Kapan Bertamu?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 13 June 2017

Perkenalkan namaku Pratiwi orangtua dan sahabatku biasa Memanggilku Tiwi atau wi saja. Umurku 24 tahun, aku mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis muslimah terkenal dan Alhamdulilah aku sudah lulus kuliah jurusan sastra Indonesia dengan nilai sangat memuaskan, sekarang aku sudah bekerja di kantor redaksi penerbitan novel dan cerpen di Jakarta, sebagai penulis dan penerbit. Alhamdulilah karya-karyaku sudah banyak diterbitkan dan banyak peminatnya. Bahkan sampai ada banyak yang memesan buku setiap harinya. Jarak rumah dan tempat kerjaku, lumayan dekat kurang lebih memerlukan waktu hanya 20 menit. Setiap pergi dan pulang bekerja, aku selalu membawa motor Kesayanganku. Jadi tidak perlu bersusah payah berebut antrian angkutan umum pagi-pagi. Alhamdulilah Alloh SWT telah mengabulkan do’aku untuk mewujudkan satu persatu mimpi-mimpiku. Mulai dari kuliah di universitas favoritku, masuk jurusan yang aku sukai, lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan bekerja di tempat yang aku inginkan.

Semenjak lulus kuliah, aku sering ditanya-tanya “kapan nikahnya nih wi?” oleh teman, tetangga, saudara, dan yang paling cerewet adalah kedua orangtuaku. Selalu saja membandingkan aku dengan Kakakku. Namanya Winda yang menikah di usia 22 tahun. Sedangkan usiaku sekarang sudah berinjak 24 tahun belum saja menikah. Ketika sedang sarapan pun, keluargaku selalu menyindirku.
“wi tahu tidak ilham?” Tanya ibuku.
“ilham yang mana bu?” Tanyaku heran.
“itu loh anaknya pak Ahmad, teman SD kamu dulu” jelasnya sambil menuangkan teh hangat di gelasnya bapak.
“oh ilham yang itu, iya tiwi tahu” jawabku singkat.
“ibu dengar katanya dia sudah lulus kuliah, sudah kerja juga, bahkan sekarang dia sedang mencari calon istri loh wi” sindirnya.
“alhamdulilah.. bagus kalau gitu” jawabku seakan tak ingin percakapan ini berlanjut “pasti ujung-ujungnya nanya aku” menggerutu dalam hati.
“Tiwi kapan bawa calon ke rumah?” Sambil menatapku dengan penuh harap.
“tuh kan bener nanya itu” ucapku dalam hati. Dan aku bingung harus jawab apa
“wi, kok malah diam? Ibu dan bapak ingin sekali melihat kamu menikah, semoga saja masih ada umur ya pak” melihat ke arah bapak dan bapak hanya tersenyum.
“kok ibu ngomongnya gitu sih, ibu dan bapak jangan samakan Tiwi dengan kak Winda, kak Winda memang nikahnya cepat, mungkin Alloh belum takdirkan Tiwi untuk bisa cepat menikah. Jelasku
“iya… tapi kalau kamunya tidak ada usaha, ya sampai kapanpun tidak akan datang” keluhnya.
“Tiwi kurang usaha apalagi bu, alhamdulilah Tiwi sudah hijrah penampilan, berpakaian syar’i, InsyaAlloh sholat lima waktu, Membaca Alqur’an, supaya imam Tiwi kelak bisa membaca Alqur’an juga. Bahkan Tiwi sudah mulai belajar memasak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, supaya imam tiwi kelak bisa mandiri. Karena jodoh itu cerminan kita. Tiwi juga selalu berdo’a kepada Alloh SWT, meminta agar Tiwi dan dia segera dipertemukan. Kalau jawaban Alloh, kita masih harus menunggu, ya kita juga harus sabar bu. Mungkin dia masih Alloh simpan agar kelak kita dipertemukan, dia sudah siap menjadi Imam yang mampu membimbing Makmumnya ke jalan yang Alloh Ridhoi.
Maafkan Tiwi pak, bu tidak ada maksud untuk menggurui. Tiwi hanya ingin mempersiapkan lahir dan batin Tiwi saja. Karena menikah itu tidak seperti cerita pendek, singkat. Menikah itu perlu perjuangan karena untuk selamanya”. Jelasku pada kedua orang tuaku. Mereka hanya bisa terdiam mendengar penjelasanku.

Setelah selesai sarapan, aku segera berpamitan kepada kedua orangtuaku untuk pergi bekerja.
“Tiwi pamit dulu ya bu, Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan kedua orangtuaku. Karena aku sangat yakin dibalik tangan kedua orangtuaku, terdapat keberkahan dan ridho dari Alloh SWT. Aku juga sangat yakin bahwa disetiap detik, menit, jam, bahkan disetiap do’anya mereka selalu membuka kedua tangannya untuk mendo’akan anak-anaknya, mendo’akan yang terbaik untuk kehidupan dan masa depan anak-anaknya.
“semoga apa yang kamu inginkan segera Alloh SWT kabulkan ya nak, maafkan ibu dan ayahmu, selalu memaksakan semuanya” ucap ibuku sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Lalu, aku peluk erat kedua orangtuaku, sambil kuciumi pipinya yang mulai basah dengan air mata.
“maafkan Tiwi ya pak, bu Tiwi belum bisa membahagiakan kalian” isak tangisku semakin tak tertahankan.
“sudah yang penting sekarang kita harus sabar, siapa tahu tidak disangka ada yang datang”. Hibur ayahku untuk menguatkan aku. Kemudian, aku pergi bekerja. Tapi aku lupa berkaca.

Sesampainya di tempat kerja, aku sangat malu karena semua rekan kerja melihatku keheranan.
“assalamu’alaikum wiiii…” sapa salah satu rekan kerjaku.
“wa’alaikumussalam, kenapa lin, kok lihat aku seperti ada yang aneh?” Dia adalah Lina Marlina salah satu rekan kerjaku yang paling cerewet.
“kamu belum berkaca ya?” Jelasnya buat aku bingung.
“berkaca? Emang ada yang beda?” Aku sangat bingung dengan pertanyaanya tadi.
“kamu itu tidak seperti biasanya. Ceria, selalu senyum, terus menyapa kita semua dengan semangat. Tadi kamu cuma sapa kita dengan “assalamu’alaikum semua” itu pun dengan nada yang lemas kayak orang malas gitu” Sambil mempraktikkan gerak geriku tadi.
Aku tersenyum “lalu, maksud aku belum berkaca itu apa?” Tanyaku.
“ya Alloh wiiii… kamu benar-benar gak sadar?” Aku hanya menggelengkan kepala dan masih bingung.
“lihat mata kamu, kayak orang habis ditonjokkin bengkak banget, nih lihat” sambil memegang kepalaku dan mengambilkanku kaca.
“Astagfirulloh!!!!” Aku terkejut ternyata ini yang membuat semua memperhatikanku. “aku menangis sampai sebengkak ini” ucapku dalam hati.
“kamu kenapa wii? Habis nangis ya? Atau ada masalah? Cerita ayo InsyaAlloh aku dengarkan curhatanmu” ucapnya. Tapi aku tidak akan menceritakan semuanya, cukup aku, kedua orangtuaku, dan Alloh saja yang tahu.
“aku tidak apa-apa kok lin, tenang saja ya, mungkin aku kurang tidur saja” jawabku singkat padanya.
“MasyaAlloh… penulis yang baik dan handal, selalu menyelesaikan tugasnya dengan cepat, sampai kamu gadang seperti ini. Tapi ingat loh wi kesehatan itu nomor satu. Sesibuk apapun kamu, kesehatan kamu harus tetap dijaga ya” pujinya membuatku malu, karena suaranya yang lantang dan keras, sehingga membuat semua orang dalam ruangan melihatnya.
“sudah… sudah ayoo kerja, kamu gak malu semua orang melihat kita lin, kerja kita jadi gak produktif, kamu ngajak aku ngobrol terus” bisikku pada Lina.
“hehehe… iya juga ya, tapi kalau ada apa-apa cerita aku yaa” dia pun ikut berbisik sambil tersenyum menahan malu.
“InsyaAlloh” jawabku singkat.

Alhamdulilah akhirnya pekerjaan hari ini selesai dan waktunya pulang. Semua rekan kerjaku Sudah pulang termasuk Lina. Tadi dia sangat buru-buru, karena harus mengurus undangan pernikahannya. Saat aku teringat keadaan yang sedang menimpaku sekarang, aku merasa sedih. Air mataku tidak sengaja berjatuhan.
“aku kapan ya?” Sambil melamun. “Astagfirulloh wiii Istighfar” aku sadar bahwa yang aku keluhkan tidak akan membuatku kuat menghadapi semuanya, itu hanya akan membuatku menjadi lemah. “aku harus sabar dan kuat, Alloh sangat sayang padaku” aku menguatkan diriku dengan tidak mengingatnya lagi. Tapi aku jadikan motivasi, supaya aku tetap bersabar dan terus bersabar dengan ketentuan dan takdir dariNya. “InsyaAlloh jodohku sedang Alloh jaga keimanannya” aku pun tersenyum karena aku yakin semua akan Indah pada waktunya. Janji Alloh itu pasti!!!

Di saat aku berjalan ke arah parkir motorku, tiba-tiba ada seorang lelaki tidak sengaja menabrakku, sehingga membuatku terjatuh dan ada sedikit luka di tanganku.
“maaf mba saya tidak sengaja, mba tidak apa-apa kan?” ucapnya.
“alhamdulilah saya tidak apa-apa” Jelasku singkat. Aku pun terburu-buru bangun dan segera menghidupkan motorku karena hari sudah semakin gelap.
“eh… tunggu mba bukunya jatuh” sambil menyerahkan bukunya padaku.
“terima kasih dan lupakan kejadian tadi” aku tidak sedikitpun melihat wajahnya, dan aku pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, tidak lupa aku ucapkan salam kepada kedua orangtuaku, lalu aku masuk ke kamar. Aku masih saja memikirkan kejadian tadi.
“siapa dia?” Aku berusaha mengingat wajahnya tapi aku tidak ingat. karena tadi aku sama sekali tidak melihat wajahnya. “ah sudahlah itu tidak penting, siapapun dia mudah-mudahan kita segera dipertemukan” ucapku sambil kuusap wajahku. Tiba-tiba hatiku berdebar dan aku merasa dialah jodohku, meskipun aku tidak sempat melihatnya. “kok jadi gini sih… aduuuh wiiii bahaya!! aku harus lupakan semuanya, aku tidak mau banyak berharap dari dia aku hanya berharap pada DIA yang memiliki hatinya” ucapku dalam hati.

Aku segera beres-beres, sholat, mengaji, dan makan malam bersama kedua orangtuaku. Aku tidak menceritakan kejadian itu kepada mereka. Aku takut mereka terlalu berharap pada seseorang yang tidak aku kenal tadi. Seperti biasa, sebelum tidur aku selalu menyempatkan membaca buku dan novel karangan orang lain maupun karanganku sendiri supaya menambah wawasanku untuk tetap semangat berkarya. Sebelum aku bercita-cita menjadi seorang penulis, aku juga sempat bercita-cita menjadi seorang pendakwah. Tapi mungkin Alloh SWT memberiku peluang menjadi seorang penulis, supaya aku tetap menjadi seorang pendakwah. Perbedaannya pendakwah yang lain menyampaikan materinya lewat lisan. Tapi aku mendakwah lewat karangan yang aku tulis sehingga menjadi sebuah novel. “Alloh benar-benar sayang padaku” ucapku sambil kupejamkan mata dan berdo’a. Lalu aku pun tertidur.

Alhamdulilah aku masih bisa mempertahankan kebiasaanku yaitu sholat tahajud. Sesibuk apapun dan semalam apapun aku tidur, aku selalu bangun malam untuk sholat tahajud. Setiap sholat aku selalu berdo’a agar aku segera dipertemukan dengan jodohku. “ya Alloh… siapapun dia kalau memang dia baik untuk agamaku, dan masa depanku nanti, aku ikhlas menerima semua ketentuanmu” salah satu do’a yang setiap hari aku panjatkan kepadaNya. Dan aku pun kembali tidur.

Suara adzan yang merdu membangunkanku kembali dari lelapnya tidur. Aku segera mengambil wudhu dan sholat. Setelah selesai, aku membuka jendela kamarku. Di luar indah sekali. Matahari yang mulai muncul dan awan di sekelilingnya yang mulai sibuk menutupi sinarnya. Tapi sinarnya tetap menembus ke seluruh permukaan bumi. Aku hanya bisa mengucap “MasyaAlloh” kicauan burung yang merdu seperti sedang berdzikir memuji penciptaNya.
Kulihat di sekeliling rumahku, sudah banyak ibu-ibu dan bapak-bapak simpang siur untuk pergi mencari nafkah yang halal. Agar bisa tetap bertahan hidup di bumi yang fana ini.

“lagi apa neng?” Sapa salah satu tetanggaku.
“eh.., ibu, lagi diam aja bu, ibu mau pergi ke sawah ya? Tanyaku halus.
“iya nih neng, hati-hati jangan melamun pagi-pagi, nanti yang dilamunin pergi lho” candanya membuatku tersenyum malu.
“ibu bisa saja, ya sudah hati-hati ya bu semangat bekerja” jawabku sambil kulambaikan tangan padanya. Seketika aku teringat satu hal.
“eh.. ini hari minggu ya? Alhamdulilah akhirnya bisa libur juga.. hari ini ngapain ya? Hmmm…. kayaknya lebih enak kalau aku jalan santai saja, sambil olahraga kecil. Seharian bekerja membuat badanku lelah” ucapku pada diriku sendiri.

Aku segera bersiap. Saat aku akan pergi, aku mendengar sebuah percakapan serius di ruang tamu. Kulihat ada bapak, ibu, dan laki-laki misterius. Aku sama sekali tidak mengenalnya. “siapa laki-laki itu?” Tidak lama kemudian, ibu Memanggilku. Hatiku berdebar-Debar saat kulangkahkan kaki dan menemuinya di ruang tamu.
“ada apa bu?” Tanyaku keheranan.
“alhamdulilah nak, do’amu selama ini InsyaAlloh dikabulkan hari ini” jelas ibuku membuatku semakin penasaran.
“maksud ibu apa?” Aku tidak mengerti apa yang ibu bicarakan padaku.
“InsyaAlloh ini jodoh kamu” seketika hatiku tersentak dengan perkataan ibuku. “ya Alloh aku benar-benar tidak menyangka bahwa akan secepat ini do’aku engkau kabulkan” ucap dalam hatiku.
“jadi, dia datang ke sini pagi-pagi, hanya ingin bersilaturahmi dengan keluarga kita dan kamu wi. InsyaAlloh dia akan mengkhitbah kamu” jelas ayahku tapi aku masih bingung dan aku harus jawab apa.
“alhamdulilah kalau seperti itu, tapi tidak semudah itu pak, sebelumnya aku belum mengenal dia, dan aku rasa aku belum pernah bertemu dengannya” Jelasku membuat kedua orangtuaku bingung.
“kita memang belum sempat berkenalan, tapi aku pernah bertemu denganmu. Kamu ingat tidak waktu kejadian hari Sabtu?” Jawab laki-laki misterius itu.
“hari Sabtu? Jadi kamu yang menabrakku?” Tanyaku tegas membuat kedua orangtuaku kaget.
“sebelumnya aku minta maaf karena telah membuatmu jatuh dan terluka, aku belum sempat mengobati luka di tanganmu, karena kamu langsung pergi” jelasnya halus.
“lalu, dari mana kamu tahu rumahku?” Tanyaku lagi.
“maaf kalau aku lancang, aku sempat menanyakan rumahmu, dan menanyakan kepribadianmu pada rekan kerjamu. Karena aku selalu memikirkanmu dan ingin mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Dia sangat dekat denganmu, dia tahu banyak hal yang ada pada dirimu. Setelah aku dengarkan semuanya, aku sangat yakin kalau kamu memang wanita yang aku cari selama ini. Saat kita bertemu pertama kali, aku sudah melihat bahwa ada sesuatu yang istimewa dari dalam dirimu. Yaitu keshalehahanmu” perkataannya membuatku tidak percaya bahwa dia juga memikirkanku.
“maaf tidak usah memujiku berlebihan, aku tidak seperti yang kamu kira dan kamu lihat. Aku masih butuh bimbingan!!
Kalau boleh tahu, siapa dia yang sudah memberitahumu?” Tanyaku pada dia dengan penuh keheranan.
“dia adalah temanku Lina Marlina” setelah kudengar namanya aku benar-benar kaget dan tidak percaya kalau Alloh mempertemukan aku dengan dia lewat sahabatku sendiri.

Lalu, karena sudah merasa yakin dengan perasaan dan hati kami, kami pun tidak ragu untuk segera berta’aruf. Dalam proses menjalani ta’aruf, aku tahu banyak tentang dia, aku selalu menanyakan kepada kedua orangtuanya. Aku percaya bahwa tidak ada orangtua yang berbohong tentang anaknya. Baik itu sifat, kepribadian maupun kebiasaannya. Dan Alhamdulilah kebanyakan informasi yang aku terima positif dan tidak luput dari sisi negatifnya juga. Tapi, InsyaAlloh aku bisa menerima kekurangan dan kelebihannya dengan hati yang tulus dan ikhlas. Karena aku sadar aku pun bukan manusia yang sempurna. Kadang aku sempat menanyakan langsung padanya, tapi seperlunya saja. Dan aku benar-benar yakin bahwa dia adalah laki-laki yang Alloh kirimkan untuk menjadi Imamku. Dia bernama Ikhsan Dwi Nugroho. Aku biasa memanggilnya “Mas Dwi” karena umurnya lebih tua dariku 3 tahun.

Alhamdulilah setelah 2 minggu menjalani ta’aruf, kami pun segera melangsungkan pernikahan. Dengan waktu yang tergolong singkat, Tapi lahir dan batin kami InsyaAlloh sudah mantap. Kalau dibiarkan terlalu lama, kami sangat takut akan terjadi fitnah. Maka dari itu, niat yang baik harus disegerakan.

Rahasia memang hanya Alloh yang tahu dan aku sangat yakin bahwa janjinya tidak pernah bohong. Janji Alloh itu pasti!!! Tidak bisa diganggu gugat lagi. Kalau Alloh menunda do’a kita, bukan berarti Alloh tidak mengabulkannya, tetapi ada suatu rencana yang sedang Alloh persiapkan dan menggantinya dengan waktu yang tepat untuk kita. Jadi jalan keluarnya hanya satu yaitu bersabar…

Cerpen Karangan: Deuis Pebria
Facebook: Deuis Pebria
Assalamu’alaikum
Perkenalkan namaku Deuis pebria
Alhamdulilah agamaku Islam. Entah kenapa akhir-akhir ini aku bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Karena menulis itu indah ternyata. Ya meskipun tulisanku tak seindah kenyataannya hehe

Cerpen Kapan Bertamu? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Sang Putri Hawa

Oleh:
Hilang, sinar rembulan kembali ke tempat peraduannya lalu datang sang mentari menghangati pagi itu. Kicauan burung dan hijaunya dedaunan menyempurnakan indahnya pagi itu, sungguh sempurna ciptaan Allah. Di sebuah

Iney

Oleh:
Hidup iney sudah terlalu menggantungkan cintanya kepada Maru. Iney tidak bisa melupakan Maru yang selalu memberikannya kemanjaan dan harapan-harapan yang ditebarkan oleh maru. Seakan dihancurkan oleh kepergian Maru ke

Wanita itu Zahreena

Oleh:
Langit pagi ini sepertinya tak pernah mau bekerjasama denganku, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Selalu kelabu. Tak pernah ada jeda untuk matahari sekali-kali menyibakkan sinarnya, awan selalu saja menutupi dan

Gara Gara Bakso

Oleh:
Setelah mata pelajaran sejarah selesai, segera kumasukkan buku-bukuku ke dalam tas. Dan duduk di taman depan kelasku menunggu mata pelajaran bahasa arab. Sendiri di taman kecil “sepi” inilah gambaran

Hana dan Ricky

Oleh:
Setelah menanti selama bertahun-tahun, akhirnya aku pun mendapatkan gelar sarjana. Seminggu setelah aku di wisuda, aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku di utara Kalimantan. Rasa rindu bercampur dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *