Kembang Api Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Saban menjelang maghrib anak-anak perempuan di desaku harus sudah berada dalam rumahnya. Senja sudah melirik para wanita di desa, ibu-ibu mulai meneriaki anak-anak perawannya untuk segera masuk ke dalam rumah. Seakan-akan matahari senja akan segera menyantap anak-anak perawannya, mereka berlarian. Untuk beberapa saat perawan-perawan itu bak menjadi wanita pingitan, mereka mandi, mempercantik diri, dan menunggu datangnya kumandang adzan magrib yang akan membebaskannya. Saat kumandang maghrib mereka kembali berlarian menuju masjid untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah.

Ayah sudah mulai sakit-sakitan, sudah beberapa bulan ini ayah tak lagi datang ke surau dan mengimami jama’ah, aku diutusnya untuk mencari pewakilannya. Sejak ditinggal ibu dua tahun yang lalu ayah memang sering sakit-sakitan, ibu meninggal karena penyakit kanker. Dan meninggalkan aku beserta ayahku. Aku sudah mengizinkan ayahku untuk menikah kembali namun sepertinya ayah tak menginginkannya, pikirku kalau ayah beristri lagi tentunya ada yang merawat dan menjaganya karena aku juga masih menempuh sarjanaku di luar kota.

“Abah cuma ingin lihat kamu jadi anak saleha, sukses. Jangan khawatirkan Abah. Banyak santri-santri yang merawat Abah. Konsentrasilah dengan kuliahmu, cepat lulus dan pulang,” Begitulah ucap Abah acapkali aku mengkhawatirkannya. Sebentar lagi aku akan meraih sarjanaku, kala itu bahagiaku bukan main karena Abah bisa datang saat wisudaku, kesehatannya tiba-tiba membaik mungkin karena ingin melihat putri satu-satunya memakai kebaya dan toga.

Aku membawa pulang titel sarjanaku dengan nilai yang tak mengecewakan, Abahku tentu bangga. Sebagai putri tunggalnya sepulangku dari lulus kuliah Abah langsung memintaku untuk mengurus pondok pesantrennya. Tak menghiraukan Sarjana Sastra yang menempel pada namaku. Bagi Abahku aku tetap anak satu-satunya, yang akan melanjutkan perjuangan dan mengurus pesantren, lalu menikah dan anakku, cucu dari Abahku, yang juga akan melanjutkan jejak yang sama dengan Abah. Suatu hari aku diminta Abah untuk mewakilinya dalam sebuah acara tahunan santunan anak yatim pada setiap awal ramadhan di desa yang jaraknya hanya lima kilo meter dari pesantren.

“Selamat datang, Ning Zahro. Kenapa Mbah Yai tidak hadir?”
“Abah sedang sakit, jadi saya yang mewakilkan,” Sambil aku bersalaman dengan gadis yang sudah ku kenal sejak lama, sahabatku Nina. “Ayo ku kenalkan kamu dengan para donatur yang sudah menyumbang untuk anak-anak di desa ini,” Nina langsung menarikku sambil jingkrak bahagia karena bisa bertemu kembali setelah satu tahun ini.

“Ini namanya Bu Surtinah, ini Bapak Anto, ini Pak Yuris dan ini Mas Gusti,” Aku hanya mengatupkan tanganku seraya tersenyum pada mereka. “Ninaaa, di mana kembang apinya, acara sudah mau mulai ini,” Suara salah seorang temannya memanggilnya dan ia langsung pergi meninggalkanku tanpa pesan. Aku hanya bercakap-cakap kecil dengan para donatur yang ada di depanku, tak banyak kata yang bisa untuk mencairkan suasana, hanya perkenalan dan ucapan terima kasih yang ku sampaikan sebisanya.

Yang ternyata Mas Gusti adalah lulusan dari universitas yang sama denganku, dia lulus satu tahun lebih dulu dariku. Semua yang hadir dalam acara santunan tersebut masing-masing diberi satu buah kembang api, tak terkecuali aku dan para donatur. Kembang api dinyalakan sebagai simbol dibukanya acara, harapannya kembang api tersebut bisa membuat anak-anak yatim sedikit melupakan beban hidupnya. Aku melihat mereka dari kejauhan, dengan riangnya mereka melompat-lompat sambil menghindari percikan kempang api dengan tangannya, keceriaannya yang polos seperti lupa bahwa mereka sudah tak berorangtua. Mereka tertawa satu sama lainnya. Berjingkrak kegirangan melihat kembang api yang dinyalakan.

“Ini,” Gusti membuyarkan lamunku dengan menyodorkan sebatang kembang api. “kau suka dengan kembang api ya?” tanpa ku memintanya ia menyalakan kembang apiku dan melemparkannya, wuuussshhhh, kembang api menjulang ke angkasa lalu menghujani kami dengan hujan percikan cahaya yang indah nan meriah. Ia melemparkan kembang api untuk kedua kalinya, wussssshhh, menjulang ke angkasa dan memayungi kami dengan komet-komet yang seperti berjatuhan.
“Aku harus segera pulang, Abah sudah tentu menungguku,”
“Silakan, Ning,” Ia mempersilakan. Beberapa langkah aku terhenti. “setiap waktu yang sama dengan malam ini, jika kau melihat kembang api yang mengudara tak jauh dari pesantren Abahmu, Namaku Gusti Rasyid. Ku harap perjumpaan lain mengizinkan kita untuk bertemu,” Aku hanya tersenyum malanjutkan, “Assalamualaikum,”

Mulai malam itu pada hari-hari berikutnya pada waktu yang sama kembang api mulai memuncrat, mungkin banyak yang bertanya, “Siapa yang setiap malam sering main kembang api?” dan beberapa ada yang menjawab, “Mungkin anak kecil yang sedang iseng,” ada juga yang berpikir, “Mungkin sedang ada lomba kembang api,” Tapi aku tahu itu adalah perbuatan Gusti Rasyid, dengan tujuan apa juga hanya dia yang tahu. “Seperti anak kecil saja,” Gumamku lalu masuk ke dalam rumah usai menyaksikannya.

Pada hari-hari berikutnya pun aku mulai sering bertemu dengannya pada acara desa, sikapnya dewasa, bijak tak seperti anggapanku yang mengiranya seperti anak kecil yang suka main kembang api. Kedekatanku mulai tercium oleh Abah, Abah tak lagi memintaku untuk mewakilkannya pada beberapa acara yang ada di desa.
“Abah, bolehkah aku mewakil Abah pada acara pengajian di desa sebelah?” suatu hari aku memintanya.
“Tidak usah, Nduk. Kamu di rumah saja. Biar santri Abah yang mewakilkannya,”
“Kenapa, Bah? Biasanya Abah memintaku?”
“Abah tak setuju kalau kamu dengan orang kota itu,” Abah meninggalkan percakapan dan pergi menggunakan kayu di tangannya untuk menyangga tubuhnya yang mulai renta.

Beberapa hari berlalu, Abah belum juga merubah keputusannya. Sahabatku mengabarkan ada sepucuk surat dari Gusti. “Assalamualaikum, Ning Zahra. Sungguh sedari pertemuan itu inginku menuliskan surat ini. Bukan maksud tak punya keberanian, namun keadaan begitu sulit untuk memperkenankan. Maksud dari surat ini adalah niatku untuk meminangmu, jika engkau mengiyakan aku dan keluarga segera bertamu ke rumah Abahmu. Salam Gusti Rasyid.”

Sungguh aku membaca dengan air mata berlinang, air mata bahagia beradu duka. Wanita mana yang tak bahagia mendapat pinangan dari seorang yang dicintainya, namun mau berkata apa. Abah tak mengizinkan meskipun tak sekali pun Abah melihat Mas Gusti. Aku sampaikan yang sebenar-benarnya pada Mas Gusti. Abah telah menjodohkanku dengan salah seorang putra dari sahabatnya. Sebagai wanita yang ternaung dengan sebutan “Ning,” mau tak mau aku mengiyakan harapan Abah, tentunya Abah yakin dan menginginkan yang terbaik untuk putri tunggalnya.
Mau diapakan linangan air mata ini, aku hanya mampu mengungkapkan melalui belaian tinta untuk membalas surat dari Mas Gusti.

“Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatuh. Sungguh hati ini bahagia membaca surat pinangan ini, bahkan begitu bahagia. Namun apa yang bisa ku lakukan, Abah telah menjodohkanku pada salah seorang anak dari sahabatnya. Maafkan aku, terimalah ini seperti aku menerima keadaan yang sama. Jika memang Allah mengizinkan, tentunya barang tentu suatu hari akan ada jalan yang terindah untuk kita. Sekali lagi maafkan aku. Kau cukupkan saja permaianan kembang api yang setiap malam itu. Anggap saja ini kembang api terakhir. Sekali lagi maafkan aku.
Salam Zahra Aida Munif.”

Hari lamaran sudah tiba, Abah terlihat berseri dengan senyuman yang mengembang. Suasana pesantren mulai riuh dengan segala persiapan, Abah memerintahkan sebagian besar dari santrinya untuk ikut andil menyambut kedatangan calon menantunya itu, sungguh sekali pun aku tak pernah melihat calon pilihan Abahku. “Kau terlihat sangat anggun dengan balutan kerudung putih ini, Nduk,” aku hanya diam dan menyembunyikan air mataku dalam pelukan Abahku. “Ibumu tentu akan bahagia kalau ada di sini,”
“Sudahlah Abah, semua tamu sudah menunggu,”
“Baiklah, Abah akan menemui dulu, keluarlah nanti saat Abah memanggilmu,”
“Inggih, Bah,” Jawabku menerima.

Beberapa menit terdengar percakapan Abah yang samar-samar, terkadang sedikit gurauan membumbui percakapan di antara mereka, tertawa-tertawa kecil sering kali terdengar. Hatiku semakin tak menjadi saat Abah memanggil dan memintaku untuk ke luar menemui calon suamiku, ya calon imamku. “Zahra… Nduk. Ke marilah,” dengan masih menunduk aku berjalan perlahan dan tak berani mengangkat muka untuk melihat lelaki di depanku. “Ini loh, perkenalkan. Calon suamimu yang datang untuh meminangmu, namanya Gusti Rasyid Ghofur,” seketika aku mengangkat muka dan mataku berlinang saat melihat laki-laki yang meminangku.

“Mas Gusti,”

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Blog: akhldzatuhimmah.blogspot.com
Facebook: Bintu Aql

Cerpen Kembang Api Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ksatria Subuhku

Oleh:
Sepagi ini keramaian para santri menggugah panorama di asrama kecilku. Kajian kitab sehabis subuh, penghafalan Al-qur’an serta ejaan bacaannya menjadi salah satu rutinitas yang sebagian Mahasiswi kalanganku perminggu. Tak

Seruan Adzan Pemanggil Cinta

Oleh:
Kerumunan siswa dan siswi yang berjalan menuju mushola sekolah SMAN 2 Batu sangkar untuk menunaikan sholat berjamaah siang itu membuatku gerah. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu

Khitbah Cinta (Part 2)

Oleh:
Kami pun sampai di kos setelah menempuh perjalanan sejam lamanya. Sesampainya di kos, aku dan Nana langsung beranjak mandi lalu bersiap pergi ke masjid. Sesaat kumandang adzan maghrib terdengar

Ikhwan Yang Bersamaku

Oleh:
Aku menerima telepon dari sekolahku bahwa ijazah telah selesai. Aku pun diminta agar segera datang untuk mengambil ijazah tersebut. Aku langsung menelepon mama, memberi tahukan bahwa aku akan pulang

30 Detik

Oleh:
Itu dia. Sosok berbadan tegap dengan pandangan yang selalu lurus ke depan. Sosok yang melangkah cepat tanpa memedulikan wajah-wajah imut anak kelas sepuluh yang entah mengapa selalu siap menebar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kembang Api Terakhir”

  1. dinbel says:

    Waaaah, kerens ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *