Janda Sholihah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 March 2018

Mia, awal perbincangan kita di samping mushola. Kau terlalu sibuk dengan ponselmu. Sesekali kau menjawab manja dengan lirikan seorang janda. Ahay, kau sedikit menunduk. Parasmu yang cantik. Lamat lamat aku mencuri pandang. Ada yang kukenang dalam dirimu. Tapi, buru buru kubuang pandangan ke jauh. Khawatir ada rasa yang menyelinap di balik dada. Sehingga tak kusempatkan dia mampir. Dan aku tetap terjaga. (Kutulis catatan pertemuanku pada 9 April 2017).

Ada hal aneh dalam dirinya. Jika bertemu dan kusalami. Kedua tangannya hanya dirapatkan di dada membentuk salam. Jarak pun berjauhan. Jika kutatap matanya yang indah, dia menunduk dan hanya tersenyum sebagai balasannya. Begitu pula ketika diajak berbicara di hadapannya, lagi lagi tersenyum. Itulah yang selalu dilakukan Mia.

Jika aku terus mendesak tanya tentang kabar dirinya, atau apa saja alasan yang dikemukkan untuk membuka pertemuanku agar mencair. Sama sekali tak memperoleh jawaban pasti. Lalu dia tersenyum manja. Inilah yang kadang hatiku yang sering tergelitik karena tingkah lakunya. Orang bilang ke GR-an.
Ah Mia. Kau selalu membuat hatiku berbunga bunga dan ingin memiliki waktu kita berdua.
Apa mungkin?

“Belum cukup waktunya Om,” timpalnya. Hanya kata kata itu yang tercetus dari bibirnya yang mungil menjawab galaunya hatiku saat ini. Aku terus mendesak dan meminta waktu darinya, hanya untuk ngobrol berdua. Dia malah tetap bertahan pada pendiriannya.
“Lain kali saja”, katanya. Itu pun, kalau berpapasan bertemu. Selebihnya tak ada waktu. Tapi semenjak pertemuan di mushola, sepertinya dia mengerti kalau aku sedang menaruh perhatian padanya.

“Sering sering aja datang ke kantor,” tawarnya.
Juga kata-kata itu yang menjadi hati selalu berbunga-bunga mendengarnya. Bagi lelaki yang mendapatkan respon dari seseorang yang sekiranya menjadi bahan incaran perburuannya. Kemudian mendapatkan umpan balik yang cukup menggembirakan hati tentunya.

Pertemuan demi pertemuan kami baru berlangsung seminggu ini. Namun, selalu membentuk jiwaku lebih semangat lagi bekerja. Setelah Januari lalu tak begitu bergairah menyambut kehidupan yang tidak terlalu mapan ini. Bahkan, aku bosan dengan kehidupan, sering gagal dalam usaha dan cinta.

Bayangkan, usiaku sekarang sudah mencapai 30 tahun belum mendapatkan pasangan yang ideal. Jika melihat Mia, seakan inilah jodohku. Selain berjilbab, cantik, manis, selalu tersenyum dan wajahnya seperti tanpa dosa. Terlebih kulit pipinya putih. Aku hanya bisa melihat kulitnya putih itu dari raut muka, telapak tangan saja. Semuanya terbungkus rapih.

Dengarlah suara hatiku Mia. Dendang paling merdu adalah hatiku saat ini. Sedetik berlalu darimu ada rindu untuk bertemu. Atau hanya sesaat saja melihat di balik kerudungmu yang anggun. Aku menciptakan hati seindah mungkin tertuju padamu Mia. Bila hatiku gundah gulana dan hari hariku terus saja merana. Entah kapan, aku yang lebih tersiksa detik demi detik tak pernah alfa memujamu.

Kemarin sore, kau melintas di depan mataku. Tatapanmu bersirobok dengan mataku. Bola matamu indah seperti dibingkai warna hitam dengan alis melengkung tajam. Hanya sedetik. Itu yang dapat kulihat. Selebihnya matamu tertunduk. Dan tak menghiraukan siapa yang sedang memburu pandangan matamu.
Mia, hari ini aku ingin menemuimu lagi di kantor. Tapi, pintunya selalu tertutup. Biasanya, kau keluar sendiri bila di dalam hatiku terus memanggil manggil namamu. Itu caraku, bila kuungkapkan yang sebenarnya, seperti itulah keadaanku bila di luar pintu kantormu.

“Mia, cepet keluar. Aku ingin bertemu,” begitulah jerit hatiku tanpa kau tahu orang yang berada di luar pintu kantormu ada yang selalu menunggu, dan berharap bertemu.

“Ayo Mia keluar,” terus saja batinku memanggil manggil Mia untuk cepat keluar dan berharap tiba tiba membuka pintunya. Aku yang berada di lantai dua sambil bersandar di dinding kantornya yang cukup luas. Dan apabila hatiku yang menjerit keras akan terdengar gemanya. Mungkin seperti itulah, bila aku memanggil nama Mia, akan bergema juga ke dalam hatinya.

Kadang aku iseng bertanya kepada temannya se kantor, namanya Lia. Kata Lia, sekarang dia sedang sibuk membuat laporan SPJ. “Jadi, kalau istirahat pun tidak keluar,?”
Aku penasaran lagi, “Lalu kalau tidak istirahat, kapan sholat dhohornya, makan siangnya?”
Lia tetap tenang menjawab berondongan pertanyaanku sekaligus mengurangi rasa penasaran. “Oh, kalau Mia itu, wanita muslimah selalu tetap terjaga sholatnya. Kan ada musholah di dalam kantor. Di pojok sebelah lemari dan rak buku buku laporan. Kalau makan, sudah ada catering yang datang melalui kurir yang biasa ke sini,” ujar Lia memberkan penjelesannya kepadaku. Dan aku, hanya bisa menjawab mengangguk-angguk kepala tanda setuju dari ucapan Lia.
“Ya, mungkin saja” . Pikiranku terus saja melayang.

Mungkin hari ini tidak ke luar kantor karena sudah ada persiapan. Kalau, dia istirahat, akan kuajak makan siang di kantin ibu Ecih. Biar sekalian ta’arufan. Tapi, melihat gelagatnya seperti tidak mungkin. Sebab, dari cara pandang saja, dia tak mau berlama lama bertatapan. Apalagi berdekatan denganku. Ah, ini hanya perasaaanku saja yang sedang galau.

Kembali lagi kupandangi daun pintu kantor Mia dan berharap tiba tiba terkuak dan munculah seoarang wanita berjilbab. Dia cantik sekali kalau jilbab warnanya pink atau kuning. Sudah kulit putih dan mukanya bercahaya. Indahlah bila memandang dirinya. Namun aneh, kok tak ada yang mau mendekat, kalau memang dia begitu mempeseona penampilannya.

Suara adzan Ashar, tiba tiba menyadarkan pkiranku yang terus mengembara dari jelajah sosok wanita muslimah yang kuidamkan seperti Mia. Mataku tak berkedip memandangi daun pintu kantornya. Ternyata belum terkuak juga. Karena suara adzan sudah memanggil, maka kuputuskan saja perburuan di pikiranku tentang Mia, langsung menuju musholah terdekat sekitar kantor.

Aneh memang, di kantor yang luas ini, dan tentu banyak karyawannya tapi tak ada yang mau sholat berjamaah. Aku membiasakan sholat berjamaah sejak kecil dibimbing ayah, hingga sekarang masih tertanam untuk melakukan apa yang pernah dilakukan ayah yang sudah almarhum itu. Ajarannya masih membekas dan aku sangat hormat padanya.

Saat sholat hanya ditemani seorang muadzin. Aku yang menjadi imamnya. Tampak barisan di belakangku hanya seorang muadzin dan di sebelah belakang kanan terhalang kain gordin putih, seorang wanita menjadi jamaah sholat Ashar. Seperti biasa usai sholat fardu, melakukan zikir Asmaul Husna. Agak lama juga. Kaki sudah terasa pegal. Dan kuhentikan saja dan beranjak ke luar mushola. Saat itu aku melihat seseoarng sedang bersih bersih halaman mushola, tampaknya muadzin tadi.

“Kang lagi bersih bersih?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Iya, pak Ustadz,” ujarnya. Aku kaget, kenapa dia memanggilku ustadz. Memang aku ini gurunya? Ah, kuhalau pertanyaan itu. Kayanya gak penting deh, pikirku.
“Saya mau tanya, Kang?”
“Sok tanya apa?” kata muadzin tadi.
“Biasanya kalau sholat Dhuhur dan Ashar di musholah ini suka ada yang berjamaah gak?
“Ah, jarang jarang pak Ustadz,” Lagi lagi orang ini memanggil nama dengan sebutan ustadz. Ya sudahlah, biarkan saja. Ucapan itu doa. Barangkali saja Mia suka mendengarnya aku dipanggil ustadz.
“Kenapa begitu?” Dia balik bertanya.
“Ah nggak kenapa kenapa? Saya heran saja, mushola sebesar ini yang berjamaahnya sedikitan. Cuma kita saja,”
“Ah, kata siapa.”
“Biasanya ramai juga jamaahnya. Mungkin, kalau lagi ada banyak pekerjaan di kantor mereka lebih memilih sholat di kantornya. Sedangkan kalau ke sini mungkin agak jauh,” kata muadzin.
“Oh begitu yah,” Aku hanya menyetujui ucapan muadzin tadi. Kemudian dia menambahkan lagi pembicaraannya yang mengagetkan. “Tadi Mia berjamaah bersama kita. Pak ustadz lihat nggak yang berjmaah di belakang ada seorang wanita cantik?”
Ah, berdesir hatiku mendengar nama Mia. Mia itu kan yang sedang aku buru, kenapa ada di musholah ini. Kenapa tidak sama sama saja ke musholahnya. Lalu kita berjalan berdua sambil ngobrol sedikit saja tentang pertemuan selanjutnya. Aku ingin sekali terlibat obrolan dengannya.
“Terus sekarang ke mana?” Rasa penasaranku segera melongok keluar pintu musholah tempat dia berada mengikuti sholat berjamaah. Batinku mengatakan, tadi Mia sholat berjamaah denganku dan aku imamnya. Subhanallah, pucuk dicinta ulampun tiba. Siapa tahu dia itu jodohku dan aku imamnya. Mudah mudahan Ya Allah pertemukan lagi hatiku dan hatinya dalam jenjang pernikahan.

Ponselku berdering. Ibu memanggil meminta untuk mengantar ke dokter Rizal di Kadomas. Aku bingung memilih waktu untuk bertemu Mia, yang sebentar lagi keluar dari kantornya. Sedangkan, ibu meminta aku pergi ke dokter. Mana yang harus aku dahulukan. Ibuku satu satunya yang menyayangiku dan aku juga menyayanginya. Karena setelah 20 tahun yang lalu aku menjadi yatim. Dan ibulah yang mengurusku dari kecil hingga besar. Sedangkan Mia, orang yang menjadi tamatan hati karena merupakan wanita muslimah. Dan rasanya, Ibu pun akan setuju bila aku menikah dengannya. Dua wanita yang aku sayangi pastinya.

Hati nurani ini terus saja menimbang nimbang pilihan untuk membuat keputusan. Namun, akhirnya sebuah keputusan ditujukan kepada Ibu. Ya, ibu satu satunya, saat ini membutuhkan pertolongan. Dan tak ada lagi yang akan mengurusnya selain aku sendiri. Ibuku sudah sepuh. Jadi sangat butuh pertolongan. Sebagai anak tentu harus berbakti juga. Apalagi bila menelantarkannya. Aku tak ingin ibu tersakiti oleh karena perbuatanku.
Saat itu, kuputuskan untuk menemui Ibu dan meninggalkan Mia.

Di rumah ibu sudah siap siap pergi ke dokter. Ibu tampak kesal menunggunya. Aku buru-buru memburu telapak tangannya dan mencium dua kali bolak balik. Dalam hati aku ingin dimaafkan ibu. Jangan ibu terluka karena langkahku yang salah ini.
“Maafkan, Arif bu,” setelah mencium telapak tangan ibu.
“Antar ibu ke dokter Rizal,” pintanya.
Saat itu juga aku segera membawanya ke dokter Rizal dan ternyata pasien sudah banyak yang menunggu sejak pukul 16.00, wib. Ibu sudah terbiasa berobat ke dokter Rizal karena merasa cara pengobatannya secara Islami dan sopan. Selain itu, dokter tersebut teliti dalam memeriksa diagnosa pasien. Ibu sering mengeluh pusing atau maagnya kambuh.

Selama menunggu hingga pukul 17.00 wib, barulah doketr Rizal melayani pasien satu persatu. Selama itu pula Ibu terlibat obrolan dengan seorang wanita berjilbab, aku sendiri tak kenal. Tapi Ibu begitu akrab dengannya. Kadang kadang tertawa bersama ketika bercerita tentang masa mudanya dulu. Aku tak ingin tahu obrolan mereka. Maka, kuputuskan untuk tidak larut dalam obrolan itu. Aku memilih keluar ruang tunggu. Dan di luar aku mencari suasana segar daripada di dalam pengap dan bau obat rasanya perutku mual.

Seorang wanita berjilbab tadi keluar. Ibu sendirian. Aku harus menemani Ibu masuk ke ruangan kamar dokter. Ternyata tensi darah ibu naik. Menurut dokter, makanan gorengan dan dikurangi asin asinan. Seperti sayuran dikurangi rasa garamnya. Kalau bisa mengikuti saran dokter saja untuk tidak makan makanan yang serba asin selama dua minggu.

Sesampai di rumah Ibu berbaring. Aku disuruh duduk di sampingnya. “Ibu hanya pesan, kalau kau sudah punya milik (rizki) secepatnya menikah dengan anak temannya Ibu tadi. Ibu sudah ngobrol tentang kamu dan Ibu yang berjilbab tadi, itu teman Ibu 35 tahun lalu. Sewaktu ibu masih SMA,” ujar ibu pelan, sambil tangannya mengusap usap bahu lenganku.
“Iya bu,” hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Aku khawatir menentang Ibu, takut tersakiti dengan tindakanku yang salah. Padahal, aku sudah mempunyai pilihan hati yakni Mia. Dialah wanita sholehah pujaan hati. Rasanya tak mungkin aku secepat itu berpaling ke wanita lain pilihan Ibu.
Namun dalam hatiku juga sering bertanya, apakah Mia sudah memiliki kekasih atau suami? Orang orang bilang Mia sudah janda. Menurut Lia saja, Mia itu sudah janda tiga tahun lalu, setelah suaminya meninggal usai acara resepsi pernikahannya. Setelah suaminya meninggal, dia berubah. Cenderung sedikit pendiam dan mengenakan jilbabnya sangat rapi. Dia tak ingin ternoda oleh pandangan laki laki yang nakal kepadanya. Maka, auratnya banar benar tertutup. Ini juga yang membuat aku penasaran.

Besok aku harus bertemu dengan Mia. Aku ingin meminta maaf kepadanya, kalau saat itu aku tak melihat dirinya di kantor. Dia memang tidak bersalah tapi aku meninggalkannya sendirian. Sendirian? Ah, rasanya bukan itu alasannya. Hanya perasaanku saja. Tiba tiba dari pintu kantor Mia terkuak. Aku ingin langsung membukanya saatku membuka daun pintu itu yang keluar malah Lia.
Lia tersenyum, seperti ingin menertawakanku yang belum reda dari rasa kaget melihat sesosok manusia di depannya. Lia memang manis, cantik juga putih, rambutnya sebahu. Dia memang tidak berjilbab. Beda agama. Ia Budhisme.

“Tumben pak, baru kelihatan,” ujarnya.
“Iya nih baru sempat ke sini lagi. Mia ada,” aku langsung saja menanyakan orang yang paling dirindukan. Dan ingin cepat bertemu.
“Ada. Lagi sedikit flu,” kata Lia. Persaanku berubah sesaat. Aduh, kenapa sakit. Aku ingin mengobatinya biar tidak sakit dan bisa bercengkarama dengannya.
“Sudah lama sakitnya?” tanyaku.
“Sejak bapak ke sini, sudah hampir seminggu sakitnya,” ujar Lia datar.
“Sudah berobat?”
“Sudah, katanya sih,” jawab Lia lagi.
“Ada salam dari Mia,”
“Alaika salam,” jawabku. Tapi Lia cepat berlalu dariku dan tak sempat ada yang dikatakan lagi ketika ingin kukejar lagi pernyataannya, katanya ada salam dari Mia. Oh, berarti Mia menyambutku dengan hati terbuka. Oh, Mia akan menjadi teman dalam hidupku. Tetapi benarkah ucapan Lia tadi ada salam dari Mia. Apakah hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Aku khawatir Lia hanya mengada ada. Atau mungkin masih benci dengan keputusanku waktu dulu pernah menolak cintanya.

Cerpen Karangan: Tb Apin Suryadi
Facebook: Apin Suryadhi
(Pandeglang 17 April 2017)
Tentang Penulis: Apin Suryadi, Lahir di Pandeglang 8 April, alumni Sarjana STAI Babunnajah Pandeglang Banten, kini membina Yayasan Raudhatul Athfal Ad-Dzikro se Kab Pandeglang dan mendirikan Majalah Mutiara Banten. Beberapa tulisan sastranya ditayangkan Warta Lambar.Com – Seibumi.Com – Litera.Com serta media lokal. Puisinya dibukukan dalam antologi bersama Embun Pagi Lereng Pesagi 2017.

Cerpen Janda Sholihah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih Yang Sejati (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi memanggil tepat jam 6.00 tanda aku harus pergi sekolah. Hari ini tepat hari pertamaku sekolah di Sma. Jarak dari rumah ke sekolah, ya katakanlah emang jauh, namun

Diam

Oleh:
Kubuka novel misteri kesukaanku, aku ingin membaca lebih dalam lagi isi dari novel ini. Novel ini adalah novel yang pertama kali kubeli, karena sebelumnya aku tak tertarik dengan bacaan-bacaan

Tak Kusangka

Oleh:
“Nengsih, kamu ikut Hendro!” Kata mandor Arman pada gadis itu. Aku terkejut. Antara senang dan grogi. Bagaimana tidak grogi, dari awal aku melihat dia tadi detak jantungku mendadak berdegup

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Jam 2 siang bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Begitupun aku dan Imink. Imink adalah sobatku dari pertama mulai sekolah di SMA ini. Dia

Bukan Kim Tapi Kian

Oleh:
Waktu itu, setiap pagi pesan SMS mu tak pernah luput dari Hp-ku. Dan tanganku tak pernah luput dari menggenggam Hp. Setiap pesan SMS masuk dengan ligat jariku menekan-nekan tombol

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *