Kita Yang Memilih Allah Yang Merestui

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 25 January 2017

Rinai hujan membasahi jalanan yang kulewati pagi ini, payung dengan gambar bunga-bunga ada di tanganku kali ini, aku dan syifa menyusuri jalan basah agar bisa sampai ke dalem (rumah abah pondokku). Namaku anisa aku adalah salah satu santri di pondok pesantren putri ini. Kehidupanku sangat sederhana, apa lagi aku hanya memiliki seorang ibu dan dua orang adik, aku memondok di sini atas kemauanku dan cita citaku sendiri. Cita-cita yang tertinggi, aku ingin seperti kakakku yang telah tiada, seorang khafidhoh, ia meninggal di usia yang masih belia, setelah lulus dari pondok ini.

Sejuknya hawa membuatku tak sadar akan hal itu, entah apa yang membuatku memandanginya, seorang tamu abah yang sedang duduk dan bercakap dengan abah dan umi, jangan ditanya bagai mana wajahnya, ketika ku melihatnya, senyum tipis tergurat di bibirku, kalimat tasbih menyelingi ketika itu juga “subahanallah”. Sepertinya sebelumnya aku tak pernah melihatnya
Aku dan syifa sedikit canggung saat memasuki dalem
“assalamu’alaikum” ucap kami hampir bersamaan
“wa’alaikum salam” jawab mereka
“ada apa nok?” tanya abah
“e.. anu.. e.. ini.. e..,” ucap syifa terbata-bata
“kamu aja yang bilang, aku gak bisa ngomong nih..” bisik syifa kepadaku
“fahrur, masuk dulu nak” ucap abah kepada tamu itu. Tamu yang bernama fahrur itu segera masuk ke dalam
“duduklah..” ucap abah “bagaimana nok?” sambung beliau
“begini bah, ini syifa ingin mengirim surat balasan untuk keluarganya” ucapku sambil memberikan sebuah amplop
“oh, iya nanti dak sampaikan, insyaallah” jawab abah
“syukron katsiro, kita pamit dulu bah, salam buat umi, assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam waroh matullah..”

Senyum yang terulas tadi kuingat kembali, hatiku berdesir lembut setelah kutahu siapa namanya, tapi aku tak ingin mengetahui siapa dia karena hal-hal seperti itu dapat mengganggu hafalanku. Hafalan yang kuharap dapat membawaku dan keluargaku ke syurga nanti, hafalan yang menjadi cita-cita besarku.

Sepertinya seharian ini cuaca tak bersahabat, teman-teman pondok satu kamar banyak yang mengeluh karena cucian mereka belum kering, walaupun sore ini hujan berhenti sejenak tetapi awan mendung masih lekat di langit sana.
“hey, arek-arek.. ono putrane abah, ono putrane abah” teriak ella dari ujung pintu. ella adalah salah satu teman sekamarku, dia berasal dari surabaya, jadi tak heran jika dia berbicara dengan logat seperti itu. Teman-teman berhamburan keluar kamar, kecuali aku yang masih asik dengan kitab suciku Al-Qur’an.

Syifa dan zahwa menghampiriku “ amu gak ikut lihat?” ucap zahwa
“enggak, emang kenapa? nambah dosa aja”
“wihh, kerennyo, kawanku yang satu ni, calon khafidhoh sejati” ucap syifa dengan logat melayunya
“apa sih kamu?” ucapku mengelak
“tinggal berapa hari lagi khatam?” tanya zahwa
“entah, mungkin sebentar lagi”
“wah-wah, bakalan pisah donk kita” ucap syifa
“kalian cepet nyusul donk..” jawabku
“iya, iya, bentar lagi juga nyusul” ucap syifa dengan wajah manyunnya
“tahun depan” sahutku dan zahwa bersamaan diselingi dengan tawa

Beginilah kehidupanku yang kurasa sangat singkat di pondok ini, sebentar lagi aku akan khatam, setelah itu aku akan kembali ke kampung halamanku dan mengabdi di sana. Dalam satu kamar pasti mereka khatam bersama, tetapi tidak denganku, yang ngebut dan ingin cepat selesai. Aku ikut khataman dua tingkat kamar di atasku. minggu depan.

Setelah sholat magrib usai, abah mengumumkan tentang kehadiran tamu yang kutemui di dalem tadi pagi. Namanya fahrurrozi, dia putra abah satu-satunya, dia telah menyelesaikan studinya di Universitas Al Ahzar Kairo Mesir jurusan Tafsir Al-Qur’an, dia akan mengabdi dan menggantikan abah di pondok ini. Keterangan itu yang membuat gempar seisi pondok, maklum saja, seisi pondok adalah santriwati jadi tak heran jika mereka terkagum-kagum pada putra abah. Sekarang aku sudah tahu tentang siapa dia, desiran itu hadir lagi ketika tak segaja aku melihatnya.

Aku agak sedikit canggung dengan hafalanku kali ini, bukan abah atau ustad-ustadzah yang sudah kukenal yang menyimakku, tetapi ustad baru. Putra abah yang menyimakku kali ini. Diawali dengan senyuman sapa, dan barulah aku mulai menghafal, aku menunduk dan tak berani menatapnya. Setelah selesai hafalan aku kembali ke kamar dengan beribu rasa bimbang dan keraguan. Tapi rasa bimbang dan keraguan itu akan hilang sirna seiring berjalanya waktu.

Teman-teman satu kamarku sibuk dengan aktifitasnya masing masing di dalam kamar, sepertinya hanya aku yang melanggar aturan dari teman sekamarku. Aku pergi ke tempat menjemur pakaian, untuk menjemur pakaianku yang baru kucuci ba’dal ashar tadi.
“assalamu’alaikum ya ukhti” ucap suara laki-laki yang menyapaku, kudapati fahrur berdiri di belakangku
“oh, wa’alaikum salam ya akhi”
“ada yang bisa saya bantu?” ditambah dengan senyumannya yang membuatku mengalihkan pandangan karena tak kuasa melihat wajahnya yang subahanallah
“oh, syukron katsiro, sudah selesai kok” jawabku ringan
“o, gitu,” aku segera berjalan meninggalkan tempat jemuran, tetapi dia juga berjalan di sampingku.
“kok nyuci malem malem”
“iya lagi sempet”
“sepertinya tadi pagi kamu ke rumah ya?”
“iya, maaf, saya harus kembali ke kamar, assalamu’alaikum” ucapku bergegas mempercepat langkahku
“wa’alaikum salam”

Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah apa saja yang kita mimpikan terwujud. Hari ini adalah hari paling bersejarah bagiku, gelar khafidhoh akan kudapat sebentar lagi. Alhamdulillah aku telah menuntaskan hafalanku dan saat ini aku akan mengikuti prosesi khataman al-qur’an. Penantian dan pelajaranku di sini tidak akan sia-sia, jalan hidup yang harus kutempuh masihlah panjang, aku akan berusaha mengamalkan apa yang sudah kupelajari.
“barokallah ya ukhti” ucap ustad (fahrur) saat kami berpapasan
“amin, allahumma amin…” jawabku

Kami memang sedikit mengenal dalam satu minggu ini, karena aku selalu disimak olehnya dalam satu minggu yang lalu. Dia sangat baik memiliki masa lalu yang baik pula, kisah masa kecilnya sangat membahagiakan, ia sering membagi kisahnya padaku disaat aku menjemur pakaian di malam hari, mungkin ia merasakan apa yang kurasakan. Dan kami bersahabat.

Jarak yang jauh menjadi jalan persahabatan kami, karena aku tahu posisiku sebagai siapa dan dia siapa, dia selalu mengikuti kemanapun abah pergi jadi tak mungkin kami bertegur sapa di saat yang seperti itu, mungkin hanya seuntai senyum.

Saat aku hendak berpamitan pulang, aku melihat ada sepucuk surat yang di letakkan di atas lemari bukuku.

Assalamu’alaikum ya ukhti
Afwan karena saya mungkin melangkah terlalu jauh, saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat lagi.
Selamat Impian anda kini telah terwujud, saya ikut bahagia tetapi saya juga sedih, apakah kita masih akan berjumpa esok?
Ketika bunga bermekaran
Senyummu merekah
Tata bahasamu luhur dan santun
Kau bersikap anggun ketika melihatku
Kau sangat ramah ketika bersamaku
Pelangi itu datang setelah hadirnya hujan
Tapi pelangi itu akan sirna tirgilas waktu
Pelangi yang indah itu akan hilang
Pelangi yang memberi sejuta warna
Pelangi yang dapat membuatku tertawa
Pelangi yang kadang membuatku tak berkutik
Pelangi yang membuatku jatuh hati padanya
Afwan, dari awal saya melihat anda saya sudah jatuh hati pada anda, setelah hal itu saya memberi banyak tanda untuk anda, mungkin anda tahu, tetapi mungkin anda juga berfikir bahwa saya adalah langit yang tak bisa anda gapai dari bumi, namun hal itu salah, saya adalah langit yang setia melindungi bumi.
Semoga kita di takdirkan untuk bersama, amiinn…
Wassalamu’alaikum
Sahabatmu
M. Fahrurrozi

Waktu terus berlalu, tak terasa dua tahun sudah aku meninggalkan pondok, kini aku menjadi pengajar, aku mengajarkan ilmu di berbagai tempat, aku hanya ingin mengamalkan semua ilmu yang kuperoleh, walau pun namaku telah harum sebagai qori’ah. Tali silaturahim yang kuat tak akan terputus hingga akhir hayat, aku masih bersahabat dengan kawan-kawanku di pondok, kami masih sering berkirim surat walaupun kami telah berpencar di penjuru indonesia. Sampai ada sepucuk surat yang sangat membahagiakanku, syifa sahabat pondokku menghantarkan undangan pernikahanyya padaku, alhamdulillah, senyum kebahagiaan tersungging di wajahku, minggu depan insyaallah aku akan menghadiri undangannya di kampong sangen, kuala lumpur malaysia.

Singkat cerita, pagi ini aku kembali menginjakkan kaki di pondok yang telah membesaran namaku, kami yang mendapat undangan diajak abah sekeluarga menghadiri acara pernikahan syifa dengan berangkat bersama. Subahanallah, aku sangat bahagia sekali karena aku bisa bertemu banyak teman lamaku.
“assalamu’alaikum ya ukhti” terdengar dari belakangku suara yang pernah kudengar sebelumnya
“oh, wa’alaikum salam ya ustad” ucapku sambil menyunggingkan senyum
“kaifa khaluk?”
“ana bi khair ya akhi, ma anta?”
“ana bi khair, syukron”

Kami memang sering berkirim pesan tetapi perasaanku tidak sebahagia ketika bertemu seperti ini, kami bercakap cakap cukup lama, bercerita tentang berbagai hal, subahanallah dia sangat luar biasa. Pondok yang dulu dipimpin abah sekarang telah diwariskan kepadanya, dan yang kutahu pondok ini semakin maju dan berkembang pesat.

Hanya selang beberapa hari setelah kami bertemu, aku ditanyakan olehnya. Sebuah ikatan yang disimpulkan, menjadi sebuah kesatuan, pada akhirnya kami hidup bersama, sungguh sangat tak terbayangkan, berawal dari pertemuan yang biasa saja, menjalin persahabatan yang biasa saja juga, menjadi sebuah keluarga yang luar biasa. Alhamdulilah.

Dan satu lagi cita-citaku terwujud, sewaktu kecil aku pernah bermimpi untuk mendirikan pondok pesantren hafalan qur’an untuk putri. Itu pun tak lepas dari dukungan ibuku yang selalu mendoakanku menjadi anak yang sholihah dan berguna bagi agama dan bangsa.

Semua perbuatan yang di lakukan dengan niatan lillahi ta’ala, pasti hasilnya lebih dari apa yang kita bayangkan, Allah Maha Tahu, Ia akan memberikan apa yang kamu butuhkan tanpa kamu memintanya.
Usaha yang kamu imbangi dengan ikhtiar akan membuahkan hasil yang memuaskan, karena sesunggunhnya Allah selalu memberikan imbalan yang tepat untuk hambanya yang beriman dan bertaqwa.

“Allahu ahkbar”

Cerpen Karangan: Lutfiya Nur Fadlilah
Facebook: fadlilah annisa bil qur’ani

Cerpen Kita Yang Memilih Allah Yang Merestui merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Karena Allah

Oleh:
Kring… kring… kring… Bunyi keras alarm membangunkanku dari mimpi indahku. Refleks, kumatikan segera alarm itu. Pukul setengah empat. Segera kubangun dan membaca doa, setelah itu langsung mengambil air wudlu

Prinsip

Oleh:
Aku mencintainya, sangat mencintainya. “Walau sepihak”, tandasku pada hati yang seenaknya menciptakan rasa itu. Ditambah hujan dari mataku enggan sepakat untuk tak nampak di hadapan orang lain. Guess where

Rembulan Bukan Matahariku

Oleh:
Desir angin tak membuatnya bergeming, sesekali ditatapnya rembulan yang redup berselimut mendung tak ada kerlip bintang disana, buram… sunyi malam itu, nyanyian jangkrik di pematang sawah seberang rumahnya menjadi

Cinta Yang Tak Pantas

Oleh:
“Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian atau mempersilakan.” (Ali bin Abi Thalib) Kutipan tersebut seakan menjawab keraguanku selama ini kepada seorang pria, sebut saja

Ukiran Mimpi Dalam Takdirku

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar begitu mengalun-alun seolah mereka sedang menyanyikan sebuah tembang yang mampu menyihir orang-orang yang mendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulasnya dan hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *