Kado Terindah Buat Wardah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 11 September 2013

“Saur saur saur”
Suara orang membangunkan saur di iringi alunan bunyi kentongan membuat wardah terbangun. Jam telah menunjukan pada angka 03.30 waktu sekitar. Wardah bangkit dari tidurnya, mengawali dengan do’a dan melipat selimut yang memeluk dirinya disaat tidur. Ia segera menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Keluarganya di bilang keluarga yang berkecukupan sehingga tak heran bila setiap kamar di lengkapi dengan berbagai fasilitas, tak terkecuali kamar mandi.

Wardah segera masuk kamar mandi melakukan hajatnya di teruskan wudhu dengan semua sunnah-sunnahnya secara sempurna. Tepat ketika ia keluar kamar mandi, pintu kamarnya di ketuk oleh abinya.
“tok tok tok, wardah bangun. Udah jam setengah empat, entar telat sahurnya.”
“labaik abi. Wardah sudah bagun. Mau sholat dulu. Abi sama umi sahur dulu nanti wardah nyusul.”
Wardah pun melanjutkan aktifitasnya, bertasbih, bercakap-cakap, dan mengagungkan Asma Allah.
Ia sholat dua raka’at dengan niat sholat witir, sholat qodoil hajah, istikharah dan sholat sunnah mutlak. Ia tau, untuk mengerjakan sholat sebanyak itu di perlukan tenaga ekstra dan waktu lebih lama. Padahal waktu untuk sahur tinggal sebentar. Ia hanya memperpanjang do’anya. Entah apa yang ia pinta dan ia panjatkan kepada Allah. Ia begitu khusyu’, menengadahkan kedua tangannya dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi halusnya. Yang tau hanya dia dengan Tuhannya.

Setelah merasa puas telah mengungkapkan isi hatinya kepada sang kholiq, ia merapikan kembali mukena yang ia pakai dan segera menuju ruang makan keluarga untuk sahur bersama.

“bismillahirrahmannirrahim. Qul huwallahu ahad” alunan surah alikhlas di kumandangkan mengawali bacaan wirdullatif yang di pimpin oleh ustad zainuddin, abahnya wardah seusai sholat subuh berjama’ah. Wardah, umik dan adik-adiknya mengikuti bacaan sang abah dengan khusyu’. Mereka sudah terbiasa dengan wirid berjama’ah seperti ini. Mereka tahu wirid-wirid yang di ajarkan oleh orang tua-orang tua dahulu sangat mujarrab untuk mengabulkan segala hajat dan melindungi diri dari berbagai bahaya, entah itu dari kalangan manusia ataupun jin. Jika ada anggota keluarga tak mengikuti wirid maka sang abah, ustad zainuddin mencari kemanapun sampai ketemu. Kemudian beliau memberi hukuman dengan tidak diberi uang saku selama 2 hari.
Setelah wirdullatif dan wirid yang lainnya selesai dibaca, mereka meneruskkannya dengan membaca alqur’an bersama, bergantian dan saling menyimak satu sama lain hingga jarum jam menunjukkan sekitar pukul setengah 6 pagi. Kemudian mereka melanjutkan aktifitas mereka sendiri-sendiri. Ustad zainuddin sendiri biasanya langsung pergi ke perpustakaan pribadi miliknya yang telah beliau bangun mulai beliau masih berstatus sebagai salah santri di pondok pesantren sunniyah salafiyah. Beliau tak bosan-bosannya mengulang pelajaran yang pernah beliau dapatkan selama belajar di sana. Sang istri mempersiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dan Anak-anak ustad zainuddin semua mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah kecuali wardah. Ia sudah tidak sekolah, hanya saja ia masih berstatus sebagai santriwati di pondok azzahra’, cabang dari pesantren sunniyah salafiyah untuk kaum hawa. Sudah 2 minggu ini wardah berada di rumah dikarenakan sedang libur pondok. Besok adalah hari terakhir liburan, lusa pondok sudah aktif kembali seperti hari-hari biasa.

“Tok tok tok” pintu kamar wardah di ketuk oleh uminya ketika ia sedang asik smsan dengan teman-temannya.
“wardah, kamu di dalam nggak? Abimu mau ngomong sama kamu di ruang keluarga.”
“iya bunda. Bentar lagi wardah kesana.” kata wardah sambil merapikan pakaiannya dan kembali memakai kerudungnya.
Ia melihat jam dinding berbentung hati yang menggantung di atas dinding kamarnya.
“jam 8 kok tumben abi memanggilku ya? Ada apa ya? Nggak biasanya deh abi manggil wardah jam segini” kata wardah dalam hati penuh rasa heran.
Kemudian ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah dimana sang abah dan umi telah menunggunya di sana. Sesampainya disana Ia mengucapkan salam untuk keduanya kemudian menyalami dan mencium tangan abah dan uminya.
“abi, umi. Tumben pagi-pagi sudah manggil wardah? Adakah sesuatu yang penting yang perlu wardah ketahui?”
“wardah” ucap abinya. “abi dan umimu tadi malam telah musyawarah bersama. Setelah kami pikir-pikir inilah waktu yang tepat untuk menanyakan sesuatu hal kepadamu. Sekarang kamu sudah lulus menempuh pendidikan di pesantren. Abi mau tanya. Kapan kamu siap menikah?”
Mendengar kata menikah, muka wardah memerah. Ia hanya menunduk. Ia belum siap untuk satu hal ini. Ia tak menyangka kalau abah dan uminya memanggilnya untuk masalah ini. Bukan untuk pertama kali ia di tanya tentang pernikahan, tetapi sudah berkali-kali ia di tanya hal yang serupa dan selalu dengan jawaban yang sama, belum siap menikah. Dulu ia menolak untuk menikah karena ia masih mencari ilmu. Sekarang bukan dia belum siap, tapi ia sudah menaruh hati pada seorang yang ia selalu berdo’a dengan linangan airmata untuknya. Ia belum pernah bertemu orang itu melainkan dapat cerita dari adiknya yang masih menempuh pendidikan di SMP AL-AZHAR, yang di dirikan yayasan suniyah salafiyah juga. Dan ia mendapat fotonya dari adiknya juga, tapi tanpa pengetahuan abah dan uminya.
“Sudah waktunya kamu berumah tangga. Sudah banyak yang datang ke sini, menemui abah hanya untuk meminangmu. Kapan kamu siap? Abah sudah punya calon untukmu.”
Kini ia tidak hanya menunduk tetapi kini air matanya mengalir menelusuri pipinya mendengar bahwa abinya telah memilihkan calon untuk dirinya. Ia tak berani mengatakan sejujurnya kepada ke dua orangtuanya bahwa ia sudah menaruh hati pada seseorang. Kini harapannya telah hancur lebur mendengar telah di siapkan calon untuk dirinya.
“wardah belum siap abi.”
“dari dulu kamu selalu jawab belum siap. Sampai kapan kamu berpikir demikian terus. Kamu sudah dewasa. Hendaknya kamu memikir dengan pikiran dewasa” kata abinya naik pitam.
“sabar bi, sabar.” sang istri menenangkan.
“sabar, sabar gimana mi? Abah malu sama orang-orang yang datang kemari untuk meminang wardah. Abah harus bilang apa kepada mereka?”
“maafkan wardah bi. Tapi wardah belum siap untuk menikah” ucapnya dengan isak tangis.
Keadaan sejenak menjadi sepi.
“baik. Abah kasih waktu 1 tahun lagi. Kalau kamu tetap mengatakan belum siap, terpaksa abi menikahkanmu dengan orang yang abi tentukan”
“baik abi”.
Mendengar ucapan abinya, wardah sedikit lega. Kini ia masih punya harapan untuk menikah dengan orang yang ia dambakan selama ini.

Hampir satu tahun sudah terlewati semenjak pertanyaan abinya tentang pernikahannya, wardah semakin bingung karena sampai saat ini tak ada tanda-tanda bahwa orang yang selama ini ia harapkan tak muncul untuk meminangnya. Ia hampir putus asa atas dengan harapannya. Ia semakin yakin bahwa ia akan menikah dengan orang pilihan abinya. Ia hanya bisa memandang foto sang dambaan hati.

Hari ahad adik-adik wardah libur. Mereka mengajak wardah untuk jalan-jalan bersama melepas kepenatan setelah satu minggu di isi dengan berbagai pelajaran. Wardah langsung mengiyakan ajakan mereka karena selama ini ia tak pernah menghirup udara segar di luar bersama mereka. Ketika mereka telah keluar rumah sang umi membersihkan dan merapikan semua kamar sang buah hati. Namun sang umi kaget ketika merapikan kamar wardah, ia mendapatkan di bawah bantal sebuah foto seorang laki-laki dan di belakangnya tertulis:
“Aku selalu berdo’a kepada Allah agar suatu saat nanti engkau datang untuk meminangku”
umi tak mau merusak foto itu, ia tahu foto itu sangat berarti bagi wardah. Ia hanya menyimpannya dan akan ia sampaikan perihal foto itu kepada abah.

Selesai membersihkan isi rumah, umi langsung menuju perpustakaan berniat menyampaikan apa yang ia temukan di kamar wardah sebelum wardah pulang jalan-jalan bersama adik-adiknya.
“assalamu’alaikum” sang umi mengucapkan salam seraya memasuki perpustakaan.
“wa’alaikum salam” jawab sang suami sambil menutup kitab yg sedang ia baca.
“maaf bi. Umi ganggu sebentar waktunya abi. Umi hanya ingin ngasih tau ini ke abi.” sambil menyodorkan sebuah foto.
Sang suami menerima dan berkata” dari mana umi dapatkan foto ini?”
“umi dapat dari bawah bantal di kamarnya wardah. Coba abi baca belakangnya.”
Sang suami segera membalik foto dan membaca tulisan di balik foto. Ia sedikit terkejut kemudian memperhatikan foto dengan seksama.
“mungkin inilah alasan kenapa wardah selalu menjawab belum siap ketika di tanya tentang pernikahannya”
“kayaknya abi kenal dengan orang ini.” ia berpikir sejenak.
“ya, dia salah satu pengurus di pondok sunsal. Namanya abdullah”
Keduanya tahu ternyata selama ini putri tercintanya menaruh harapan kepada abdullah.
Mereka bersepakat untuk segera menikahkan wardah sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Dua minggu kemudian.
“wardah” kata umi.
“sudah satu tahun semenjak abi dan umi menanyakan pernikahanmu dulu tapi kamu selalu menjawab belum siap. Sekarang semua terserah abi dan umi. Calon yang abimu pilihkan sudah datang. Kali ini kamu nggak boleh menolak lagi.”
“iya umi” jawab wardah dengan nada murung. Ia hampir saja menangis karena hari ini ia tak punya harapan lagi kepada pujaan hatinya. Hatinya hancur. Tapi apa boleh buat Ia hanya bisa patuh dengan perkataan abah dan uminya.

Ia berjalan dengan membawa nampan berisi 2 gelas teh dan satu toples snack. Ia hanya menunduk. Segera setelah sampai di depan abahnya ia menaruh gelas penuh teh yang ia bawa di atas meja. Sebelum ia beranjak pergi, terlebih dahulu abahnya mencegah dirinya. Malah abahnya menyuruhnya duduk di sebelah abahnya. Ia tetap menunduk.
“wardah, abah tau semua yang engkau rahasiakan dari abah dan umikmu. Sebenarnya abah dan umikmu sudah tau kalau kamu telah menaruh hati pada salah seorang pengurus ada di sunsal. Sehingga setiap kali kamu di tanya kapan kamu menikah selalu saja menjawab dengan jawaban yang sama, belum siap katamu”
Wardah semakin menunduk dengan perasaan malu karena rahasianya sudah di ketahui oleh kedua orang tuanya terlebih abahnya memberi tahu hal itu di hadapan orang yang belum ia kenal yang akan menjadi pendamping hidupnya.
“sekarang setelah satu tahun engkau tak juga menentukan pilihan. Skarang abahmu mempertemukanmu dengan orang yang kamu inginkan. Abdullah”
Wardah kaget bukan main, tanpa sadar ia menoleh ke wajah orang asing di hadapannya. Seketika itu juga ia menunduk dan menangis terharu.
“kalau abdullah pilihanmu. Abah setuju sekali dan abah telah mengutarakan semua kepada Abdullah dan iyapun mengiyakan.”
Tangis Wardah semakin menjadi-jadi. Ternyata do’a yang selama ini ia panjatkan tidak sia-sia. Ternyata Allah mengabulkan do’anya. Ia semakin bersyukur kepada Allah.

Cerpen Karangan: Putra Syafa’at
Facebook: Putra Syafa’at

Cerpen Kado Terindah Buat Wardah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takluknya Preman Sekolah

Oleh:
‘Kring’… Bel istirahat yang berbunyi dengan suara nyaring melengking. Seluruh siswa siswi Madrasah Aliyah berhamburan menuju kantin. Tak terkecuali Azkiya Assyifa, seorang murid baru disana. Ia tengah duduk menunggu

For You My Prince (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu jatuh cinta? Cinta yang bagaimana? Cinta yang terbalaskan atau sebaliknya? Cinta yang terang-terangan atau cinta yang hanya mengagumi dalam diam? Cinta yang diperjuangkan atau hanya sebatas angan?

Cinta Yang Selalu Diterima

Oleh:
Sahabat.. bagaimana kabarmu? Semoga selalu dalam keadaan baik dan mendapatkan pandangan perhatian dari Allah. Sahabat… Dengan cinta seseorang mampu menuai kesuksesan yang tinggi, kehidupan yang bahagia, dan ketenteraman hati.

Khitbah Cinta (Part 2)

Oleh:
Kami pun sampai di kos setelah menempuh perjalanan sejam lamanya. Sesampainya di kos, aku dan Nana langsung beranjak mandi lalu bersiap pergi ke masjid. Sesaat kumandang adzan maghrib terdengar

Getaran Apakah ini?

Oleh:
Kamis siang di sekolah saat itu sedang diguyur hujan deras. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku yang ingin segera pulang dengan terpaksa menunggu sejenak di sekolah hingga hujannya mereda.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *