Kalendar Subuh (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

“Kita putus!”
Aksan terdiam sebentar, dia masih terkejut dan bingung dengan ucapanku barusan.
“Aku mau kita putus!” lanjutku lagi menegaskan.
“Tapi kenapa?” tanya Aksan polos.
“Karena kamu gak pernah bangun subuh tepat waktu!” ujarku.
“Aku salat kok, jam 7 aku bangun terus langsung salat,” jawabnya.
“Itu dhuha San, bukan subuh.”
“Tapi kan…”
“Pokoknya kita putus!”

Aku menutup pagar rumahku dan membiarkan Aksan sendiri di luar. Aksan terpelongo tak mengerti, dia menjalankan sepeda motornya kembali ke kost. Aksan merenungi kejadian yang barusan terjadi. Dia masih bingung dengan tindakan Tsania. Tiba-tiba hp-nya bergetar, ternyata telepon dari papanya. “Ya, Pa. Assalamualaikum,” jawab Aksan. Dia terdiam sebentar dan sedikit sedikit agak membantah ucapan papanya di seberang sana. Setelah menutup telepon, Aksan berteriak geram dan melempar apa yang ada di depannya. Hari berganti hari, aku dan Aksan tidak pernah bertemu lagi, dia terus saja menelepon dan mengirim sms padaku, tapi tak pernah ku tanggapi. Aksan menelepon entah untuk yang keberapa kalinya, akhirnya ku angkat dengan kesal panggilan darinya.

“Assalamualaikum Tsania,” kata Aksan dari seberang sana.
“Waalaikumsalam,” jawabku sekadarnya.
“Tsania, kenapa kamu mutusin aku sih? Aku kan masih sayang sama kamu, aku mau jadi imam kamu!” ujar Aksan.
“Kamu mau jadi imam aku, tapi imamin diri kamu sendiri aja belum bisa. Maaf assalamualaikum.” aku menutup telepon dengan geram.

Aksan menelepon kembali, tetap ku abaikan sampai Aksan tak menelepon lagi. Oh iya, aku Tsania, Tsania Fajrin. Aku hidup di keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama. Tapi, setelah ayah dan ibuku wafat aku tinggal di rumah kakak perempuanku bersama suaminya. Kak Riza, ku panggil begitu kakak iparku tersebut. Suami Kak Maya atau suami kakakku adalah seorang PNS di madrasah aliyah. Saat ini aku masih duduk di bangaku kuliah jurusan tarbiyah semester 3. Cukup melelahkan memang, karena tugas kuliah terus menumpuk, ditambah urusan Aksan lagi. Oh iya, ngomong-ngomong soal Aksan. Dulu aku pikir dengan kegiatanku yang begitu padatnya. Aku tak akan ada waktu untuk menjalin cinta dengan lawan jenis. Aku pikir aku hanya akan jatuh cinta pada suamiku saja nanti, tapi ternyata aku keliru, sungguh syaitan lebih tahu celah di mana letaknya kekhilafan seseorang.

Aku ingin ke luar dari ruangan kampus untuk pulang. Tapi aku agak terganggu dengan pemuda di hadapanku ini, saat aku ke kiri dia juga, saat aku ke kanan dia juga, sampai akhirnya dia mengalah dan aku lewat sambil tersenyum. Saat aku menstarter sepeda motorku, pemuda tadi menahannya.
“Eh, eh, tunggu, tunggu!” katanya.
“Maaf Mas, ada apa ya?” tanyaku bingung.
“Boleh minta nomor hp atau sederajatnya?”
“Buat apa?” aku menjawab ketus dengan pertanyaan pula.
“Hmm, buat mengenal ukhti lebih dekat!”
“Maaf Mas, saya mau pulang,” aku ingin menjalankan motor, tetapi pemuda ini terus menahanku. Hatiku memberontak, aku ingin segera bebas dari sini sekarang juga! Aku tidak ingin ini berlanjut ke, ah sudahlah. “Saya Aksan, 2 bulan lagi saya wisuda setelah itu saya ingin mengkhitbah kamu.” ujarnya polos. Aku hanya melongo dengan tatapan tak percaya.

Dan semua itu terus berlanjut. Seakan terbuai dalam manisnya cinta pada pandangan pertama, aku dan Aksan pun semakin dekat. Ya, itulah yang terjadi. Aku beranggapan bahwa kami tidak pernah melanggar aturan yang ada dalam syariat agama. Kami tidak pernah bersentuhan, tidak pernah bergandengan, bahkan kami juga menjaga jarak jika sedang duduk. Hmm mungkin anggapanku agak keliru, pasalnya aku juga tidak nyaman dengan hubungan yang gak sehat ini lama kelamaan. Karena gelisah memikirkan persoalanku ini, aku pun menceritakannya pada kakakku tercinta. Selepas kuliah aku langsung pulang dan menemui kakakku sedang menyetrika pakaian. Ku ucapkan salam dan Kak Maya membalasnya.

“Ada apa ini? Kenapa mukanya murung?” tanya Kak Maya.
“Iya nih Kak, Tsania mau minta pendapat Kakak,”
“Cerita aja, insya Allah selama Kakak bisa membantu,”
“Kak, apa kita salah ya jatuh cinta?”
“Hmm, kamu jatuh cinta ya?! Hehehe tidak kok tidak salah. Semua manusia berhak jatuh cinta.” terang Kak Maya.
“Hmm kamu pacaran ya?” interogasinya lanjut.

“Eh, eh, tapi Tsania pacarannya syar’i kok. Kita gak pernah bersentuhan, kita juga selalu jaga jarak,” belaku.
“Tsania, Adikku sayang, yang namanya pacaran itu emang boleh. Tapi alangkah lebih indahnya jika kita pacaran setelah menikah. Gak ada pacaran yang syar’i Tsania, tetep aja itu namanya dosa. Syaitan akan selalu cari celah untuk menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan,” papar Kak Maya.
“Tapi Kak Aksan bilang dia bakal ngelamar Tsania setelah lulus nanti,” ujarku lagi.
“Kalau gitu kamu tunggu aja dia datang ngelamar hehehe.” canda Kak Maya. Aku berterima kasih dan memeluk kakakku itu.

Esoknya aku dan Aksan duduk untuk membicarakan sesuatu. Aksan bingung melihat raut wajahku yang tampak tak tenang, bingung, dan kesal.
“Kamu selalu ingatin aku salat kan?” Tanyaku memulai pembicaraan.
“Iya,”
“Tapi kenapa kamu gak pernah ingatin aku salat subuh?”
“Hmm.. Ee, hmm,”
“Kamu belum bangun ya?” interogasiku.
Aksan diam membisu. Dia merenungi kata kataku.
“Kamu kenapa?” tanya Aksan. Lembut. Aku tak menjawab, lama kami saling diam membisu satu sama lain.

“Gimana dengan hubungan kita?” tanyaku.
“Emangnya hubungan kita kenapa?” Aksan bertanya balik.
“Aku rasa hubungan kita ini gak sehat!” tegasku.
“Jadi kamu mau kita putus?” tanya Aksan.
“Hmm, ng, nggak!” jawabku. Oh ya rabb apa yang aku katakan. Aduh, berpikiran apa kamu Tsania? Kamu mau terus berada dalam hubungan gak sehat ini? Gak Tsania, gak!! Kamu harus bilang kalau kamu mau putus.

“Jadi kamu maunya apa?” tanya Aksan.
“Kalau kamu cinta sama aku, kamu pasti bakalan nikahin aku segera!”
“Hmm, tapi aku, belum siap,”
“Kamu emang gak pernah nunjukin kalau kamu itu siap!”
“Jadi…”
“Aku mau pulang!!!”
Aku berhenti di depan pagar rumah bersama Aksan, eits kita bawa motor masing-masing loh.
“Aku mau ngomong!” kataku cuek.
“Nanti aja ya,”
“Aku mau kita putus,” akhirnya kata itu terucap juga.

Aksan bingung dengan problema hidup yang sedang dihadapinya. Di satu sisi hatinya masih tak terima karena Tsania memutuskan hubungan mereka dengan tiba-tiba, di sisi lain ia terbayang ucapan papanya kala itu, “Papa tidak bisa kirim uang bulanan lagi ke kamu. Kamu harus mandiri Aksan. Kamu sudah 5 bulan wisuda, masa kamu mau nganggur terus!” ucapan papanya itu tergiang-ngiang di kepalanya. Aksan kembali bermuram durja. Lalu tiba-tiba Aksan teringat pada seseorang yang juga ngekost di kamar sebelah.

“Tok, tok, tok,”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Oh, Mas Aksan toh. Monggo masuk,”
“Ah, gak usah repot-repot. Ji, kamu mau ya bantuin aku?”
“Bantuin opo to mas?”
“Gini lo ji, aku kan selalu bangun subuh kesiangan jadi besok pagi kamu bangunin aku ya, plis, plis,”
“Hmm, insya Allah deh Mas”
“Nah gitu dong. Ya udah sampai jumpa besok pagi ya. Makasih Ji assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Mas Aksan, Mas Aksan.”
Aksan agak lega karena ada Aji yang akan membangunkannya besok. Dia berharap dia bisa bangun.

“Assalamualaikum, Mas Aksan. Bangun Mas, ini sudah 4.30 loh. Waktunya subuh,” ujar Aji dari luar pintu, dia sudah bersiap akan ke mesjid. Karena Aksan tak kunjung muncul, maka Aji pun masuk. “Ya Allah, masih tidur to, pie iki Mas Aksan,” Aji geram. Dia coba mengguncangkan tubuh Aksan pelan, tak ada reaksi. Lalu dia coba dengan guncangan yang lebih keras, tapi juga nihil hasilnya. Aji mengambil air dan menyipratkan ke wajah Aksan tapi Aksan tak kunjung sadarkan diri dari dunia mimpinya.

“Maafkan hamba ya gusti,” ujar Aji sebelum memberikan air perasan jeruk nipis ke mulut Aksan. Aksan langsung bangkit dan berlari mencari air.
“Aduh, apa-apaan sih Ji. Masih malem juga,” geram Aksan.
“Ini udah jam 4.40 Mas, wes pagi, subuh!” tegas aji dengan logat jawanya yang kental.
“Oh, saya baru ingat. Maaf, maaf ya Ji. Biasa refleks gara-gara jeruk nipis tadi. Sumpah! Asem banget,”
“Namanya juga jeruk nipis to Mas, Mas. Ayo salat subuh, lihat ni saya jadi ndak iso ke mesjid kan. Wes telat iki,” gerutu Aji.

Aksan hanya nyengir kuda. Dia berterima kasih pada Aji dan memintanya untuk membangunkannya lagi besok, sampai ia terbiasa sendiri. Merepotkan memang, tapi Aji tak masalah, dia malah sangat senang bisa membantu orang lain beribadah. Sudah seminggu Aksan melaksanakan salat subuh dengan bantuan Aji. “Alhamdulillah, kemajuan nih.” ujar Aksan. Dia merasa senang dan ia berinisiatif untuk menargetkan sesuatu. Dia membuat target dalam kalendar untuk salat subuh berjamaah di mesjid dalam waktu 40 hari berturut-turut, tentunya bersama Aji. Setiap satu hari terlewat, ia tandai di dalam kalendar subuhnya itu. Aksan pun mengirim pesan pada Tsania tentang kemajuan-kemajuan yang ia alami sekarang ini. Selain dapat salat subuh berjamaah di mesjid, kini Aksan pun mulai berusaha mendapatkan pekerjaan. Ia terus berusaha mengajukan lamaran kerja di banyak perusahaan. Sampai suatu hari…

Bersambung

Cerpen Karangan: Chintia Wardhani
Facebook: Chintia Wardhani
Assalamualaikum. Alhamdulillah saya diberikan Allah kesempatan untuk menuliskan cerpen ini. Syukran untuk para akhwat/ikhwan yang telah membaca cerpen ini. Tulisan ini jauh dari kesempurnaan karena itu hanya milik Dia. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini. Afwan jika masih banyak kesalahan, mohon saran dan kritiknya. Wassalam.

Cerpen Kalendar Subuh (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Indah Pada Waktunya

Oleh:
Siang ini terasa begitu panjang. Matahari bersinar sangat terik, tak seperti biasanya. Kukayuh sepeda dengan sisa tenaga yang kumiliki. “hfffh, panas banget.” sambil menghapus peluh yang mengalir dari balik

Putra Sang Dekan (Part 1)

Oleh:
Bagaimana kita dapat bertemu jika kita berjalan berlainan arah Bagaimana kita bisa menjalin kasih dalam ridhoNya jika terpisah — “aku suka dia re” ucap nunung padaku dengan lugu dan

Antara Adik dan Calon Istriku

Oleh:
Aku sudah menjalin hubungan yang serius dengan Rio. Dia berjanji akan menikahiku jika aku sudah wisuda nanti. Dia sangat serius ingin menjadikanku istrinya. Aku pun bersyukur bisa mengenalnya dekat.

Al Qur’an Perantara Cinta

Oleh:
Matahari yang semula tersenyum di langit kini telah menghilang digantikan sang rembulan. Adzan magrib pun berkumandang di seluruh masjid-masjid. “Aisyah…, Aisyah cepat ke mushola nanti telat mengaji!” teriak umminya,

Jilbab Untuk Dara

Oleh:
Pagi itu suasana sekolah begitu asri dengan sinar matahari yang mulai menyinari muka bumi ini secara perlahan, jajaran-jajaran gedung yang berdiri kokoh menambah elok keindahan kota ini. Setiap pagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *