Matahari Tengah Malam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 26 February 2018

Aku tersentak, mata yang perlahan sayut mendadak terbelalak. Sepanjang perjalanan aku hanya duduk dan sesekali menyandarkan dahi pada kaca jendela bus yang melaju dengan kencangnya membawaku dan puluhan penumpang lainnya.
Hufft.. Kaget. Tangisan bayi dari barisan kursi penumpang di belakang itu, memecah kesunyiaan disaat penumpang lainnya tengah pulas. Sebab jarum pendek pada arloji sudah dua kali melintasi angka sembilan hari ini, walau ternyata cahaya kejingaan masih kuat menerobos dari balik gunung.

Jajaran pepohonan cemara beku dan rumah-rumah yang cerobongnya terus mengepulkan asap, seolah jadi pemandangan umum di sepanjang tepi jalan. Serta bulir-bulir salju yang turun dengan lembutnya menemani setiap aktivitas penduduk di sini sepanjang tahun.

Inuvik. Kota kecil di kawasan Northwest Territories, Kanada. Hanya butuh beberapa jam hingga matahari kembali terbit setelah terbenam di wilayah ini. Bahkan saat musim dingin tiba, nyaris hanya ada siang dalam sehari. Wilayah ini dihuni 3500 kepala keluarga, 100 diantaranya adalah Muslim. Hanya ada beberapa penduduk muslim asli daerah ini, lainnya merupakan imigran asal Pakistan, Mesir, dan Nigeria.

Mereka pun hanya menetap di wilayah paling utara, tepatnya Northerly Village. Di sanalah seluruh penduduk muslim kawasan ini bermukim. Kaum minoritas yang keberadaannya kini makin tersisihkan hingga ke tepian utara.

Sorot mataku menerawang langit-langit ruangan bus yang kembali hanyut dalam keheningan. Rasanya perjalanan pulang ini jauh lebih panjang dibanding saat enam tahun lalu, dimana tubuh ibu yang perlahan mengecil di ujung jalan, dengan tangan yang terus ia lambaikan menghantar kepergiaanku.
Tatapanku menangkap beberapa bayangan memori lampau yang seolah mengulurkan tangan tuk menarik imajinasi melambung, menuju kepada sebuah sikuel mengharukan.

Perlahan kelopak mata mulai terasa begitu berat. Sketsa-sketsa buram masa lalu begitu kuat hendak mengejarku.

“Bagaimana dengan ibu. Apa ibu akan ikut? Aku tak bisa membiarkan ibu dalam waktu selama itu.” Yakinku.
“Tapi, nak. Cuma ini kesempatanmu. Ibu tak mau hanya mengantungkan masa depanmu di tempat ini. Dunia ini luas, nak.” Wanita senja itu terpekur.
“Justru karena itu, bu. Tempat itu tidak dekat. Bagaimana bila…”
“Ibu bisa mengurus diri sendiri. Di sini semua adalah saudara, ibu bisa tetap merasa aman bila berada di sekeliling mereka.” Tegas ibu.

“Tetapi bukannya…”
“Asraf. Kamulah yang harus jaga diri, nak. Jaga imanmu. Ottawa tak seperti di sini, ada sejuta macam orang yang tidak kau duga di sana.” Katanya berusaha meyakinkan.
“Kalau begitu, aku akan sering menelepon menanyakan kabar ibu dari sana.” Cetukku.

“Pamanmu orang yang jujur dalam berdagang, Restaurant halalnya sudah berjalan puluhan tahun di kota itu. Tolong jangan rusak kepercayaannya, nak.” Harap ibu.
“Baik, bu. Aku tak akan kecewakan paman Ghuzel, aku akan selalu jadi anak ibu yang tetap menjaga keimanannya. Aku akan selalu ingat Allah, bu.” Kataku membuat mata ibu berkaca-kaca.

Iya, sejak ayahku wafat akibat profesinya yang sebagai teknisi alat berat. Ibu sudah jadi seorang ayah sekaligus ibu yang merawatku sejak aku baru dapat berdiri dengan kedua kaki mungilku.
Keduanya sudah menetap di kawasan ini sejak mereka menikah. Di sini mereka dapat bersilaturrahim dengan penduduk muslim lainnya.

Di desa ini terdapat sebuah masjid kecil yang baru didirikan tepat sebulan sebelum keperginku. Sebenarnya masjid itu tak dibangun di sana, melainkan di Kota Winnipeg, sekitar empat ribu kilometer dari Inuvik. Masjid itu dihadiahi Zubaidah Tallab Fondation, organisasi pemuda muslim di Winnipeg.
Masjid yang diberi nama Midnight Sun Mosque itu diangkut menggunakan jalur laut menuju Inuvik, dan dirakit di sana. Ya, Midnight Sun. Nama itu diberi sudah pasti karena bangunan itu berdiri di tempat dimana walau tengah malam, kau masih dapat melihat pijarnya mentari musim dingin.
Bangunan mulia itu memang tak megah, atau punya menara tinggi yang menjulang membelah langit. Tetapi, di sinilah rumah Allah paling utara. Dimana kau dapat melihat aurora menari layaknya kibasan permadani di tengah singkatnya malam.

“A’idah tolong bantu aku menjaga ibu. Beri kabar bila ada masalah.” Permintaanku pada seorang gadis yang tengah merangkul bahu ibu.
“Pasti, Raf. Kau juga harus menjaga dirimu di sana.” Balasnya sambil tersenyum.

Aku selalu menantikan saat A’idah mulai tersenyum, sepasang lesung pipinya seolah jadi keindahan tersendiri. Belum lagi kilauan lembut yang memancar dari kedua kelopak mata itu.
Ia bukan saudara ataupun siapa-siapaku, keluarganya hanya tetangga kami. Namun mungkin karena orangtuanya selalu sibuk sepanjang hari, A’idah seperti lebih dekat dengan ibu. Bahkan ia sampai belajar memasak pada ibuku. Ia gadis yang baik, sebenarnya aku tak khawatir bila harus meninggalkan ibu dengannya.
Setibanya aku disana, teman baikku sejak kecil itu pasti sudah jadi gadis remaja sekarang. Aku dapat menebak dari suaranya lewat telepon waktu itu.

“Kami semua menunggumu, Raf. Oh iya, kau pasti akan kaget melihat penampilanku sekarang.”
“Maksudmu, penampilan seperti apa?”
“Itu kejutan. Kau harus temui dulu ibumu. Bawakan apa saja yang membuatnya tersenyum.”

Dari lamanya percakapan kami di telepon. Itu bagian yang paling kuingat. A’idah berjanji menyiapkan kejutan untukku, tapi ia menyinggung soal penampilannya. Memangnya apa.
Aku melupakan sesuatu. Ketika kami sama-sama masih bermain kejar-kejaran, seingatku saat usia kami belum genap sepuluh tahun. A’idah pernah berkata.

“Raf, aku ingin bisa pandai mengenakan jilbab seperti para wanita dewasa di sini. Mereka terlihat cantik memakainya.”
Aku yang tak begitu serius menaggapinya menjawab. “Coba saja, mungkin dengan itu kamu bisa terlihat cantik…”
“Apa menurutmu aku cantik?”
“Hhmm…. Tidak. Ha…Ha…Ha…” Tawa isengku itu untuk kesekian kalinya membuat A’idah merajuk, ia menghampiri dan mengadu pada ibu. Hhmm. Kukira itu hanya senda gurau para bocah.

Mataku terbuka, seakan seluruh ruangan dalam bus temaram. Rupannya hentakkan rem bus tadi yang membuat aku terbangun. Bus itu berhenti.
Beberapa penumpang turun. Tunggu, aku ingat wilayah ini, haltenya. Hanya beberapa pemberhentian lagi menuju Northerly Village. Semuanya terlihat sangat berbeda sekarang, banyak sekali bangunan yang belum aku kenal bediri.
Semoga hasil dari rantauanku selama ini, dapat berguna bagi ibu. Dapat membuat hati ibu begitu bahagia, adalah tujuanku meminta cuti pada paman Guzhel untuk menemui ibu.

Sejenak aku memandangi tepi jalan, tetapi aku tak sedang memandang tepi jalan. Pikiranku jauh menembus itu semua. Tak ada yang dapat merebut cintaku pada ibu. Bahkan waktu sekali pun.

Tak terasa bus ini berhenti kesekian kalinya. Kini ia berhenti di sebuah halte yang pada plang tepi jalannya tertera Northerly Village + 1 km, menyisahkan aku dan beberapa penumpang lainnya. Pertanda rumahku tak jauh lagi.
Kujangkau secarik kertas di saku baju. Sepucuk surat yang pernah A’idah kirim beserta selembar foto, sudah lama sekali. Terlihat seorang wanita senja dan seorang gadis merangkulnya dengan hangat, gadis itu punya senyuman yang sangat indah.

Nantikan seri selanjutnya.

Cerpen Karangan: Rizki Pratama
Facebook: facebook.com/muhammadrizqyp

Mahasiswa FKIP – Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Universitas Islam Sumatera Utara UISU
No. Hp: 0815 3496 3593
Alamat: Jln. M. Nawi Harahap. Gg. Berjuang No. 1A

Cerpen Matahari Tengah Malam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Baper Mengejar Cinta

Oleh:
Dia wanita berumur 19 tahun, tidak tinggi, tidak putih, dan dia biasa saja. Namanya adalah Ana. Dia mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Lampung. Meskipun penampilannya tak menarik,

Mutiara Hati

Oleh:
“Mas sudah salat isya belum?” tanya Nisa, Adikku, menyerobot kedatanganku dengan pertanyaan menginterogasi seperti biasanya. Aku berhenti sejenak di ambang pintu, menunggu apakah ada sambutan yang lebih hangat darinya,

Hati Yang Luka

Oleh:
Namaku Annisa. Sekarang aku duduk di kelas XI SMA. Aku terlahir dari keluarga yang agamis. Tak heran jika aku juga memakai pakaian tertutup serta hijab di keseharianku selain di

Jangan Salahkan Jilbabku

Oleh:
Kilat menyambar-nyambar sore ini ditambah derasnya hujan dan terpaan angin yang kuat. Rumput-rumput basah, semua tanaman merasa senang karena diguyur hujan sore ini. Titik-titik hujan ini membuat alunan nada

Terlalu Jauh

Oleh:
Perkenalkan namaku aref, lebih lengkapnya aref innabilla, siswa kelas XI di SMA 13 yogyakarta. aku lahir di keluarga yang alhamdulillah berkecukupan, tau agama, dan tentram aman damai sejahtera (hehe).

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *