Kau, Aku, Dan Seuntai Kata Ridha (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 21 December 2015

Menikah? Hal Tersulit Dalam Hidupku
2 tahun setelah wisuda Aldi dan Ais tak pernah bertemu. Ais pergi merantau ke jawa setelah ia lulus. Ais tak menyesal karena tak memberi kesempatan pada Aldi untuk mengatakan perasaannya. Desi pun tak lagi memikirkan Aldi. Ia cukup puas menunggu Aldi melihatnya sebagai perempuan, bukan sebagai teman Ais. Desi kini menjadi guru di kota mereka, Kisaran.
“mak doaon ma so lulus au ujiannya.” Ujar Aldi sambil mencium tangan Ibunya.

Aldi memutuskan untuk menyambung belajar di UIN Jakarta program pasca sarjana. Ia sama sekali tak berniat menikah meski ia sudah memiliki pekerjaan. Profesi sebagai guru di salah satu SMA ia tinggalkan hanya untuk mengejar mimpinya. Tidak ada komunikasi dengan Ais setelah mereka lululs dari IAIN Padangsidimpuan. Kalau jodoh pasti bertemu begitu Aldi berpikir mengenai jodoh. Hatinya sangat sesak dan sakit bila ingat Ais. Rindu pada seseorang memang sangat menyiksa. Setiap hari Aldi harus membunuh rindu itu, rindu yang ia simpan selama bertahun-tahun.

Hari senin ujian masuk program pasca sarjana dilangsungkan.
“Alhamdulillah lancar.” Bisik Aldi dalam hati. Ia mencari pengumuman yang berisi alamat email kampus yang ia tuju. Tiba-tiba ia melihat Ais ada di depannya tengah sibuk mencatat sesuatu yang ada di mading kampus. Bahagia hati Aldi tak terbendung lagi. Ia yakin perempuan yang berjilbab biru langit itu adalah Ais, orang yang sangat ingin ia temui. Tidak ada kabar dari Ais sangat menyiksa hatinya. Namun ia sabar memendam perasaannya. Aldi juga tahu kalau ia dulu masih sangat muda, belum bisa dijadikan pemimpin jika ia menikah. Aldi mendekati perempuan berjilbab biru itu.

“Assalamualaikum.” Aldi mengucapkan salam.
“waalaikumsalam.” Balas Ais lalu mengalihkan wajahnya ke arah suara yang datang.
Pandangan mata mereka bersatu sesaat. Lalu mereka sama-sama mengalihkan ke arah yang lain. Ais masih tak percaya kalau Aldi berada di kampus yang sama dengannya. Aldi tersenyum tak karuan, ia senang akhirnya bisa bertemu dengan pujaan hatinya yang selama ini ia pendam.

“ngambil jurusan apa di sini Al?” tanya Ais membuka percakapan mereka. Tampak perubahan pada Ais.
Wajahnya terlihat lebih dewasa dari 2 tahun yang lalu. Mereka sengaja memilih taman kampus untuk berbincang-bincang.
“ngambil jurusan yang sama, sama yang dulu.” Jawabnya santai. Aldi tak berani melihat Ais. Ia takut kena marah lagi kalau lama-lama melihat orang yang ia rindukan itu.
“oh, baguslah. Biar jadi pemimpin yang berakhlak mulia, akhlak yang dicintai Allah.” Sahut Ais senang.

“iya. Biar bisa jadi pemimpin dalam keluarga.” Ujar Aldi lagi.
“deg.” bunyi jantung Ais. “Aldi sudah menikah?” pikirnya. Ais tampak murung setelah mendengar kata-kata Aldi.
“sudah berapa anak Aldi?” tanyanya memecah kesunyian beberapa saat.
Aldi hanya tersenyum mendengar Ais menanyakan hal itu.
“maunya Ais berapa?” tanya Aldi balik.
“emang kalau mau punya anak harus nanya aku duluan?”
Aldi tak menjawab. Ia sengaja membuat Ais bingung. Aldi yakin kalau Ais berpikir ia sudah menikah. Dan benar saja.

Setelah sampai di tempat ia bekerja, tempat anak-anak Jakarta privat sore, ia terduduk bingung.
“mungkin bukan dia jodohku.” Begitu Ais menerka-nerka.

Ais tak pernah menaruh perasaan pada laki-laki manapun selain Aldi. Selama ini Ais hanya fokus pada cita-citanya. Melanjutkan studi pasca sarjana ia dapatkan dengan beasiswa dari tempat ia bekerja. Gajinya selama ini ia berikan pada Ibunya yang tak kuat lagi bekerja, sedangkan Kakaknya sudah menikah. Ia begitu asyik dengan dunianya. Bagi Ais, bila jodoh pasti Allah mempertemukan ia dengan Aldi. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri adalah hal yang harus ia kerjakan. Rupanya doa-doa Aldi dikabulkan Allah. Pertemuannya dengan Ais masih belum ia percayai. Aldi tak sempat menanyakan apakah Ais sudah menikah atau mempunyai calon untuknya atau tidak. Lagi-lagi ia tak berani mengutarakan isi hatinya.

“kali ini aku harus berani.” Pikirnya. Tiba-tiba dering handphone-nya berbunyi.
“Assalamualaikum mak.” Aldi mengucapkan salam pada Ibunya. Terdengar suara batuk yang cukup keras.
“ini abang Al. anggo sudah salose ujianmu, pulang maho cogot. Sakit umak Al.” jelas abang Aldi dengan nada suara yang mengharap.
“bia kabar umak bang? Insya Allah, cogot pulang ma au.”

Setelah menutup teleponnya, Aldi berkemas-kemas agar besok langsung mengambil tiket ke bandara. Padahal niatnya ia ingin mencari kerja agar bisa dekat dengan Ais. Tapi keinginannya itu terhalang. Aldi selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ibunya. Baginya tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang yang diberikan seorang Ibu pada anak. Aldi berpikir keras apa yang harus ia lakukan pada Ais. Ia merasa selama ini Ais masih menyukainya. Langit Jakarta tampak terang dihiasi kilauan lampu jalan kota. Aldi menunggu kedatangan Ais di kafe. Aldi menelepon Ais agar datang.

“akhirnya kamu datang Is.” Katanya lega setelah melihat kedatangan Ais.
“ada apa Al, ada hal yang mendesak ya?” tanya Ais heran.
Sejenak Aldi diam. Setelah yakin ini saat yang tepat, Aldi membuka pembicaraan mereka.
“Ais, maukah kau menikah denganku?” tanya Aldi to the point.
Ais tercengang seketika mendengar ucapan Aldi. Ia masih tak percaya. “Ternyata Aldi belum menikah, dia masih menungguku.” Batin Ais.

“sudah lama aku menyimpan kata-kata ini. Aku rasa ini saat yang tepat.” Lanjut Aldi.
Seperti kebanyakan perempuan lain, Ais hanya diam.
“kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku ngerti kamu pasti butuh waktu untuk menjawab.” Ujar Aldi melihat kediaman Ais.
“aku harus pulang karena umakku sakit Is. Umakku sangat ingin melihat aku menikah.” Lanjut Aldi terputus.
“berarti kamu harus pulang besok Al. Pulanglah, bilang ma umak kau akan menikah.” Ais menenangkan hati Aldi.
Kata-kata Ais membuatnya tersenyum bahagia.

“kamu menerimaku Is?” Aldi memastikan makna kata-kata Ais yang baru ia dengar.

Ais tersenyum dan mengangguk. Ia yakin ini adalah keputusan yang terbaik. Sudah lama ia merindukan Aldi datang mengatakan kata-kata itu. Begitu juga dengan Aldi, ia merasa ia cukup lama menunggu saat-saat bersama. Angin cinta menyapa lembut hati mereka. Sungguh indah hadiah dari kesabaran itu. Perjalanan melalui udara tidak memakan banyak waktu. Siang hari Aldi dan Ais sudah sampai di Sidimpuan. Aldi membawa Ais untuk diperkenalkan pada Ibu Aldi.

“assalamualaikum mak.” Aldi mencium tangan Ibunya yang berbaring lemah di kasur.
“waalaikumsalam Al.” jawab Ibu Aldi. Ia terlihat sangat senang dengan kedatangan anaknya.
“assalamualaikum bu.” Sapa Ais lalu mencium tangan calon Ibu mertuanya.
“teman Aldi ya?”
“bukan, ini Ais, calon menantu umak.” Jawab Aldi tersenyum.

Ibu Aldi terkejut mendengar ucapan anaknya. Ais sengaja ke luar karena ia melihat Ibu Aldi ingin berbicara masalah pribadi.
“umak inda baen inda giot disia. Tapi umak madung adong calon ken diho.” Jelas Ibu Aldi, suaranya sangat pelan.
“tapi Ais do giot ku umak.” Balas Aldi memohon agar Ibunya membatalkan niat hati Ibunya menikahkan dia dengan anak perempuan saudara Ibunya. Lina adalah boru tulang Aldi. Dalam suku batak boru tulang berarti orang yang bisa dinikahi oleh Aldi. Ibu dan ayah Lina beradik kakak.

Mendengar perbincangan Ibu dan anak itu, Ais menangis. Tangisannya tak bisa ia luahkan. Alangkah sedihnya hatinya, tersayat-sayat sembilu berbisa. Orang yang sangat ia rindukan akan menikah dengan dengan pilihan orangtua Aldi. “mak, ini bukan zaman siti nurbaya umak. Al sayang ma Ais. Al sudah yakin ia jodoh Al.” Aldi menjelaskan perasaannya pada Ibunya.
“ridha orangtua adalah ridha Allah Al. Umak tahu dengganna roha Lina Al. Umak yakin Al sonang anggo lakka matobang dot ia.” Jelas Ibu Aldi. Ia sangat mengharapkan Aldi menuruti perjodohan itu.

Aldi tak bisa melihat Ibunya memohon padanya. Ia juga memikirkan perasaan orang yang menunggunya di luar. Ia tak menjawab kata-kata Ibunya. Aldi ke luar setelah Lina masuk ke dalam. Lina menyukai Aldi sejak ia SMA. Namun ia menyimpan rasa itu sampai ia menamatkan belajarnya di pesantren Gontor.
“ikutlah permintaan Umak Al. Ais tak ingin Al durhaka ma Umak. Pilihan orangtua adalah yang terbaik buat anaknya.” Ujar Ais. suaranya hampir tak terdengar. Air matanya terjatuh membasahi pipinya. Ia menghapusnya cepat, tak ingin Aldi melihatnya sedih.

“Aku nggak mau menjadi penghalang bagi kamu untuk berbakti pada orangtua.” Lanjutnya tak sanggup menahan air matanya lebih lama.
“ini air mata nggak mau dibilangin berhenti.” Kata Ais tertawa kecil. Ia masih mencoba menghibur hati Aldi.
“Ais, aku akan membujuk hati Umak. Umak akan mendengarkanku Is.” Memohon agar Ais tidak menyerah dengan keadaan hari itu. Mereka diam satu sama lain. Tiba-tiba keponakan Aldi memanggil dari dalam.

“pergilah Al.” Ais merelakan Aldi menikah dengan pilihan orang tuanya. Aldi pergi dari tempat duduknya meninggalkan Ais sendiri di belakang rumah mereka.
“Umak semakin parah Al. jangan kecewakan Umak Al.” harap abang Aldi yang tertua. Aldi mengerti kata-kata abangnya. Ia melihat Lina di samping Ibunya. Tampak kasih sayang yang Lina berikan pada Ibunya. Tak berapa lama Ais masuk setelah mengeringkan air matanya. Ais mendatangi Ibu Aldi.

“Bu, ini Ais bu. Ibu cepat sembuh ya. Al mau menikah dengan pilihan Ibu. Ibu bangun ya, biar bisa melihat Al menikah.” Kata Ais terbata-bata. Ia mencoba menguatkan hatinya. Ia genggam tangan Ibu Aldi erat. Aldi terkejut, ia tak menyangka Ais akan mengatakan kata-kata yang sangat menghujam relung hatinya. Setelah itu Ais pergi ke luar. Ia melihat Lina yang manis. Ais hanya tersenyum lalu pergi. Aldi mengikuti Ais pergi untuk menghentikan langkah Ais.

“apa maksud Ais bicara seperti tadi?” tanyanya. Suaranya terdengar marah, kecewa, dan tak percaya.
“aku mau kamu menikah dengan Lina.” Jawabnya cepat.
“aku tak akan mengikuti permintaan Umakku Ais.”
“kamu memilih orang yang baru 5 tahun kamu kenal daripada Ibu yang menyayangimu seumur hidupmu?” tanya Ais. Matanya mulai berair lagi.

“kamu mau aku tidak bahagia seumur hidup?” tanya Aldi balik.
“aku tak ingin kamu melakukan dosa. Aku nggak mau kamu kehilangan restu seorang Ibu dalam hidupmu. Meski dengan itu aku kehilanganmu seumur hidupku.” Ais menjelaskan yang seharusnya ia katakan. Air mata tak terbendung lagi. Ais menghapusnya agar tak terlihat menyedihkan di hadapan Aldi.

“kalau selalu bersama, kamu pasti bisa mencintai dan membahagiakan Lina.” Lanjut Ais. Ia mengakhiri kata-katanya.
“salam sama Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh. Maaf, Ais harus pulang ke Rantau karena Mak Ais sudah menelepon tadi.” Ujar Ais.
Sepatah kata pun tak ada ke luar dari mulut Aldi. Ia masih tak percaya orang yang ia sayangi membuat keputusan yang sangat berat untuk hidupnya. Aldi mencoba memahami kata-kata Ais. “celaka hidup bila kehilangan restu dan doa Ibu.” Ais menyadarkan Aldi yang masih terdiam.

“janji ya, Aldi harus bisa membahagiakan Ibu dan istri Al nanti. Semoga Allah menjadikan keluarga Aldi bahagia hingga ke Surga.” Ais mengucapkan kata-kata yang sangat berat ia terima.
“Assalamualaikum.” Ais berlalu pergi meninggalkan Aldi yang masih terpatung tak percaya dengan kata-kata Ais.

Hari bahagia yang sangat dinanti-nantikan semua orang akhirnya datang, tapi tidak bagi Aldi. Ia hanya ingin Ibunya bahagia. Ibu yang selama ini menyayanginya dengan tulus. Berat rasanya ia mengucapkan kata-kata pernikahan. Aldi memandang wajah manis Lina, ia tersenyum. Aldi sangat mengingat jelas kata-kata terakhir Ais. Di sudut malam, tidak ada bintang dan bulan yang menemaninya malam itu. Bulan dan bintang seolah-olah ikut merasakan sakit yang Ais rasakan. Sebesar apapun rasa cinta Ais, tak akan membuat takdir berubah. Ia yakin inilah jalan yang sudah ditentukan Allah untuknya. Penantian mulai dari kuliah dulu hingga sekarang ia rasa sia-sia.

“Mak yakin, akan datang orang yang lebih baik dan tepat buat Ais.” nasihat Ibunya yang selalu Ais ingat.
“jangan pernah membenci takdir Allah, sayang.” Kata-kata Ibu yang masih terngiang di telinga Ais.
“Aku harus memperbaiki diri. Dia yang akan memilihkan jodoh yang tepat buatku.” Pujuk hati Ais. Air matanya mengalir terus menerus tiada henti.
Ais yakin tidak ada rencana yang lebih baik daripada perencanaan Allah pada hambaNya.

Cerpen Karangan: Anisyah Ritonga
Facebook: Anisa Agasshi Ritonga
Nama: Anisyah Ritonga
Alamat: Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
Alamat email: anisyah_ritonga[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Kau, Aku, Dan Seuntai Kata Ridha (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alif Layla (Part 1)

Oleh:
Setelah pertemuannya dengan Layla di depan mesjid yang ada di sekitar kompleks rumahnya dan mendengar Layla mengaji di sana, Alif menjadi ketagihan ingin bertemu lagi dengannya. Padahal dulu Alif

Mendung

Oleh:
“bawa keluargamu untuk menemui bapakku secepatnya sebelum aku dilamar orang lain” pinta gadis dengan payung ungu itu. “haahh… secepat itu kah?” “kalau gak mau ya udah” Gadis itu ingin

Misteri Gadis di Pinggir Jalan

Oleh:
Pagi itu, di tengah terminal tepatnya, aku selalu melihat wanita yang sama di minggu ini, dia cantik menurutku, berjilbab dan tampak sholehah, jika seandainya ada kesempatan ingin sekali rasanya

Cinta Di Ujung Senja

Oleh:
Aku begitu menunggu datangnya senja, senja selalu hadir begitu indah dan menakjubkan. Sebuah anugerah ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku begitu tak kuasa ketika senja itu redup, rasanya aku ingin

Namaku Aisyah

Oleh:
“Setiap orang punya takdir masing-masing dan itu sudah disiapkan oleh sang pencipta untuk setiap umatnya di muka bumi ini”. Kata-kata itu terlintas sejenak dibenakku saat kurenungi perjalanan hidup yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *