Kembali ke Jalan-Nya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 June 2014

“Mungkin mata hatiku telah ditutup oleh-Nya. Aku sudah nggak bisa melihat hal yang baik dan buruk. Di mataku hanya ada satu hal yang terlihat yaitu kesenangan duniawi yang nggak pernah kubawa ke kehidupan yang akan datang nanti. Tidak ada satu orang pun yang ingin meraih tanganku yang sudah berada di lautan dosa. Sekarang teman-temanku adalah mereka yang sangat mengerti aku dan memberikan semua kemewahan dunia. Ya, mereka adalah syaitan. Mereka berbisik, menyamar dan menjadi aku, mereka selalu ada di saat apapun. Tapi apa aku bisa jika ingin kembali di jalan-Mu lagi? Apakah Engkau mau meluruskan jalanku lagi? Dan mengirimkan manusia berhati malaikat di dalam kehidupanku? Biarkan aku menyebut nama-Mu Allahu Akbar…”

Assalamualaikum, sahabat muslim dan muslimah…
Perkenalkan namaku Nurlita Shakina, sahabat bisa memanggilku Lita atau Shakina. Aku seorang guru di sekolah islam di kotaku. Aku berumur dua puluh tiga tahun dan baru-baru saja menjadi guru magang di sekolah tempatku bekerja. Alhamdullillah, kehidupan sekarang lebih baik daripada kehidupan masa lalu. Kehidupan suram yang telah kubuang jauh-jauh dari kehidupanku. Sekarang aku percaya, Tuhan kita Allah swt selalu mengawasi kita memberikan cobaan lalu endingnya akan bahagia kalau kita selalu tawakal dan berusaha.

Kalau mengingat masa lalu, aku takut, melihat diriku yang mengerikan berada di lautan dosa yang luas. Kehidupan yang tidak akan pernah kujalani lagi. Aku ingin bangkit dari sana. Yang pasti Allah swt mendengar satu doaku “Kirimkan aku manusia berhati malaikat.” Dia meraih tanganku yang sudah berada di dalam dosa. Dia mengubah segalanya. Dan dia adalah cinta terakhir bagiku…

Tujuh tahun yang lalu…
“Pa, Ma. Lita jalan.” Ucapku sambil mencium tangan dan pipi kedua orangtuaku.
Kehidupan mewah, memenuhi apapun yang kuinginkan. Semuanya, mulai dari pakaian yang terus update setiap harinya, makanan empat sehat lima sempurna yang mewah, sampai apapun yang aku inginkan bisa langsung ada dengan sekali kedipan mata. Kehidupan yang menyenangkan. Siapa sih yang nggak ingin kehidupan semua ini. Semua orang iri denganku. Aku adalah anak yang paling beruntung mempunyai orangtua yang super kaya dan sayang denganku.
“Hati-hati, Lita.” Mama melambaikan tangannya dari kejauhan.
Aku juga ikut melambaikan tangan dan berjalan lurus ke arah seorang cowok dengan motor matic. Aku tersenyum dengan cowok itu, hampir setiap pagi dia menjemputku ke sekolah dan mengantarku sepulang sekolah.
“Lita ayo cepat, nanti terlambat.” ucapnya dari kejauhan. “Iya, bawel.” Sahutku sambil mempercepat langkah kakiku. Namanya Muhammad Revaldi. Nama keren dengan perpaduan islam. Dia sering disapa ahmad untuk para guru dan orangtua sedangkan teman-temannya memanggil Aldi. Dia cinta pertamaku dan pacar pertamaku. Dia adalah cowok super baik, super gagah, dan super pengertian. Dia juga termasuk murid berprestasi di kelas dan sangat anti meninggalkan sholat lima waktu plus sholat tahajud plus sholat dhuha setiap harinya. Menurutku dia, cowok dan pacar paling sempurna yang kirimkan Allah swt kepadaku…

“Lita, udah belajar buat ulangan nanti, nggak?” tanya Revaldi sedang mengendara motor maticnya yang baru saja dia beli dari uang hasil tabungannya selama sepuluh tahun terakhir ini. “Belum, habisnya kalau lihat rumus kepalaku jadi pusing. Nanti belajar sama kamu aja ya.” Godaku. “Nggak ah! Habisnya kalau mau ulangan baru belajar, harusnya kamu itu belajar tiap hari biar nggak lupa.” Ocehnya dengan panjang lebar. Aku ingin tutup telinga mendengar ceramahnya pak ustadz pagi-pagi gini. Begini nih kalau punya pacar pintar banget, jadi bawel banget!
“Masih pagi juga, sudah ceramah. Sakit telingaku!” keluhku. “Ah sudahlah, susah ngomong sama cewek manja kayak kamu.” Sahut Revaldi. Revaldi kembali fokus mengendarai motornya, kami terdiam. Nggak ada hal yang mau dibicarakan. Biasanya kalau soal belajar aku adalah cewek paling malas, tapi untungnya ada pacar super pintar yang mengajariku beberapa pelajaran yang nggak kusukai selama sekolah ini.

Aku menatap wajah Revaldi. Wajahnya terlihat sedikit karena tertutup helm. Saat itu aku berpikir kalau saja aku kehilangan dia, apa yang harus kulakukan? Aku takut kehilangan dia. Tiba-tiba…
“Lita! Kamu kenapa?” Revaldi sadar dari tadi kulihati. Aku kaget! “Nggak apa kok.” Sahutku menahan senyumanku. “Dasar cewek aneh, tadi ngeliatin aku, jadi ge-er tahu!” Aku tersenyum dan ingin tertawa. Aku bisa merasakan, sekarang Revaldi sedang bahagia dan juga ikut tersenyum. Aku sangat beruntung dia ada disini, bersamaku dan masuk ke dalam kehidupanku…

Kami memasuki kelas sambil tertawa satu sama lain. Kalau dengar lelucon Revaldi, bisa buat kita sakit perut gara-gara ketawa terus. Memasuki pintu kelas, aku heran ada seorang murid yang baru kukenal, sepertinya murid baru. Dia duduk di samping kursi Revaldi.
“Wah, kayaknya aku nggak sendirian lagi nih.” Revaldi tersenyum gembira. “Ya lah tuh, ada teman baru. Pergi sana! Sama teman baru! Aku dilupain aja.” Ucapku sambil monyongkan bibirku. “Aduh Lita. Cemburu banget sih. Aku ini masih cowok tulen. Nggak mungkin aku bermesraaan sama dia. Dasar cewek jelek. Uh, jelek tahu. Senyum dong.” Revaldi mencubit pipiku dengar keras.

Revaldi langsung berlari menuju tempat duduknya setelah mencubitku dengan keras. Aku kesal banget sama tuh cowok!

Setelah agak reda kesalku, aku menaruh tas di meja tempatku yang berada di depan Revaldi. Aku memperhatikan mereka berdua, dan heran? Mereka cepat banget akrab.
“Oh ya Lita, kenalin ini Gaffar. Teman baru gue.” Ucap Revaldi dengan gaya alaynya. “Ih, alay banget sih!” aku menatap sinis Revaldi.
Aku tersenyum manis dengan murid baru yang bernama Gaffar dan memberi tanganku untuk berjabat tangan.
“Kenalin Lita. Nurlita Shakina.” Ucapku. “Aku Muhammad Gaffar. Assalamualaikum.” Ucapnya, tapi sepertinya dia tak ingin berjabat tangan denganku karena tangannya tetap berada di meja. “Waalaikumsalam.” Sahutku dengan ramah.
Saat itu muncul lagi, orang-orang sholeh yang berada di sisiku. Ya, dia adalah Gaffar, nama lengkapnya Muhammad Gaffar. Dia dan Revaldi cepat sekali akrab, mereka sering berdebat atau membahas soal agama islam. Gaffar mempunyai wawasan yang luas dalam soal agama, sedangkan Revaldi bisa dibilang falsafah dan banyak memberikan pertanyaan di balik penjelasan Gaffar. Lalu aku, hanya mendengarkan. Terkadang mereka menyuruh memilih salah satu jawaban mereka dan itu membuatku bingung. Lalu hari demi hari berlalu, Gaffar anak yang pintar dan mungkin akan jadi saingan Revaldi di semester ini. Mereka selalu fair dalam belajar, tak ada menyontek atau berbuat curang semacamnya. Mereka selalu ada di sisiku. Menjagaku dan menjadi guru bagiku untuk memperdalam islam…
Tapi itu tak lama…

Setelah kenaikan kelas, kelasku mengadakan acara yaitu liburan akhir tahun di sebuah pantai di kotaku. Kami memakai uang yang kami tabung selama satu tahun ini. Kami menyewa sebuah bis. Bis yang besar untuk memuat tiga puluh siswa termasuk aku, Revaldi dan Gaffar. Waktu itu nggak disangka, aku dan Revaldi nggak pernah bersama lagi. Dia pergi meninggalkan aku untuk selamany. Aku masih ingat, saat itu menjelang perjalanan ke pantai. Aku dan Revaldi sempat teleponan.
“Bawa apa aja nih? Aku malas bawa berat-berat.”
“Bawel! Bawa sesuai keperluanmu lah. Tapi ingat ya! Nggak minta minta.”
“Idih, pelit banget sih! Dimana-mana tuh ceweknya yang nyiapin keperluan cowoknya. Kalau yang satu ini, pelit banget!”
“Enak di kamu, nggak enak di aku! Udah ya mau packing nih.”
“Eh tunggu! Ada yang mau kukatakan.”
“Apa? Cepat lah.”
“Aishiteru Lita.”
Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Jarang-jarang dia ucapin “Aishiteru.” Kata-kata yang kedengar terakhir kalinya saat dia nembak aku. Aku nggak bisa mengucapin apa-apa.
“Kita nggak tahu umur kita, jadi selama aku ada disini, aku hanya ingin buat kamu bahagia. Dan mungkin kamu adalah cewek pertama dan terakhir buat aku. Aku nggak minta kamu suka aku, aku hanya ingin kamu sayangi aku dengan keadaanku yang apa adanya. Aku juga nggak kaya, tapi aku bisa buat kamu bahagia nantinya, insya allah. Lita, jadilah cewek pertama dan terakhir buat aku…”
Mungkin saat itu Revaldi nggak tahu aku sedang menangis terharu mendengar kata-kata yang dia ucapkan. Tapi tahukah itu juga adalah kata-kata terakhir dari Revaldi…

Saat itu aku nggak menyangka Revaldi akan meninggalkanku dengan cepat. Liburan yang tadinya untuk merayakan ulang tahun pacaran kami yang kedua tahun menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupku. Liburan ke pantai yang menyenangkan menjadi pengalaman mengerikan yang membekas sampai sekarang. Liburan yang merenggut nyawa Revaldi dan beberapa teman-teman sekelasku. Waktu itu kami menaiki semua bis sewaan, kami bernyanyi dengan semangat dan ceria selama perjalanan, sampai-sampai kami nggak tahu di depan kami ada truk pembawa batu besar yang bermuatan banyak. Entah apa yang membuat truk itu tidak bisa naik? Truk itu kehilangan keseimbangan. Batu-batu besar itu bergelinding menuruni gunung. Ada beberapa batu yang berada di depan bis kami. Semuanya panik dan takut. Aku hanya diam sambil memegang tangan Revaldi dengan erat. Aku takut…
Tiba-tiba terasa benturan yang keras, bis kami terbalik menuju ke dalam jurang. Saat itu bis kami terguling ke dalam sana. Revaldi terus memelukku supaya aku tetap aman. Dan…

Saat itu aku hanya bisa membuka mataku sedikit. Aku tidak di dalam pelukan Revaldi. Lalu hal pertama yang kulihat adalah Revaldi dengan wajah pucatnya berlumuan darah di bagian kepala. Aku ingin memanggilnya tapi susah untuk mengeluarakan suara. Sakit, hati maupun tubuhku. Sedikit-sedikit pandanganku kabur. Wajah Revaldi pucat Revaldi tidak bisa kupandang. Lama-kelamaan semua gelap dan wajah Revaldi tidak bisa kulihat lagi, untuk selamanya…

Seminggu kemudian…
Tok…tok… tok
Aku tahu itu adalah ibu yang terus membujukku untuk membukakan pintu untuknya. Tapi untuk saat ini biarkan aku sendiri…
Bekas luka masih terlihat jelas. Sebagian lukaku masih diselimuti perban-perban. Bekas ingatan saat kecelakaan pun masih teringat. Air mataku terus mengalir ketika melihat wajah Revaldi yang sudah pucat waktu itu. Jujur, aku belum bisa melepaskannya pergi.

Aku duduk di dekat jendela, melihat taman kota yang pernah kudatangi bersama Revaldi. Setiap melihat orang pacaran aku selalu ingat kepada Revaldi. Pikiranku kacau banget. Yang bisa kulakukan adalah menangis dan menyendiri untuk sementara ini.

Tiga hari kemudian…
Hari ini adalah tahun ajaran baru. Aku sekarang duduk di kelas dua belas. Jenjang kelas terakhir di masa SMA ini. Aku sudah berada di dalam kamar hampir seminggu lebih. Menyendiri dan menenangkan diri. Aku mencoba melupakan kejadian yang mengerikan itu, tapi semua ini ada tahapnya…
Aku harus turun di hari pertama kumasuk ke kelas dua belas. Seperti biasa aku berangkat sekolah pukul tujuh. Tiba-tiba…
“Lita, ayo sarapan dulu.” Mama mencegahku membuka pintu utama. “Mama.” Aku menatap dingin ibuku. “Sarapan dulu sama Mama, Papa. Ayo.” Mama membujukku sambil memegang bahuku. “Nggak. Lita sarapan di kantin sekolah aja.” Jelasku sambil menepis tangan ibu.

Aku membuka pintu dan langsung keluar. Tanpa mencium tangan kedua orangtuaku. Tanpa mencium pipi mereka. Tanpa berpamitan aku langsung ke sekolah. Pikiranku masih kosong. Semuanya hampa…

Di sekolah…
“Nurlita Shakina.” Seorang guru menghampiriku. “Iya, Bu.” Aku sedikit heran. “Lita, disini bukan kelasmu. Kamu dipindahkan kekelas XII-B.” jelasnya. “Kenapa, Bu?” aku kaget. “Dewan guru sudah sepakat memindahkanmu ke kelas XII-B.”
Aku hanya diam mendengar keputusan itu. Mungkin ini jalan satu-satunya untuk melupakan dan melepaskan Revaldi. Guru itu mengantarkanku ke kelas XII-B. Aku memasuki kelas yang suasananya berbeda dengan kelasku. Orang-orang yang berbeda. Tatapan mereka juga berbeda terhadapku. Aku duduk di samping seorang cewek yang sedang asyik berdandan. Dia melihatku dengan tatapan sinis.

Hari itu adalah hari yang mengubah segalanya. Kelas yang baru pasti teman-teman yang baru. Awalnya aku canggung dengan mereka, tapi beberapa bulan bersama aku seperti menemukan teman-temanku lagi. Kami sering mengumpul bersama. Bernyanyi di dalam kelas. Lalu pada malam hari kami sering jalan-jalan bersama-sama menikmati kota malam yang belum pernah kudatangi.

Mereka membuatku mencoba segala sesuatu dan membuatku lupa akan batas-batasan agamaku sendiri. Mereka mengajakku ke klub malam sambil menari gila-gilaan disana. Setelah capek kami mabuk-mabukkan, sampai-sampai aku pulang Larut malam. Aku masih ingat, ketika ayah dan ibu bertengkar hebat gara-gara aku yang selalu pulang malam. Aku nggak peduli dengan mereka. Aku sekarang lebih senang dan dapat melupakan Revaldi, serta aku juga lupa akan Tuhanku sendiri dan larangan dari islam.

Dalam satu semester, nilaiku menurun drastis. Aku yang suka pulang malam dan lupa dengan belajar membuat nilai ulangan semesterku hancur. Tapi anehnya aku tidak peduli. Aku terus pulang malam bersama beberapa cowok nggak jelas mengantarku pulang. Di rumah ayah dan ibu hanya bertengkar terus menerus gara-gara aku pastinya. Tapi tetap saja aku tidak peduli dengan mereka berdua. Sekarang aku punya kehidupan baruku yang lebih menarik.

“Lita, aku ada sesuatu yang bagus loh.” Salah satu temanku memberikanku sebuah obat berbentuk pil. “Apaan nih?” tanyaku. “Cobain deh, pokoknya kalau coba nanti semua masalahmu pasti hilang.” Jelasnya. “Yakin ampuh banget?” tanyaku lagi. “Cobain dulu pasti kamu tahu khasiatnya.” Jelasnya lagi.
Aku mengambil obat itu tanpa tahu apa namanya. Entah mengapa kuambil, tanganku seperti tergerak sendiri untuk mengambil obat itu. Lalu temanku yang menawarkan obat itu memberikanku segelas air putih. Aku tersenyum kepadanya dan di dalam hatiku berkata “Jika ini bisa mengobati rasa sakit di hatiku, aku akan…”
“Ayo ikut aku!”
Seorang cowok menghentikanku. Gelas dan obat yang kupegang dijatuhkannya. Dia langsung menarik tanganku menuju pintu keluar klub malam itu.
Aku masih ingat, saat aku hampir saja terjerumus ke dalam jurang dosa yang lebih dalam. Dia datang dan membawaku pergi dari tempat terkutuk itu. Itulah terakhir kalinya aku mendatangi tempat itu…
“Gaffar.” Ucapku dengan kaget.
“Kau itu bodoh apa? Hampir saja kau memakan nark*ba tahu!” jelasnya dengan suara yang keras.
Gaffar datang kembali. Entah dari mana dia datang dan tahu aku ada disana. Dia membawaku menjauh dari klub malam itu. Dia membawaku ke taman kota yang sudah sepi oleh pelajan kaki.
“Kenapa kau ada disini?” aku terbata-bata. “Karena kamu. Aku disini untuk membantumu keluar dari neraka yang kau nggap surga itu.” Jelasnya.
Aku memukul dadanya dengan keras dan air mataku tak dapat kubendung.
“Kenapa baru sekarang kau datang? aku sendirian ketika Revaldi pergi. Aku frustasi. Kenapa kau menghilang setelah kecelakaan itu?”
Gaffar lukanya yang paling parah akibat kecelakaan itu. Orangtuanya membawa dia berobat ke luar negeri. Gaffar yang terluka parah memerlukan waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Sekarang dia datang kesini lagi untuk menyelesaikan semua masalahnya.
“Lita, apa kau nggak ingin bertobat?” tanya Gaffar dengan suara yang lantang. “Seandainya Allah tidak marah denganku. Tapi aku ini manusia penuh dosa. Aku memang nggak bisa dimaafkan. Aku ini manusia hina.” Jelasku “Aku bantu. Allah Maha Pemaaf. Dia akan memaafkan semua kesalahan yang hamba-Nya perbuat seperti dikatakan di surah Asy Syuura…”

“Dan Dialah yang menerima dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy Syuura, 42:25)

Itu adalah kata-kata dari Al-quran yang sudah lama tidak kudengar. Air mataku mengalir dan saat itu Gaffar mengajakku sholat berjamaah. Setelah berdoa aku memohon kepada Allah memaafkan kesalahanku yang dulu dan sekarang. Dari lubuk hatiku aku ingin berubah menjadi muslimah islam. Aku ingin menjadi wanita sholeh untuk orangtuaku dan Revaldi. Aku ingin setiap doa yang kulantunkan untuk mereka didengar oleh Allah. Aku ingin kembali ke jalanmu, Ya Allah…

Kurang dari satu tahun terakhir ini, aku menimba ilmu keagamaan bersama Gaffar. Aku mulai belajar mengaji, memperteguh sholat dan rajin berpuasa. Gaffar mengajarku adab wanita muslimah. Aku juga mengisi hari-hari dengan ayah dan ibuku, seminggu sekali ikut pengajian yang selalu diadakan di masjidku. Gaffar juga memotivasiku untuk berhijab. Aku berubah 180 derajat demi orangtuaku dan Revaldi.

Pada saat itu, Gaffar menghilang lagi. Disaat aku sudah benar-benar bertaubat. Aku seperti kehilangan teman dan seseorang yang sangat berarti bagiku. Aku nggak tahu dia dimana. Setelah pergi aku baru sadar, aku telah menemukan cintaku yang lain. disaat aku menyukainya, dia pergi entah kemana. Dia saat mulai goyah, dia mengirimkanku sebuah surat, mengatakan kalau dia baik-baik disana dan akan kembali. Dia bertanya “Apakah aku mau menunggunya?” dan kata-kata terakhirnya adalah “Bahagia, belajar dan berbakti.” Kata-kata itu membuat hatiku semakin kuat untuk meraih masa depan yang kuinginkan.

“Bu Shakina. Ada yang memanggil?” ucap seorang murid di tempatku mengajar. “Siapa?” tanyaku. “Katanya orang penting.” “Ya sudah, ibu kesana dulu. Kamu jangan ribut di kelas nanti ibu kembali lagi.” Jelasku.

Aku keluar dari kelas. Aku melihat seseorang dari kejauhan menunggu di gerbang sekolah. Setiba disana, aku kaget melihat orang itu. Mataku langsung berkaca-kaca. Ternyata…
“Kau kembali lagi. Gaffar.”

Sekarang Gaffar menjadi laki-laki yang tampan. Postur tubuh yang tinggi dan sedikit kumis dan janggut. Dia berkacamata dengan memakai kemeja orang kantoran.

Aku tersenyum dan dia tersenyum. Pertemuan yang sudah lama. Sebenarnya aku tahu aku bisa menunggunya sampai dia kembali. Aku yakin dia kembali lagi kesini untuk bersamaku. Dia adalah pelabuhan terakhir untuk hatiku. Dia mengajariku tentang islam dan dia membuatku tertarik akan islam. Aku masih ingat cita-cita adalah menjadikan islam bangkit lagi dari kejayaan yang sudah lama mereka tinggal. Karena dia, aku juga ingin menjadikan islam di masa-masa kejayaannya dulu. Karena itu aku menjadi guru. Dengan ilmu yang kusampaikan untuk murid-muridku menyadarkan mereka islam bukan agama yang bisa diremehkan dan dia juga meyakinkanku bahwa “Allah selalu ada di samping kita, Dia melindungi kita dari bahaya apapun dan Dia Maha Pengampun dan Pemaaf. Asalkan tidak berbuat dosa yang sama dan bertawakal Dia akan membawa kita ke dalam surga dunia dan akhirat-Nya.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Tyaz Hastishita
Facebook: Tamia no Tyaz
Assalamualaikum, sahabat muslim dan muslimah. Perkenalkan namaku Tyaz Hastishita. Kalian bisa memanggilku Tyaz. Aku lahir di Tarakan, 10 Juli 1997. Alamat tempat tinggalku berada di Jln Adityawarman RT 9 No 8, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan. Sekarang umurku 16 tahun. Hobiku, banyak banget salah satunya adalah menulis cerpen. Cita-citaku menjadi seorang suster dan penulis terkenal.
Sekian, Wasalamualaikum…

Cerpen Kembali ke Jalan-Nya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terimakasih Ira

Oleh:
Sudah dua tahun aku mengenal baik pribadi Ira. Ia adalah mahasiswa teknik informatika yang tinggal persis di sebelah kontrakanku. Sebagai tetangga yang baik sekaligus sesama anak muda yang merantau

Kisah Sang Putri Hawa

Oleh:
Hilang, sinar rembulan kembali ke tempat peraduannya lalu datang sang mentari menghangati pagi itu. Kicauan burung dan hijaunya dedaunan menyempurnakan indahnya pagi itu, sungguh sempurna ciptaan Allah. Di sebuah

Tentang Rere

Oleh:
‘Nice morning’, begitulah bahasa asingnya. Pagi ini begitu cerah. Kicauan burung menambah ramai suasana pondok. Bagiku, pondok adalah muaraku tempat aku menimba ilmu, dengan bekal keuletan, kesabaran serta keseriusan,

Zaujati

Oleh:
Ceritanya dimulai dari sini. Ana dengan suara indahnya dan Ahmad dengan suaranya yang sangat merdu. Mereka dipertemukan di bawah gubuk ilmu pondok hufadz Daarul Qur’an. Pertemuan pertama mereka mungkin

Hijrah Sebuah Cinta

Oleh:
Dengan ini, aku menyatakan bahwasanya, aku, Cindai Pramesti atau Syindia As-Syifa menghijrahkan cintaku kepada cintaNya yang lebih nyata kekekalannya. (Jember, 17 Juni 2006). Aku pikir awalnya jarak dan waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *