengan tatapan yang masih sama tajam Hanafi menjawab
“Saya tidak peduli. Karena saya adalah suami kamu, mulai sekarang kamu harus mengikuti apapun kata-kata saya”, sergah Hanafi sinis memotong bantahan Hawa.
Kali ini ada yang lain pada Hanafi, Hawa tak pernah melihat Hanafi yang seperti ini. Sebelum Hawa berusaha membantahnya, Hanafi sudah menyambar bungkus rok*k yang disimpan Hawa lalu melangkah keluar. Memang rumah yang mereka berdua tinggali itu bukanlah rumah yang besar, rumah salah satu milik orangtua Hanafi itu sekarang sudah menjadi milik mereka berdua. Hawa hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan memikirkan sesuatu yang kuat tersembunyi dalam pria yang beberapa menit lalu menatapnya tajam.

Malam setelah kejadian sore itu Hawa belum berani bicara pada Hanafi, makan malam pun dilewati mereka tanpa sepatah kata hingga “maaf”, ucap Hanafi singkat melanjutkan makan malamnya tanpa menatap Hawa di hadapannya. Hawa sempat terkesiap mendengarnya, namun seketika itu juga menjawab dengan sarkastik,
“gue nggak butuh ucapan maaf dari elu bang”. Hanafi menghentikan makan malamnya, meletakkan sendok dan bersedekap serta merta menatap Hawa lekat-lekat.
“Bersyukurlah kamu karena memiliki saya sebagai suami kamu, kamu tidak akan pernah mengira apa yang akan terjadi jika saya sewaktu-waktu berubah pikiran dan bisa berbuat sesuatu diluar dugaan kamu”, ujar Hanafi. Hawa menghentikan sejenak kunyahannya,
“Jadi lu ngancem gue bang?”, Hawa memberanikan diri menatap lekat-lekat mata Hanafi.
“Bisa dibilang saya bukan tipe orang yang suka mengancam, tapi jika kali ini kamu menganggapnya begitu saya tidak akan menyangkalnya”, Hanafi merapatkan tubuhnya pada meja mendekatkan wajahnya pada wajah Hawa. Hawa refleks memundurkan tubuhnya terkejut atas tindakan tiba-tiba Hanafi ini. Memang akhir-akhir ini semenjak peristiwa rokok sore itu, Hanafi kerap melakukan ‘tindakan-tindakan mengejutkan’ tanpa sepatah kata pun.

“Hawa, apa kamu yakin ingin menggugat cerai Hanafi?”, Pertanyaan ibu kali ini membuat Hawa tersentuh. Keinginannya bercerai dengan Hanafi memang tidak begitu kuat tapi melihat sikap Hanafi belakangan ini Hawa menjadi takut. Hawa tidak menjawab pertanyaan ibunya, air matanya mengalir. “Hawa, bercerai itu bukan hal yang disukai Tuhan. Pikirkan lagi nak. Ibu berharap kamu berubah pikiran.”

Sedemikian kata-kata ibunya, Hawa berubah pikiran. Hanafi tidak lagi melihat istrinya merok*k, kasar kepadanya, dan membuka hijab semaunya seperti sebelumnya. Ia begitu heran melihat banyak perubahan dalam diri Hawa.

“Bang,” katanya lembut sembari menyentuh tangan Hanafi. Tapi Hanafi malah takut jika tiba-tiba Hawa menamparnya karena sikapnya beberapa hari ini.
“Apakah abang tau kalau Hawa pernah berfikir ingin menceraikan abang?”
“Astaghfirulloh, dek. Benarkah? Maafkan sikap saya akhir-akhir ini, saya hanya ingin…”.
“Stttt..”, telunjuk hawa sudah mendarat di depan mulut suaminya yang ketakutan itu.
“Hawa yang minta maaf bang, sejauh ini Hawa bukan istri yang baik buat abang. Hawa kasar sama abang dan Hawa menyesal pernah berfikir ingin bercerai dari abang.”, Hawa menunduk malu di hadapan Hanafi.
Tanpa sepatah kata Hanafi mendekapkan kepala istrinya itu di dadanya. Ia tidak pernah menyangka Hawa akan berubah menjadi wanita lebih baik.
“Dan Hawa pengen bilang bang”, Tiba-tiba Hawa melepaskan dekapan Hanafi.
“Kenapa dek?” Tanya Hanafi kembali takut.
“Hawa cinta sama abang.” Kata Hawa bersemangat. “Saya juga mencintai kamu.”
Hanafi tersenyum manis dan kembali memeluk hangat istrinya.

Cerpen Karangan: Nofita Ratnasari
Blog: Nofitars.blogspot.com

Cerpen Hijrah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengharapan Di Ujung Rindu

Oleh:
Pagi itu adalah awal dari semua kisahku dari semua penantian rinduku. Lantunan ayat demi ayat tak hentinya ia dibacakan. Irama yang membuat darahku berdesir, irama yang membuat tubuh ini

Bukan Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Semburat senyumnya menyapa pagi. Meneteskan embun-embun yang bergantungan di pucuk dedaunan. Hari ini adalah hari yang akan sangat melelahkan bagi Melati. Karena sekolahannya akan mengadakan Perkemahan Tamu Ambalan (PTA)

Manakah Cintamu

Oleh:
Pikiranku mulai melayang memikirkan seorang lelaki yang sangat mengecewakan hati semua wanita, bahkan aku yakin tidak akan ada wanita yang mau diperlakukan demikian. Kecewa sudah pasti tidak luput juga

Dia Yang Kembali

Oleh:
Hujan deras yang membasahi kota mengingatkanku kepada kenangan lama yang pernah aku jalani dengannnya. Sebut saja dia adalah Muhammad fadhli dengan sapaan akrab Fadhli. Kita pernah menjalin hubungan spesial,

A Cup Of Longing Please! (Part 1)

Oleh:
Kuhirup secangkir moccachino pertamaku. Aromanya yang wangi membiusku agar terjaga sore ini. Sekedar melepas penat usai bekerja di kantor seharian, ditambah persiapan ujian di kampus besok. Kupikir mampir di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *