Love From My Superhero

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Siang hari di hari senin, aku sendirian di rumah karena ayahku yang seorang penceramah kondang sedang ada undangan di luar kota dan ibuku yah tentu saja sebagai istri yang baik selalu ada untuk menemani ayahku di mana pun beliau berada. Aku memandang ruangan konveksi milik keluargaku yang kosong karena semua karyawan langsung kabur untuk makan siang. Aku bersiap untuk makan siang di rumah yang letaknya tepat di samping konveksi.

Aku masuk ke rumah dan mencari makanan yang bisa ku makan. Di kulkas tertempel catatan dari Bi Sumi pembantu di rumahku. ‘Non Aisha makan siangnya sudah bibi siapkan, bibi ada keperluan pergi ke supermarket sebentar.’ Aku tersenyum menerima pesan dari pembantu yang sudah ku anggap keluarga sendiri mengingat sepanjang 20 tahun umurku selain ayah dan ibu, bi Sumilah yang menemani tumbuh kembangku dari bayi hingga menjadi gadis sampai sekarang ini. Aku akan menyuapkan makanan ke mulutku ketika bel pintu rumahku berbunyi. Dengan malas-malasan aku berjalan untuk membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah om Beni saudara jauh ayahku.

“Ayah dan Ibu sedang ada di luar kota, jadi besok aja datang lagi,”
“Om gak ada perlu kok sama orangtua kamu, Om cuma mau minta tolong ngecilin celana.”
“Kalau begitu ke sebelah biar nanti dikerjakan sama pegawai.” Saranku.
“Om perlunya sekarang bisa tolong Aisha saja yang ngecilin?”

Aku agak ragu untuk menyanggupinya tapi karena om Beni memohon dan sedikit memaksa mau tak mau aku menyanggupinya. Aku minta celana contohnya tapi om bilang dia mau diukur langsung saja karena berat badannya turun jadi tidak ada ukuran yang pas. Aku meminta dia menunggu di ruang tamu sedangkan aku menuju ke kamar karena mesin jahit dan segala peralatan jahitku ada di kamar. Aku menunduk mencari meteran di laci mesin jahitku dan ketika aku berbalik aku dapat melihat om Beni sudah berdiri di hadapanku dengan tatapan mata yang aneh.

Aku menatap bingung ke arahnya dan tiba-tiba saja om menarik badanku ke pelukannya, aku berontak minta dilepaskan karena bagaimanapun kami bukan muhrim. Om Beni tak menghiraukan berontakku malah dengan kurang ajarnya dia menarik kerudung yang aku kenakan hingga lepas dan mulai menciumiku dengan kasar merasa terancam aku menjerit dan meronta agar dia melepaskanku. Aku berhasil terlepas darinya tapi dia menarik baju belakangku hingga aku terjatuh, dia menarikku untuk berbaring dan dia langsung menindihku. Aku menjerit dan terus berontak sambil berteriak minta tolong.

Dia tak menghiraukan teriakanku dan malah mengoyak bajuku dengan tatapan penuh nafsu. Aku menjerit dan menggapai-gapai ketika dia berhasil melucuti baju atasku, aku menggapai-gapai tanganku dan menemukan sebuah gunting. Sekujur tubuhku sakit karena ulah gilanya, dia terus melakukan aksi tidak bermoralnya dan ketika dia hendak melucuti bagian bawahku aku segera menancapkan gunting yang tadi ku temukan ke pundaknya. Aku menjerit meminta tolong sekuat yang aku bisa, aku menatap ketakutan ke arah om Beni yang kembali bangkit setelah ku tusuk dengan gunting.

Aku mundur dan melempar apa saja yang dapat ku raih ke arahnya, dia terus mendekat dan hampir meraihku ketika aku memegang lampu tidur dan memukulkannya ke kepala om Beni, dia langsung jatuh pingsan dan darah segar mengucur dari kepalanya. Aku merosot jatuh terduduk karena sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang masuk ke kamar diikuti langkah kaki orang-orang lainnya. Orang itu menatap ke arahku yang entah berpenampilan seperti apa sekarang ini, dia mendekat ke arahku dan memakaikan jaketnya untuk menutupi tubuhku. Dia menarik selimut untuk menutup kepalaku dan menginstrusikan orang-orang yang datang melihat keadaanku untuk membawa om Beni yang terkapar di lantai ke rumah sakit.

Aku hanya bisa pasrah ketika orang asing itu membawaku menuju kamar lain dengan cara menggendongku. Dia mendudukkan aku di ranjang dan menyuruh bi Sumi untuk mengganti bajuku dan mencuci mukaku. Aku hanya diam saja ketika bi Sumi mengelap wajahku, mengganti pakaianku, merapikan rambutku, dan memasangkan kerudung baru di kepalaku. Aku merasa sekujur tubuhku sakit dan air mata tak kunjung berhenti membasahi pipiku. Aku tak sanggup berbicara apa pun, aku hanya bisa mendengar orang asing itu yang ternyata bernama Davi menelepon orangtuaku dan meminta mereka untuk segera pulang tanpa menjelaskan keadaanku yang sebenarnya.

3 hari sejak kejadian mengerikan itu tak sekali pun aku sanggup memejamkan mataku dengan tenang, setiap aku menutup mata mimpi buruk selalu menghampiriku dan membuatku menjerit histeris. Aku tak sanggup menatap cermin melihat bekas luka di sudut bibirku dan lebam-lebam di leher, tangan hingga tubuh bagian atasku membuatku jijik pada diriku sendiri dan memperjelas jika hal buruk itu benar-benar terjadi. Ibu dan bi Sumi bergantian menemaniku yang tak sejengkal pun ke luar dari kamar yang terakhir aku tempati.

Polisi datang ke rumah untuk menginterogasiku tentang kejadian yang ku alami dengan om Beni yang ternyata sekarang dia dalam keadaan koma di rumah sakit. Tante Sita istri dari om Beni memakiku karena telah membuat suaminya koma, dia menyalahkan aku yang telah menggoda suaminya dengan kecantikanku. Aku tak sanggup melawan kata-katanya dan hanya bisa diam karena jujur saja aku tak bisa merasakan apakah aku masih hidup atau tidak sekarang ini. Pak polisi memintaku untuk menceritakannya tapi tak ada satu suara pun yang ke luar dari mulutku. Davi datang ke sampingku dan mengatakan jika dia pengacaraku, dia memberikan rekaman cctv di rumah ini kepada pak polisi untuk melihat kejadiannya secara langsung.

Kami semua menuju ruangan cctv dan melihat apa yang terjadi secara langsung. Melihat kembali adegan itu membuat kepalaku menjadi pusing, rekaman itu tak memperlihatkan kejadiannya secara detail karena tidak ada cctv di kamar tempat kejadian hanya cctv di depan pintu kamar yang merekam adegan itu sekilas. Aku tak sanggup lagi menahan rasa pusing di kepalaku dan akhirnya semuanya gelap, hanya suara sayup-sayup orang yang memanggil namaku yang terakhir kali dapat ku dengar. Aku terbangun di tempat yang ku yakini sebagai rumah sakit, aku melihat sekeliling dan mendapati orang-orang berbicara sambil membelakangiku.

Aku dapat mendengar mereka membicarakan hasil pemeriksaanku juga hasil visumku, mereka juga membicarakan pernikahan yang akan tetap dilangsungkan. Aku terbangun di pagi hari di kamarku, dapat ku rasakan seseorang tidur di sampingku. Aku tak terlalu mempedulikannya karena ku pikir itu bi Sumi atau ibu, tapi ketika orang itu mengerang suara orang itu mirip suara laki-laki. Aku berbalik menatapnya dan melihat Davi tersenyum ke arahku, dia menyapaku dengan lembut dan menggenggam tanganku. Aku melepaskan genggaman tangannya dan menatapnya penuh tanya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanyaku terbata. Ini pertama kalinya aku berbicara setelah kejadian itu. Davi tersenyum padaku dan menyuruhku untuk melihat jari manisku. Aku menuruti perintahnya dan melihat ada sebuah cincin asing melingkar di sana. Aku tak mengerti maksudnya dan kembali menatap penuh tanya ke arahnya.
“Kita sudah menikah kemarin saat kamu tak sadarkan diri,” Ucapnya masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Aku menatap tak percaya padanya, entahlah mendengar kabar pernikahanku yang tak pernah ku sadari membuat hatiku sedih, sakit, malu dan terhina. “Kenapa mau menikahiku?” tanyaku masih dengan suara parau dan terbata-bata.

Davi kembali tersenyum, dia akan menjelaskannya tapi sebelum dia sempat bicara seseorang menggedor pintu dan menyuruh kami segera salat subuh. Davi beranjak meninggalkanku untuk salat dan urung menceritakan alasannya padaku. Setiap dia akan menjelaskan pasti saja ada gangguan hingga saat dia akan membawa pergi aku dari rumahku untuk tinggal bersamanya tak sempat sekali pun dia menjelaskannya. Awalnya aku menolak ikut dengan dia tapi setelah orangtuaku memaksaku akhirnya mau tak mau aku ikut pergi.

Sesampainya di rumah tempat tinggal baruku, dia mengajakku untuk duduk dan menyuruhku mendengarkan apa yang akan dia katakan. Davi tersenyum dan mulai menceritakan tentang dirinya yang sudah berusia 27 tahun, dia lulisan S2 bidang hukum, orangtuanya memiliki perusahaan tekstil dan sekarang perusahaan itu ada di bawah kepemimpinannya. Dia juga menceritakan orangtua mereka sangat dekat hingga menjodohkan mereka berdua, dia bercerita dia pertama kali melihatku saat masih berseragam SMP dan langsung jatuh cinta sejak pertama melihatku. Dia juga memintaku memberinya kesempatan membuatku bahagia dan membantuku melupakan segala hal buruk yang telah terjadi padaku.

Mendengar ucapannya, melihat ekspresi wajahnya membuatku malu. Aku tak tahu harus bagaimana membalas perkataannya yang bisa aku lakukan hanya diam bersikap seolah semuanya bukanlah hal penting padahal jauh dari lubuk hatiku aku merasakan perasaan hangat mendengar suaranya. Kalau boleh jujur sejak awal tangannya yang menggenggamku ketika menyelamatkanku telah membuatku percaya jika dialah orang yang ku inginkan dalam hidupku. Davi menatapku dan berjongkok di hadapanku, dia menggenggam tanganku membuatku menatap ke arahku.

“Mari kita melukiskan masa depan bersamaku,” ucapnya penuh dengan pengharapan.
“Tapi… Kamu tahu kalau aku telah kotor,” ucapku sambil terisak, aku cukup tahu diri Davi orang baik dan saleh sudah selayaknya dia mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Davi bangkit dan memelukku, dapat ku rasakan pelukan hangatnya yang mampu menenangkan hatiku.

“Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu dulu, sekarang dan nanti hingga selamanya cintaku tak akan berubah untukmu. Bagiku kamu adalah wanita paling suci dan paling indah terlepas dari apa yang telah terjadi di hidupmu. Aku tahu sulit bagimu mempercayai ini semua mengingat aku orang yang pertama datang ketika kamu berada di situasi yang buruk, kamu pasti berpikir aku melakukan semua ini karena kasihan atau iba padamu. Percayalah sayang, aku mencintaimu tulus dari hati yang paling dalam dan aku juga sanggup menunggu hingga kapan pun sampai kamu membuka hatimu dan meyakini cintaku untukmu benar-benar nyata.”

Aku menangis dalam dekapannya, tanpa ku sadari tanganku ikut membalas memeluknya. Dalam hati aku bersyukur Allah memberiku pelangi setelah hujan badai dalam hidupku, mengirimku seorang malaikat rupawan seperti Davi untuk menjadi superheroku yang memberikanku cinta yang tulus hingga membuatku kembali merasa hidup, merasa dihargai kembali setelah baj*ngan itu melecehkanku.

Davi melepaskan pelukannya dan menyejajarkan tingginya denganku, dia menghapus air mata di pipiku, mencium keningku dengan lembut, kedua kelopak mataku, kedua pipiku, hidung hingga berakhir di bibirku. Aku hanya bisa menutup mataku meresapi apa yang dia lakukan dan meminta otakku merekam betapa lembutnya dia memperlakukanku, mengusir segala kenangan buruk tentang perlakuan kasar baj*ngan itu pada tubuhku. Davi kembali memelukku dan tanpa ragu aku langsung membalasnya dan menenggelamkan kepalaku di dadanya, mendengar detak jantungnya, mencium aroma tubuhnya sanggup menenangkan semua saraf-sarafku.

Apakah aku mencintainya? Jawabannya adalah aku belum tahu tapi terlepas dari semua itu aku nyaman bersamanya dan aku tahu ke mana aku harus pulang ketika aku merasa duniaku sulit. Masalah cinta mungkin aku masih butuh waktu tapi aku yakin perlahan aku juga akan mencintai Davi sebanyak dia mencintaiku atau mungkin lebih besar dari cintanya padaku karena tak sulit mencintai Davi yang telah Allah ciptakan begitu sempurna. Aku percaya 100 persen jika dialah orang terbaik yang ditakdirkan Allah untuk mendampingi hidupku, menjadi imamku untuk meraih ridhonya dunia dan akhirat.

The End

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: Min Hyu Na

Cerpen Love From My Superhero merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Suci

Oleh:
Aku sudah memakai jilbab sejak kecil. Saat itu guru madrasahku berkata kalau, “Memakai jilbab itu kewajiban. Soal tingkah laku itu lain lagi. Intinya kita harus menutup aurat.” Setelah guruku

Dibalik Hijabku (Part 1)

Oleh:
Hembusan udara sejuk dipagi itu membuat butiran-butiran bening di daun keladi menjadi bersatu layaknya magnet yang menarik benda-benda besi di sekitarnya. Adzan subuh yang telah berkumandang sedari tadi, belum

Duhai Khalqillah

Oleh:
Cinta tak pernah aku cari. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk mencintai insan Allah selain ibu. Ia malaikatku. Cintaku padanya adalah cinta yang tak pernah kuberikan pada orang lain.

Baidura Cinta

Oleh:
Matanya menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan lampu dan bisingnya suara pengunjung. Ia masih berdiri di depan pintu cafe dengan raut wajah yang bingung. Mencari seseorang. Ya… itu yang

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“braak…”. Skuterku menyerepet seorang pemuda “Astagfirulloh dek! kamu gak papa kan.” Kuhampiri pemuda yang kutabrak tadi “Tidak apa apa kok mbak, hanya lecet saja.” Jawab pemuda itu sambil mengusap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *