Ketika Cinta Tersenyum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Belajar mencintainya? Kupikir tidak, karena cinta datangnya tulus dari hati. Kapan saja dia mau.

Kupandangi wajahku di cermin yang memantulkan keadaanku yang kusut masai. Bukan. Bukan penampilanku, melainkan hatiku yang tak lebih buruk dari seorang yang gila. Kerudung yang membalut wajahku benar-benar terbingkai dengan apik dan sangat cocok dengan wajahku yang oval. Belum lagi gaun putih yang membungkus tubuhku sangat pas dengan tubuhku yang ramping.
Tapi semua itu sama sekali tak membuatku bahagia. Perjodohan ini, pernikahan ini, ah.. aku tak pernah menginginkannya. Dan itu semua diluar kendaliku. Aku telah berjanji tuk menuruti apa yang menurut ummi baik.
Namun, mengapa harus dia? Itu pertanyaanku yang pertama. Apakah tak ada orang lain selain dia?

“gazza itu yang terbaik buatmu, nduk.” Jawab umi saat aku mengelak dari keputusan ummi.
“tapi, mi. Kaffa sudah mengenalnya. Dia seorang yang tak punya hati, tak akan bisa mencintai seorang wanita dengan tulus, mi.” Ucapku dengan asa yang hampir putus.
“huss, mengapa anak ummi berkata seperti itu? Ingat, nduk. Dalamnya laut bisa diukur. Tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Dia menyayangimu, kaffa. Dia sendiri kok yang bilang.”
“tapi kenapa dia tak pernah nyatain langsung ke kaffa?! Kenapa dia selalu nyakitin kaffa?!”

Aku mengusap satu tetes air yang keluar dari ekor mataku mengingat semua perkataan ummi, gazza, dan semua tentang gazza. Ya, aku pernah mencintainya. Sangat. Tapi sudah terlambat. Cinta itu telah membeku seperti batu yang tak akan pernah luluh. Cinta itu telah kalah oleh kebencian yang terlanjur tertanam di hatiku yang lain.
Dia yang tak punya hati untuk mencintai seorang wanita sepertiku. Dia yang pernah menjadi tetanggaku selama 3 tahun. Dia yang lemah, yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri setiap kali aku yang tomboy menyakiti dan melawannya. Terlalu lemah.
Dan ironis, saat dia pergi dan kembali ke pondoknya dan aku yang mencari ilmu di pondoknya pula, dia benar-benar bukan gazza yang kukenal. Gazza yang dihormati santri-santrinya. Gazza yang benar-benar dingin, sombong dan melupakanku. Itu yang membuatku kagum. Dan saat aku menyadari dia tak akan bisa mencintai aku yang jauh tidak lebih sempurna darinya, cinta itu benar-benar membeku dan tak akan bisa luluh lagi.
Dan sekarang? Menjadi istrinya? Sungguh sebuah tragedi yang buruk untuk sekarang dan selamanya.
Mungkin, aku bisa berpura-pura mencintainya. Tapi untuk mencintai dan belajar mencintainya, kurasa tak akan berhasil sebelum cinta itu benar-benar datang tulus dari hati.

Kuedarkan pandangan di setiap sudut resepsi dan kutemukan pula gazza yang duduk di kursi pelaminan. Pandangannya dingin, sinis dan penuh kebencian. Dingin?! Astaga, aku sudah menjadi istrinya kemarin, tapi dia masih memandangku seperti itu? Benar-benar buruk. Aku melangkah sangat pelan menuju kursi pelaminan di sampingnya. Sungguh, ini bukan kebahagiaan. Bukan pula cinta.

Saat aku duduk pertama kali, saat itu juga aku merasa gazza memandangku dalam diam. Tapi apa peduliku? Aku tak akan membalasnya, toh pandangannya tak lain tak jauh berbeda seperti aku masih menjadi santrinya.
Tapi entahlah, acuhku tak bertahan lama. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba dengan refleks menengok ke arahnya. Dan… astaga, dia tersenyum! Untuk pertama kalinya, tentu saja. Dan aku.. ada apa denganku? Jantungku.. berhenti berdetak! Apa? Berhenti berdetak? Sejak kapan aku pernah merasakan ini?!

Senyum itu, benar-benar tulus dari hati. Bahkan senyum itu menghapus semua anggapanku tentangnya. Matanya yang dingin, kini benar-benar hangat menyelam mataku. Ah, ada apa denganku?

Cukup sudah. Aku tak ingin dibuatnya kacau lagi karena efek senyumannya. Senyuman siang tadi hanyalah kepura-puraannya di depan orang banyak. Buktinya, setelah itu ia tak mengajakku berbicara sepatah katapun.

Setelah selesai berwudlu, aku melangkah dengan hati kacau ke kamar untuk sholat isya terlebih dahulu. Sudahlah, kaffa. Mengapa kau bimbang seperti ini? Toh ia tak akan menyentuhmu.
Aku buka pintu perlahan-lahan. Semoga saja dia sudah tidur.
Sial. Dia masih sibuk membaca buku.
“heh, jelek. aku cinta kamu, kok. Dari dulu malah.” Celetuk gazza.
Lho?! Apa katanya? Cinta? Dari dulu? Kok gitu? Main selonong aja, tanpa basa-basi. Dengan wajah polos tanpa dosa pula. Aku hanya menganga, tak tahu harus apa.
“gimana? Kamu juga cinta aku kan? Kita kan sudah resmi. Jadi gak usah lagi malu-malu.” Tambahnya tanpa menunggu reaksiku.
“kok bisa?!” luncurku. Dalam hati aku hanya membodohi diri. Sungguh pernyataan bodoh.
Gazza mengerutkan kening, “kok bisa?!” gazza mengulang ucapanku, “emang salah kalau aku cinta sama kamu?”
Cukup. Dia membuat jantungku berdegup kedua kalinya. Mengapa dia begitu berbeda dari yang kukenal? Itu pertanyaanku yang kedua.

Entah dorongan dari mana, degupan itu berubah menjadi sulutan amarah, “maksudmu apa?! Aku tahu kamu gak suka perjodohan ini, Gus. Tapi, apa kamu pikir aku suka? Sama sekali nggak.” Aku menarik nafas, sesak mengingat kejadian dulu.
Aku ingin menangis, sekarang juga. Hanya berdua dengannya membuatku kacau.
“tapi, tenang saja, gus” tambahku, ”aku tak akan memaksamu mencintaiku dengan tulus, karena aku juga merasa tak akan bisa mencintaimu pula. Jadi, tak usah berpura-pura menyayangiku bahkan menyatakan cinta palsu yang membuatku lebih sakit.”
Ya salam.. lihatlah wajahnya. Ia hanya memandangku tanpa ekspresi. Tak tahukah aku tengah berbicara serius untuk rumah tangga kami sendiri? Aku tersenyum kecut. Rumah tangga?!
“apa sih yang kau katakan? Membuatku bingung.” kata gazza sambil tersenyum lebar.
Gazza mencubit hidungku begitu kerasnya, membuatku spontan kaget. Tapi, aku masih merasa beruntung tidak ditamparnya.
“auw! Sakit! Batal, kan wudluku!” seruku sambil memukul lengan gazza.
“tambah batal kamu memukul lenganku, haha”
Aku menatapnya dingin.
“aku tahu, kamu tuh cerewet, tapi tolong jangan sakiti aku dengan cerewetmu itu. Asal kamu tahu, kaffa. Cinta yang aku katakan tadi benar adanya, tak ada satu pun unsur kepalsuan.” Gazza berhenti sejenak, “aku minta maaf soal aku yang meninggalkan kaffa saat kaffa yang mencintaiku, dulu. Kaffa tahu? Aku mencintai kaffa jauh lebih dulu dari kaffa, bahkan saat kaffa selalu mengajak ribut denganku.”

Gazza menutup bukunya, berganti memandangku, tatapan tajam. Saat itulah aku tahu bahwa yang dibaca gazza adalah salah satu buku karanganku.
“aku tak pernah menyatakan kalimat indah itu karena aku hanya ingin menjaga prinsipku dan menjaga kaffa. Saat itu, aku hanya berharap kelak akan bisa di samping kaffa. Dan sekarang, meskipun aku masih sulit memercayainya, aku bisa berada di sini bersama kaffa,” gazza tersenyum lebar. “ Jika kaffa tak bisa mencintaiku lagi, belajarlah mencintaiku,fa.”
“belajar mencintai? Kupikir tidak. Karena cinta datangnya tulus dari hati.” Aku menahan senyum, tiba-tiba ingin menggodanya. Lagi-lagi dia membuat degup jantugku lebih kencang lagi untuk ketiga kalinya, dan amarah itu hilang begitu saja.
Gazza balas tersenyum lebar. Sial, “tapi kamu nggak usah belajar kok. Aku tahu kamu sudah mencintaiku sejak resepsi siang tadi.”
Oke. Dia menang. Aku kalah, mengakui bahwa hatiku luluh gara-gara senyuman itu.
Gazza bangkit, mengulurkan tangannya untukku. Untukku?
“ayo, kita sholat. Sudah lama aku menunggumu.”
Aku menerima uluran tangannya dengan tanpa memandangnya. Entahlah, gengsiku terlalu besar untuknya.
“gak usah malu, kali. Aku gak sediam yang kaffa kira, kok. Aku bisa lebih cerewet dari kaffa.” Gazza tersenyum nakal, “oh ya, kaffa belum bales pernyataan cintaku, lho.”
Aku hanya tertegun. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Mengapa dia bisa tahu isi hatiku?

Selesai sholat, aku benar-benar menangis. Dia, yang menjadi imam keluarga yang baru akan kuarungi, sekarang dan masa depan. Benar kata umi, dia yang terbaik buatku. Dia yang kini tengah melantunkan do’a.
Aku mencium tangannya dengan takdzim, lama. Ada yang ingin kukatakan, namun terasa tersekat di tenggorokan.
“katakan saja apa yang ingin kau katakan, kaffa. Kaffa adalah apa yang kaffa katakan.”
Aku malu. Seorang kaffa malu.
Aku menarik nafas, “kaffa ingin kita mengurus pondok bersama,”
Gazza tersenyum lebar melihat aku yang menangis.
“haha, iya, iya. Tentu saja.” Kata gazza.
Aku tersenyum. Aku berjanji, sejak saat ini, aku akan berbakti dan setia padanya. Apapun yang terjadi.

4 bulan berlalu.
Dan aku bahagia. Bersamanya, tentu. Dengan bayi yang kukandung 3 bulan.
Dan sampai sekarang, masih banyak yang mengatakan bahwa gazza sangat dingin, ‘bagaimana kau menjadi istrinya?’ Tapi, apa peduliku dengan mereka? Gazza adalah milikku, dan biarlah aku yang tahu siapa dan bagaimana gazza yang sebenarnya.

“bayi itu, kelak akan menjadi penerus kepengasuhan pondok kita. Dia akan menjadi jagoan, haha.. sepertiku.” Gurau gazza saat kita akan memeriksa kandunganku.
“siapa bilang? Kamu lemah.” Balasku dengan tawa yang tak usai.
“haha.. kaffa betul. Aku lemah, tapi bisa melindungi kaffa dan bayi kita. Haha.. kau kalah lagi, kaffa.”
Aku manyun. Yah, aku kalah untuk kesekian kalinya selama berdebat dengannya.
“kau belum pernah membuktikannya,”
“suatu saat kaffa akan mengerti apa arti melindungi.” Kata gazza, kali ini serius.
“serius amat.” Balasku.
Gazza tak membalas, dia hanya menerawang, entah apa.
“eh, bentar, za. Aku beli gula-gula itu, ya. tunggu disini dulu.” Kataku dan langsung berjalan cepat ke seberang tempat pejual gula-gula itu.

“kaffa…!” tiba-tiba gazza memanggilku dengan sekuat suaranya.
Ada apa? Belum sempat aku merensponnya, aku baru sadar.
Tiba-tiba pula dunia serasa gelap. Hitam.

30 tahun kemudian..
Aku menatap sekerumun orang di luar yang menghadiri acara haul suamiku, gazza. Ya, hari ini tepat 30 tahun sejak kejadian itu, gazza yang melindungiku dari mobil ganas itu. Gazza benar, dia sangat kuat. Dia bisa melindungiku dan aku mengerti apa arti melindungi seperti yang dia katakan.

Aku terhenti pada sesosok yang menjadi pengganti gazza, buah hatiku, alif. Lihatlah, gazza.. Dia sangat mirip denganmu.
Aku tersenyum, seperti cinta ini yang tetap tersenyum seperti senyum pertamanya yang mampu meluluhkan hatiku yang membuatku tak bisa menerima cinta yang lain. Cinta yang suci.

Cerpen Karangan: Fdz
Blog: Fdz110.wordpress.com
aliyatul izzah
brebes, 01 oktober 1998
085225124243

Cerpen Ketika Cinta Tersenyum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love of The Past and Current (Part 2)

Oleh:
Sore itu aku datang ke rumah Anaya, karena aku sudah berjanji padanya akan mengajak ia jalan-jalan. Anaya tersenyum manis menyambut kedatanganku. Seperti biasanya ia mengenakan T.shirt biru kesukaannya yang

Berlari

Oleh:
Aku terlahir dengan nama Iqbal Fakhrurozi. Ayahku (Ahmad Fakhrurozi) adalah seorang pelari jarak pendek berprestasi negeri ini. Ia sudah mendapatkan banya title juara, di antaranya juara pon sembilan kali,

Di Dalam Hati Norma

Oleh:
Norma, gadis menjelang usia seperempat abad itu menggaruk telinganya yang ditutup kerudung, kemudian menggosok ujung hidungnya. Entah kenapa ruang makan yang biasanya adem sekarang terasa gerah. Padahal hari sedang

Akhir Sebuah Kebencian

Oleh:
Tangisku terus membasahi pipiku, lembaran tissue telah berserakan di lantai kamarku. “Aku membencimu! Sangat membencimu? Kau telah membunuh Ibuku? Kau pembunuh Ibuku!” hatiku terus berkata itu, tak henti-henti setelah

Satu Keinginan Yang Tak Terduga

Oleh:
Namaku Nia, aku sekolah di SMK swasta semester akhir, aku bercita-cita ingin masuk di salah satu universitas islam di bandung. Saat aku mengenalnya lewat akun facebook namanya Agung -nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *