Kepergian Pelangi Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 26 October 2015

Nama aku Zakia Fitri Aisya. Aku sekolah di SMAN favorit di Banjarmasin. Tapi sayang aku tidak mempunyai teman akrab cuma sebatas teman biasa namanya Marina, dan Indah. Aku cuma punya sahabat akrab waktu aku SD sampai sekarang dia Aryani dan Ninda. Tapi sayang aku dan sahabatku itu beda sekolah.

Hari ini hari pertama aku masuk ke sekolah baru. Aku masuk ke kelas itu dengan perlahan dan duduk di barisan depan. Kebetulan di sana ada seseorang yang mau sebangku sama aku namanya Nia.
“Kalau boleh tahu nama kamu siapa?” kata Nia.
“Namaku Zakia Fitri Aisya, terserah aja mau dipanggil apa dan nama kamu siapa juga?” jawabku.
“Baik, perkenalkan namaku Nia Fatra Mala Sari Kurnia Arum. Aisya lulusan sekolah mana?” kata Nia.
“waw panjang banget nama kamu Nia. Dari SMP Pelita Negeri 1.”
“iya kebetulan aku ada turunan jawa jadinya agak panjang namanya baru kamu ini yang jadi sahabat aku,” kata Nia.
“iya aku mau ke luar dulu ya,” kataku.
“Iya aku mau menemuin teman aku juga bye,” kata Nia.

Benar-benar bingung aku sungguh asing berada di sekolah ini. Dan jujur aku tak sedikit pun bisa bersosiolisasi dengan mereka. Tiba-tiba datanglah seorang cowok dia berdiri dengan tegap dan rupanya yang teramat indah. Ternyata dia pindahan sekolah dari SMA di Bandung. Dia mulai masuk ke ruang kepala sekolah melapor dan katanya mau masuk di kelas aku yaitu kelas X-D. Aku mulai masuk ke kelas lagi dan Ibu mulai memperkenalkan anak baru dan dia langsung memperkenalkan diri.

“Perkenalkan Nama saya Yusuf Syarif Hidayatullah. Saya pindahan dari sekolah di Bandung,” kata Syarif.
“silahkan duduk di samping Aisya. Nia pindah duduk sama Yogi sekarang duduknya mau Ibu rolling. Jadi semuanya bisa lebih akrab,” kata Ibu guru.
“iya Ibu.” jawab Nia.
“Boleh kan aku duduk di samping kamu Aisya?” kata Syarif.
“Boleh aku tidak melarang kok salam kenal ya,” kataku.
“iya” jawab Syarif.

Ibu guru pun menjelaskan tentang pelajaran Biologi. Kami memperhatikan penjelasan Ibu Guru. Selang berapa lama kami langsung pergi untuk Istirahat. Aku mulai menuju ke Perpustakaan Sekolah sambil mencari buku-buku tentang pelajaran. Tak ku sangka cowok itu mengikuti aku dari belakang seakan mau mencari teman. Aku tak menyadari keberadaannya di belakang aku.

“Aisya, bolehkan aku berteman sama kamu. Jujur aku kurang menguasai bahasa banjar di sini,” kata Syarif.
“Boleh,” kataku.
“Aisya mau kan habis dari perpustakaan ini aku mau ngajak kamu makan ke kantin,” kata Syarif.
“Emm, tidak usah Syarif nanti merepotkan kamu,” kataku.
“Tidak mengapa aku senang melihat kamu. Terutama wajah kamu itu yang manis dan bersahaja. Tahu tidak di saat aku memilih kelas kamu itu. Aku melihat kamu duduk di muka kelas itu. Satu orang pun tak ada yang mau jadi teman kamu bahkan seakan hanya sekedar menyapa. Aku tahu kamu seperti apa meskipun kita baru ketemu,” kata Syarif.
“Aduh aku biasa aja Syarif. Tidak ada hal yang istimewa padaku,” kataku.
“Ayo Aisya kita langsung ke Kantin,” kata Syarif. Aku pun dan Syarif langsunglah ke Kantin.

Sejenak cewek di samping aku seakan tak percaya melihat aku dan cowok itu.
“hai cowok tampan rasanya kamu tidak pernah kelihatan di sekolah ini,” kata Fitri. Namun Syarif hanya diam dia seakan tak mau menjawab.
“Iya dia Pindahan,” Jawabku.
“Aduh kenapa kamu sih yang jawab. Ya udah deh aku tinggalkan aja kalian berdua yang lagi pacaran,” jawab Fitri.
“Aduh salah paham lagi dia Syarif antara aku dan kamu,” kataku.
“Ya udah makan Aisya Mie Ayam nanti keburu dingin dan lonceng lagi,” kata Syarif.
“iya” jawabku.
Langsung sajalah aku menghabiskan makanan itu dan Syarif langsung membayarkan makanan aku dan kami langsung beranjak ke kelas.

Tak berapa lama Akhirnya bel berbunyi dan kami langsung langsung beranjak ke luar kelas. Aku pun berjalan mau ke luar kelas dan mau menelpon abah mau minta jemput pulang dan Syarif tiba-tiba mendengar perkataanku.
“Aisya pulang sama aku saja,” kata Syarif.
“Apa tidak merepotkan kamu lagi pula aku tidak membawa helm hari ini,” kataku.
“jangan khawatir kebetulan aku selalu bawa 2 helm tadi menjemput Mama aku ke pasar sebelum berangkat sekolah,” kata Syarif.
“Alhamdulilah aku duduk di atas kendaraan kamu ini,” kataku.
“iya, sebelum kita pulang ke rumah aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke Duta Mall,” kata Syarif.
“Tidak usah Syarif kebetulan aku hari ini mau mengerjakan tugas matematika. Apa kamu mau ikut?” kataku.
“Boleh aku kebetulan mau mengejar ketinggalan pelajaran itu,” kata Syarif.

Akhirnya sampailah aku di rumah.
“Makasih ya untuk hari ini,” kataku.
“sama-sama nanti sore aku mau ke rumah kamu ya,” kata Syarif.
“iya hati-hati di jalan ya,” kataku.
Setelah itu aku langsung masuk ke rumah dan langsung ke kamar.

Jujur ku akui aku merasa ada sesuatu yang berbeda setelah kehadirannya. Aku merasa sangat nyaman saat bersamanya dan aku akui hal itu. Jam mulai menunjukkan Pukul 16.00 WITA. Aku mulai siap-siap untuk salat Ashar. Setelah sudah salat. Tiba-tiba terdengar dari balik pintu ada yang mengetok pintu Rumahku.
“Assalamualaikum,” kata Syarif.
“Waalaikumussalaam. Maaf ya menunggu aku lama,” kataku.
Langsunglah kami memulai belajar matematika. Tak sengaja aku dan dia bertatap-tatapan.

Akhirnya selesai juga belajar kami hari ini dan Syarif pun bersiap untuk pulang.
“Aku pamit pulang dulu ya. Dimana Ayah dan Ibu kamu?” kata Syarif.
“Kebetulan Ayah dan Ibu Aku lagi bekerja,” kataku.

Setelah dia beranjak pergi dari rumahku datanglah Ayahku ke Rumah. Marah-marah tidak jelas dan memukul aku. Sungguh aku tak tahan berada di Rumah dengan keadaan seperti ini. Aku langsung berlari menuju kamarku. Aku lupa belum minta nomor hp cowok itu. Alhasil Aku cuma bersedih hati di kamarku. Tiba-tiba dari luar Jendela ada Syarif ternyata dia datang untuk membuat aku tersenyum kembali dan mau minta nomor hp aku.
“Aisya ayo kita jalan-jalan ke luar aku mau menunjukkin kamu sesuatu kamu boleh mengajak Adik kamu dan aku mau minta nomor hp kamu,” kata Syarif.
“Iya aku ajak Hida ya ke luar sana. Ini nomorku” sambil aku serahkan hp-ku ketangan Syarif.

Aku kuncilah kamarku dan aku langsung pergi menuju pintu belakang kamarku. Kebetulan Ayah dan Ibuku tak tahu aku punya pintu rahasia.
“Tahu tidak coba lihat di atas langit itu bagus kan ada bintang bertaburan dan apalagi bulan itu dia sama seperti kamu. Seperti mempunyai cahaya dimana cahaya itu adalah seorang penyemangat. Aku tahu kamu lagi banyak masalah aku mau selalu di samping kamu saat kamu sedih ataupun bahagia. Ini hp kamu,” kata Syarif.
“Iya makasih,” kataku.
“Kakak ciyee yang lagi pacaran. Tenang kok ka aku tidak bilang sama Ayah apalagi Ibu,” kata Hida.

Kami mulai menyusuri jalan itu dan tiba di sebuah taman yang bagus banget pemandangannya.
“Bagus banget kak pemandangannya,” kata Hida.
“Makasih Adik cantik. Selalu jaga Kakakmu ya di Rumah. Kalau di Sekolah tenang saja ada Kakak,” kata Syarif.
“Iya kak,” kata Hida.
“Aisya kok kamu diam,” kata Syarif.
“Tidak kenapa-kenapa kok,” jawabku.
“tadi kak, kak Aisya dipukuli sama Ayah makanya dia tidak mau bilang sama Kakak,” kata Hida.
“Kenapa Aisya kamu tidak cerita sama aku tentang hal ini. Lebih baik kamu tinggal di rumah Nenek aku kalau keadaannya seperti ini. Aku yakin kamu trauma banget makanya kamu diam seperti ini,” kata Syarif.
“tidak aku tidak mau buat mereka khawatir yang jelas nanti aku mau izin jadi bisa langsung ke rumah Nenek kamu,” kataku.

“Ayo kak kita Pulang nanti dicariin Mama loh,” kata Hida.
“iya, aku mau pulang dulu ya. Makasih untuk hari ini Pelangi,” kataku.
“Pelangi? kan pelangi itu tiap hari hujan baru muncul,” jawab Syarif.
“karena bagiku Pelangi itu selalu ada tiap aku ada guyuran hujan kau muncul seketika seperti pelangi,” kataku.
“kamu itu bisa aja bidadariku,” kata Syarif.
“Apa bidadari? Ada-ada aja kamu,” kataku.
“kan kamu bidadari yang datang di saat aku mengagumi semua yang terpancar dari dirimu,” kata Syarif.
“iya deh aku paham sudah maksudmu pelangi,” kataku. Aku dan Adikku langsung pulang ke rumah.

Pagi harinya aku mulai bersiap untuk ke sekolah. Tiba-tiba di depan ada Syarif menjemput aku di muka rumah.
“Aisya sepertinya itu teman kamu di muka rumah,” kata Mama.
“Iya ibu,” kataku. Aku langsunglah menghabiskan makananku dan pamit dengan Ayah-Ibuku.
“Syarif, kenapa pagi-pagi ke rumah aku?” kataku.
“Aku mau bareng berangkatnya sama kamu,” kata Syarif.
“Aduh itu kan kamu lagi. Pasti aku merepotkan kamu terus,” kataku.
Langsunglah aku berangkat dengan pelangi dan sampailah aku di sekolah.

Kami langsung pergi ke kelas. Ternyata Ibu guru masuk dan langsung mulai menjelaskan pelajaran. Aku memperhatikan penjelasan dari guru. Akhirnya selesai juga pelajaran hari ini. Dan bel istirahat pun berbunyi aku duduk di muka taman sekolah. Tiba-tiba di sana ada seorang cowok yang menghampiri aku.
“Assalamualaikum, boleh nggak aku duduk di sini?” kata Dede.
“Boleh, silahkan. Tidak ada yang melarang kok,” jawabku.
“Ngomong-ngomong baru kali ini aku melihat kamu ke taman ini?” kata Dede.
“iya kemarin aku memang belum pernah ke sini cuma ke perpustakaan. Aku pun baru tahu di sini ada taman. Tenang banget di sini.”

Tak sengaja aku pun terlelap di meja taman itu. Karena suasananya yang dingin dan angin yang sepoi-sepoi di sana.
“hei bagun,” kata Dede. Namun sejenak Dede memfoto aku yang lagi terlelap.
“Ternyata dia manis juga ya dan cantik dilihat seperti ini. Baru kali ini aku tertarik sama cewek seperti dia,” kata Dede.
Aku pun terbangun mendengar suara kamera itu. “Ya rab, aku tertidur. Aduh malu ketahuan kamu lagi,” kataku.
“Tak apa kalau boleh aku tahu siapa nama kamu?” kata Dede.
“Nama aku Zakia Fitri Aisya kalau nama kamu siapa?” kataku.
“Namaku Dede Ansyari. Aku kelas XII IPA. Kamu jurusan apa?” kata Dede.
“Aku masih kelas X kak jadi belum tahu jurusan apa.” kataku.

Tiba-tiba dari belakang ada Syarif dia menarik tanganku.
“Ayo kita ke kelas sebentar lagi bel berbunyi,” kata Syarif.
“Iya aku masuk kelas dulu ya kak,” kataku. Kakak itu tersenyum melihat aku dan Syarif yang sangat akrab layaknya seorang pacar.
“Kamu kenapa tadi ke taman tidak mengajak aku?” kata Syarif.
“iya maaf Syarif aku tidak bilang sama kamu,” kataku.
“Ya udah tak apa,” kata Syarif.
Saat itu juga Ibu matematika membagi kelompok seraya menyuruh kami mengumpulkan tugas kemarin. Aku dan Syarif ternyata satu kelompok.
“Tugasnya harus kalian kumpul untuk 2 minggu nanti,” kata Ibu.

Setahun kemudian.

Akhirnya sekarang aku kelas XI IPS 1 begitu juga Syarif. Kebetulan sebentar lagi mendekati Ujian semester. Tapi hal yang membuat aku kaget adalah pelangi yang katanya mau pindah sekolah nanti ke bandung kelas XII IPS 1. Sungguh aku tak percaya akan hal itu dan aku pun tahu hal ini dari Ni’mah teman sekelasku.
“Aisya, kenapa kamu melamun?” kata Syarif.
“Pelangi kenapa kamu tidak jujur sama aku?” kataku.
“Jujur untuk apa?” kata Syarif.
“jujur kamu katanya mau pindah lagi ke Bandung,” kataku.
“iya Ais aku tidak tega meninggalkan kamu namun aku ingin kuliah nanti bisa bersama kamu,” kata Syarif.
“kamu janji kan pelangi,” kataku.
“iya aku janji dan aku mohon sama kamu jangan sedih bidadariku. Aku mau kamu nanti mengantarkan kepergianku ke bandara,” kata Syarif.
“iya aku pasti mengantarkan kamu pelangi,” kataku.

Tak berapa lama kami pun beranjak dari kursi di depan kelas dan mau beranjak ke apung sekolah kami.
“Aisya ayo kita foto-foto buat kenangan di sini bersama dengan Ni’mah dan teman sekelas kita,” kata Syarif.
“boleh banget,” kataku.
Langsunglah di sana aku dan teman-temanku berfoto bersama.
“Ayo Aisya kita foto bareng bersama,” kata Syarif.
“Boleh, Pelangi,” kataku.
Setelah berfoto kami langsung ke kelas lagi dan duduk di kelas kami lagi.
“Aisya pulang bareng aku ya, aku mau mengajak kamu ke satu tempat yang bagus,” kata Syarif.
“Iya tapi di mana?” kataku.
“pokoknya lihat setelah kita pulang nanti,” kata Syarif.
Akhirnya berakhirlah belajar hari ini. Aku dan Syarif ke tempat yang bagus banget. Ternyata di sana bagus banget pemandangan di Bunga Rose.

“bagaimana Aisya bagus kan?” kata Syarif.
“Iya bagus banget apalagi di sana bunganya terutama pohon yang rindang,” kataku.
“Alhamdulilah kamu senang,” kata Syarif.
Di sana aku termenung sejenak sambil menatap ke arah Syarif. Aku tak menyadari aku jatuh cinta dengannya. Aku pun tak tahu ternyata dia merasakan apa yang aku rasa.
“Kenapa Bidadari melihat wajahku? Apa ada yang aneh?” kata Syarif.
“Tidak kok cuman. Aku pasti kangen berat sama kamu kalau kamu tidak ada di sini lagi,” kataku.
“Jangan sedih bidadari aku pasti akan selalu ada di hati kamu,” kata Syarif.
“Iya, kita pulang yuk Syarif,” kataku.
“Iya Aisyah. Tak berapa lama lagi minggu depan kita ulangan semester Aisyah,” kata Syarif.
“Iya kita harus semangat,” kataku.
“ya, semangat bidadariku,” kata Syarif.

Akhirnya hari ini sudah selesai ulangan semester dan aku tahu hari ini keberangkatannya ke bandara. Aku ikut naik sepeda motornya dan keluarganya kenal sangat baik denganku juga ikut mengantarkan dia ke bandara dengan Ibu dan Bapaknya.
“Jaga diri kamu baik-baik ya bidadariku. Aku pasti di sana sangat merindukan senyum dan tawa kamu,” kata Syarif.
“Iya kamu juga ya pelangi. Ini ada sesuatu buat kamu ku harap kamu selalu ingat dengan benda ini. Nanti dibuka ya apabila udah sampai di rumah kamu dan kabari aku pelangi,” kataku.
“iya bidadariku ini juga untuk kamu nanti di buka juga ya,” kata Syarif.
“Tante, Om, Pelangi, semoga kalian sampai dan selamat sampai tujuan,” kataku.
“Amin, makasih Anakku Aisya. Ibu sayang banget sama kamu dan rasanya Ibu ingin bawa kamu ke Bandung. Terutama Ayah Syarif juga sayang sama kamu. Kebetulan Syarif banyak cerita sama Ibu dan Bapak. Nanti Aisya pulang sama Edo ya keponakan dari Ibu,” kata Ibu Syarif.
“makasih banyak ibu,” kataku. Lalu aku bersalam-salaman dengan Ayah, Ibu, dan Syarif.

Akhirnya Ayah, Ibu, dan Syarif beranjak untuk ke Pesawat. Sungguh aku sangat lega namun entah kenapa hatiku tidak baik serasa ada sebagian yang hilang setelah kepergiaannya. Lalu aku pulang dengan Edo dan Akhirnya sampai di rumah. Lalu aku langsung ke kamarku teringat dia pernah menenggokku di muka Jendela. Sungguh aku merasakan kehilangan teramat mendalam. Dia pun tak tahu perasaan aku sebenarnya aku sebenarnya sayang dan cinta banget kepadanya.

Langsungku ambil air Wudu untuk salat Ashar. Setelah selesai salat aku berdoa.
“Ya Allah semoga dia selamat sampai tujuan amin.” Alhamdulilah setelah dibawa salat perasaanku tenang dan apalagi sesudah itu aku mengaji.
“Kak Aisya, dimana ka Syarif? Tidak seperti biasanya Kakak tidak bareng pulang sama dia apa tadi Kakak bareng dia ke bandara,” kata Hida.
“Dia berangkat dan pulang ke Bandung adekku tersayang,” kataku dengan ekspresi sedih.

Malam hari yang bertaburan dengan bintang mengingatkanku kepadanya. Dia yang selalu ada di sisi aku. Mewarnai hari dan mimpi-mimpiku. Kisahku yang tergores indah saat ada dan datang kehadiran pelangi. Aku memulai membuka kado dari pelangi.
“Alhamdulilah ternyata kadonya bagus banget ada gelang, liontin cinta, dan baju kesukaan aku,” kataku.
“Bagus banget kak hadiah dari Kakak Syarif,” kata Hida. Aku sangat bingung apa makna liontin di dalamnya. Dan aku mulai beranjak untuk tidur dengan adekku. Tiba-tiba Pelangi sms aku dan mengabari katanya dia sudah sampai di Bandung. Alhamdulilah dia baik-baik saja.

Isi sms Syarif:
“Makasih Atas hadiah Peci, Baju koko, dan gelangnya aku pasti kan pakai dan gunakan barang ini baik-baik.
Pelangi-Syarif”

Pagi hari burung berkicau dengan merdunya hari ini hari yang tidak biasa bagiku. Aku sekarang kelas XII IPS 1. Aku berangkat naik angkotan umum dan sampailah di sekolah. Tiba-tiba di sampingku ada Edo sepupu dari Syarif.
“Aisya, kamu kenapa murung begitu?” kata Edo.
“Tidak apa-apa,” kataku.
Langsunglah aku menghindar dan beranjak menjauh dari Edo. Aku bingung kenapa dia tidak mengkabari aku dia sampai atau tidak di Bandung. “Apa dia sudah melupakan aku?” gumamku dalam hati. Aku duduk di kelas sendiri dan ternyata Edo Andrian Putra pindah di kelasku dan katanya mau duduk di samping aku. Sungguh aku pun bingung kenapa dia mendekati aku.
“Aisya tak mengapa kan aku duduk di samping kamu?” kata Edo.
“ya tak apa,” kataku.

Kami langsung ke luar kelas kebetulan hari ini guru Ekonomi berhalangan hadir dan kami mengerjakan tugas di perpustakaan.
“aku ingat saat-saat aku pertama ke perpustakaan ini sama Syarif,” kataku.
“sabar Aisya,” kata Imay.
“Iya aku tahu perasaan kamu Aisya sabar di sini masih banyak yang mau berteman sama kamu termasuk kami-kami ini,” kata Fitriah.
“makasih teman-teman kalian sudah mau jadi teman aku.”
Setelah selesai mengerjakan tugas aku langsung berjalan menyusuri kantin di mana aku dan Syarif pernah makan. Lalu melewati pepohonan dan indahnya pemandangan di Taman serta terakhir di Apung sana aku berfoto bersama dia. Sungguh baru aku sadari dia orang yang telah mencuri hatiku. Aku benar-benar merasakannya sekarang. Saat dia pergi seakan hatiku seperti dibawa pergi olehnya sungguh aku tak tahu bagaimana perasaannya terhadapku.

Memang saat kepergian Pelangi hatiku sangat dilema dan tak mengerti. Serasa tak punya warna-warni hidupku. Saat aku termenung sendiri seperti ini dia tiba-tiba datang mengejutkanku dan membawa sebuah untaian kata dan senyuman teramat manis. Hal itu yang tak mudah aku lupa. Meskipun sekarang berbeda jarak antara Bandung dan Banjarmasin. Namun aku tetap yakin dia di sana pasti sedang mengingatku dan mengingat semua hal tentang aku. Hatiku merasakan banget saat angin menerpa sebagian wajahku. Serasa Pelangi ada di samping aku. Aku teringat perkataan pelangi.
“Bila kau kangen terhadapku bayangkan aku ada di awan sana dan ketika hujan telah berhenti apabila ada pelangi muncul aku ada di sana tersenyum dan memandang kamu dari kejauhan.”

Cerpen Karangan: Siti Aisyah
Facebook: Nasya Aninditad’bagindaria Loveeh
Nama saya Siti Aisyah. Sekarang saya masih Kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Saya tinggal di Jalan Setia Rt 10 No 32 Pemurus Dalam Banjarmasin. Saya suka banget menulis Puisi apalagi Cerpen. Termasuk yang berhubungan dengan tulis-menulis.

Cerpen Kepergian Pelangi Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Here For You

Oleh:
“hoamm…” tubuhku menggeliat meregangkan otot-otot. Selimut tebal masih melingkati dan menutupi badanku. Aku masih merasakan kantuk yang mendalam… Tapi apa boleh buat, aku harus bangun. Walaupun masih terasa sangat

Sudah Cukup

Oleh:
“Lo gak ikut nyokap-bokap lo ke Paris Fan?” Tanya Bram, si vokalis band Pro Fine, kepada salah seorang personil Pro Techo yang baru datang di studio pribadi Pro Fine.

Bye Teacher

Oleh:
Pagi ini cuaca sangat berkabut, pagi yang seharusnya cerah malah berubah menjadi suram. “Danea sayang ini sudah jam 7! lekas berangkat!” ujar bunda memarahiku, segera kubawa tas dan mengayuh

Mengagumimu Dalam Diamku

Oleh:
Perkenalkan namaku Zahra, gadis pendiam dan sulit dalam bergaul. Ya, karena teman-temanku banyak yang mengatakan bahwa aku ini KUPER (KUrang PERgaulan). Akan tetapi, di balik sisi pendiamku aku ini

Jodoh Dari Bapak

Oleh:
“Hallo… Assalamu’alaikum, Nduk.” Terdengar suara dari handphoneku. Suara yang sangat aku kenal dari seorang lelaki paruh baya yang aku panggil Bapak. “Wa’alaikumsalam, nggih Pak, wonten dawuh punopo?” Jawabku. “Ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *