Hijrah Dari Cinta Yang Salah (Aku dan Hidayahmu)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 29 December 2016

Sepenggal kisah yang amat buruk dan memalukan masih terekam jelas dalam ingatan. Kisah dari seorang pendosa yang tak lain sedang mengharapkan ampunan, ridho serta berharap ada secarik hidayah dariNya. Sebenarnya, ini kisah kelam yang ingin kukubur dalam-dalam. Bukan maksud ingin membuka aib diri sendiri, melainkan hanya untuk berbagi. Berbagi hikmah bagi pembaca sekalian.

“Playgirls”. Sebutan yang pantas aku gelar sewaktu masih menjadi siswi SMA. Dengan penampilan yang berantakan dan gaya yang selengean, ternyata itu bukanlah suatu alasan untukku mendapatkan seorang pacar. Aku cukup banyak disukai oleh lelaki. Bagaimana tidak? Dalam satu bulan aku dapat berganti pasangan sebanyak 2, 3, 4 hingga 5 kali. Namun disayangkan, hubungan itu hanya mampu bertahan dalam hitungan hari.

Kisah ini terjadi pada tahun 2013, tepatnya bulan Ramadhan. Seperti biasa, sekolahku mengadakan sanlat (pesantren kilat) yang mengundang ustadz terdekat sebagai pengisi acaranya. Namun, tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Santri-santri yang berasal dari pondok modern di Jawa Timurlah yang akan mengisinya.
Sewaktu mereka memperkenalkan diri kepada semua murid, ada satu santri yang membuat mataku tidak berkedip. Surya; itulah nama yang kudengar saat dia memperkenalkan dirinya. “Sungguh sempurna ciptaanMu”, kata tersebut yang tanpa sadar terlontar dari mulutku saat melihatnya. Lebay rasanya jika aku harus mengingat kejadian itu.

Setelah perkenalan itu, semua murid berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Namun, tidak denganku. Aku meminta salah seorang teman menemaniku ke toilet untuk buang air, sebut saja namanya Enay. Sesampainya di depan toilet, tujuanku berbeda. Bukan lagi untuk buang air, justru aku diam-diam berjalan menuju ke sebuah ruangan, yang letaknya persis di depannya. Aku berdiri menghadap ruangan itu. Dari kejauhan, sekilas ruangan itu terlihat kosong. Benar saja, memang tidak ada satu orangpun di dalamnya.
“Lho kok sudah tidak ada orang. Kemana mereka?” pertanyaan semacam itu yang terlintas dalam benakku. Penuh harap bahwa saat aku memasuki kelas, dia yang berada di dalamnya.
‘TAMPAN’ itulah kesan pertama saat aku melihatnya. Memang, postur badannya tak terlalu tinggi melainkan cenderung pendek. Namun, di mataku tetap saja dialah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Astaghfirullah! Mengapa aku menjadi bodoh seperti ini, tanpa sadar aku terlalu memuji ciptaanNya. Padahal aku tahu betul, bahwa jika dikaitkan dengan Allah SWT maka tidak ada manusia yang sempurna.

“Tri” panggil Enay mengusik lamunanku
“Iya Nay?” balasku sambil menoleh padanya
“Katanya mau ke toilet, kok berdiri disitu?” ucapnya
Tanpa menggubris pertanyaan dari Enay, aku berlari menuju toilet. Tanpa sadar, aku telah menahannya sedari tadi. Setelah selesai, aku langsung saja bergegas menuju kelas dan meninggalkan Enay. Yang saat itu, Enay juga pergi meninggalkanku dengan arah yang berbeda.

Dengan tergesa-tergesa aku melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kelas. Sesampainya di depan kelas aku dikejutkan dengan sosok pria tampan yang mengenakan kemeja biru lengkap dengan dasi yang senada. “Itu kan dia. Ya itu benar dia” ucapku dalam hati.
Masih tetap dalam keadaan mematung. Peluh yang membasahi dahi. Nafas yang tersengal. Tali sepatu yang mulai terlepas. Serta mata yang menatap ke depan dengan pandangan kosong. Semua itu tanpa kusadari. Aku terhipnotis dengan apa yang baru saja kulihat. Hingga akhirnya ada suara yang menyadarkanku.
“Hei, kamu!”
Aku mencari darimana sumber suara itu berasal. Dengan kepala yang kutengok kanan dan kiri, ternyata aku tak menemui siapapun disini. Awalnya, aku mengira bahwa itu adalah suara guruku, namun ternyata bukan. “Jika itu bukan suara guruku, lantas itu suara siapa?” ucapku lirih setelah mengetahui tidak ada siapapun di sekelilingku.
“Kamu kenapa diam saja di luar? Ayo masuk”
“Suara itu? Itu kan suara yang sama dengan apa yang baru saja aku dengar” batinku.
Dan ternyata itu adalah suara dari sosok pria yang kulihat tadi pagi, siapa lagi kalau bukan Surya. Santri tampan yang kuharapkan masuk ke kelasku. Dan benar saja dia memasukinya.
Lagi-lagi aku terhipnotis olehnya. Bodohnya… Mengapa aku tak menyadari bahwa suara itu adalah suaranya. Padahal sudah jelas. Posisiku tepat di depan kelas dan di dalam kelas itu hanya ada dia dan teman-teman sekelasku. Dengan suara terbata-bata aku menjawab ucapannya yang sedari tadi kuhiraukan.
“Eh, iya. Assalamualaikum Ka” ucapku padanya
“Wa’alaikumussalam. Ayo masuk. Silahkan duduk” ucapnya, sambil mempersilahkanku masuk.

Dengan langkah yang sedikit ragu, aku memasuki kelasku. Terdengar sedikit tawa dari teman-teman saat aku menuju tempat dudukku. Aku yakin mereka menertawakanku. Namun tetap kubiarkan saja, karena fokusku bukan pada mereka melainkan dia. Iya dia, sosok yang pertama kulihat dan langsung membuatku jatuh hati.
Mudah jatuh hati, itulah kelemahanku sedari dulu. Aku tak menyadari, bahwa saat itu aku telah memiliki seorang kekasih. Aku biasa memanggilnya Samsul. Usianya tiga tahun lebih muda dariku. Saat itu, usiaku 18 tahun sedangkan usianya 15 tahun. (“Brownies (Berondong Manis)” sebutan bagi pasangan yang usianya dibawah kita)
Samsul memiliki pemikiran yang dewasa, berbeda dengan teman-teman seusianya. Itulah yang membuatku terpikat. Padahal, jika dibilang tampan, dia jauh dari kata itu. Samsul memiliki tinggi badan seratus enam puluh sentimeter, berambut keriting, hidung yang tidak terlalu mancung dan kulit yang sedikit kecoklatan.
Dibalik sifatnya yang dewasa, ada satu sifat yang membuatku tidak nyaman. Tak lain adalah matre. Sudah berapa uang yang kuberikan untuknya dengan alasan yang berbeda setiap harinya.

Selama dia berbicara di depan kelas, mataku sama sekali tak berkedip untuk memandanginya. Saat itu dia sedang menceritakan asal, keluarga serta cita-citanya. Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa dia berasal dari keluarga yang berada. Ibu yang seorang dokter, dan ayah yang seorang dosen di salah satu tempat tinggalnya. Perasaan minder itu pasti ada. Apalagi aku, yang hanya anak dari seorang buruh bangunan.
Dari ceritanya aku mengetahui segala hal tentang dirinya. Mulai dari nama lengkapnya, tanggal lahirnya, alamatnya serta cita-citanya yang ingin melanjutkan pendidikan di kota Madinah. Hanya satu yang tidak kuketahui, nomor teleponnya. Saat itu, dia tidak ingin memberikannya. Namun aku tahu, dia pasti akan memberikan nomor telepon kepada murid kesayangannya.
Sebut saja Gani. Dia teman sekelasku. Dia mengenal salah satu murid yang menjadi murid kesayangannya. Aku meminta Gani untuk memberikan nomor telepon murid tersebut kepadaku. Lantas, dia langsung memberikannya. Kuhubungi murid itu, dan kutahu bahwa ternyata dia adalah adik kelasku. Ivi itulah namanya. Dari Ivilah aku mengetahui nomornya. Setelah aku mengetahui nomor teleponnya, aku tidak lagi menghubungi Ivi. Maafkan aku Ivi, bukan maksudku ingin menjadikanmu seperti tebu. Yang habis manis sepah dibuang. Bukan juga ingin menjadikan sampah. Yang kacang lupa pada kulitnya.

Semakin hari perasaanku semakin tak karuan. Antara kagum bercampur suka yang kurasakan. Namun sayangnya, aku belum memiliki keberanian untuk menghubunginya. Tanpa kusadari bahwa mereka sudah hampir dua minggu di sekolahku. Sudah waktunya mereka untuk kembali.

Hari perpisahan itu telah datang. Jelas sama sekali tidak kuharapkan. Namun, aku sadar bahwa perpisahan sesungguhnya bukanlah perpisahan yang beda kota melainkan beda alam. Neraka dan Surga.

Satu minggu setelah perpisahan itu, aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Dengan sigap, aku mengambil ponsel tanpa kamera yang sejak tadi kuletakkan di atas meja belajarku.
“Assalamualaikum Ka”
“Wa’alaikumussalam. Maaf ini siapa”
“Ini Atri, anak murid yang diajar waktu sanlat”
“Oh. Tahu nomor saya dari mana ya?”
Aku bingung harus menjawab apa. Mana mungkin aku jujur bahwa aku mengetahui dari murid kesayangannya, mau taruh dimana mukaku ini. Namun, lagi dan lagi rasa malu itu terkalahkan oleh perasaanku yang ingin terus menerus berkomunikasi dengannya.

Setelah kujelaskan segalanya, ternyata dia tidak menjauhiku. Dia senang atas kejujuranku, sebabnya dia selalu membalas setiap pesan yang kukirim padanya. Dengan perasaan yang berbunga, aku sampai tak menyadari bahwa aku telah berkomunikasi dengannya dari mulai ayam berkokok hingga langit yang sudah mulai menghitam. Parahnya lagi, aku telah melupakan kewajibanku sebagai seorang muslimah. Yang tak lain adalah salat. Astaghfirullah! Sungguh dahsyatnya tipu daya setan yang melenakan, yang akan menjerumuskanku dalam lubang kenistaan dan kemaksiatan.

Hari-hariku hanya ditemani olehnya. Sudah sekitar sepuluh pesan yang masuk dari Samsul, namun tak ada satupun pesan yang kubalas. Selama ini, aku telah melupakan kekasihku. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku. Perasaan yang datang karena pandangan pertama. Perasaan untuk seseorang yang belum jelas bagaimana sifat aslinya. Bahkan saat itu, aku berharap bahwa kekasihku memutuskan hubungannya denganku. Hubungan yang sudah kita jalin selama kurang lebih enam bulan lamanya.

Selama dua minggu aku tidak menggubris pesan dari kekasihku. Akhirnya, kata putus terlontar dari mulutnya saat menemuiku. Entah sudah terlanjur cinta atau apa dengan santri itu, justru aku bahagia dengan keputusannya. Kini, Samsul bukan lagi kekasihku melainkan mantan kekasih.

Sudah hampir dua bulan aku bertukar pesan dengannya. Setelah perpisahan itu, aku belum pernah berjumpa kembali dengannya. Rindu ini semakin menjalar dalam dadaku. Ingin rasanya aku luapkan padanya, namun apa daya sekalipun dia tak memintaku untuk berjumpa.

Suatu hari, aku mendengar kabar yang membuatku menitihkan air mata. Kata pamit yang diucapkan waktu itu. Dia pergi ke Jambi selama satu tahun untuk pengabdian. Selama itu pula, dia tak menghubungiku. Menunggu; hanya itu yang dapat ku lakukan selama satu tahun.

Satu tahun sudah kulewati dengan kesendirian. Ramadhan tahun kemarin masih terasa bagiku, kenangan yang masih tersimpan rapi dalam memori ingatanku. Saat aku memutarnya kembali, DDRRRTTT DDRRRTT. Ponselku bergetar, menandakan ada pesan masuk untukku. Benar saja, aku mendapati pesan masuk. Namun sayangnya dari nomor yang tidak kuketahui. Dengan malas aku membukanya. Terdiam sejenak, tak kusangka ternyata pesan itu darinya. Dengan hati yang berbunga, aku berkata “Ternyata, penantianku selama ini tidak sia-sia”. Dia menghubungiku kembali tepatnya pada satu minggu puasa Ramadhan. Ya, dia. Sosok pria tampan yang dulu mengajar di sekolahku satu tahun silam.

Semenjak dia menghubungiku kembali, hanya bahagia yang kurasakan setiap harinya. Dia yang dulunya cuek, kini sangat perhatian kepadaku. Hingga suatu hari aku mendapati pesan yang membuat jantungku berhenti berdegup. “Aku mau ketemu kamu nanti sore, sekalian buka puasa bersama ya. Nanti aku jemput” itulah isi pesannya.
Dengan sigap, aku mencari pakaian yang ingin ku kenakan nanti. Tampil perfect itulah kesan pertama yang ingin kutunjukkan padanya. Aku menganggap bahwa nanti malam itu adalah dinner pertamaku. Walau hanya sekedar makan di pinggir jalan beralaskan tiker, namun tetap aku menyebutnya sebagai dinner.

Terasa begitu singkat, sore yang kunantipun datang. Setelah siap dengan segala sesuatunya, aku bergegas menuju tempat dimana dia menungguku. Supermarket, itulah tempat dia menungguku. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menghampiri mobil yang sedari tadi terparkir. Mobil putih dengan pria tampan di sebelahnya. Langsung saja aku duduk tepat di sampingnya.

Jamku sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Yang artinya aku harus pulang. Saat di perjalanan menuju pulang, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tak ku sangka, dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dengan senang hati aku langsung menerimanya. Dia memberikanku satu gelang bertuliskan namanya. Dia memakaikan pada pergelangan tanganku. Dia mengatakan padaku untuk janji menjaga gelang itu seperti aku menjaga perasaannya. Setelah itu, dia memegang tanganku dan meletakkan tepat pada gigi mobilnya. Bahagia rasanya saat itu. Kemudian, langsung saja dia menancapkan gas mobilnya untuk mengantarkanku. Aku turun dari mobilnya di tempat yang sama saat seperti dia menjemputku.

Setelah pertemuan pertama itu, dia sering menemuiku. Kalau bukan aku yang ke rumahnya atau dia yang menemuiku di rumah. Ibuku mengenalnya, karena hampir setiap minggu dia ke rumahku. Namun disayangkan, ibu dan nenekku tak menyukainya. Frontal yang mendekapku dari samping, itu merupakan alasan mereka tidak suka padanya. Mereka telah memintaku untuk menjauhinya karena dia sama sekali tak baik untukku, tapi bodohnya aku tidak mendengarkan perkataannya. Aku terlalu mengikuti nafsuku. Kemaksiatan yang jelas diharamkan, malah dengan bangga aku jalankan.

Hingga suatu hari, aku mendengar kabar pahit bahwa dia menduakanku. Dia mempunyai wanita lain di belakangku. Saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Aku masih tak mempercayai apa yang sudah dilakukannya. Lalu, Ibuku menghampiriku, ia memelukku dan mengatakan “Sudah tak perlu ditangisi. Dia bukanlah jodohmu. Dia bukan orang baik. Kalau memang dia serius, dia takkan mengajakmu menjalani hubungan ini. Tapi kenyataannya apa? Sudah dia menjerumuskanmu dalam lubang kemaksiatan, dia juga telah menduakanmu.”
JLEB!!! Kata-kata ibu sangat menyayat hatiku. Aku tersadar saat itu. Sungguh bodohnya aku. Jelas-jelas pacaran itu diharamkan, namun tetap saja aku lakukan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al- Isra: 32)
Setelah membaca ayat itu, rasanya seperti tersengat aliran listrik. Lemas yang kurasakan. Namun aku sangat bersyukur. Kejadian itu membuatku tersadar bahwa tak ada cinta sejati yang dilandasi dengan pacaran.

Sejak kejadian itu, Aku berniat untuk berhijrah. Aku awali dengan menjulurkan pakaianku, yang sebelumnya hanya mengenakan celana panjang ketat dan kerudung yang di selempangkan. Kini Aku ubah dengan gamis dan jilbab yang kujulurkan sampai dada. Aku mulai memperbaiki salatku, yang sebelumnya Aku kerjakan akhir waktu bahkan jarang Aku kerjakan dan kini Aku mulai melaksanakannya pada awal waktu. Bukan hanya itu saja, Aku belajar untuk mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya, dimulai dari yang dianggap sepele oleh banyak orang. Apalagi kalau bukan kegiatan yang mendekati zina (pacaran).
Aku mulai membatasi pergaulanku dengan yang bukan mahromku.
Aku mulai memperbaiki diriku untuk keselamatanku dan keselamatan kedua orangtuaku.
Bahkan, Aku mulai belajar untuk memasak yang sebelumnya masak air saja sampai gosong, kulakukan agar suamiku kelak beruntung mendapatkanku.
‘Astaghfirullahaladzim…
Kata itu yang selalu diucap saat mengingat masa lalu. Masa lalu yang menurut aku bukan lagi kelam melainkan sangatlah kelam.
“Bersedih dan Menangis”
Perasaan yang muncul disaat harus membuka apa saja yang sudah dilakukan dimasa lalu, apa saja yang dikenakan pada masa itu, serta dosa apa saja yang sudah diperbuat waktu itu, ahhh sungguh bodohnya aku saat itu!
“Masya Allah”
Ucapan itu yang kini membuatku senyum-senyum sendiri kalau harus mengingat serta membayangkan aku yang dulu. Malu itu pasti ada, kata ‘bodoh’ itu selalu terucap saat mengingatnya, tapi ya begitulah keadaannya, sudah begitulah alur ceritanya dan itulah salah satu skenarioNya…
Sungguh menakjubkan..
Prosesnya indah, amat sangatlah indah
Tiada henti untuk selalu bersyukur, dan tiada kata untuk mencoba kufur
Alhamdulillah dapat menikmati serta menjalani setiap prosesnya hingga hari ini.

Cerpen Karangan: Atri Rizki Herliyanti
Facebook: Atri Rizki Herliyanti
Nama lengkap ku Atri Rizki Herliyanti. Kini aku sedang menempuh jenjang S1 dikotaku. Aku ingin sekali menjadi seorang pengusaha, itulah sebabnya aku mengambil jurusan manajemen. Menurutku, tak ada salahnya jika wanita menjadi pengusaha, asal tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.
Kesibukanku saat ini, hanya kuliah, magang, jualan online dan menulis blog.
Yang ingin mengenalku, silahkan kunjungi Herlihijrah.blogspot.com 🙂

Cerpen Hijrah Dari Cinta Yang Salah (Aku dan Hidayahmu) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta yang Semu

Oleh:
“Cinta itu buta” “Cinta itu indah” “Cinta itu menyenangkan” Begitulah pendapat sebagian orang tentang cinta. CINTA, satu kata yang terdiri atas lima susunan alfabet ini sukses membutakan mataku. Bahkan

I’m Here For You

Oleh:
“hoamm…” tubuhku menggeliat meregangkan otot-otot. Selimut tebal masih melingkati dan menutupi badanku. Aku masih merasakan kantuk yang mendalam… Tapi apa boleh buat, aku harus bangun. Walaupun masih terasa sangat

Kala Cinta Menyapa Lara

Oleh:
Di sebuah Minggu pagi yang cerah, langit Hong Kong nampak begitu bersih tanpa sedikitpun ternoda mendung. Suhu udara yang berkisar di antara angka 13’C sama sekali tidak mampu menyusutkan

Kacamata Bergaris Hitam (Part 3)

Oleh:
Tak sanggup aku menghentikan bayang-bayang Irman dan Irfan, siapa mereka? Ku putuskan untuk memberitahu Sinta, sahabatku. Siapa tahu ia mempunyai solusi untuk memecahkan masalahku ini. Ku jelaskan semuanya dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *