“Jilbab Hitam” itu Bernama Medina (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 4 June 2013

Setiap kali hendak berjalan bersama kaki yang di balut dengan sepatu pentopel menuju ke tempat tujuan belajarku bernama Universitas Padjadjaran Bandung, setiap kali juga aku senantiasa mendengar suara merdu yang keluar dari dalam rumah sederhana bercat putih biru. Entah suara apa itu, bahkan aku sama sekali belum pernah mendengarnya kecuali saat ini. Saat dimana aku selalu bertanya dalam hati kecilku dan ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang menyanyikan lagu merdu bagai air mengalir dari perbukitan. Karena aku tahu, aku ini adalah orang desa yang belum terjamak dengan modernisasi perkotaan.

Namaku Ucok Saragih, aku dilahirkan di tempat yang memang teknologi informasi dan komunikasi belum sama sekali di beri kebebasan oleh masyarakat suku ku untuk berkontribusi penuh kepada warga masyarakat. Dilahirkan dengan kondisi tak memiliki ayah, 19 tahun ibuku dengan susah payah merawat dan mendidik anak semata wayangnya ini dengan penuh kesederhanaan dan disiplin penuh. Aku sendiri sudah tak mau mengungkit masa lalu mengapa aku tak memiliki ayah seperti kebanyakan teman sebayaku. Karena aku sadar, aku tak mau lagi melihat ibuku bersedih ketika dia berusaha mengingat masa lalu dalam rumah tangganya dulu.

Kini, sudah 1 semester aku berada di Bandung, akan tetapi banyak hal yang belum aku pahami disini. Kondisi di Bandung sangat berbeda dengan kondisi di daerah asalku Medan. Kalau di sana setiap malam orang-orang pasti sudah tidak melakukan aktivitas di luar rumah alias tinggal di dalam rumah. Kondisinya sunyi dengan lampu redup, berbeda dengan di bandung, sampai tengah malam pun orang-orangnya masih terus beeraktivitas. Mungkin inilah bedanya daerah terpencil asalku dengan perkotaan.

Pagi yang indah, sinar matahari menyapa wajahku yang teramat lelah akibat semalam begadang mengerjakan tugas akhir salah satu mata kuliah yang aku ambil semester pertama aku kuliah di Bandung. Oh ya, jurusan yang aku ambil yaitu Pertanian. Karena aku berharap kelak sesudah aku lulus disini, aku bisa berbagi ilmu kepada saudara-saudaraku disana tentang bagaimana membuat bibit unggul dalam teknik perkebunan (agroteknologi).

Kamis, 30 Mei 2013. Akhirnya aku melepas sedikit rasa penasaranku kepada wanita yang setiap harinya selalu bernyanyi di pagi hari ketika aku hendak melintasi jalanan sekitar rumahnya. Ternyata sosoknya begitu anggun. Entah perasaan apa yang saat ini ada dalam hati kecilku sampai-sampai aku terkesima dengan sosok wanita yang belum pernah aku temui di kampung halamanku di Medan.

Wajahnya cantik, tatapannya menyejukkan hati dan pikiranku. Walaupun ku tahu dia adalah seorang pemeluk agama islam yang berbeda dengan diriku seorang kristiani. Karena ketika aku melihatnya, bukan hawa nafsu yang muncul dalam pikiranku melainkan kekaguman yang amat di luar dugaan. Sejatinya dia memakai pakaian yang sering di sebut jilbab atau baju kurung longgar dan kerudung panjang yang menjuntai hingga menutupi dadanya, itu pun menurut apa yang aku dengar dari kawan kuliahanku, seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia bernama Anwar Sanusi.

Dia Anwar sering berargumen mengenai ide-ide politik yang dia usung kepada teman-temannya di kampus tak terkecuali kepadaku, walaupun dia tahu bahwa aku ini bukan orang islam. Tapi katanya dakwah islam itu bukan hanya untuk orang islam melainkan untuk semua orang yang beraneka ragam.

Akhir-akhir ini aku memang sering berdiskusi dengan Anwar mengenai beberapa hal yang belum ku ketahui tentang dunia islam, tentunya karena aku ingin lebih tahu mengenai wanita yang belum pernah aku dengar namanya, jujur saja aku malu untuk menanyakannya nama wanita tersebut kepada warga sekitar rumahnya. Tapi sungguh yang aku kagumi bukanlah kemolekan tubuh dan kecantikannya, melainkan karena nyanyian yang dia lantunkan setiap pagi hari tatkala aku melawati rumahnya yang sederhana itu. Aduhai, betapa aku terus berimajinasi terhadapnya. Aku penasaran dan terus mendalami makna jilbab kepada Anwar.

Pagi ini kebetulan aku lagi gak ada kuliah dan niatku ingin segera mengetahui nama wanita tersebut dengan mengajak Anwar. Oh iya ada satu lagi yang membuat aku penasaran, yaitu lagu, ya, tentang lagu indah nan merdu khas wanita berjilbab. Saking tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjuluki wanita tersebut, aku panggil saja dia “jilbab hitam”, karena memang dia selalu berpakaian seperti itu.

Setelah datang dan membujuk Anwar di kosannya, akhirnya kami berdua berangkat ke tempat tujuan untuk mengetahui siapa sebenarnya nama wanita misterius yang berumur kira-kira 20 tahunan tersebut. Anwar bertanya kepadaku “Cok, memangnya kamu berani datang ke rumahnya? Karena dalam islam, kita hanya diperbolehkan menanyakan beberapa hal kepada wanita yang kita sukai cukup melalui lisan orang tuanya saja, tidak secara langsung, dan itupun jika kamu berniat untuk melamarnya cok.”. Aku bingung dengan apa yang Anwar katakan, kok sampai segitunya ajaran islam, toh hanya untuk mengetahui namanya saja, gumamku dalam hati. “mmm, gitu ya? Kalo sampai sejauh itu sih gak usah saja aku menanyakan namanya, karena aku belum siap untuk melamarnya, kita balik lagi aja”. Anwar lalu menjawab dengan singkat “oke, saya rasa itu keputusan yang lebih baik cok!”.

“Jadi begini ya ajaran islam yang sesungguhnya, aku baru mengetahuinya. Jujur saja semenjak aku mengenal Anwar, apa yang dia katakan memang masuk akal, dan aku memang berniat untuk terus mempelajari islam dengan terus bertanya kepada seorang aktivis HTI ini”. Singkatku dalam hati.

Di perjalanan menuju kosan Anwar yang tak jauh dari rumah si “jilbab hitam” itu aku mendapatkan hal yang tak kuduga-duga sebelumnya. Ibu-ibu yang berpapasan denganku ternyata sedang membicarakan wanita itu, ya, tak salah lagi mereka sedang membicarakan jilbab hitam yang ku maksud. Namun ternyata, setelah aku beranikan diri untuk bertanya kepada mereka, ternyata mereka pun tidak mengetahui namanya. “Begitu tertutupnya dirimu duhai jilbab hitam”.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Fikri Aziz
Facebook: Fikri AL-Aziz

Cerpen “Jilbab Hitam” itu Bernama Medina (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Yang Kutunggu

Oleh:
Pantai ini selalu menjadi tempat favoritku untuk menyendiri menghilangkan penat dari rutinitas sehari-hariku yang semakin hari kian menumpuk. “HUH andai saja semua beban ini dapat kularung bersama ombak” Gumamku

Duhai Khalqillah

Oleh:
Cinta tak pernah aku cari. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk mencintai insan Allah selain ibu. Ia malaikatku. Cintaku padanya adalah cinta yang tak pernah kuberikan pada orang lain.

Kalau Jodoh, Mau Ke Mana?

Oleh:
Aku kembali mnyeruput tehku, lalu meletakkannya krmbali ke meja belajar. Kubalikkan lagi lembaran lembaran novel yang ada di tangan. Tiba di bab pengenalan sosok pemeran utama laki laki yang

Istikharah Cinta Uwais

Oleh:
Kota Semarang yang asri dengan sejuta kenangan dan keindahannya. Hamparan suasana perkotaan yang berada di pesisir lautan berombak, semilir angin subuh bertiup membawa hawa sejuk kedalam jiwa. Sebagian masjid

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *