Hijrah Sebuah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Dengan ini, aku menyatakan bahwasanya, aku, Cindai Pramesti atau Syindia As-Syifa menghijrahkan cintaku kepada cintaNya yang lebih nyata kekekalannya.
(Jember, 17 Juni 2006).

Aku pikir awalnya jarak dan waktu tidak akan membuat hubungan kami bermasalah. Ya, hubungan tanpa status yang kujalani dengan Bagas selama hampir enam tahun ini. Nyatanya, ia hilang tanpa kabar setelah mengatakan jika ia sedang sibuk menyusun skripsi dan dia juga berkata… ingin menenangkan pikiran dulu -yang artinya adalah tidak ingin diganggu dengan hubungannya denganku dulu. Aku pikir waktu itu, mungkin benar juga, lebih baik tidak contact terlebih dulu. Saat itu aku pun sedang sibuk dengan pekerjaanku dan great something. Itu, sekitar tujuh bulan yang lalu. Namun, lama aku menyadari, jika aneh rasanya Bagas tidak ada sekalipun memberiku kabar. Aku merasa ia menyembunyikan sesuatu dariku.

Beberapa minggu lalu, aku iseng bertanya melalui chat pada temanku -Mbak Nadin- yang satu kampus dengan Bagas di fakultas kedokteran. Aku bertanya: Apa Bagas sedang dekat dengan gadis di sana? Mbak Nadin menjawab jika ia mendengar gossip kalau Bagas menyukai anak fakultas kebidanan bernama Mufaisha. Gadis idola di kampus mereka karena cantik dan kesalihannya. Mufaisha adalah anak yatim dari keluarga sederhana dan karena, kecerdasannyalah ia mendapat beasiswa untuk mengenyam bangku kuliah.

Sontak setelah itu aku membandingkan Mufaisha dengan diriku sendiri. Seperti besi dengan intan permata. Berbeda jauh. Jelas saja, Bagas akan memilih Mufaisha.

Kabar lain yang kudapat adalah perubahan Bagas yang lebih baik. Lebih baik di sini adalah perilaku Bagas jadi lebih alim. Aku menyimpulkan, Bagas berubah untuk bisa bersanding dengan Mufaisha.
Perempuan baik teruntuk pria baik juga, benar kan?

Aku menghela napas kasar seraya melempar kerikil di genggamanku ke tengah-tengah laut.
Aku menoleh menatap Risma. “Tumben ngajak main ke pantai, Ris? Kamu emang nggak sibuk? Udah ijin sama mas Akbar?”
Perempuan berjilbab lebar warna coklat itu menyunggingkan senyumnya yang hangat. “Malah, mas Akbar semangat banget buat ngizinin aku keluar sama kamu. Supaya kamu nggak setres, katanya” Risma tertawa pelan.

Aku menatap Risma tajam. Lalu berikutnya, aku mendapati perempuan itu nyengir lucu.
“Aku kangen sama kamu sekalian refreshing gitu. Aku mau dengerin curhatan kamu plus ngasih wejangan lagi buat kamu,” lanjut Risma penuh nasehat dan canda.
Ah, Risma memang sahabatku yang paling mengerti.

Melihatnya dengan jilbab anggunnya itu, aku berpikir, kapan aku akan menyusul jejaknya? Apa Bagas akan kembali padaku jika aku memakai jilbab, memperbaiki sifat manjaku dan sifat-sifat burukku yang lain? Ugh, tapi untuk saat ini aku belum berniat sama sekali menutup aurat.

Aku mendekat padanya dan memeluk dari samping. Lantas menggumam di dekatnya, “kamu beruntung ya, Ris. Impian kamu dari dulu udah terwujud; punya suami yang saleh dan bisa bimbing kamu meraih surgamu.”
“Dulu malah, aku yang beranggapan kamu yang beruntung dibanding aku, Ndai,” ujar Risma, tangannya bergerak menepuk pipiku pelan, perlahan tangannya bergerak mengusap rambut sebahuku. “Kapan kamu mau menutup aurat? Ayo, Ndai berjuang sama-sama di jalan Allah sama aku. Aku nggak mau kamu nyesal di lain hari.”

Aku mendengus kecil. Aku berjalan agak menjauh dari Risma lalu menatap langit. Jujur mataku berkaca-kaca saat ini. Entahlah kenapa masih ada sedikit ragu di hatiku.

Risma menepuk pundakku dari belakang. Ia menghela nafas lalu berucap, “kamu tau kan, Ndai, kalau menutup aurat itu diwajibkan. Dulu … kamu pernah bilang padaku ‘kan, setelah kamu masuk Islam, kamu akan menutup aurat, ini sudah setahun berlalu loh.”

Aku mengingat saat-saat aku mengucap dua kalimat syahadat dulu. Rasanya cintaNya menyusup ke tulang-tulangku, menggetarkan jiwaku yang kosong bertahun-tahun. Mengisi kekosongan hidupku yang yatim-piatu sejak kecil. Allah telah mengisi hatiku dengan cintaNya tanpa kusadari.

Aku membalik badan, menghadap pada Risma yang saat ini menatapku dengan berkaca-kaca. “Ak aku ragu, Ris. Aku takut nggak bisa istiqomah.”

Risma membacakan sebuah ayat Al-Qu’an. Aku sepertinya tahu ayat ini, ini … surat Al-Ahzab ayat 59. Ayat yang menjelaskan penting dan wajibnya berjilbab bagi perempuan muslim.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka! Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Aku langsung menubrukkan tubuhku pada Risma. Memeluknya erat. Allah, aku sudah terlalu jauh darimu. Aku berbisik lirih di dekat telinganya, “aku mau, berhijrah kayak kamu Ris tapi, apa … Allah mau menerimaku? Mau menerima keterlambatanku meraih keridhoanNya?”
“Jangan meragukan kebesaran Allah, Cindai. Allah adalah sebaik-baiknya tempat kamu meminta. Allah juga Maha Pemaaf. Asalkan kamu bersungguh-sungguh, maka InsyaAllah, Allah akan memaafkanmu dan tidak ada kata terlambat bagi orang yang sungguh-sungguh bertobat.”
Aku mendongak menatapnya sendu. “Terima kasih, Ris, kamu sudah mau jadi sahabat yang mengerti aku. Selalu mengingatkanku ketika aku salah.”

Senyum tersungging di bibir Risma. “Nah, begitu dong. Kamu harus meniatkan diri kamu, kalau hijrah kamu ini lillahita’ala, ikhlas hanya karena Allah semata. Bukan untuk siapapun yang lain. Ikhlaskan Bagas, Ndai. Kalau jodoh nggak akan kemana.”

Risma mengeluarkan sebuah kain dari dalam tasnya. Saat ia mengulurkannya padaku, baru kutahu kalau itu adalah sebuah kerudung berwarna merah jambu. Ia mendekat dan mengenakan kerudung itu padaku. Aku tersenyum memegang kerudung yang kini menjulur panjang di atas perutku.

Aku menatap Risma dengan mantap. “Aku akan mencoba mengikhlaskan dia,” ucapku dengan nada suara bergetar menahan air mata. “Dengan ini pilihanku tidak akan salah. Aku … akan meneruskan S-2 ku di Kairo.”

Risma menatapku bahagia dan menepuk lenganku yang dilapisi jaket coklat muda. Aku bisa merasakan kebahagiannya itu dari matanya yang menjadi pusat kejujurannya.

Sebuah salam menginterupsi pembicaraanku dengan Risma. Aku membalikkan badan dan yang kudapati adalah Bagas dan adiknya dengan senyum lelaki itu yang kurindukan selama ini. Hampir saja aku berlari ke arahnya untuk memeluknya jika Risma tidak berdeham keras menyadarkanku pada kenyataan.

“Waalaikumussalam. Menatap seseorang yang berlainan jenis dengan syahwat -rasa ingin memiliki- itu termasuk dalam zina-nya mata. Adalah zina seburuk-buruknya jalan.”
Aku menatap Risma malu. Baru saja aku ingin berhijrah tetapi, aku sudah hampir melakukan kesalahan.

Aku segera menjawab salam tadi. Wajahku kudongakkan, menatapnya lurus. “H–hai!” sapaku dengan kaku. “Apa kabar?”
Bagas menatap Risma sekilas lantas beralih padaku. Wajahnya terlihat sekali jika ada yang hendak dibicarakannya. Senyumnya terbit dengan kaku. “Baik.”

“Ah! Sepertinya kalian berdua butuh waktu untuk bicara. Melihat Bagas datang bersama dengan adiknya, aku akan meninggalkanmu bersamanya, Ndai. Ingat jangan melakukan hal aneh-aneh! Kau sudah berjanji padaku dan dirimu sendiri, ingat!” Risma pergi setelah menguluk salam.

Aku memilih duduk di bebatuan yang ‘tak jauh dari tempat semula dan Bagas serta adiknya mengikutiku.

“Ada yang ingin kubicarakan. Aku yakin, kamu sudah tahu dari Mbak Nadin tentang–”
Bibirku bergetar dan tanpa sadar menyahut, “Ya, aku sudah tahu.”
“Maaf, Ndai,” ucap Bagas. Kepalanya terangkat. Menerawang jauh ke langit. “Maaf selama ini aku telah menjadi pengecut. Maaf telah mengkhianatimu. Hatiku yang sempit terlalu takut menyakitimu, Ndai. Tapu, aku tidak ingin bermunafik, kalau, aku jatuh cinta pada kesalihannya. Maaf. Aku tidak berharap kamu mau memaafkan aku karena, aku memang tidak pantas untul dimaafkan. Maaf telah menghilang di saat kamu butuh arahan dariku.

“Dan minggu depan … aku akan menikah. Aku harap kamu mau datang.”

Mataku berkaca-kaca mendengar ucapan Bagas. “Tidak apa, Gas. Aku sudah memaafkanmu. By the way, selamat, ya. Semoga kamu bahagia dengannya. Dia memang pantas untukmu. Aku ikhlas kamu bersamanya,” ucapku dengan senyum kaku. “Dan maaf, aku nggak bisa datang. Jangan khawatir, do’aku selalu menyertai pernikahanmu. Do’a kan aku pula, Gas. Supaya aku bisa lebih baik dari sebelumnya.”

Allah, seperti inikah rasanya jatuh dari cinta yang salah? Allah, seperti inikah rasanya menjadi orang yang terbuang? Seperti inikah rasanya mencintai dengan cara yang salah? Tunjukkan padaku, ya Allah, jalanMu! Beri aku kesempatan untuk rebah di pelukMu. Tunjukkan padaku, yang kata orang cintaMu lah yang sebenar-benarnya cinta. Kekal tanpa terbatasi oleh masa. Allah, aku inginkan cintaMu, izinkan aku berlutut menyerukan namaMu di antara cintaMu.

Cerpen Karangan: Raradewant
Email: Raraanggi01@gmail.com
Blog / Facebook: Rara Anggi Dewanti
Rara Anggi Dewanti adalah gadis kelahiran 21 April yang sekarang mengenyam bangku SMK tahun kedua di kota Jember. Adalah gadis biasa yang brrmimpi menjadi luar biasa.

Cerpen Hijrah Sebuah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pilihan

Oleh:
Dia Derajat. Sudah 5 tahun aku mengenalnya. Tidak terlalu dekat, hanya sekedar tahu saja. Kemarin dia datang ke rumah bersama keluarganya dengan sebuah niat yang sangat aku hargai. Aku

Kenapa Harus Kamu? (Part 1)

Oleh:
Siang itu, kami dari ekskul sekolah, ikut berpartisipasi untuk menyaksikan festival dance tingkat kabupaten yang tengah digelar di gedung kesenian daerah. itu dikarenakan sekolah kami juga mengikuti ajang yang

Senyum Itu Sedekah

Oleh:
Namanya Nisa seorang gadis yang bisa dibilang nakal, yang sudah beberapa kali keluar masuk sekolah hingga akhirnya dia dimasukkan orangtuanya ke sebuah pondok Pesantren. Meski menolak Nisa tidak bisa

Dibalik Alasan

Oleh:
Senyumku masih berseri-seri, mengingat tentang kebersamaan aku dan Ka. Di senja yang indah kemarin sore, betapa tampannya Ka dengan stylean Ka yang terlihat modern menemuiku di rumah. Ka meminta

Abu Abu Dalam Biru Langit

Oleh:
Pagi yang ceria, meski Sang Mentari malu-malu menampakkan sinar hangatnya. Musim telah berganti. Memanggil angin mendung, menyibak kabut tebal yang menyelimuti bumi. Begitu sinarnya tiba, semua bahagia, bunga bermekaran,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Hijrah Sebuah Cinta”

  1. yuni anggreni says:

    cerpennya bagus..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *