Istikharah Cinta Uwais

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 24 February 2018

Kota Semarang yang asri dengan sejuta kenangan dan keindahannya. Hamparan suasana perkotaan yang berada di pesisir lautan berombak, semilir angin subuh bertiup membawa hawa sejuk kedalam jiwa. Sebagian masjid telah mulai ramai menyemarakan agenda untuk shalat subuh berjamaah, seorang pemuda yang dikenal santun, mencintai masjid dan memiliki senyum manis karena lesung pipinya. Orang-orang memanggilnya Uwais, Pemuda itu sedang berada dalam masjid menunggu kajian sunnah yang banyak dihadiri jamaah ikhwan dan akhwat. Kajian dimulai pukul sembilan pagi, sembari menunggu Ia terus larut dalam samudera ayat ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab dan kengerian neraka, tubuh pemuda itu bergetar. Air matanya seakan ingin mengalir. Neraka bagai di hadapanya begitu mengerikan dalam bayangan pikirannya. Namun saat sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan bathin. Membuat keimanannya semakin nikmat dan yakin. Tatkala sampai pada surah Al-Fajr (waktu fajar) akhir ayatnya, ia tersenyum,

“Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah.
Irji’i ila rabbiki radiyatammardiyayah.
Fadkhulii fii ibaadi. Wad khulii jannati”
(Wahai jiwa yang tenang. kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha, dan diridhai. Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah dalam surgaku)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang diridhai Allah kelak masuk surga? Bergumam dalam tadabburnya, Allahlah Yang Maha Paham setiap usaha dari hamba-hambaNya.

Usai kajian sunnah, Uwais berjalan keluar meninggalkan masjid. Dan Hendak membeli roti di toko Buana untuk ibunya di rumah. Sudah menjadi Kebiasaan Uwais saat di luar rumah membawakan makanan untuk keluarga terutama bagi Ibunya yang sangat ia cintai dan baktii. Ia berjalan dengan hati terus berdzikir membaca ayat-ayat Al Quran oleh-oleh dari kajian pagi tadi. Setelah bingkisan roti digenggamnya, hatinya membayangkan wajah Ibunya yang cantik bahagia ketika menikmati roti yang harganya hanya lima belas ribu harga yang sangat murah untuk meraih keridhaan Ibu. Bagi uwais menyenangkan hati Ibu adalah nikmat kesempatan hidup di dunia yang Allah kasih dan balas dengan ridhoNya untuk mendapat kebahagiaan di akhirat.

Beranjak keluar toko, uwais berjalan menuju motor sementara matanya menangkap dua orang akhwat berhijab panjang di samping motor uwais, mereka sedang kesusahan menghidupkan motor dengan bergantian. Uwais terbesit dalam ingatanya “sepertinya mereka tadi juga hadir di kajian sunnah itu”, Uwais mendekati mereka dan menyapanya

“Assalamualaikum ukh, motornya kenapa ya…?”
Kedua Perempuan itu bernama husnul dan ifah. Mendengar uwais menyapa mata mereka menatap uwais.

“Walaikumsalam” husnul dan ifah membalas salam dari uwais,
“Hmm ini akh, motornya kayaknya mogok soalnya di stater gak bisa hidup dari tadi” jawab ifah yang sedikit bete karena capek.

“kalo Boleh diizinkan, saya coba bantu hidupkan ukh?”
“oww Boleh akh, Silahkan, biasanya cowok emang lebih paham soal masalah motor”
Ifah mempersilahkan Uwais dengan sedikit ekspresi kelegaan yang memancar di wajahnya.

Uwais coba menghidupkan berkali-kali tapi tetap tak ada reaksi motor akan hidup, mata Uwais sesaat melirik ke spedo meter motor, nampaklah jarumnya menandakan ke titik bensin habis. Sontak Uwais berkata “Masya Allah, Ini karena kehabisan bensin ukh, itu tanda strip bensinya gak ada, coba cek dulu yaa tangki bensinya” uwais membuka jok motor lalu memastikan ternyata tangkinya benar-benar kosong.
Dua mata bening Husnul terus memandangi wajah manis uwais, menyadari hal itu uwais menundukan pandangan ke tangki motor,

“Astaghfirullah… Sampai distater seribu kali pun, sampai kaki kesleo pun ya gak bakalan bisa hidup hehe” kata ifah, disambut tawa renyah dari husnul sambil geleng-geleng keheranan.

Tahu bensinya habis, uwais pergi mencari penjual bensin eceran yang tidak jauh dari tempat mereka memarkiran motor. Sekitar 3 menit uwais kembali membawa bensin eceran lalu mengisikan bensin ke motornya ifah,

“Nah beres ukh, coba ya dihidupkan” sambil menekan stater motor akhirnya hidup.
“Alhamdulillah motornya udah bisa hidup”
“Alhamdulillah” ifah dan husnul bersyukur bercampur malu atas kejadian lucu barusan.
“Makasih ya akh atas bantuanya, kalo boleh tahu, siapa namanya akh? Dari Mana dan mau ke mana?, oya namaku ifah dan ini temanku”, menunjuk temen sebelahnya “aku husnul” ucap husnul saat disenggol ifah.

Saat ditanya, Uwais tak ayal matanya menatap wajah Ifah dan Husnul, tapi hatinya bergetar hebat saat pandanganya tertuju pada wajah Husnul yang putih bersih mempesona, syaraf dan ototnya terasa dingin semua, inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah perempuan jelita dari jarak dekat, sesaat lamanya keduanya beradu pandang, sesaat Ifah melihat Husnul dan uwais berpandangan, Husnul terpesona oleh kebaikan uwais, sementara gemuruh hati uwais tak kalah hebatnya, husnul tersenyum dengan pipi merah merona, uwais tersadar, ia cepat-cepat menundukan kepalanya.

“Innalillah, Astaghfirullah,” gemuruh hatinya.
“Iya sama-sama ukh, Namaku Uwais, tadi dari kajian masjid Al-Barokah terus beli roti dulu sebelum pulang rumah”
“Kalo gitu tadi pagi abis kajian di Al-Barokah juga dong akh?” tanya Ifah kepada Uwais.
“Iya ukh, kebetulan sama temen juga, hmm kalo gitu saya pamit duluan ya ukh, udah ditunggu ibu gak enak nanti nunggu roti pesanananya lama” kata uwais sambil menggeser badan ke motornya.

“Tunggu bentar akh, ini ada manisan buah tomat sebagai ucapan terima kasih kami atas bantuannya tadi” ucap Husnul memberikan manisan tomat bikinan ibunya.
“Tumben kok baik banget sih kamu Husnul, hehe” ceplos Ifah nyindir Husnul yang merogoh manisan tomat di tas merahnya, Husnul sedikit cuek denger becandanya Ifah.
“Makasih tapi saya ndak perlu dikasih imbalan ukh” kata Uwais

“Hmm kalo kamu ndak perlu, kalo gitu tolong kasihkan buat Ibumu yaa akh dari kami, jadi tolong ini diterima sebagai oleh-oleh aja”
“Iya makasih ukh atas manisannya, saya permisi mau pulang dulu, Assalamualaikum”
“Walaikumsalam” jawab kedua perempuan.
Uwais terpaksa menerima manisan dari husnul kemudian mengendarai motor pergi melanjutkan perjalanan. bibirnya melengkung tersenyum sementara hatinya berbisik “Alhamdulillah rejeki dari Allah, Alhamdulillah”

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, diterangi sinar rembulan, angin sejuk dan udara semilir mengalir.
Husnul terpekur di kamarnya, matanya berkaca-kaca, jantungnya berdebar, pikiranya bingung, apa yang menimpa dirinya, sejak kejadian tadi siang di toko roti buana, hatinya terasa gundah. Wajah manis Uwais bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan mata uwais yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Mendengar Uwais juga pulang dari kajian yang sama membuat hatinya berprasangka bahwa uwais adalah lelaki shalih yang gemar mendatangi majlis-majlis ilmu. Tadi siang ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya, ia juga menyaksikan kebaikan akhlaqnya kepada wanita yang bukan mahramnya dengan tidak memulai bersentuhan tangan mengawali salam, tiba-tiba air matanya mengalir, hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dalam hati ia berkata, “Inikah cinta? beginikah rasanya ?”

Terasa hangat mengalir syaraf, juga terasa sejuk di dalam hati, Yaa Rabbi, tak aku pungkiri aku mengagumi hamba-Mu yang bernama Uwais, dan inilah pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.
Yaa Rabbi, izinkanlah aku mencintainya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat manisan tomat yang ia berikan pada uwais, tiba-tiba ia tersenyum.
“Ah manisan tomatku ada padanya, semoga ibu dan uwais menikmati manisan buatan ibuku itu, kelak jika Allah izinkan, ia semoga juga mencintaiku, suatu hari ia akan kemari mengajak pada hubungan yang diridhai Ilahi”
Hatinya berbunga-bunga, wajah Uwais, senyuman yang manis dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya..

Sementara itu di dalam kamar, duduk di atas sajadah menghadap kiblat tampak Uwais yang sedang menangis, ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan ifah dan husnul di tokko roti tadi siang. Ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya kepada Husnul. Aura kecantikan Husnul bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat. Baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia lakukan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Husnul dengan melakukan shalat sekhusyuk-khusyuknya, namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha Tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya, berilah padaku ruang ketakwaan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes di dinding hati ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang Engkau ridhai. Aku serahkan hidup dan matiku untuk-Mu”. Isak uwais mengharu pada Allah Pencipta Hati dan Maha Membolak-balikan hati serta menaik-turunkan Iman hamba-Nya. Hati uwais dipenuhi gelora cinta, terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya semakin ia menahan, cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Allah. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindunya pada Husnul. Dan rasa tidak ingin kehilanganya. Semua bercampur sedemikian hebat mengalir dalam relung hatinya. Dalam munajatnya. Dalam shalat istikharah ia menangis, ia menyesal, biasanya ia sudah membaca Al-Quran dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi hamba lemah maka berilah kekuatan kepada hamba-Mu yang hina ini”

Ia lalu bangkit, wudhu dan shalat istikharah. Di dalam sujudnya ia berdoa, “Ilahi, hamba mohon ridho-Mu dan surga-Mu. Aamiin… Ilahi lindungu hamba dari murka-Mu dan neraka-Mu. Aamiin…”
“Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Husnul kepada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggungnya. Aamiin…”
“Ilahi hamba mohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan Ridho-Mu. Aamiin…”

Cerpen Karangan: Hendra Kurniawan
Facebook: kurniawan hendra
Mahasiswa Unisbank Semarang aktif diorganisasi rohis UKM BAI Al-Ikhsan

Cerpen Istikharah Cinta Uwais merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Frekuensi Cinta 24.26

Oleh:
Petang itu di sebuah kamar asrama, sepasang earphone menyetubuhi sepasang telinga Ian. Didengarnya lantunan ayat Qur’an oleh seorang penyiar radio dakwah milik kampusnya. Tinggi rendah bacaannya seakan terbangkan Ian

Terima Kasih Telah Melindungi Ku

Oleh:
Ku pastikan diri bahwa semua ini hanya kebetulan semata, menyadari seseorang yang sedari tadi mengikutiku dari depan, lebih tepatnya mendahuluiku dengan hanya berjarak satu langkah, ia menyertai langkahku, bahkan

Takdir Tak Pernah Berdusta

Oleh:
Malam bulan Agustus begitu terang, langit bertabur bintang menerawang. Begitu terang, sehingga Nadia yang duduk termenung memandangnya pun tersenyum bahagia. Tangannya menari di atas kertas. Puisi, itulah tarian tangannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *