Jari Manis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Daun yang sudah menguning berguguran tertiup angin. Cahaya matahari menyinari setiap sudut daun yang melayang-layang di udara, sehingga menciptakan pantulan yang indah. Kita masih duduk di kursi taman yang berada di bawah pohon, jilbabmu bergerai tertiup angin, setitik tahilalat di pipimu semakin memperindah pemandangan di depanku. Sejuta warna pelangi telah aku temukan pada tatapan matamu, siang itu adalah hari di mana kamu terlihat lebih cantik dari biasanya. Kamu tersenyum menatapku, dan aku tersenyum menatapmu, baru kali ini kita bertatapan begitu lama, seolah tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Besok kita akan berpisah, berjalan di tempat berbeda dengan tujuan yang sama sebagai dua orang yang saling merindukan. Aku menjulurkan jari manisku, dan meminta kamu melakukan hal yang sama, tanganmu gemetar, ini pertama kalinya kita bersentuhan. daun masih berguguran, kupu-kupu mulai beterbangan menyaksikan kita.

“Janji?” Aku menatap matamu ke dalam.
“Janji,” katamu. Jari kita masih bersentuhan, mataku dan matamu saling mencari keyakinan di antara kata janji yang baru saja terucap. Kalau ini sebuah film, mungkin soundtracknya adalah lagu Stingki -Mungkinkah.

Mungkinkah kita kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan ku peluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku

Perlahan jari kita mulai terlepas, kamu menarik napas panjang lalu mengeluarkannya, aku merasakan sesak dalam dadamu, seperti sesak yang mengisi ruang sudut paru-paruku. Kita sama-sama tidak ingin berpisah, tapi aku dan kamu tahu kalau perpisahan ini untuk bertemu kembali, bertemu pada mahligai yang kita impikan. Cerah langit mulai meredup dijemput sore, kita masih saja di sana, tanpa suara, hanya mata, ekpresi wajah, dan gerakan tubuh yang menunjukkan kita sedang bersedih. Terkadang hidup memang sialan menciptakan situasi seperti ini, padahal untuk bisa bertemu lagi akan membutuhkan waktu yang lama. Rasanya seperti kehabisan kosa kata, walau segudang ungkapan menggebu-gebu ingin diucapkan.

“Sejauh apa pun jarak yang memisahkan raga kita, jangan sampai menjauhkan hati kita!”
Kamu mencium tanganmu, lalu meletakkannya di dadaku, sebelum akhirnya melanjutkan perkataanmu.
“Jaga ini baik-baik ya!”
“Akan selalu aku jaga, selamanya,” kataku.

Andai saja boleh, sore itu aku ingin memelukmu, untuk yang pertama dan terakhir sebelum kita ditakdirkan halal. Tapi itu terlalu berlebihan, aku tidak mau mengorbankan ketakwaan yang selama ini menjadi komitmen kita berdua, cukuplah kita melanggar aturan untuk tidak berpacaran. Mungkin. Waktu terus berjalan pada polanya, langit sudah berwarna kuning keemasan, saatnya hati harus benar-benar ikhlas untuk merelakan perpisahan. Lagi pula aku tidak kehilangan kamu dan kamu tidak kehilangan aku, kita hanya tidak bisa melihat langit dari tempat yang sama. Itu saja. Pasti akan banyak kesempatan untuk berkomunikasi. Insya Allah. Mataku mengembun menyaksikan punggunggmu yang tertutup jilbab itu menjauh pergi dibawa langkah kakimu. Tiba-tiba jejak langkahmu menjadi bait-bait puisi berjudul kenangan. Kenangan yang akan selalu dirindukan.

Cerpen Karangan: Hari N. Muhamad
Blog: harinoer.blogspot.com
Facebook: Hari N. Muhamad

Cerpen Jari Manis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Patah Hati Terbaik

Oleh:
“Kita udahan aja ya, kayanya lebih baik gitu. Aku udah gak bisa ngelanjutin. Kita sampe di sini aja. Kamu baik, cantik, pinter, jadi cewek kaya kamu itu gak pantes

Partner Senja (Part 1)

Oleh:
Angin sore itu lembut menyapanya, Ia menikmati suasana sore yang begitu romansa dalam indera penglihatannya. Ia selalu jatuh cinta pada suasana sore hari, saat mentari yang lelah bergelayut manja

Aku, Kalian, Kita

Oleh:
“Cepat sekali, ya…” Tanpa sengaja aku menggumamkan sesuatu di tengah lamunanku. Suasana kelas yang sunyi membuatku berpikir akan sesuatu. Ini bukanlah tentang betapa cepatnya laju angin hingga menyeret awan

Qalbi Mustaqun Ilaika Akhi

Oleh:
Perkenalkan namaku adalah putri… Bukan putri dari seorang raja atau pun bangsawan. melainkan, putri dari seorang ayah dan ibu yang begitu menyayangiku. begitu sayangnya dia sampai-sampai dia mengirimku ke

Salahkah Aku Mencintaimu

Oleh:
“Gooool…” sorak sorai penonton sambil berloncat-loncatan mengganggu aku yang mendapat posisi duduk di belakang. di tengah kegondokanku tia-tiba di depanku lewat sekelompok cowok yang terlihat keren, awalnya ku abaikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *