Jodoh Pasti Bertemu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

“braak…”. Skuterku menyerepet seorang pemuda
“Astagfirulloh dek! kamu gak papa kan.” Kuhampiri pemuda yang kutabrak tadi
“Tidak apa apa kok mbak, hanya lecet saja.” Jawab pemuda itu sambil mengusap sikunya yang lecet,
“uhm, kalau benar! saya mohon maap tadi saya buru buru.” Ucapku
“Saya maafkan mbak, lain kali hati hati ya mbak supaya tidak ada korban lagi.”
Mendengar ucapannya aku tertegun dan semakin merasa bersalah, saat kepalaku menunduk aku melihat amplop cokelat besar di dekat kaki pemuda itu. lalu aku bertanya padanya. “Apakah amplop itu berisi lamaran pekerjaan”.
“eh?.. oh.. iya mbak, ini lamaran pekerjaan saya.” Jawab pemuda itu
“uhm, kamu mau ngelamar dimana?”.
“dimanapun asalkan ada lowongan mbak”.
“oh.. kalau begitu bekerja di toko saya, gimana?”
“uhm, mbak menawarkannya karena kasihan sama saya?”.
“eh, bukan kok ini karena saya memang membutuhkan seorang pegawai, kebetulan toko roti saya pegawainya sedikit dan semakin ke sini pesanan menumpuk, dan.. ah! kamu tau sendiri jika pesanan tak terpenuhi. Tapi itu juga kalau kamu mau, jika kamu mau kamu bisa jadi pengantar pesanan rotinya, gimana?”. Jawabku tegas meskipun kenyataanya sesuai dengan dugaannya
“uhm.. ya sudah mbak saya terima, kebetulan saya lagi butuh pekerjaan dan…” tiba tiba dia berhenti tuk berkata.
“dan apa?”. Lanjutku
“eh.. dan saya ucapkan terima kasih.” Lanjutnya dia
“kalau begitu apa kamu siap bekerja besok?”. Tanyaku padanyka sa
“wah!!, boleh seperti itu”. jawabnya dengan senyuman manis
Deg.. deg.. deg hatiku bersuara seket melihat senyuman di wajahnya
“Tentu saja bisa! kan aku bosnya, hehehe ya sudah ini kartu namaku besok kamu datang ke alamat situ, jika ada yang menanyakan atas rekomendasi siapa bilang saja atas rekomendasi ku Diana Zahraningsih oke!!”. Jawabku sambil menyodorkan kartu namaku.
“baik mbak! besok saya akan ke sana, sekali lagi saya ucapkan terima kasih mbak!!”. ucap pemuda itu dengan kebahagiaan diwajahnya
“Iya, sama sama. Uhm.. kalau begitu saya tinggal dulu ya, Wassalamualaikum”. Ucapku sambil meninggalkannya dengan menggunakan skuterku.
“Walaikum salam, hati hati di jalan ya mbak takutnya mbak nabrak lagi.” Ejek pemuda itu
“hahaha insya Alloh tak akan.” Balasku dengan senyuman lalu pergi meninggalkannya.

Entah kenapa aku mengingatnya terus apalagi saat dia memberikan senyuman padaku dan membuatku serasa melayang sampai membuat senyuman di wajahku.
Apakah mungkin aku suka? Tapi mana mungkin pertama kali bertemu aku sudah menyukainya?? Tapi bisa saja kan banyak orang yang baru saja pertama kali bertemu mereka berjodoh!! eh tunggu dulu, kenapa aku berpikir mengenai jodoh? Oh tidak, mana mungkin aku berjodoh dengannya kan dia lebih muda dariku apalagi…
Tiba tiba lamunanku terhenti setelah aku sampai pada tempatku bekerja. Setelah memakirkan skuterku itu aku berdiri tegap dan memandang langit lalu hatiku berucap.
“Jodoh di tangan-Mu, aku kan bertemu dengan jodoh yang kau kirimkan untukku, Semangat Diana!!”.

Kring kring (telepon berbunyi) “Hallo.. di sini dengan Diana…”.
“Udah tau.. udah cepetan ke rumah! Kita kedatangan Tamu dari Australi”.
“Tunggu dulu! Ini siapa? Terus maksudnya tamu Australi apa?”. Tanyaku bertubi tubi
“ahk kamu, tetep ajah lemot ini aku linda temen SMA mu masa lupa lagi sama suaraku sih!!,”
“oh.. haha maaf maaf maklum 10 taun gak ketemu”. Jawabku dengan sisa tawaku
“dasaaar bilang aja lemot. Hahaha pokoknya kamu datang ke sini kerumahku kita ngobrol disana kita kedatangan seseorang yang pengen ketemu kamu, pokoknya datang ya bye.”
Tuuut tuut… (telepon terputus)
“eh tunggu dulu..”. ucapku terpotong saat teleponku ditutup “dasaar, padahal aku mau tanya siapa orang Australi yang ingin bertemu denganku.”
“Apakah Novi atau Rian, mereka berdua kan kuliah di Australi tapi Novi kan dia ke Amerika sama suaminya semenjak lulus kuliah lima tahun yang lalu tapi mana mungkin Rian, aku kan gak akrab lagi meski kuakui aku memang pernah suka tapi kan dulu!! tapi kenapa aku berharap dia yang kutemui, Ahk!! tidak lagi Diana mana mungkin kamu berharap dia datang ke sini bertemu denganmu, ahk sudahlah lebih baik kutemui Linda di rumah daripada dia ngomel ngomel”. Setelah berpikir lama aku langsung pulang.

Seketika di rumah, banyak orang orang yang tak kukenali tapi seorang wanita dengan jilbab panjang khasnya, menghampiriku dari jauh aku tak mengenalinya namun saat dia mulai mendekat dan tersenyum lalu aku pun ingat saat seorang wanita yang meneleponku di kantor tadi. Ya! Dia Linda
“Akhirnya kamu datang juga, ayo cepet ada yang pengen ketemu kamu”.
Aku tertegun dan sedikit bingung. “Siapa? Perasaan aku gak punya klien dari luar negeri”
“ihk, pokonya liat dulu deh!”. Jawabnya dan membuatku semakin bingung lalu dia membawaku ke halaman belakang
“Nah itu dia!”. Ucap Linda sambil menunjuk kepada seorang pria yang membelakangi kami namun aku bingung siapa dia sebenarnya dan kenapa dia ingin bertemu denganku, lalu Linda pun memanggilnya. “Rian ini Diana sudah datang”.
Deg deg deg. Tiba tiba jantungku berdetak mendengar nama itu terlebih lagi saat dia membalikkan tubuhnya, sungguh entah kenapa aku langsung menundukkan kepala. Lalu sepasang kaki tiba tiba ada di hadapanku dan membuatku menatap mata lelaki itu, lelaki yang tak ingin berbicara dengan wanita manapun saat SMA berada di hadapannku namun anehnya aku bahagia bahwa aku bertemu dengannya.

“Hai, apa kabar”. Ucapnya membuat lamunanku tentangnya buyar
“Eh! ya aku baik baik saja, Uhm kalau kamu gimana?”. Tanyaku, dan tanpa sadar Linda meninggalkan kami berdua.
“Aku baik, Uhm aku boleh bicara sesuatu?”.
“hehehe kamu ini aneh yah! sejak kapan ada larangan buat bicara, ya tentu boleh tapi bukan tentang pelajaran sekolah kan?” ejekku
“hehehe, kamu ini dasar gak pernah berubah”. Ucapnya dengan sisa tawa, mendengarnya membuat degupan jantungkku semakin kencang. “ya sudah, kamu mau bicara apa?”. lanjutku bicara
“Uhm. Ini tentang perasaanku padamu sejak dulu!”. ucap Rian dengan serius, mendengar itu membuatku tertegun dan berpikir apakah dia memiliki perasaan yang sama tapi aku merasa tak mungkin. Lalu Rian melanjutkan ucapannya “Diana, aku akui bahwa aku mengagumi bahkan mungkin lebih dari sebatas rasa, mungkin aku memiliki rasa padamu namun…”.tiba tiba dia terdiam dan tak melanjutkan perkataannya tapi aku berharap dia melanjutkan kata katanya.
“Namun apa?” ucapku memecahkan keheningan diantara kami
“Namun, aku tak berani mengungkapkan perasaan ini, karena aku janji pada ibuku bahwa aku takkan memikirkan yang lain selain belajar, hingga kuputuskan aku mencintaimu dalam diamku, mungkin kau bertanya kenapa aku dingin dan tak pernah bicara pada wanitasejak SMA, ya inilah alasannku yang pertama karena Ibuku dan yang kedua karena kamu”. Ucapnya tanpa ragu sambil memandangku.
Sambil kutatap matanya dalam dalam dan berkata “Rian, aku mengerti ucapannmu dan Engkau pun harus tau aku juga mencintaimu waktu itu tapi sekarang…”.
“Aku mengerti”. Ucap Pria itu sambil membelakangiku
“Tapi sekarang aku masih tetap merasakan hal yang sama”. Ucapku sambil tersenyum
“eh?.. benarkah?”
“Benar Rian”.
“Syukurlah, kalau begitu bolehkah aku berta’aruf denganmu?” ucap pria itu
“Uhm, tentu saja jika kau ingin melamar pun jawabannya pasti iya bagiku”. Ucapku sambil tersenyum
“sungguhkah!! Terima kasih tapi aku ingin Taaruf dahulu biar berkah”. Jawab pria itu sambil tersenyum
“Horeee!!!! Horee!! Akhirnya Diana laku juga” sorak sahabat dan keluargaku, ternyata mereka mengintip dibalik jendela tapi aku mengerti kenapa mereka gembira seperti itu.

Setelah taarufan kami pun menentukan tanggal pernikahan, karena keluarga kami menyuruh kami cepat cepat menikah. Sebulan setelah ta’arufan, undangan pun tersebar. Tiba tiba Hp ku berdering dan kulihat ada Sms dari nomor yang tak dikenal

Assalamualaikum
Mbak ini saya Rizki seorang pemuda yang pernah mbak tabrak dan mbak beri pekerjaan, saya mendapati undangan bahwa mbak akan menikah namun mohon maaf mbak saya gak bisa hadir setelah beberapa bulan bekerja di Tokomu aku mendapati gaji lebih dari cukup untuk kuliahku di sini. Dan karena jasamu aku ucapkan terima kasih dan semoga Alloh memberikan rahmatatas pernikahannmu Amiin
Wasalamualaikum

“Uhm. ternyata Rizki namanya, entah kenapa aku merasa kecewa dia tak adadi hari bahagiaku, ya sudahlah Diana” Ucapku sambil membalas smsnya
“Eh! kok gak kekirim smsnya? Jangan jangan.. tuh kan bner abis pulsanya, gila banget aku gak punya pulsa”

Setelah itu aku berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhku di tempat tidur, entaah kenapa aku merasa gelisah sampai larut malampun aku belum tidur dan “Huft…”. aku menghembuskan nafas sambil bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu, setelah itu kulanjutkan shalat malam agar aku tak lagi gelisah.
“Aneh sekali!! aku sudah sholat tahajud tapi tetap saja gelisah”. Ucapku dengan merasakan kebingungan ini “Ya Alloh, kenapa denganku ini aku merasa gelisah dan takut padahal esok adalah hari kebahagiaanku, Ya Alloh tolonglah Hamba-Mu ini usirlah rasagelisah ini dariku amiin.”. kuusapkan kedua telapak tanganku ke wajah.

Sholawat menggema di hari pernikahanku tapi tetap saja aku merasa gelisah sampai saat ini. Sebenarnya aku ingin menceritakan kegelisahanku ini pada mamah, tapi aku terlalu takut dan tak ingin membuat suasana suram di hari pernikahanku.
Semakin detik berlalu gelisahku semakin menjadi jadi apalagi saat mas Rian tak kunjung datang dan tak ada kabar apapun darinya baik sms maupun telepon. Di situ aku merasa khawatir lalu mamahku menyuruh Dani sepupuku menyusul Rian ke rumahnya. Para tamu semakin banyak, acara pun tak kunjung di mulai penghulu pun tampak kesal dan ingin pergi meninggalkan acara tapi ibu menghalanginya.

Sudah cukup lama Dani pergi dan akhirnya dia datang namun anehnya aku tak melihat mobil rombongan keluarga mas Rian melainkan sebuah mobil putih dengan sirine khasnya. Suara sirine Ambulance itu sangat keras sampai orang orang berhamburan keluar dari rumah. Lalu perawat rumah sakit yang mengendarai mobil itu menghampiriku dan memberikan laporan bahwa mobil rombongan pernikahan yang menuju arah sini mengalami kecelakaan dan menabrak pembatas jalan dan masuk jurang.
Mendengar hal itu membuat tubuhku lemas dan jatuh namun mamahku yang ada disamping kiriku menangkapku, rasanya hatiku tertusuk dan ingin menjerit kuat namun anehnya aku merasa tak percaya akan semua yang dilaporkan oleh perawat itu. Aku langsung bangkit dari pelukan ibuku dan segera merengguut kunci motor yang dipegang Dani, tak peduli jeritan ibu memanggil aku segera menaiki motor dan menancap gas. Aku tak berpikir panjang, hanya air mata yang terus mengalir di pipi masih aku tak percaya dengan hal itu aku ingin lihat di lokasi kejadian. Tapi aku tetap resah dan gelisah hingga tak terasa hujan mengguyur bumi tapi aku tak peduli tak ingin berteduh ataupun berhenti meski hujan semakin deras.

Aku terus menambah kecepatan hingga kecepatan penuh. Namun aku merasa itu sangat lambat, aku hanya bisa menangis dan menangis dia atas motorku sampai pikiranku mengacaukan konsentrasiku dan hujan semakin deras dan membuat pandanganku buyar sampai aku tak melihat ada seorang yang menyebrang aku berusaha menghindari orang itu namun Alloh berkehendak lain rem motorku tiba tiba blong dan sulit dikendalikan.
“Brakkk”. Motorku menabrak pohon, dan tubuh ini serasa melayang dan kepala ini seras terbentur.

“aduuh, kepalaku sakit! di mana aku?”. Ucapku ketika membuka mataku dan aku baru mengerti aku dimana ssaat aku melihat infusan di tanganku. “ternyata aku di rumah sakit! Tapi kenapa bisa bukannya hari ini aku menikah? Tapi kenapa ada di sini”. Tanpa sadar aku mencabutu infusan di tannganku dan keluar kamar.
“ya ampun sayang kamu siuman nak! Kenapa kamu cabut infusanmu? Ayo istirahat kamu baru sadar, cepat!”
“tunggu mah! aku kan hari ini nikah kok aku di sini nanti mas rian nunggu mah!”
“dia gak nunggu kamu! dia pergi ninggalin kamu! Dia pergi ninggalin kita semua diana!!”
“maksud mama??”
“dia udah nggak ada, di dunia ini”.
“mamah bohong, gak mungkin gitu mah, semalam dia nelepon aku mah, mah gak mungkin itu terjadi”
“Rian kecelakaan!! KECELAKAAN dia masuk JURANG dan kamu juga kecelakaan saat kamu nyusul Rian. Matamu terluka parah dan membuat matamu itu buta permanen, Dokter tak bisa berbuat apa apa kecuali kamu harus operasi!!”
“apa!!”
“kamu tau!! mamah gelisah, takut dan bingung harus berbuat apa apa, lalu seorang perawat membawa korban kecelakaan, tiba tiba korban itu memegan tangan mama, yang membuat terkejut dia adalah RIAN!!”
“Mamah bohong,!!”.
“Terserah kamu mau percaya apa enggak!! tapi saat itu dia masih bernapas dan dia bilang minta maaf untukmu karena dia bukan lelaki yang akan disampingmu kelak!! lalu dia meninggal dengan senyumannya”.
“he.eeuhh.. mah aku gak percaya”.
“dialah yang mendonorkan matanya untukmu, diana!”
“Ahhkkkkkk”.
“Diana! diana bangun! bangun”

Matahari terbit dari ufuk timur dan disambut riang oleh nyanyian burung. Dua tahun sudah aku bersedihseseorang datang kerumahku, pemuda itu mengingatkanku kepada seseorang yang kutabrak, tapi sekarang terlihat berbeda, dahulu dia terlihat polos, namun sekarang dia begitu gagah dengan kemeja yang ia kenakan. Aku malu bertemu dengan siapapun saat itu, termasuk dia. Lalu ibu yang melayaninya sampai dia pulang. Setelah dia pulang aku langsung memburu ibu tuk menayakan apa yang dibicarakannya bersama Rizki. Lalu ibu menceritakan dan cerita ibu itu membuat mata ini kembali menitikan airnya.

“Dua bulan kau berkabung atas kematian Rian, sekarang waktunya kau tersenyum diana!”. Ucapan mamah membuat aku bimbang dalam mengambil kepuutusan.
“jika kau bimbang sholat istikharah-lah nak! karena hanya Alloh yang mampumemberikanmu jawabannya.” lanjut ibu. Saat mendengar mamah berkata seperti itu, kulaksanakan perintah-NYA tuk menuai jawaban dan akhirnya kudapati jawaban yang insya Alloh akan fitrah bagiku, dia dan keluargaku. Lalu aku katakan keputusannku pada semuanya.
“Uhm! aku telah mendapatkan jawabannya,”
“apa jawabanmu mbak Diana”.
“jawabanku ialah aku menerima lamaranmu Rizki, tapi aku meminta dua syarat dan apakah kau akan sanggup”
“jika aku mampu aku akan berusaha memenuhinya, dan apakah syarat syarat itu mbak?”
“yang pertama, aku ingin pernikahan ini terlaksana malam ini ba’da isya, bagaimana?”.
“aku siap mbak! Dan yang kedua?”.
“jangan panggil aku mba, bisakah kau panggil aku Dek Diana”.
“uhm, bisa asalkan mbak.. ehk maksudnya dek diana juga memanggil saya Mas Rizki bagaimana?”
“Uhm, tentu saja mas Rizki sang calon imam bagi hidupku yang baru”.

Semua tertawa dengan hal ini, dan pernikahanpun dilaksanakan sesudah ba’da isya sesuai keinginnanku, aku hanya mampu menitikan air mata, namun mata ini bukan kesedihan tapi kebahagiaan, aku bersyukur tuhan mengirimkan Rizki sebagai pengganti rian, namun takkan kulupakan jasa Rian untukku. Tanpa dia aku tak bisa menatap indahnya ciptaan Tuhan, tanpa Rizki aku takkan mampu tersenyum dan Tanpa Tuhan aku takkan mampu bertemu dengan jodohku. Dan ternyata benar bahwa JODOH PASTI BERTEMU.

Cerpen Karangan: Nyimas Wangi
Facebook: Nyimas Wangi

Cerpen Jodoh Pasti Bertemu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karenamu Aku Mencintainya

Oleh:
Mulai muncul di gulungan awan putih teriknya sungguh sangat menyilaukan. Membuat lengkungan merah mulai mengering. Perkenalkan aku Syifa, aku baru saja lulus SMP. Kini aku mengendarai motor bersama ayahku

Senyum Itu Sedekah

Oleh:
Namanya Nisa seorang gadis yang bisa dibilang nakal, yang sudah beberapa kali keluar masuk sekolah hingga akhirnya dia dimasukkan orangtuanya ke sebuah pondok Pesantren. Meski menolak Nisa tidak bisa

Hijrah Cinta

Oleh:
Hanafi terus memandangi foto gadis slengekan itu. Sore ini dia akan menemuinya di taman kota. Terdengar dari suaranya di telepon gadis itu jutek, galak dan keras kepala. Tapi demi

Not Just A Dream

Oleh:
Setelah makan malam Luna dan keluarganya duduk di ruang tengah. “Luna, ada yang mau Aah bicarakan,” kata Pak Anwar. “Ada apa Yah?” “Kamu kan udah kelas 3 SMA sebentar

Cukup

Oleh:
“Manager Felly, anda sudah ditunggu di kantor ketua direksi,” nada sambung dari telepon kabel kantor. “Saya akan datang segera,” ucap Felly dengan menekan tombol mati di teleponnya. Sejenak, Felly

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *