Hina Di Mata Allah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 19 March 2015

AKU!
Safia Amalia. Remaja ingusan yang masih berusia 13 tahun. Duduk di kelas VIII SMP Negeri 4 Medan. Tetapi sebenarnya aku telah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Mengapa tidak? Teman-temanku telah mencoba yang namanya berciuman. Aku pun tak kalah, aku juga telah melakukannya dengan pacarku Agung Siahaan. Bahkan kami telah melakukannya sebanyak empat kali.
Sampai akhirnya, aku mulai sadar. Sholat jarang, mengaji tak pernah, terlalu sering melawan kepada Ibu dan Ayah yang kusayang. Sampai-sampai, nilai di sekolah pun menurun drastis.

SHOLAT!
Sholat tiba-tiba terlintas di benakku. Sekarang pukul 16.00 WIB, masih bisa melaksanakan sholat Ashar. Segeralah aku mengambil air wudhu dan beribadah dengan khusyuk. Di akhir sholat, aku berdo’a..
“Ya Allah. Mengapa? Mengapa aku seperti ini? Diriku telah ternodai oleh pacarku yang sangat kusayang hanya demi memuaskan nafsunya. Aku pun begitu mudah menuruti satu demi satu keinginannya yang aneh-aneh.”

Air mataku mulai mengalir…

“Berciuman, pegangan tangan, berpelukan. Itu semua telah aku lakukan bersama pacarku Ya Allah. Betapa hinanya aku di mata-Mu? Masih pantaskah aku memohon kepada-Mu? Memohon ampun pada-Mu? Aku telah menjadi anak durhaka hanya karena mengikuti perkembangan zaman yang sama sekali tidak memiliki dampak positif.”
Aku menangis sejadi-jadinya..
“Ya, Allah. Aku memohon ampun padamu. Ampunkanlah semua dosa-dosa hambamu yang hina ini. Bisikan syetan terus berpesta pora di telingaku. Hingga malaikat hampir tak pernah mencatat amal kebajikanku. Jadikanlah aku anak yang berbakti kepada orangtua. Aku tidak ingin orangtuaku memiliki anak yang hina di mata-Mu. Engkau Maha Mendengar, maka kabulkanlah do’aku. Amin Amin Ya Rabbal ‘Alamin.”

Aku mengirim pesan singkat kepada Agung.
“Agung, kita putus.”
“Kenapa?”
“Aku ingin kembali kejalan yang benar. Aku sadar aku telah ternoda akibat kesalahanku sendiri.”
“Tapi, kan, soal kita ciuman tidak ada yang mengetahui.”
“Allah Maha Mengetahui.”
“Jangan putus, dong. Aku sayang kamu. Kita pacaran positif saja. Mau tidak?”
“Tidak, kita putus saja.”
“Ya udah, deh. Aku pasti nunggu kamu sampai kamu tamat sekolah. Dan disaat itu juga, aku akan melamarmu. Aku janji!”
“Terimakasih sebelumnya.”
“Kita masih temenan, kan?”
“Masih”
“Terimakasih kembali.”

Akhirnya aku menjadi muslimah. Saat ini, aku sedang menuntut ilmu di Universitas Sumatera Utara.
“Huft, capek!” ucapku menjatuhkan diri di sofa sepulang kuliah setelah mengucap salam sebelumnya.
Ibu datang membawakan jus jeruk kesukaanku dan meletakkannya di meja. Dengan sigap aku meminumnya dengan beberapa tegukan hingga habis sesaat setelah Ibu duduk di sebelahku.
“Capek?” tanya Ibu lembut.
“Banget!” jawabku sambil meletakkan gelas yang telah kosong ke meja.
Ibu mengambil gelas kosong itu dan pergi meninggalkan ku ke dapur.

AGUNG!
Nama Agung meleset di pikiranku. Benar juga. Aku tak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengannya selama, selama kurang lebih tiga tahun, mungkin. Dan sampai saat ini dialah pacar terakhirku. Karena setelah putus dengannya, aku tidak pernah berpacaran lagi. Tidak sama sekali!

Tiba-tiba suara keramaian terdengar di depan rumahku. Spontan aku berdiri memandang keluar jendela.
“Assalamu’alaikum Fia!” ujar salah satu dari gerombolan itu.
Ibu menghampiriku dengan tatapan bingung. Dan kemudian membukakan pintu untuk mereka.
Mengapa? Batinku.
“Maaf, ada apa, ya?” Ibu berkata sopan.
“Tante, saya Agung. Kedatangan saya kemari untuk melamar anak tante. Fia.” Ucap salah satu dari mereka yang katanya Agung.
Agung? Aku menyusul Ibu keluar.
“Agung?” aku terbelalak.
“Fia, kamu mau tidak jadi istriku?” ujar Agung tersenyum.
Aku menatap Ibu, lalu Ibu mengangguk satu kali. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tersenyum lebar dan, “Iya, aku mau.”

Cerpen Karangan: Sania Mulia
Facebook: Sania Mulia

Nama: Sania Mulia
TTL: Stabat, 31 Oktober 2000
Kelas: VIII
Sekolah: SMP Negeri 2 Binjai

Cerpen Hina Di Mata Allah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Love (Part 1)

Oleh:
Qifa, seorang santri di Pesantren Putri Salafiyah, tengah belajar dangan seorang kawannya Zafu untuk mempersiapkan diri menghadapi hari terakhir ujian akhir Madrasah besok sore, dengan ditemani keremangan bulan purnama,

Cinta Dalam Istikharah Berujung Jodoh

Oleh:
Di sore yang indah, matahari tersenyum dengan memancarkan pesonanya yang menakjubkan. Begitu halnya dengan hatiku, kini diriku akan berangkat ke Sekolah Diniyah Wustho (MDW) di tempat tinggalku. Sekolahnya tidak

Tentang Apriani

Oleh:
7 Juli 2006 Ini adalah hari kelima aku menjalani kegiatan MOS di SMP baruku, terhitung sejak hari senin yang lalu. Selama lima hari aku menjalani MOS ini, begitu banyak

Ikhlas Dalam Duka

Oleh:
Sudah tiga hari ini aku menjalani hidup dengan dan tanpa penuh gairah hidup sedikit pun, makan, minum, bahkan kuliahku pun tak ada yang benar. Sebelum kejadian pada hari minggu

Hijrah Cinta

Oleh:
Hanafi terus memandangi foto gadis slengekan itu. Sore ini dia akan menemuinya di taman kota. Terdengar dari suaranya di telepon gadis itu jutek, galak dan keras kepala. Tapi demi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *