Ketika Semua Hadir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 8 November 2017

“Zahra…!!!” Teriak teman dekatku Radha, dia memang sering usil dan cerewet. Namun dia adalah teman dekatku.
“Ada apa sih?? Teriak-teriak kaya di hutan saja deh Ra.” Sahutku dingin tanpa memperdulikan teriakannya tadi, malah kulanjutkan membaca bukuku.
“Kamu tahu gak Za???, ada anak baru di sekolahan kita lho ternyata. Dan usut-usut nih, beritanya anak itu keren banget lho Za.”
Jelasnya panjang lebar padaku, namun tetap saja aku masih fokus pada buku yang aku baca. Buku ini sangatlah menginspirasi sekali buatku, buku novel ini berjudul “Ketika Aku Mengingat Tuhan”. Alurnya sangat indah dan pesan moralnya pun sangat menyentuh.

“Zahra!! Aku ini bicara sama kamu. Kamu kenapa gak ngrespon banget siihh.!!”
“Iya-iya deh, ada apa?? Anak baru?? Dari sekolah mana?? Emang kamu tahu namanya??” tanyaku panjang lebar sambil kututup buku yang kubaca tadi.
“Zahra…!!!” Ucapnya dengan nada tinggi dan kesal padaku.
“Iya… ada apa Radha? Hehe, maaf deh maaf.” Ucapku sambil mencubit kedua pipiku sendiri, tandanya aku merasa bersalah karena tak memperdulikan perkataan temanku ini.
“Anak baru itu pindahan dari sekolah mana emangnya?” tambahku dengan nada yang santai namun serius.
“Kata-katanya siih pindahan dari salah satu SMA di Solo Za. Dia jadi good boys di SMA kita saat ini lho Za. Pokonya keren bangetlah Za.”
“Alah paling biasa aja, gak keren-keren amat Ra.” Ucapku datar.
“Udah ayo kita pulang, kalau pulang sore-sore nanti orangtua khawatir pada kita Ra.” Tanpa Radha menambah ucapannya, maka aku langsung mengajaknya pulang, karena sudah pukul 16.00 WIB, kami pulang sore karena ada tugas yang arus kami selesaikan tadi.
“Zahra apa-apaan sih, gak seru. Ya udah ayo pulang.” Ucapnya agak sebel padaku.

“Oh iya, besok jangan lupa ya datang ke Rohis kaya hari-hari jum’at biasaanya. Soalnya besok materinya kegiatan membuat karya yang bernilai jual, trus nanti hasilnya bisa buat tambah kas Rohis dan juga bisa untuk infak kan. Pokoknya seru deh, jangan lupa datang ya Ra” kataku padanya saat di perjalanan menuju tempat parkir sepeda motor.
“Iya Zahra sayang…” katanya manja namun sebenarnya dia sedang kesal padaku.

Masih berada di hall sekolah, tiba-tiba langkah kakiku terhenti begitu saja. Ya, aku teringat bahwa buku novel yang kubaca tadi masih tertinggal di loker meja.
“Ada apa Za?”
“Buku novelku masih di loker Ra. Aku ambil dulu ya, kalau kamu mau pulang duluan gak papa kok,”
“Beneran gak ditunggu, ya udah kalau gitu aku pulang duluan, soalnya aku masih mau jemput adikku di tempat les, ini aja udah telat Za. Enggak papa kan aku duluan?”
“Iya, gak papa kok Ra, kamu hati-hati ya di jalan.”
“Iya Za, aku duluan ya, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam.” Lalu aku berjalan menuju kelas untuk mengambil buku novelku tadi.

“Ini dia bukunya.” Setelah itu aku bergegas ke luar meninggalkan kelasku. Baru beberapa langkah dari depan pintu kelasku, langkah kakiku lagi-lagi terhenti dengan suara yang sangatlah asing bagiku.
“Hafidzah Nur Az-Zahra.” Suara itu terdengar dengan jelas di telingaku, namun suara itu sangatlah asing. Ya, suara itu dari dekat kelasku. Dengan segera kubalikkan badan dan melihat siapa gerangan yang memanggilku. Seorang laki-laki, berdiri tegak, dengan tinggi badan yang cukup mengagumkan, wajah yang juga cukup asing dan yang cukup bisa dikatakan tampan. Namun bagiku tetap sama saja, tak begitu tampan. Entahlah siapa dia, yang jelas aku tak mengenalnya, mungkin itu anak baru yang dimaksudkan Radha tadi, desis dalam hatiku.

“Zahra, ini aku Affan, Affan Arkana Aditya Putra. Masih ingatkah kamu denganku? Ingatkah pula kamu dengan tindakanmu padaku tiga tahun yang lalu Za?” mendengar hal itu badanku lemas seperti tak ada daya sama sekali. Ya Affan, dia adalah Affan, Affan yang aku kenal dulu. Mantan kekasihku sewaktu aku masih SMP, masa-masa khilafku, masa-masa kelam, dan masa jahiliyahku waktu itu. Maklum aku tak mengenali wajahnya, karena selam 3 tahun ini kami belum pernah bertemu, karena dia tinggal di luar kota. Aku memutuskannya karena aku ingin hijrah di jalanNYA, aku tak ingin lagi terbujuk oleh rayuan setan.
“Za, aku pindah sekolah karena aku ingin meminta penjelasan darimu, asalkan kamu tahu Za, perasaanku selama ini masih sama terhadapmu. Aku tahu kamu sudah berubah sekarang, kamu sudah sangat syar’i Za, sampai-sampai aku hampir tak percaya bahwa itu kamu. Za aku mohon beri aku penjelasan, agar aku tak merasa bersalah lagi Za. Karena selama ini aku merasa bahwa yang membuatmu mengakhiri semua adalah aku Za.” Ucapannya membuatku serasa berhenti bernafas, dan jantungku berhenti berdetak.
“Kamu ingin penjelasan yang seperti apa? Haa!!? Karena tak ada lagi yang harus dijelaskan Fan!!!” jawabku dengan nada tinggi, walau sebenarnya hatiku benar-benar tergores luka saat ini. Harus aku akui juga, bahwa selama ini perasaanku padanya pun juga masih sama, namun tak pernah ada orang yang tahu akan hal itu, karena aku bukanlah tipe orang yang senang dengan yang namanya “curhat”. Aku berkata seperti itu agar dia tidak melihat dari wajahku kalau aku juga masih menyimpan perasaan yang sama padanya. Karena aku tak ingin cerita buruk yang dibenci olehNYA itu terulang lagi.

“Aku ingin penjelasan kenapa kamu mengakhiri semuanya Za, kenapa?? Apa kamu tak pernah memikirkan bagaimana dengan perasaanku saat itu?? Apa kamu juga tak pernah berfikir jika kamu di posisiku, maka apa yang kamu rasakan itulah yang saat itu aku rasakan Za. Tanpa ada sebuah masalah yang jelas, tanpa ada perselisishan, tiba-tiba kau mengakhiri semuanya?? Apa salahku saat itu Za, sehingga kamu bisa secepat itu mengakhiri semuannya?? Katakan Za, katakan padaku apa sebabnya??!!! Inilah waktunya aku menenepati janji yang telah aku berikan waktu itu, bahwa aku akan menunggu kedewasaanmu Za, sekarang inilah waktunya, aku yakin kamu udah dewasa kan?, untuk itu jelaskan semuanya Za, jelaskan!!!” jawabnya dengan nada yang tak kalah tinggi denganku. Karena aku juga tahu bahwa dia juga sosok yang tak kalah keras kepala dariku.
Aku tak bisa membendung beningnya air mataku, butiran bening pun bergulir di pipiku begitu saja, tanpa ada satu kata pun yang bisa aku ucapkan. Aku tak kuasa dengan kondisi tersebut.

“Kenapa kamu menangis Za?? Apa kamu baru merasakan bagaimana sakitnya yang aku rasakan dulu?? Haaa?!! Jawab Za, jawab, jangan hanya menangis.!!?” Uacapanya menyudutkan pikiranku, sehingga segera kuusap air mataku dan dengan spontan kujawab semua pertanyaannya.
“Kamu lebih berpendidikan daripada aku, kamu juga lebih mengetahui banyak hal daripada aku. Apakah kamu tak pernah belajar tentang agamamu? Bukankah agamamu itu islam?? Lalu kenapa kamu harus mempertahankan sebuah hubungan yang haram dan dilarang olehNYA?? Kenapa??!! Haaaa??!!!” jawabku dengan nada tinggi pula.
“Bukankah dulu kamu juga berpacaran denganku Za? Berarti kamu juga telah melanggar semua aturanNYA pula kan??!!” dia semakin emosi padaku, namun aku sempat menangkap sosok matanya yang memendam airmata.
“Untuk itu Fan, aku mengakhiri semuanya tentang kita. karena aku tak ingin lebih jauh lagi terseret oleh arus setan, melakukan hal yang dilarang olehNYA. Bukankah sudah dijelaskan di dalam surat AL-ISRA’ ayat 32, yang artinya ‘Dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk’ aku tau waktu itu aku masih jauh dari tatanan agama Fan, aku tak tau akan semua hal itu, namun setelah aku masuk SMA dan ikut organisasi Rohis, akhirnya aku tahu semunya, bahwa apa yang kita lakukan dulu itu salah.” Aku mencoba menjelaskan padanya secara perlahan agar dia mengerti. Aku menarik nafasku dalam-dalam, kuhempaskan begitu saja.
“Aku tahu Fan, aku ikut Rohis waktu SMA, namun aku mengakhiri semuanya saat masih SMP. Entah, mungkin waktu itu ALLAH memberiku jalan agar aku tak terseret jauh ke jurang maksiat. Itu sebabnya aku mengakhiri semuanya. Namun aku tak pernah menyesal karena telah mengakhiri semuanya, justru aku merasa tenang karena telah melepas semua yang telah dilarang olehNYA, aku ingin menjadi lebih baik Fan, aku tak ingin berpacaran. Kuharap kamu mengerti semuanya.” Jawabku dengan lembut, butiran airmata pun bergulir dimataku.

“Baiklah Za, jika itu memang keputusanmu, aku akan menghargainya. Terimakasih pula kamu telah menyadarkan aku akan sebuah agama yang selama ini aku akui di dalam diriku. Za aku ingin berhijrah di jalanNYA, seperti engkau yang telah berubah Za. Aku mohon bantu aku untuk berubah, aku ingin berhijrah karena niatku padaNYA.” Dia yang sama seperti, sama-sama keras kepala akhirnya dia luluh dan airmatanyapun mengalir deras di pipinya.
“Jika kau ingin berhijrah, niatkan karenaNYA, bukan karena apapun Fan.”
“Za, bolehkah aku mengatakan satu hal lagi??” pintanya padaku.
“Apa? Katakanlah”
“Apa yang aku katakan tadi, bahwa aku masih menyimpan perasaan yang sama, itu bukanlah suatu hal yang semu, tapi itu nyata Za. Untuk itu biarkan perasaaan ini ada Za, jangan paksa aku untuk menepisnya, karena itu sulit bagiku. 3 tahun aku mencoba, namun nihil Za. Aku mohon jangan paksa aku untuk menepisnya” kata-kata itu membuatku serasa ingin lari dari kenyataan ini, namun itu sangatlah sulit. Perasaan orang memang tak boleh dipaksakan.

“Aku yakin, dengan berjalanya waktu kamu akan bisa melupakanku Fan, kalaupun itu sulit, berdo’alah padaNYA. Dan jika memang ALLAH berkehendak pasti akan terjadi, pantaskan diri kita masing-masing saja Fan. Jika waktu menunggu pasti kita akan bertemu di penghujung waktu itu. Karena wanita yang baik hanyalah untuk laki-laki yang baik pula. Aku permisi dulu Fan, assalamu’alaikum” aku berlalu darinya dengan airmata yang terus mengalir, sempat kulihat airmatanya juga terus mengalir di pipinya, aku tahu ini sangat menyakitkan untuknya, tapi inilah yang terbaik untuk semuanya.

Hari-hariku terus berlalu, begitu pula dengan Affan. Kami sangat jarang bertemu sekarang, walaupun kelas kita berdekatan. Kecuali saat kegiatan Rohis, karena dia sekarang juga ikut organisasi Rohis. Mungkin dia telah benar-benar berhijrah di jalanNYA dan mungkin inilah hal yang telah ditulis olehNYA dan yang terbaik untuk kehidupan kita masing-masing.

Cerpen Karangan: Indriyanti Feronika
Facebook: Indriyanti Feronika (facebook)

Cerpen Ketika Semua Hadir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Deva

Oleh:
“Tuh, cewek gendut sudah datang!” Uh… sebel, kata-kata itu terdengar lagi, padahal hari masih pagi. Seharusnya pagi-pagi begini suasananya segar, sesegar embun pagi, yang hampir menghilang terkena sang raja

Kakak Itu

Oleh:
Senja mulai datang, namun entah apa yang kurasakan. Wajahnya selalu mengusik hatiku. Apa mungkin ini cinta pandangan pertama?. Aku… Nafisah, seorang remaja yang baru saja lulus dari bangku SMP.

Cinta Dalam Takdir-Nya

Oleh:
“Aisyah..” panggil seseorang yang suranya sudah tak asing lagi bagiku. Akupun menoleh ke belakang dengan senyuman hangat yang ku persembahkan hanya untuknya. “Kamu kapan kembali lagi kesini?” tanya lelaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *