Kang Luffy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Langit hitam memekat sunyi dalam gelapnya cakrawala. Dengan ditemani jangkrik-jangkrik yang bersiul riang menyambut separuh malam. Pukul 00.22 WIB kulirik jam bermerekan 3ATN water resistant stainless biru polos, dengan kujinjit ujung kaki sedari tadi sambil memandangi lorong-lorong sudut pesantren Darussalam. Berharap tidak ada yang melihat. Melarikan diri -saat ini adalah jalan satu-satunya yang terbaik saat sebelum pengurus mentakzirku besok malam nanti.
Jarum jam terasa begitu lambat memutari angka-angka sedari tadi menanti untuk dilewati, begitu pula jalanan setapak lorong komplek AB yang malam itu seakan ditarik menjadi lorong panjang bernuansa seram yang menggetarkan nyali.

Dari kejauhan kulihat secarik cahaya putih kekuning-kuningan menghiasi taman komplek AB tepat di sebelah barat dari keadaanku. Kutundukkan kepala dan kurendahkan badan setara dengan lantai lorong yang kala itu gelap. Bersiap untuk lari jikalau pemegang cahaya tadi melihatku “jika sampai aku terlihat, matilah aku!” parauku berkecamuk dalam hati.

“Penjaga malam” mungkin itu adalah nama tepat untuk sebutan pemegang cahaya, dan cahaya itu adalah “lampu senter”.
Jantungku serasa bergeming ketika dari belakang tangan yang kurasa kasar mendarat di bahu kiriku, seolah ingin menjerit tapi buru-buru ia membungkamku lewat jemarinya yang kurasa besar. “kang luffy” ucapku pelan dengan memandang sorot kaca mata bening yang digunakannya setebal 2,5 dioptri. Pikirku buyar, pasrah dengan keadaan. Mungki rencana kaburku tidak akan berhasil.

00.35 WIB pun terlewati, “jangan berisik” ujarnya tegas setengah meyakinkan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas saat ini aku bersama kang luffy dan itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak bak langit runtuh tanpa cagak serasa meledak-ledak, apa jadinya jikalau santri wati Darussalam tau, tapi kuenyahkan pikiran itu Karena kondisinya berbeda. Aku saat ini menjadi tangkapan santri “badung” oleh penjaga malam dengan seribu pertanyaan menghujamku.
“bukankah ia penjaga malam? Dan kenapa ia memberiku ruang untuk tidak diketahui oleh penjaga lainnya”. Kakiku geram ingin kabur secepat kaki melangkah, di sisi lain aku bingung harus berbuat apa “cepat sana kembali ke kamar” perintahnya terlihat berpura-pura menegurku, hingga penjaga lain tidak curiga terhadap kang luffy yang berhasil menghalangiku untuk kabur.

Sudah kebiasaan di pondok Darussalam tatkala malam pengurus dari putra berkeliling di pondok putri yakni dari komplek A, B, dan yang terakhir AB. Dengan segera aku berdiri dengan rasa kecewa “aku tidak bisa kabur…” rengekku berjalan membelakangi kang luffy.

Pukul 00.50 WIB kumasuki kamar dengan hati gelisah, aku masih tidak yakin bahwa rencana kaburku gagal. Kuputuskan malam ini untuk begadang. Mataku masih terjaga, sambil mengingat-ingat wajah kang luffy yang berjarakan mungkin satu hasta. Khayalanku lansung menerawang di atas bantal yang kurebahi kepala sambil menggigit bibir bagian bawah, tak sanggup jikalau harus membayangkan kayu persegi panjang mendarat ke punggungku. Meski rencana melarikan diriku batal akan tetapi ta’ziran besok malam tidak akan pernah batal.

Puing-puing malam berserakan seringai rentetan kekecewaan yang terus melekat menemaniku malam itu. Kuberanikan diri melempar kertas ke Fatimah tetangga ranjang sebelah tempat tidurku -meski berat hati, aku tau Fatimah adalah santriwati yang mudah terbangun untuk itu aku membangunkannya. Saat setelah kujatuhkan kertas ke peraduannya kemudian ada suara luapan “huaaaaaaah” tidak salah lagi itu pasti suara luapan Fatimah dan itu benar. Kemudian ia mengambil secarik kertas yang sudah kuremas dan perlahan ia buka. “Fatimah, aku melanggar aturan pondok yaitu bolos ngaji dan aku di takzir sabet besok malam, by. aisyah” begitu isi surat yang kutulis untuk Fatimah yang saat itu satu-satunya santriwati yang menurutku enak diajak curhat. Ia pun menoleh ke arah ranjangku kemudian mengangkat perawakannya untuk bangun. Aku yang sedari tadi terduduk di ranjang tidurku tersenyum tipis padanya.
Memang, takziran sabet adalah hukuman yang amat menyakitkan. Tak sering disanksikan kepada santri maupun santriwati pondok Darussalam yang terkenal akan kedisiplinanya yang tinggi.

Lalu kami berbicara banyak hal dari mulai aku yang bolos ngaji, lalu hendak melarikan diri, sampai-sampai bertemu kang luffy pas jaga malam dan merasakan hal aneh dengan perilaku kang luffy si kaca mata tebal itu “tapi tampangnya lumayan juga sih” ledekku menyelaraskan suasana supaya tidak terlalu menjadi beban.

Tidak terasa waktu menunjukkan sepertiga malam dengan membentuk si anak panah menyimpul segitiga lancip. Fatimah pun mengajakku sholat tahajud dan tanpa pikir panjang akupun mengiyakan ajakan itu. Saat hendak berwudhu dari komplek AB tepatnya lorong yang kubenahi bersama kang luffy tadi samar-samar kulihat gemparan bayangan sosok lelaki berkaca mata “tidak salah lagi itu pasti kang luffy” gumamku menggerutu dalam hati.

Kami berdua pun melaluinya begitu saja dengan kepala ditundukkan dengan rasa malu. Tapi entah mengapa Fatimah seperti biasa-biasa saja saat melewatinya. Begitu pula dengan kang luffy yang sorotan mata di balik kaca mata tebalnya melirikku dalam, matanya berbicara entah itu apa seperti ada yang ingin dibicarakan. Aku gemetar takut-takut ia akan melaporkanku ke pengurus keamanan dengan takziran yang berlaku. Kupegang jemari Fatimah dan kutarik sekuat daya tersisa. “kenapa syah” ucapnya seperti keheranan. “sssttt” bisikku dengan nada memelas dan mempercepat laju kaki melangkah.

Kutuang duri penyesalan bersama tahajud malam di mushola bersama Fatimah setelah melewati lorong komplek AB dan seusai berwudhlu. Kami tertidur disudut mushola sampai menjelang adzan subuh.

Pukul 04.30 WIB. “aisyah bangun, waktunya solat subuh” Fatimah yang terlebih dahulu bangun berusaha membangunkanku untuk bergegas mengambil air wudhlu. Dengan terhuyung-huyung ku tapakan kaki menyusuri lorong komplek B, di penghujung subuh kuselipkan nama-Mu dengan basuhan air wudhlu berharap semuanya baik-baik saja. “allah hu akbar” begitu lirihku sambil mengangkat kedua tangan serta meniatkannya dalam hati, sembari menitikan air mata.

13.00 WIB siang terik mentari menyinari daratan bumi Darussalam yang megah, “kang luffy!” teriakku di keramaian santri putri, sehingga membuat di sekelilingku serentak menoleh bahkan ada yang menatap keheranan. Aku melewati persimpangan lorong AB melangkah mendekatinya sambil melambaikan tangan. Namun saat setelah aku berada di hadapannya ia malah ngeloyor pergi tanpa permisi bahkan tanpa melirik kepadaku sedikitpun. Malu bercampur aduk jadi satu saat ia meninggalkan peraduannya yang kini kutapaki bayangannya. Yang lebih anehnya lagi orang-orang di sekitar beranggapan biasa saja seperti tidak ada lawan bicara yang aku temui tadi dengan pergi tanpa permisi. “astaghfirullah…” kudawaikan hati bak menabuh gendang seringai azan berkumandang.

Kala itu awan putih menggumpal serdadu tumpukan mega tak beraturan, kulihat Stanbu (daftar identitas santri) bersama Fatimah tetangga ranjang tidurku untuk mencari nama yang berawalan “L” kemudian “lu”, “nah ketemu!” teriakku sumringah. Aku pun penasaran dengan seorang santri bernama lengkap “luffy malik” saat itu kucari tentang latar belakangnya. Fatimah tak begitu mempedulikan ambisiku untuk lebih tau atau bisa disebut kepo (knowing element particle object), di buku stanbu yang sedang aku pegang.

Sang raja siang telah turun dari singgah sana puncaknya. Kini ia akan bersembunyi di belahan bumi bagian barat. Pukul 18.02 WIB detik detik mendebarkan karena seusai shalat maghrib aku harus menerima pukulan cambuk di aula dimana semua santriwati berkumpul untuk melihat siapa yang kena takziran atau bisa juga untuk dijadikan pembelajaran agar tidak terulang kedua kalinya.

Seusai shalat maghrib berjamaah semua santriwati Darussalam berkumpul memenuhi aula. “Tidak mengaji itu hal sepele tetetapi di pondok kita sangatlah dinomor satukan” tegas mba neni selaku ketua keamanan di depan aula dan dihadapan santriwati yang hadir di aula, tak terkecuali Fatimah. Dari kejauhan bodium aku melihat sepertinya Ia sengaja berdiri di barisan paling belakang dan merapatkan kedua tangannya seperti sedang berdoa memohon sesuatu.

“sudah siap…” suara mba neni yang cukup membuyarkan lamunanku ketika sedang memmperhatikan tiap-tiap orang di aula. “insya allah” jawabku penuh keyakinan. 18.30 WIB kali pertamanya aku akan di takzir sabet dengan disaksikan ratusan santriwati. “bismillahirrahmaanirrahiim” lirihku dalam hati memantapkan diri namun enggan melihat apa yang akan terjadi.
“4 detik… 5 detik…” pukulan itu tidak berasa apa-apa. Kemudian aku menoleh belakang dan ternyata “kang luffy” ucapku pelan, ia berada di belakang tepat di kursi yang aku duduki. “Ia yang menerima pukulan sabet selama 10 detik itu” dan anehnya lagi mba neni yang memukul sabet kepadaku tidak melihatnya. Setelah hukuman sabet tak berasa itu berhenti. Mba neni pun bertanya padaku apa yang barusan aku ucapkan
“kang luffy dia di belakangku” jawabku gemetar
“apa yang kamu katakan syah” sejenak mba neni terkejut dan langsung pingsan
Se-isi aula gaduh dan mulai mengangkat perawakan mba neni yang rebah di hadapanku. Semua mempertanyakan,semua kebingungan. “ada apa ini” terdengar dari sudut kanan “apa yang kamu lakukan ke mba neni syah” berbagai pertanyaan menghujamku.

Aku lari menuruni bodium melewati beberapa santriwati di aula dan sekilas aku melihat sesosok lelaki memakai kacamata yang retak, rambut tak beraturan dengan membawa secarik kertas berwarna pink. Aku mendekatinya perlahan namun pasti berharap sesuatu baik-baik saja, Fatimah dari belakang memegang punggungku “syah” ujarnya. Tapi aku tak menggubrisnya, dia pun mungkin tau aku sedang berhadapan dengan siapa, lalu ia buru-buru menyerobotku dari depan dan menyadarkanku bahwa di situ tidak ada siapa-siapa. “astagfirullahaladziim” di situ memang tidak ada siapa-siapa dan tanpa diduga lagi surat merah jambu itu sudah ada di tanganku.

Pukul 22.12 WIB saat semua bersiap siap untuk tidur “aisyah di tunggu kedatangannya di kantor pusat” namaku dipanggil di sumber suara dan jelas sekali itu suara mba neni. Aku pun segera menuju kantor pusat bersama Fatimah dengan jemari yang ku kepal rapat-rapat. “Fatimah aku takut sekali” lirihku merengek pada teman tetangga ranjangku yang menemaniku menuju kantor pusat.

Pukul 23.03 aku pun mulai memberanikan membuka suara saat setelah kami saling diam kurang lebih satu jam. Aku pun mulai peka dengan kekhawatiran mba neni selaku ketua keamanan juga kakak dari kang luffy.
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku kelu.
“luffy itu selalu bercerita tentang kamu, tapi sekarang…” suaranya terdengar mengiba
“bercerita tentang apa, dan sekarang apa mba…”
“dia sudah tiada, dia sudah tenang di sisi-Nya”
“jadi selama ini, yang kerap kali menghampiriku itu siapa”

Seraya memegangi surat merah jambu dengan menatap mba neni, aku tak kuasa sedari tadi membendung air dibalik kelopak mata ini. Kubuka perlahan dan mulai membaca di setiap dekta katanya dengan rentetan harapan yang menyongsong langit-langit ruangan kala itu. ya… seperti ada yang memperhatikan saat aku hanyut dalam isi surat itu, seperti pengungkapan sebuah rasa yang bersembunyi dibalik kaca mata tebalnya selama ia hidup.

Malam itu masih bisu sampai para jangkrik tak lagi bersiul riang pada malam-palam, juga pada lorong-lorong pondok pesantren yang tak pernah usai.

Cerpen Karangan: S Rahayu
Blog / Facebook: ayusrirahayu99.blogspot.co.id / S Rahayu
Namanya Sri Rahayu Perempuan yang genap 20 tahun ini lahir di Indramayu, 22 Desember 1996.; adalah satu diantara ribuan penikmat panggung seni juga puisi bermandikan lautan sastra. Ia aktif di bidang jurnalistik kampus yakni di lembaga pers mahasiswa (LPM) Fatsoen IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Cerpen Kang Luffy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangat Cinta Pertama

Oleh:
Masa SMP adalah masa dimana peralihan menuju ke remaja, setiap jam istirahat pasti masih main lari-larian sama teman-teman khususnya kelas tujuh. “Tangkap aku kalau bisa Wil, cemen kan loe

Love

Oleh:
Sebuah mobil sport baru saja memasuki pelataran parkir sekolah sawasta favorit di Jakarta. Seorang laki-laki berusia sekitar 16 tahun keluar dari kursi kemudi, lalu berjalan memasuki sekolah megah itu.

Berubah

Oleh:
Pagi yang cerah seorang gadis cantik yang bernama Sinta bergegas menuju sekolahnya. Dia dengan gembira berangkat ke sekolah bersama tiga sahabatnya Ina dan Rara. Sinta merupakan gadis cantik yang

Rasa

Oleh:
Ketika itu, ia berada di ujung jalan yang berbeda denganku. Kita belum saling mengenal. Kita tak saling menyapa. Dari jauh kupandanginya dengan tatapan sinis karena gayanya yang sombong. Sombong

Penyambut Pagi Cerahku

Oleh:
Alma menutup kitab suci Al-Qur’an, pertanda ia sudah selesai membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang indah. Itu adalah kegiatan rutin pagi hari setelah Shalat Shubuh. Almarhum Abinya-lah yang telah mengajarkan kebiasaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *