Kenapa Harus Kamu? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 August 2016

Siang itu, kami dari ekskul sekolah, ikut berpartisipasi untuk menyaksikan festival dance tingkat kabupaten yang tengah digelar di gedung kesenian daerah. itu dikarenakan sekolah kami juga mengikuti ajang yang cukup bergengsi tersebut dan juga sekolah kami ingin mendapatkan piala bergilir untuk pertama kalinya, agar menjadi milik kami setelah latihan yang cukup menguras tenaga.
Namun sialnya, pagi itu sesampai di sekolah, sepeda motor yang sehari-harinya aku gunakan untuk sampai di sekolah, malah bertingkah. Yah.. motor ku rusak, alhasil untuk pergi ke festival tersebut, tentunya aku harus mencari seseorang yang mau untuk ditumpangi olehku, tak seperti biasanya, kali ini aku terlambat mencari ferdi.. karena ia telah duluan menaiki mobil anak musik yang akan berlomba nantinya. Akhirnya dengan berat hati, aku memberanikan diri untuk meminta tumpangan kepada ketua ekstrakurikuler yang cueknya selangggiiittt…!!!

Oh iya.. aku lupa memperkenalkan diriku.. namaku ziani tri hapsari.. tapi biasa dipanggil zizi. Dan ketua ekskul yang aku sebutkan tadi adalah sahabatku ketika kami masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Namun tidak lagi saat kami sudah memasuki bangku SMA. Aku mendengar banyak orang berkata bahwa masa putih abu-abu adalah masa-masa yang paling menyenangkan dan menyisakan banyak kenangan manis, karena disaat itulah banyak para remaja yang jatuh cinta atau sebagainya lah. Namun aku tak ambil pusing dengan semua itu, yang aku fokuskan sekarang adalah bagaimana meniti pendidikan yang benar-benar bisa membawaku ke kancah kesuksesan nantinya.

Okey, kembali kepada ceritaku yang sebelumnya.. pagi itu aku dengan hati yang cukup berat meminta tumpangan kepada ketua ekskul yang mana ia adalah mantan sahabatku dulu..
“kiki.. aku boleh nggak, perginya bareng kamu, soalnya motor aku lagi rewel nih.. kalo aku bawa kesana takutnya ntar ngambek di tengah jalan lagi tuh motor..” pintaku dengan sedikit menyembunyikan rasa maluku.
“boleh aja zi.. tapi kamu yang bawa ya?!! Hehe” jawab kiki dengan sedikit terkekeh.
“yah.. elah.. iya tau ki.. emang segitu gendutnya yah aku ki?” ujarku lagi dengan muka ditekuk.
“yah.. aku becanda kali zhi.. tapi emang bener sih kamu gendut.. hehehe” ledeknya lagi
“iya deh.. cukup tau.. yang penting aku perginya bareng kamu ya ki.. sekarang aku mau sarapan dulu.. habis sarapan baru pergi kan..!” ujar ku sembari berlalu dari hadapan kiki yang masih berdiri di samping ruangan majelis guru tersebut.

Tak kurang dari 15 menit, aku yang telah selesai sarapan pun, bergegas menuju ke meja piket, karena telah ada pengumuman kepada dua ekskul sekolah yang ditunjuk untuk menjadi suporter dari sekolah untuk mendukung teman-teman kami dari anak sanggar kesenian sekolah ketika berlomba nanti. Kami pun telah berkumpul di depan meja piket, untuk sekedar mengabsen sekaligus memastikan ketua dan anggotanya telah berkumpul untuk segera pergi ke gedung kesenian kabupaten. Aku selaku ketua organisasi kesenian yang sederajat dengan olahraga yang juga diketuai oleh kiki, juga ikut memastikan anggotaku yang tidak banyak untuk segera berangkat. alhasil kami berdua pun berangkat setelah anggota-anggota kami berangkat, (maaf ya.. bukan modus!! Tapi ketua harus mengawasi anggotanya dari belakang kan.. hehehe) kiki pun telah memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang biasa saja, yang menurutku itu terlalu lambat untuk menempuh perjalan sepanjang, lebih kurang dua puluh lima kilo meter.

Aku yang tengah menjadi boncengan kiki pun hanya diam, (takut salah tingkah atau salah ngomong, atau salah apa aja deh di depan dia.
Saat berboncengan dengan dia, aku jadi teringat cerita lama ku dulu ketika masih SMP, bagaimana tidak.. dulu aku begitu bawel ketika dekat dengan mantan sahabatku ini, kami sering berbagi cerita baik itu tentang pacar, tentang pelajaran bahkan kiki pernah meneleponku hanya sekedar memberitahu kalau waktu itu dia baru saja putus dengan pacarnya, membuat aku terkaget. Karena dia tak pernah menelepon sebelumnya. Namun sayang, itu semua hanya cerita lama, semua berubah semenjak kami dinyatakan telah lulus dari bangku sekolah menengah pertama, semuanya hilang, seperti ditelan bumi. Tak ada saling cerita, saling berbagi kabar, saling apapun lah itu.. tak ada sedikitpun hingga suatu saat kami kembali dipertemukan dalam satu garis ekskul di sekolah yang sama. Hahaha.. malah jadi flashback deh.

“kamu tau jalannya kan zi?” ujar kiki memecah keheningan.
“hah?, kan tadi kata ibuk di dekat SMP 1 cendrawasih kan?.. insya allah deh aku tau jalannya..” ujar ku pun seadanya.
“ya.. mau lewat mana nih? Jalan normal atau jalan motong nih zi, soalnya kita agak telat nih..”
“yah terserah kamu ki, kan yang bawa motor kamu, aku mah Cuma ngikut doang..” ujar ku lagi.
“iya deh.. kalo gitu kita ikut di belakang yang lain aja tuh.”
“iya deh ki.. oiya ki emang si eza, nggak bakal marah nih aku pergi bareng kamu…?” ujar ku sekena nya.
“nggak lah zi, aku kan udah nggak sama dia lagi..!” ujar kiki
“heh?.. loh, kok bisa?”
“yah bisa lah zi..”
“iya.. maksud aku kenapa? Apa sebabnya?” ujar ku penuh selidik.
“ih.. kepo kamu..” ujar kiki santai dengan gaya cueknya yang khas.
“ya deh, aku nggak kepo lagi..” ujar ku pun sambil menekuk mukaku..

Aku pun kembali membisu, hingga kami sampai di tempat tujuan, walaupun terjadi sebuah perdebatan kecil antara aku dan kiki. Perjalanan itu tak akan pernah aku lupakan. karena itu merupakan perjalanan pertama kalinya setelah sekian lama bersahabat, dan kini hanya sekedar pertemanan biasa yang membuat kami ada di kendaraan yang sama.

Acara pun telah dimulai, namun aku bersyukur, karena sekolahku belum tampil, sehingga kami bisa mendukung mereka saat nanti mereka tampil. Kiki pun berpesan agar mendokumentasikan dalam bentuk video saat sekolah kami nanti tampil. Dan aku pun langsung mengiyakannya. Giliran sekolahku yang akan tampil (yeay.. ini saatnya penonton alay bertindak.. hahaha.. dengan teriakan yang cetar membahana.. hehehe). aku pun meminta bantuan kepada adik kelasku untuk mengambil dokumentasi dance teman-temanku itu dalam bentuk video.
“yeeaaay… semangat SMA 15 Cempaka Putih..!!! pastii bisaaa!!” semua suporter yang telah diutus SMA ku pun mengeluarkan keahlian mereka, hahaha jadi penonton alay.. alias alayers.

Semua peserta telah tampil, begitu banyak karya anak bangsa yang sangat membuat decak kagum para pengamat seni hingga masyarakat awam yang hanya sekedar ingin menyaksikan sebuah pertunjukan seni. Saat-saat yang dinantikan pun, akhirnya tiba, yaitu pengumuman juara dari dewan juri, saat-saat yang menegangkan dan membuat jantung berdegup kencang.

Saat semua peserta mengukur seberapa kemampuan mereka dalam membuat sebuah karya seni, hingga mereka yang belum beruntung mendapatkan juara, bisa meningkatkan karya seni mereka agar lebih berkualitas lagi.
“juara 1 jatuh kepada… kepada… SMA 15 CEMPAKA PUTIH..!! selamat untuk pemenang yang akan melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional..!!” umum sang pembawa acara.
“yeeeaaay…!!! huuuuuu…” serentak semua suporter bersorak gembira.. dan so pasti itu adalah suporter dari sekolah ku yang hampir mengisi separuh dari ruangan ketika lomba itu. Namun yang membuat aku bangga, tidak hanya suporter dari sekolahku, penonton yang bukan dari suporter sekolahku juga bersorak dan bertepuk tangan, yang menandakan bahwa mereka juga mengakui bahwa sanggar kesenian dari sekolahku memang pantas menyandang gelar sang juara.

Akhirnya sekolahku pun pulang membawa kemenangan, namun ada sesuatu hal yang tak bisa kulupakan sepanjang perjalan hingga aku melewati rumah kiki. Entah mengapa getaran aneh itu kembali menggelayuti hatiku, setelah dua tahun lalu aku menyatakan perasaan itu dan membuat aku menjadi canggung untuk kembali berbicara dengannya.
“zi, kita pulang yuk, kan acaranya udah selesai!” ajak kiki
“iya ki, bentar..” sahutku sambil merapikan tas dan jaket ku.
“udah siap?..”
“udah.. ya udah ayuk berangkat..!!” ujarku

Kiki pun mulai memacu kendaraannya, awalnya bisu kembali menghiasi perjalanan pulang kami waktu itu, namun entah mengapa, aku merasa tidak nyaman dengan suasana itu, hingga keluar kata-kata yang begitu spontan dari mulutku.
“oia ki, cita-cita kamu masih jadi polisi?!” tanyaku agak sedikit gugup, takut kalau topik perbincangan yang aku ajukan tidak menarik untuk diperbincangkan dalam perjalan pulang waktu itu. Namun kiki menjawabnya dengan sigap,
“nggak sih zi, kalo polisi mah jadi pilihan kedua dulu, aku mau coba ilmu pemerintahan zi, kali aja bisa jadi gubernur, untung-untung jadi presiden, hehehe..”
“oh.. aku kira kamu ngebet banget pengen masuk polisi, kayak waktu masih SMP dulu gitu..” jawabku sekenanya.
“yah.. begitulah remaja labil zi, oia ngomong kamu sendiri habis SMA mau nyambung kemana rencananya?” tanya kiki balik kepadaku.
“mamaku maunya aku ke kedokteran, ya do’ain ajalah ki, untung-untung jadi dokter beneran aku.. hihihi..” jawabku asal-asalan

Begitu banyak hal yang kami perbincangan di jalan ketika pulang, namun ada suatu kejadian yang menurutku begitu menyebalkan, menyenangkan dan sangat mengejutkan. Bagaimana tidak?! Begitu kami sampai di gerbang sekolah, kiki langsung mengantarkanku sampai tepat di depan sepeda motorku, mungkin bagi kalian ini merupakan hal biasa, namun bagiku ini terlalu istimewa, bayangkan saja, selama kami bersahabat sejak masih di bangku SMP aku tidak pernah pergi bersamanya, menyebalkan karena motorku membuat ulah yang membuatku panik dan menggerutu saja, pasalnya motorku benar-benar rusak alias tidak mau hidup, namun yang yang paling menyenangkan sekaligus mengagetkanku, adalah..

“zi.. nih udah aku anter sampe alamat kan.. hehe” ujarnya begitu tepat berada didepan sepeda motorku..
“iya deh ki, makasih banyak yah, maaf ngerepotin.” jawabku sambil langsung mendekati motor dan langsung menyalakannya, namun kiki massih belum pergi dari hadapanku.
“motor kamu kenapa zi?”
“hmm.. nggak tau nih ki, kayaknya ngambek lagi deh.. nggak mau digas nih dia..!! gimana bisa jalan nih.!!” ujarku sambil berusaha mempreteli motorku agar kembali baik dengan wajah yang cukup panik.
“emang kenapa sih? Sini aku coba hidupin!!” ujar kiki langsung menggantikan posisiku.
“yah..!! maaf ya ki ngerepotin kamu,”

Setelah mencoba beberapa kali, namun hasilnya masih tetap nihil, dan aku juga merasa tak enak untuk merepotkan kiki.
“sini deh biar aku bawa ke bengkel kemaren, kamu bisa pulang kok, karena bengkelnya nggak jauh kok dari sekolah kita..!!” ujarku lagi, karena merasa benar-benar tidak enak untuk merepotkan kiki untuk kedua kalinya.
“udah, kamu bawa motor aku aja, nih.. biar aku yang bawa motor kamu, lagian bengkelnya nggak jauh dari sini kan?” ujar kiki sedikit memaksa untuk membawa motorku.
“yah ki, maaf yah, udah ngerepotin kamu lagi.. tapi serius loh ki kalo kamu mau pulang nggak apa-apa kok, aku bisa bawa sendiri motornya ke bengkel..?!” ujarku lagi dengan nada sedikit menjelaskan
“udah lah zi, bawa aja motor aku.. lagian ini udah kerjaan cowok juga kok..” ujar kiki sambil mendorong motorku
“hmm, ya ki,” makasih ya.. ki.. maaf aku udah ngerepotin kamu, aku benar-benar nggak mau ngerepotin kamu, karena ingin menjauh dari kamu ki, aku ingin melupakan semua kenangan itu, aku nggak mau rasa itu tumbuh kembali, ujarku dalam hati. Sambil mengikutinya dengan motor miliknya dari belakang dengan perasaan masih sedikit bersalah.

“udah sampe ki, kalo kamu mau pulang nggak apa-apa kok, lagian kan udah di bengkel, jadi insya allah nanti motornya bakalan selesai kok sama montirnya..” ujarku agar kiki tak lagi menuggu hingga selesai memperbaiki motorku.
“udah nggak apa-apa kok, selesain aja dulu.. biar aku tungguin..” dengan nada yang sedikit meyakinkan kalau ia benar-benar tak merasa direpotkan.
“kamu yakin ki, ini bakalan lama loh,” ujarku lagi sedikit mengingatkan
“iya, nggak apa-apa kok zi..!”
“hmmmm, ya udah deh, kalo emang kamu maunya gitu..”

Aku pun menghampiri sang montir,
“bang.. ini motor kenapa ngambek lagi?. padahal kan baru juga kemaren aku perbaiki disini?!” ujarku sedikit kesal karena pekerjaan sang montir yang kurang beres.
“oh iya dek, mungkin kemaren itu ada yang kurang kuat bagian mor mesinnya, sini biar saya betulin dulu..” ujar sang montir kepadaku.
“iya deh bang, tapi benar yah bang, betulin motornya sampe beres.. kalo nggak saya jadi repot bang, harus bolak balik bengkel terus..” ujar ku lagi.
“sip.. beres atuh dek..!!”

Aku yang sembari menunggu sang montir memperbaiki motorku, kiki pun sibuk berbincang dengan salah seorang temannya yang kebetulan sedang memperbaiki motornya. aku yang tidak cukup dekat dengannya, hanya memperhatikannya yang sabar dan rela menunggu ku selesai memperbaiki motorku.
‘coba aja kamu tau ki, kalo dulu itu aku dekatin vino, buat ngedekatin kamu, karena kalian adalah sahabat, jadi aku pikir lebih baik mendekati sahabatnya terlebih dahulu.. namun langkah yang aku lakukan salah, ternyata aku malah terjebak dengan rencanaku sendiri, aku malah terkesan memberi harapan kepada vino, hinga akhirnya dia menyatakan perasaannya kepadaku, dan saat itu aku yang tidak tega menolaknya, hanya mengiyakannya, betapa salahnya aku dulu. karena menerima laki-laki yang membuat hubungan kami seakan-akan menggantung di udara, dan aku yang tidak nyaman dengan posisi yang tidak jelas pun langsung mengambil keputusan untuk tidak lagi bersama dengannya.’ suara hatiku kembali bergeming sembari membayangkan masalalu ku.

“udah selesai nih dek,” suara sang montir mengejutkan ku yang tengah melamun.
“oh.. iya bang, biar aku coba dulu ya motornya,” ujar ku untuk memastikan.
Setelah aku menyalakan motor tersebut, akhirnya kami pun beranjak untuk pulang.
“makasih ya bang, motornya langsung aku bawa aja.. ini nggak aku bayar yah, karena kemaren udah aku bayar kan,” ujarku lagi..
“iya dek sama-sama.. nggak apa-apa kok, itu juga kesalahan saya,” sahut sang montir.

Aku pun menghampiri kiki yang tengah berbincang dengan temannya, untuk memberitahukan bawa motorku telah selesai diperbaiki,
“maaf ki, ganggu, tapi alhamdulilah, motorku udah selesai diperbaiki tuh..!”
“oh iya deh.. kalo gitu kita pulang yah, sebentar” ujarnya agar aku menunggunya, karena tampaknya ia sedang berpamitan kepada temannya.
“ya udah, yuk pulang..” ajak kiki.
“iya..” jawab ku singkat.

Cerpen Karangan: Fauzia
Facebook: fauzia mely ermanda
the first time for me to wirte the short story specially about love

Cerpen Kenapa Harus Kamu? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Berawal dari MOS di SMA

Oleh:
Namaku Nayfa Saraswati umurku baru 16 tahun, dan aku baru saja diterima di SMA Negeri favorit di daerahku. Di pagi hari yang cerah aku berangakat ke sekolah, dengan mengendarai

Lebih Baik Memaafkan

Oleh:
Beberapa orang yang saling bersatu. Itulah yang ku sebut kelompok. Orang-orang yang ada di dalam kelompok itu, akan berusaha untuk menjaga keharmonisan antar anggota kelompoknya, dengan cara meningkatkan kekompakan,

5 Hari Tanpa Dirimu

Oleh:
Saat itu tengah diselenggarakan Raimuna Cabang. Aku dan teman teman berada di homestay. Saat itu aku sedang belajar untuk LCTP. Kulihat dia sedang bergegas untuk pulang. Aku bersandar di

Love Hour (Part 4)

Oleh:
Segelas teh limun dingin menyegarkanku kembali setelah berkutat dengan dua matakuliah memusingkan di hari Senin ini. Kevin nampak menikmati biskuit gandum krim cokelatnya -satu pak ukuran besar yang nampaknya

Kepala Madrasah

Oleh:
Baru kali ini aku merasa betah dengan kepala Madrasahku. Namun bukan berarti kepala madrasahku yang dulu-dulu membosankan atau menjengkelkan ya, karena hakikatnya kepala madrasah pula seorang guru. Yang wajib

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *