Ketika Cinta Mengajarkan Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

“Cinta? Apa itu cinta? Banyak orang berkata bahwa cinta itu tulus. Menerima apa adanya. Tapi apa faktanya. Tak semua laki-laki yang bisa nerima aku apa adanya. Semua insan hanya memandang fisik. Mereka hanya mencintai kecantikan fisik.”

Inilah yang terus dipikirkan Aisyah. Gadis remaja berusia 16 tahun, yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMA Harapan bangsa kota Bandung Jawa Barat. Dalam hatinya, ia terus berkata akan arti cinta sesungguhnya. Masa SMA adalah masa yang indah. Begitulah para remaja berkata. Banyak kisah kasih di sekolah yang terjadi. Banyak perubahan fisik dan sikap yang terjadi pada mereka. Semua itu tergantung akan pengaruh lingkungan di sekitar mereka. Hal ini juga yang dirasakan oleh Aisyah. Saat ini ia nampak terpukul akan nasib dirinya. Dia masih dihantui api cemburu karena kejadian satu tahun yang lalu. Saat itu ia telah mengalami jatuh cinta kepada temannya satu sekolah. Namanya Randy.

Sudah cukup lama mereka kenal dan mereka dekat, hingga akhirnya pun akhir semester dua waktu kelas 10 dulu, mereka jadian. Tapi tidak lama, setelah satu minggu mereka pacaran, mereka akhirnya putus. Hal ini membuat Aisyah terpukul dan kecewa. Karena Randylah cinta pertamanya dan Randylah yang dianggapnya bisa nerima Aisyah Apa adanya. Tapi pikiran itu salah. Randy memutuskan Aisyah dengan perkataan yang membuat aisyah merasa dirinya Tidak dihargai sebagai perempuan. “Maaf ya, hubungan kita cukup sampai di sini aja. Aku sudah bosen dengan kamu. Dan aku juga sudah dapat cewek yang lebih cantik yang gak sebanding dengan kamu.” Inilah yang dikatakan Randy pada Aisyah.

Masih teringat akan kejadian itu, Aisyah pun berusaha merubah dirinya. Ia berpikir bahwa apa pun akan bisa ia dapatkan dengan kecantikan. Ia pun merubah gaya hidupnya. Tanpa dirasanya ia sudah masuk ke dunia remaja yang salah. Cara berpakaiannya pun sudah tak sesuai dengan syariat islam. Bahkan sekarang dia sering berkumpul dengan teman-temannya di dunia malam. “Aku harus berubah. Aku harus seperti mereka. Hidupku harus happy. Dan kecantikanlah yang bisa buat aku happy. Pokoknya, aku harus bisa jadi maskot di sekolah ini. Aku harus bisa membuat cowok-cowok di sekolah ini tertarik denganku.” Kata Aisyah dalam hati.

Lama waktu berjalan, keaadan pun sudah berubah. Apa yang diimpikan Aisyah sejak awal masuk di kelas 11, sudah dicapainya. Kini fisiknya sudah sangat cantik. Mungkin karena perawatan wajah dan kulit yang telah ia jalani selama dua minggu sekali. Dan style fashion yang ia miliki juga sangat elegan, sudah sangat modis. Tapi, hal itu masih belum membuat Aisyah bahagia. Dalam jiwa dan batinnya ia masih gelisah dan belum mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Entah apa sebabnya ia belum mengetahuinya.

Malam ini, Aisyah menyendiri di kamarnya. Ia melihat ke luar jendela. Dilihatnya bintang-bintang malam yang cerah. “Ya Tuhan.. kau ciptakan dunia begitu indah. Tapi kenapa tidak untuk aku. Kenapa tiada satu hari pun yang sepenuhnya bisa membuatku sangat-sangat bahagia. Apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa aku tidak bisa bahagia seperti teman-temanku. Aku selalu melihat mereka nampak ceria. Tapi kenapa tidak untuk aku.” Gumam Aisyah dalam hatinya.

“Syah.. dicariin Septi tuh.” Teriak bunda Aisyah. Ia pun ke luar rumah dan segera menghampiri Septi.
“Hei, ada apa? tumben ke sini.” tanya Aisyah pada Septi.
“Daripada lo di kamar terus kita hangout yuk. Gue denger sih ada tontonan gitu di alun-alun.” kata Septi.
“tontonan apa?” tanya Aisyah lagi. “katanya sih ada konser reggae. Temen-temen yang lain udah kumpul tuh di Balai dusun. Entar kita berangkat bareng.” Kata Septi menjelaskan. Dalam benak Aisyah, sebenarnya ia tidak suka nonton konser seperti itu, dia juga risih kalau ke luar malam. Tapi, hatinya terus didorong oleh keinginan gaya hidup anak remaja. Ia selalu minder jika tidak bisa seperti mereka. Dan dia juga sangat takut jika dirinya ‘kuper’.

“Tapi Sep, ini udah jam 9 malem. Ibu juga pasti gak ngizinin.” kata aisyah lirih.
“ya elah, nyantai aja. lagian kita kan ke sananya rame-rame. Masalah Ibu lo, gue tadi udah ngomong, kalau kita akan banjari di mesjid desa sebelah. Jadi ya.. intinya lo tinggal cuss doang. Udah cepet ganti baju sana.” Kata Septi.
“Okelah.” jawab Aisyah. Kemudian, Aisyah pun ganti baju. Dia memakai baju long dress lengan panjang dan memakai hijab pashmina, kemudian ia segera menemui Septi.
“Oke sip, lo bawa baju mini gak buat ganti?” tanya Septi.
“Kok pake ganti baju sih?” tanya Aisyah balik.
“Emang loh mau nonton konser pakai jubah gini. Heh kita bukan lagi kosidahan ya..” Jawab Septi.

Tanpa pikir panjang Aisyah pun membawa baju ganti. Sampai di balai dusun, di sana sudah banyak temen-temen Aisyah yang berpenampilan super wow. Dan di sana aisyah dipaksa untuk ganti baju. Kemudian, mereka pun pergi ke alun-alun. Sesampai di alun-alun, konsernya pun sudah dimulai. Banyak penonton remaja laki-laki yang minum miras. Saat itu Aisyah berada di tengah-tengah penonton. Bau parfumnya terkalahkan dengan bau miras dan alkohol. keaadaan ini membuat Aisyah risih dan ingin segera pulang. Dalam hati nuraninya, ia sadar bahwa apa yang dilakukannya saat ini salah. Tapi lagi-lagi pikiran jahat itu muncul dalam benak Aisyah. Ia selalu ingin mengikuti trend anak muda se-usianya.

Tapi.. karena Aisyah sudah benar-benar tidak tahan akan kondisi yang seperti itu, ia mengajak teman-temannya untuk pulang. Tapi ajakan Aisyah tak dihiraukan begitu saja. Jam tangan Aisyah menunjukkan waktu pukul 11 malam. Aisyah pun lari dan menjauh dari kerumunan penonton. Ia pun mencari taksi untuk dikendarainya pulang. Tapi, tak ada satu pun kendaraan yang ada. Hanya ada sepeda motor yang berlalu lalang. Ia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Ia masih menunggu di halte. Kemudian, ada 3 cowok berandalan datang. Dan seperti yang sudah diduga Aisyah, 3 cowok itu menggoda Aisyah. Ia pun berteriak minta tolong sembari menangis. Ia tak menafik bahwa memang mungkin 3 cowok itu tergoda akan penampilan Aisyah yang memakai pakaian mini.

Dengan penampilannya yang pasti membuat Tuhan marah, Aisyah tak malu untuk meminta pertolongan Tuhan. Dengan penuh air mata hatinya berdoa memohon pertolongan Tuhan. Dan, benar saja Tuhan maha mendengar, ada seorang pria memakai sepeda vixion merah berhenti di hadapan Aisyah dan 3 cowok itu. Kemudian dengan gentle-nya pria itu menolong Aisyah. perkelahian pun terjadi. hingga akhirnya 3 berandalan itu terkulai lemas dan babak belur. Dengan terbata-bata dan air mata yang mengucur deras. Aisyah berkata, “terima kasih. Semoga Tuhan selalu bersamamu.”

“Kamu ingat Tuhan. Lalu kenapa kamu mengingkari janjimu untuk Tuhan.” jawab pria itu. Perkataan pria itu hanya dijawab Aisyah dengan tangisan. Ia menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Kemudian pria itu memberikan Aisyah jaket. Jaket itu pun digunakan Aisyah. Dan tepat sekali, saat itu juga sudah ada taksi, pria itu memberhentikan taksi itu seraya langsung memberikan uang. “Cepat kamu pulang. Dan benahi diri kamu.” Kata pria itu sembari membuka pintu taksi. Kemudian Aisyah masuk taksi itu seraya mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Tak lama, setelah dua puluh menit, Aisyah sudah sampai di rumah. Rumahnya terlihat sudah sepi, dan pintunya terkunci. Ia pun masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Dan ia pun segera cuci muka dan ganti baju tidur. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Aisyah masih belum bisa tidur. Hatinya terus teringat akan pria yang sudah menolongnya tadi.

“Sepertinya, dia seumuran denganku. Dia juga nampak seperti pria baik-baik. Hem.. maksudnya dia bilang kenapa aku mengingkari janjiku pada Tuhan apa ya?” gumam Aisyah dalam hati.
Lama waktu berjalan, akhirnya rasa kantuk pun datang. Dan aisyah tertidur.

Keesokan pagi di sekolah, nampak di sebuah taman sekolah, Aisyah melihat siswa asing. “Sepertinya dia murid baru di sekolah ini.” pikir Aisyah dalam hati. Ia masih memandangi siswa itu dari kejauhan, kemudian Septi dan Rani datang mengagetkannya. “Hei, lo kemaren ke mana. Berangkat bareng pulang kok sendiri?” tanya Septi pada Aisyah. Tapi Aisyah tak menjawabnya, ia pun pergi meninggalkan Septi dan Rani.

“Assalamualaikum” salam Pak Irsyad guru PKN yang membuat kelas Aisyah menjadi hening.
“Waalaikumsalam Pak..” jawab murid-murid kelas 11 IPS 3.
“Hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan masuk.” kata Pak Irsyad, yang kemudian masuklah murid baru itu. Dan ternyata benar dugaan Aisyah. Cowok yang dia lihat tadi pagi di taman sekolah adalah murid baru.

Masih dengan wajah menunduk, murid baru itu pun memperkenalkan diri. “Pagi, kenalkan nama saya Rasya Alatas. Saya pindahan dari SMAN 7 Jakarta Barat. That’s all ny questions?” tanya murid baru itu. “Hai cogan, panggilannya siapa ya?” tanya Rasty, siswi teralay di kelas ini.
“Terserah, yang penting sopan.” jawab murid baru itu.
“Aku panggil bebeb aja ya, cogan.” jawab Rasty.
“Sudah-sudah. perkenalannya berakhir. Kegiatan belajar mengajarakan segera dimulai. Rasya, kamu duduk di belakang sana, sebelahnya Aisyah.” kata Pak Irsyad.
“Kok sebelah Aisyah sih Pak. Sebelah saya dong.” Teriak Septi.

Dalam jantung Aisyah, ia merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Ia hanya bisa menunduk sambil mengatur napasnya. Kegiatan belajar mengajar pun berlangsung dimulai, tapi Aisyah masih belum fokus dengan kegiatan KMB ini. Aisyah terus menunduk, ia tidak berkata sedikit pun. termasuk untuk berkenalan dengan Rasya. Bahkan memandang Rasya pun ia tak meliriknya sedikit pun. Ketika itu, Pak irsyad memberikan tugas diskusi satu bangku. Hal itu membuat Aisyah dan Rasya harus berkomunikasi.

“Yang nulis tugasnya siapa. Kamu atau aku?” tanya Rasya pada Aisyah.
“Emb.. ka.. ka.. kamu aja,” Jawabnya dengan gugup dan masih dengan wajah menunduk.
“Oke. Nama kamu siapa?” tanya Rasya lagi.
“Aisyah,” jawab Aisyah lirih. Tanpa disadari Aisyah, Rasya memandanginya.
“Kamu bukannya cewek yang semalem yang digangguin tiga cowok berandalan?” tanya Rasya, yang sontak membuat Aisyah terkejut dan menatap wajah Rasya.

“Hah, oh my god. Jadi ini kamu. Ohh.. thank’s bantuannya kemaren.” Jawab Aisyah dengan nada sangat terkejut. Ia baru tahu kalau ternyata murid baru itu yang telah menolongnya semalam. “Ya, sama-sama. Emang tadi malem tidur jam berapa kok masih bisa sekolah? Konsernya kan malem banget. Kamu juga gak masuk angin ya. Malem-malem pakai pakaian mini.” Tanya Rasya, yang secara tidak langsung mengkritik penampilan Aisyah. Aisyah tidak menjawab pertanyaan Rasya. Ia kembali termenung. Hingga tugas individu dari Pak Irsyad tak dihiraukannya. Dan tugas itu dikerjakan Rasya sendiri.

Bel istirahat pun berbunyi, semua murid-murid keluar kelas, termasuk Rasya. Tapi tidak untuk Aisyah. Ia masih melamun tanpa memikirkan sesuatu. Hingga setelah bosan, akhirnya ia pun ke luar kelas. Ia berniat pergi ke parkir sepeda untuk mengambil Hp-nya yang tertinggal di jok sepeda motornya. Terlintas ketika melewati musala dekat parkir sepeda, ia melihat Rasya dengan jelas. Nampak di situ Rasya tengah mengerjakan salat sunnah duha.

Tak ada pikiran sedikit pun yang terlintas di otak Aisyah, ia hanya memandangi Rasya terus menerus sampai Rasya pun selesai mengerjakan salat dan ke luar dari musala. Melihat Rasya yang memergoki Aisyah memandanginya, sontak Aisyah pun lari dan segera mengambil Hp di jok sepedanya. Kemudian, ia pun pergi menuju perpustakan sekolah. Nampak di situ ada Rasya. Dan tanpa disangka di sana ada Ica dan Meli, teman Aisyah sejak SMP. Mereka asyik membicarakan Asiyah dengan nada keras hingga Aisyah mendengarnya.

“Mel, gue gak nyangka banget. Aisyah bisa berubah drastis. Padahal dia dulu waktu SMP kan alim banget dan sedikit cupu. Tapi sekarang dia udah gaul abis, kayak anak kota.” Kata Ica.
“Ya biarin ajalah Ca, bagus dong. Biar dia tuh gak kuper, gak cupu-cupu amat.” jawab Mely.
“Ya, masalahnya sekarang tuh pacar gue suka sama Aisyah Mel.” Kata Ica dengan nada tinggi yang membuat siswa-siswi di perpus itu terkejut dan memandangi Ica. Termasuk Rasya. Melihat hal itu, Aisyah pun pergi ke kelas. Ia pun mencoba menghibur diri dengan mendengarkan musik religi di Hp-nya dengan headshet.

Bel masuk pun berbunyi, semua siswa masuk kelas. Kali ini di kelas jam kosong. Semua teman-teman Aisyah asyik bergurau. Hanya Rasya dan Aisyah yang duduk terdiam di bangku. Dengan kepala bersandar di meja dan mata terpejam Aisyah larut dalam ketenagan batin. Ia mendengarkan tilawah qur’an di Hp-nya. Dan tiba-tiba tangan jail Mely pun bergerak, ia mencabut kabel headshet di Hp-nya Aisyah, hingga tilawah qur’an yang didengarkan Aisyah terdengar oleh semua teman-temannya.

“Ya elah Syah, lo diem mulu dari tadi gak tahunya dengerin qiro’ah. Hahahaha, gaya sok gaul tapi tetep aja pribadi loh norak. Dengerin mah musik reggae, dangdut, pop, jazz, atau apalah. Loh, malah qiro’ah. Kesambet jin bu haji.” Ledek Melly kepada Aisyah hingga membuat semua temannya tertawa. Kemudian Rasya pun membalas ejekan Melly. “Justru yang gak pernah dengerin tilawah qur’an dia yang norak.” Kata Rasya yang membuat semua siswa di kelas 11 IPS 3 ini sontak terdiam. Kemudian, Bu Maya guru IPS pun datang dan membuat suasana kelas kembali hening. Sejak pembelaan itu pun Aisyah mulai merasakan jatuh cinta kepada Rasya. Namun ia tetap mencintainya dalam diam.

Sore ini di rumah, Aisyah mulai mengintropeksi dirinya. Ia mulai menilai dirinya sendiri. Ia bingung akan keadaannya. Hatinya seakan selalu gelisah. Tak ada kebahagiaan sedikit pun di hatinya. Padahal faktanya, secara materi ia sudah memilikinya. Untuk menyemangati diri, ia searching mengenai kata mutiara kehidupan di google. Dan ada satu paragraf kata mutiara yang membuat Aisyah sejenak berpikir.

“Kecantikan hakiki, ialah dia yang mengutamakan inner beauty bukan fisik. Kebahagiaan hakiki ialah dia yang tetap menjadi diri sendiri tanpa merubah menjadi orang lain. Dan Cinta yang hakiki ialah cinta yang mendekatkannya pada sang Tuhan bukan kemaksiatan.” Ia pun mulai mencerna kata-kata mutiara ini. Kemudian adzan maghrib pun telah terkumandang. hatinya pun seakan telah tergoyah kembali, ia pun mulai menunaikan salat maghrib dan kemudian berdzikir hingga adzan isya berkumandang dan ia pun melanjutkan mengerjakan salat isya.”

Pukul 8 malam, Aisyah mendengarkan radio FM. Hari ini ia ingin mengikuti dialog interaktif lewat radio. Ia ingin curhat dengan pembicara di radio. “Yap!! pendengar radio FM di mana pun berada, sekarang yang mau request lagu silahkan kirim format request nya di 081-032-547-777. Mungkin ada yang ingin curhat silahkan hubungi nomor telepon 2456783. Oke, gak usah pikir panjang langsung saja ambil handphone-nya dan hubungi nomor telepon kami.”

Kemudian Aisyah pun mencoba menghubungi nomor telepon di radio FM tadi. Dan, tak lama menunggu telepon tersebut akhirnya sudah terhubung. Dan pembicara radio pun juga langsung menanggapinya. “Selamat malam, dengan siapa di mana?” tanya pembicara radio tersebut.
“Dengan Aisyah, di Bandung Jawa Barat.” Jawab Aisyah.
“Oke, dengan teteh Aisyah. Langsung saja nih, apa ada request lagu, salam, atau yang lain?” Tanya pembicara radio itu. “Saya mau curhat mengenai problem saya hari ini.” Jawab Aisyah.

“Oke, silahkan. Dengan senang hati saya mendengarkannya.”
“Menurut anda, kecantikan itu seperti apa sih?” Tanya Aisyah.
“Sebagai seorang laki-laki, saya memandang perempuan cantik itu berdasarkan akhlak, intelektualnya, dan kepribadiannya. Ya.. dengan kata lain inner beauty yang dia miliki.” Aisyah sedikit terkejut, ia baru tahu bahwa pembicara radio itu adalah seorang laki-laki.

“Tapi mengapa, pacar saya meninggalkan saya hanya karena dia sudah dapat pengganti saya yang jauh lebih cantik daripada saya? Itu berarti dia kan memandang kecantikan berdasarkan fisik saja.” Tanya Aisyah. “Teteh Aisyah harus tahu, sifat seseorang pasti berbeda-beda. Tapi yang pasti laki-laki sejati akan tahu mana wanita yang benar-benar cantik dan mana yang merasa dirinya cantik.” Jawab pembicara radio itu yang membuat Aisyah bingung.

“Maksudnya gimana ya?” tanya Aisyah kebingungan.
“Maksudnya, wanita yang merasa dirinya cantik, ia akan selalu menyibukkan dirinya dengan merubah penampilannya. ia memandang kecantikannya berdasarkan fisik. Ia akan sibuk berdandan dan sibuk mencari perhatian. Sedangkan wanita yang benar-benar cantik secara hakiki, dialah yang menyibukkan dirinya dengan memperbaiki kepribadiannya, meningkatkan kualitas intelektualnya, dan lebih senang menyibukkan diri dalam kegiatan sosial. Jadi intinya, cantik hakiki adalah Hati.” Jawab pembicara radio itu.

Kemudian Aisyah pun mulai mengerti. Karena durasi, akhirnya dialog mereka pun terhenti. Dan aisyah meminta alamat email radio tersebut dan meminta nomor pin-nya. Karena, Aisyah masih ingin mendapatkan info lebih mengenai problemnya. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Aisyah pun lelap dalam keheningan malam. Ia pun mulai memejamkan matanya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nela Agustina Anggraini
Facebook: https://www.facebook.com/nela.agustin.37
Cinta itu indah karena cinta mengajari kita banyak hal tapi itu akan terjadi
jika cinta kita dilandasi dengan ridhlo dari sang illahi.

Cerpen Ketika Cinta Mengajarkan Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sajadah Cinta

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru untuk pergi ke pengajian di masjid. Ketika akan memasuki masjid aku merasa ada yang memanggil namaku. “Fatma, ma.” Aku pun melihat ke belakang ternyata dia

Kutemukanmu Dalam Duhaku

Oleh:
Seberkas cahaya menerobos masuk tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Tak biasanya, aku terbangun dari alam bawah sadarku dengan cara seperti ini. Kaget setengah mati ketika kudengar suara yang

Jingga Tersenyum Untuk Kita

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya, tempatku mulai penuh sesak para siswa dan siswi yang ingin tunaikan sholat dhuhur mereka, “Zahra!! Jama’ah sama aku ya!!” ucap seorang siswi “Iya, kamu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *