Ketika Copet Bertasbih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Kedua kaki bersepatu tengah berlari begitu kencang di sebuah tempat yang begitu ramai. Jelas saja ramai, namanya juga pasar. Kedua kaki itu berlari dengan diikuti banyak kaki di belakangnya yang juga tak kalah kencang larinya. Tiba-tiba, si pemilik kaki itu menabrak seseorang.
“Aduh, sorry-sorry!!” ucap pemilik kaki yang rupanya seorang perempuan.
“Astaghfirullahal’adzim” ucap pemuda yang ditabraknya. Perempuan itu memberikan sebuah tas pada pemuda tersebut, kemudian lari begitu saja. Pemuda itu tampak kebingungan ditambah lagi dengan banyak warga menghampirinya yang mengira bahwa ia adalah pencopet. Ia berusaha membela diri. Untung saja sang pemilik tas segera datang.

Disuatu sore, tampak perempuan mengenakan kaos hitam pendek, celana jeans panjang sobek-sobek, sebuah sepatu yang sering ia kenakan, rambut terurai sepunggung, tengah nongkrong di pinggir jalan seorang diri. Perempuan sama seperti yang di pasar. Debbyna namanya. Ia melihat seorang lelaki mengenakan celana dan baju koko panjang serta peci di kepalanya, tengah berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan umum lewat. Mata Debbyna tertuju pada sebuah benda yang sedikit terlihat pada saku celana. Dompet. Debbyna mendekat, mengawasi keadaan sekitar, mengambil dompet itu dan berencana akan segera berlari. Namun rencananya gagal total lantaran tangan lelaki itu secepat kilat memegang tangan Debbyna. Mereka bertatapan 10 detik.

“Astaghfirullahal’adziiiim.” ucap sang lelaki yang kemudian melepaskan tangannya dan segera mengalihkan pandangannya sehingga ia tak lagi menatap Debbyna. Begitupun dengan Debbyna yang kini sibuk mencari pandangan lain. Entah mengapa ia tak jadi mengambil dompet itu.
“Sorry… Ini dompet lo gue balikin.” ucap Debbyna sambil menunduk. Lelaki itu mengambil dompetnya.
“Gue permisi.” lanjut Debbyna yang pergi menghindari lelaki bernama Muhammad Fakhri Maulana. Fakhri hanya meneriakkan sesuatu pada Debbyna.
“Assalamualaikum!!!” Debbyna mendengar, namun hanya terdiam.

Hari masih tampak gelap. Debbyna buru-buru ke kamar mandi setelah terpaksa terbangun dari tidur lelapnya. Selesai dari kamar mandi, ia berpapasan dengan ibunya yang juga ingin ke kamar mandi.

“Deb! Kamu udah bangun? Tumben. Kita sholat subuh berjamaah yuk di masjid!”.
“Ibu ngaco deh.” jawab Debbyna. Terdengar suara begitu indah di telinga. Adzan subuh.
“Itu siapa yang adzan bu?”.
“Enggak tahu. Biasanya enggak gitu suaranya.”. Debbyna balik lagi ke kamar mandi.
“Aku mau wudhu, terus berangkat ke masjid bareng ibu.” ucapnya. Ibu Debbyna terkejut melihat perubahan sikap anaknya.

Sholat berjamaah pun telah selesai. Debbyna masih celingukan mencari si muadzin, sambil membawa mukena di tangannya juga mengenakan jilbab dan pakaian tertutup. Ia menyuruh ibunya pulang terlebih dahulu. Ketika sedang mencari si muadzin, ia mendengar suara yang sama seperti suara si muadzin, sedang melafalkan ayat suci Al-Qur’an di dalam masjid. Debbyna melihatnya. Dan rupanya pemilik suara itu adalah Fakhri.

Semenjak hari itu Debbyna sering ikut sholat berjamaah di masjid, memakai hijab, berpakaian tertutup, dan merubah semuanya untuk menarik perhatian Fakhri. Bahkan ia telah mengenal cukup dekat dengan Fakhri sebab mereka sering bertemu di masjid.

Tampak Debbyna tengah berdiri di pinggir jalan. Tiba-tiba, handphone yang dipegangnya diambil seseorang dan dibawa lari.
“Ra! Kyara! Handphone gue itu!” Debbyna berlari mengikutinya. Rupanya Kyara, temannya yang juga seorang pencopet.
“Debbyna?” ia tak mengenali Debbyna saat memakai hijab dan pakaian tertutup.
“Lo tuh gimana sih? Pencopet kok mau dicopet.” ucap Debbyna seketika menghampiri Kyara. Ia bercerita pada Kyara bahwa ia suka dengan Fakhri.
“Apa??? Lo suka sama Fakhri? Lo sadar enggak sih tentang apa yang lo bilang barusan? Lo tuh copet Deb! Sedangkan Fakhri itu anak pak ustadz.” jelas Kyara. Debbyna justru memandang ke arah lain yang cukup jauh. Ia segera pergi mendekat ke arah yang dipandangnya, diikuti oleh Kyara.

Debbyna mengendap-endap di sebuah rumah yang di depannya terparkir sebuah mobil. Rumah pak ustadz. Mereka mendengarkan obrolan antara pak ustadz, Fakhri, dan tamu mereka.
“Perjodohan??” ucap Kyara. Air mata Debbyna menetes. Ia berlari. Namun sial ia menabrak kotak sampah. Selain itu, suara dari Kyara memanggil Debbyna juga terdengar oleh Fakhri. Bahkan Fakhri sempat melihat Debbyna berlari. Awalnya, ia berusaha mengejar namun sia-sia.

Debbyna tak pernah lagi muncul di hadapan Fakhri, tak pernah ikut sholat berjamaah di masjid, dan mengenakan hijab serta pakaian tertutup. Ia kembali pada Debbyna yang dulu. Debbyna yang tidak menutup aurat, juga Debbyna yang merupakan seorang pencopet. Ia berpikir bahwa usahanya selama ini untuk berubah karena Fakhri hanyalah sia-sia.

Pagi ini, tampak Debbyna tengah berlari dari kejaran warga akibat perbuatannya mencopet di pasar. Sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Debbyna! Stop!!!”. Fakhri. Fakhri mendekati Debbyna dan mengambil dompet yang berada di tangan Debbyna. Ia menyerahkan pada yang kehilangan, dan membubarkan warga. Ia kembali mendekati Debbyna.
“Aku tahu, berduaan tidak diperbolehkan. Tapi ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Aku kecewa. Aku kira kamu udah berubah. Debbyna yang aku kenal, adalah yang sering ikut sholat berjamaah di masjid, yang selalu menutup aurat, dan yang pasti bukan seorang pencopet. Kamu bukan Debbyna yang aku kenal. Assalamualaikum.” ucap Fakhri kemudian pergi.

Perkataan Fakhri pagi itu, membuat Debbyna merenung. Ia sadar bahwa perbuatannya salah. Seharusnya ia berubah bukan karena Fakhri, tapi karena kemauan dia sendiri untuk menjadi lebih baik. Semenjak hari itu, Debbyna kembali menutup auratnya, shalat berjamaah di masjid bukan karena ingin bertemu Fakhri tapi untuk ibadah, bahkan ia tak pernah mengajak Fakhri mengobrol saat bertemu, ia juga menjadi guru ngaji di masjid itu, dan satu lagi Debbyna bukan lagi pencopet tapi mantan pencopet.

Tampak Debbyna tengah merapikan kerudungnya di depan cermin. Ia segera ke luar dari kamar, menemui 2 orang tamu. Rupanya pak ustadz dan Fakhri. Maksud kedatangan mereka adalah untuk melamar Debbyna. Masalah perjodohan waktu itu, rupanya Fakhri menolak. Dan masalah Debbyna adalah mantan pencopet, pak ustadz tahu sebab Fakhri telah bercerita. Debbyna tersenyum manis sebagai jawaban dari lamaran itu.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Ketika Copet Bertasbih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jari Manis

Oleh:
Daun yang sudah menguning berguguran tertiup angin. Cahaya matahari menyinari setiap sudut daun yang melayang-layang di udara, sehingga menciptakan pantulan yang indah. Kita masih duduk di kursi taman yang

Buku ini Aku Pinjam

Oleh:
Beberapa hari lagi sahabatku Iren akan berulang tahun, selang waktu seminggu kami beserta Azam sang pujaan hatinya sibuk mencari kado. Malam 3 hari sebelum Iren ulang tahun, Azam meminta

Break, Sampai Engkau Halal Untukku

Oleh:
Cinta memang tak harus memberi, tapi adanya perasaan cinta itu menimbulkan efek-efek lain, salah satunya, perasaan ingin memberi. Tapi, maaf aku tak mampu memberi yang mahal atau yang berharga.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *