Mendung (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 June 2019

Tanganku menggenggam tanganya untuk memegang payung dan akhirnya aku tersadar lalu melepaskan tanganku kemudian mengambil alih payung untuk melindungi kita dari hujan yang turun. Ujung mata gadis di depanku ini mulai menitikan air, aku tak tau air mata itu entah kebahagiaan atau sebaliknya? Dengan cepat tanganya menghapus air yang sudah membentuk aliran air menyusuri pipi mulusnya. Sedetik kemudian dia tersenyum manis menatapku, air dipelupuk matanya kembali tak dapat dibendung lagi dan hujan yang turun seakan selaras dengan kondisi gadis di depanku ini. Tubuhnya bergerak hendak menghambur memelukku, eh apa? Memeluku?

“eitss… stop!,” cegahku dengan satu tangan
“kenapa? Apa aku nggak boleh?”
“katanya kamu menyuruhku segera melamarmu? Sabar dikit napa” jawabku terkekeh
“aaaa… kamu nih ngerusak momen aja deh ..mhm..,” rengeknya
Astaghfirullah gadis ini manja sekali, kalau boleh pasti aku langsung membawanya dalam pelukanku, ah aku berfikir yang tidak tidak, sabar sabar bal.

“ehm, sampai kapan kita seperti ini rin?”
Karena memang sudah lebih dari tiga puluh menit kita tidak beranjak dari posisi awal tadi, hujan dan angin seperti tak mengizinkan untuk pindah dari tempat ini. Iya memang allhamdulilah juga seperti ini tapi kalau terus terusan bisa bisa aku nggak tahan buat memeluknya karena memang sangat dingin. Brrr…
“oh hujan, teruslah turun dan jangan berhenti yaa, aku mau seperti ini terus”
Gadis ini berguman lirih sekali memandang jauh tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas, ya kali dia begitu dekat denganku.

“oh hujan, iya bener tuh teruslah turunkan airmu sampai banjir yaa, biar sekalian bisa main air” balasku seperti anak kecil.
“iihh apaan sih, nguping orang ngomong” melipat kedua tangan di dadanya, dengan bibir mengerucut.
Aku yang melihat ini sampai kaget, oh ya allah sejak kapan dia begitu menggemaskan seperti ini. Kemarin dia gadis yang anggun dan pemalu tapi kenapa jadi seperti ini? Apakah ini gadis yang berbeda dari yang pertama kutemui? Oh tidak ini gadis yang sama, tapi tingkahnya kali ini sungguh membuatku tak nyaman? Iya tak nyaman terus dihantui untuk segera merengkuhnya, ya allah kalau boleh aku ingin mencubit lembut pipinya lalu memeluknya sebentaaarr saaja. Aku tersenyum hanyut dalam khayalanku.

“hayoo… pasti lagi mikir jorok yaa, hiiii..” gadis ini mengarahkan jari telunjuknya dengan tatapan bak singa kelaparan, menakutkan.
“nggak kok, aku hanya ingin memelukmu saja” upss, astaghfirullah kenapa malah ini yang keluar dari mulutku? Padahal aku ingin menyanggah tuduhanya tadi.
“silahkan aja kalau berani” sedikit berbalik badan.
Kenapa dia seperti menantangku? Apa arti semua ini? Aku hanya menatap punggungnya yang begitu dekat ini. Apakah dia benar benar menungguku memeluknya?

“tapi tepat setelah kau melepaskan pelukan nanti, kita langsung nikah” ucapnya yang kini berbalik badan menatapku tajam.
Apakah begitu besar rasa cinta gadis di depanku yang menyandang nama rini zahratul latifa ini? Padahal aku di sini belum genap dua bulan, ataukah pesonaku yang memang membahana sehingga gadis ini tidak bisa berpaling dariku. Ehh kok aku jadi kepedean gini ya…

“udah nggak sabar nih ceritanya?” tanyaku menggodanya
“au ah nyebelin” kembali bibir manyun yang menggemaskan itu berhasil kulihat.

Dia kembali berbalik membelakangiku, tapi masih bisa terlihat ada semburat rona merah di pipinya dan seutas senyum manis terlihat di bibirnya walaupun sedikit menunduk. Aku yang melihat itupun lantas tersenyum melihat tingkah laku gadis ini, aku hanya berharap dia tidak selalu muncul di pikiranku bisa bisa aku terkena unch syndrome karena tidak bisa diungkapakan lagi dengan kata kata perasaan yang menderaku saat ini. unch syndrome? ah apalah itu namanya…

1275 hari kemudian
Setelah seharian penuh mengurus rumah, gadis eh ups ralat! wanita ini sudah sangat kelelahan dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu menunggu seorang laki laki pulang ke rumah. Sebenarnya kelelahan akibat mengurus rumah ini bisa saja sedikit berkurang andai saja boleh menyewa seorang baby sitter, tapi tidak diperbolehkan oleh laki laki yang kini menjadi suami dan ayah bagi anak kembarnya itu. Selalu saja katanya kedekatan anak dan bundanya itu sangat penting, jangan sampai anak jika sudah besar tidak tau siapa bundanya. Karena lelah menunggu hampir saja wanitu itu terbang ke alam mimpinya tetapi suara seseorang membangunkanya.

“assalamualaikum istriku sayang” kuucapkan dengan selirih mungkin sambil melangkah pelan masuk ke dalam rumah
“waalaikumsalam” sambil mengucek matanya kelelahan
“kamu sudah pulang? Itu sudah kusiapkan air hangat untukmu mandi, aku mau panasin makanan dulu, kamu belum makan kan?” cerocos wanita itu tanpa memberi kesempatan untukku bicara

Aku berjalan ke arahnya berdiri, kulihat guratan lelah di wajahnya ah kasihan sekali. Dia mengecup punggung tanganku lalu kucium lebut keningnya, wanita yang kini telah resmi menjadi istri sekaligus bunda dari anak anakku, rini zahratul latifa. Aku selalu bersyukur pada pemilik hati telah memberikan takdir yang begitu indah ini.

“kalau kamu udah ngantuk, aku bisa sendiri kok, kamu pasti lelah mengurus zulfa dan zulfi” ucapku lirih didepanya
“aku ini istrimu sayang, kewajiban istri adalah menyenangkan hati suami jadi jangan halangi aku untuk melaksanakan kewajibanku ini” dengan senyum yang manis dihiasi tahi lalat kecil di atas bibir tipisnya.
“kamu sudah sholat isya’?” tanyaku
“sudah, nanti kamu sholat dulu baru makan, oke!”
“siap bundanya anak anak”

Aku mencuri satu kecupan singkat di pipinya kemudian berlalu naik ke kamarku untuk mandi dan ganti baju sedangkan istriku tengah menyiapkan makan malam untukku, lima belas menit kemudian aku turun disambut senyum itu lagi, ah ya allah indah sekali wanita ini. Aku mulai menyantap hidangan yang telah disiapkan olehnya dengan lahap sungguh aku tak mau menunjukan ekspresiku yang akan membuatnya kecewa. Sayur dan sambal yang dia masak rasanya seperti biasa kalau nggak sedikit keasinan yaa agak sedikit hambar, kali ini rasa sambalnya agak sedikit bermasalah, tapi apapun itu aku sangat mencintainya. Dia memandangku lekat dari arah sampingku saat aku menghabiskan makanan.

“kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” tanyaku polos
“emangnya nggak boleh ngeliatin suamiku sendiri?” dia malah balik bertanya sambil tetap terseyum
“boleh sih boleh, tapi apa kamu mau zulfa dan zulfi bakal punya adek lagi, mereka itu masih kecil loh sayang” aku memandangnya sambil nyengir.
“terus apa hubunganya senyumanku dengan adeknya zulfa zulfi?” tanyanya polos.
Rupanya istriku ini belum mengerti apa yang kumaksud, mungkin karena efek lelah kali yaa.

“senyumanmu mengalihkan duniaku sayang” kuucapkan lembut sambil mencoba mengelus pipinya.
“ihh?!.. dasar pikiran jorok” dengan cepat menepis tanganku lalu bergeser agak sedikit menjauh.
Aku tertawa puas dan kulihat istriku menatapku aneh, lalu sebuah cubitan menyasar di perutku membuatku meringis kesakitan dan dengan cepat aku lari ke atas menuju kamarku.

“aku mau ngobrol sama dua putri cantikku” teriakku sambil menaikki anak tangga
“eh jangaann, mereka sudah tidur, awas yaa kalau sampai mereka bangun” dia berlari mengikutiku

Sampai juga di depan box bayi dan di dalamnya ada dua putri kecil nan imutku. Kupandangi wajahnya lantas terlukis senyum di bibirku.
“hai putri kecil ayah zulfa zulfi, apa kabar kalian? Maaf ya ayah baru pulang soalnya tadi ada meeting bentar, hehe” obrolku dengan mereka meski ku tau pasti mereka tak mengerti apa yang kukatakan.

Kembali ku tersenyum melihat kedua putriku ini, cantiknya pasti nurun dari bundanya. Dan yang paling membuatku kangen pada mereka sehingga aku ingin segera pulang saat kerja yaitu mereka sama sama mempunyai tahi lalat kecil, berbeda dengan bundanya tahi lalatnya di atas bibir kedua anakku ini mempunyai tahi lalat di bawah bibirnya. Uhh pasti kalau sudah besar nanti akan sangat manis melebihi bundanya.

“satu kata lagi dan putriku bangun, bisa kupastikan besok dan lusa tidak ada sarapan dan makan malam”
Aku menoleh ketakutan ke arah istriku, dengan wajah yang begitu menyeramkan dia menatapku tajam dan tanganya memegang guling. Awalnya aku takut dengan tingkah istriku ini tapi sedetik kemudian aku menahan tawaku karena tingkahnya yang begitu menggemaskan. Aku memandangnya meminta penjelasan.
“kalau mau ngobrol sama yang belum tidur napa” sambil mengarahkan padanganya sembarangan
“oh ternyata istriku ini mau ngobrol? bilang dari tadi dong sayang, kalau gitu kan aku nggak tau, hehe” tawa garingku mengakhiri ucapanku.
“dasar laki laki nggak peka” berguman lirih
“apa? aku nggak peka?” tanyaku konyol
“iyaaa, iqbal saputra adi” menatap dekat ke arahku
Aku jadi gemas dengan istriku ini, aku tersenyum konyol ke arahnya lalu secepat kilat langsung menggendong tubuhnya dan membawa ke halaman rumah. Dia tidak menolak bahkan melingkarkan lenganya di leherku dan tersenyum dengan manisnya.

Rumah ini merupakan rumah yang sudah disiapkan oleh keluargaku jika aku sudah menikah, tapi walaupun rumah pemberian aku lah yang mengatur semua ornament di rumah ini termasuk tata ruang dan pembuatan taman, aku membuat taman di belakang rumah tujuanya untuk sedikit melepas lelas dengan dihiasi sebuah air terjun kecil dan beberapa bunga matahari. Di taman belakang ini jugalah ada sebuah ayunan kayu yang juga bisa difungsikan sebagi tempat duduk, aku menggendong istriku menuju taman belakang ini kemudian mendudukanya di ayunan kayu.

“huftt… kamu berat juga ya?” tanyaku setelah mengatur napas
“iyaa aku memang berat, terus kenapa? Kamu juga harus siap kalau tiba tiba aku minta gendong, kewajiaban suami pula harus membahagiakan istrinya kan?”
“iya iya sayangkuhh” kuelus kedua pipi mulusnya itu

Kita duduk di ayunan itu sambil memandangi langit dan di sana ada sebuah bola besar berwarna kekuning kuningan bersinar gagah tanpa tertutupi noda awan hitam dan juga milyaran titik titik bercahaya menghiasi langit malam ini. Rasanya damai sekali malam ini dengan hembusan angin malam menerpa tubuh kita berdua.

“rini, gimana tadi anak anak?” Tanyaku serius
“tadi itu yaa zulfa tuh ngompol banyak banget berkali kali, kalau zulfi eek nya lagi nggak normal, jadi hari ini full gonta ganti popok terus” terangnya
“sabar ya sayang, apa kamu butuh baby sitter? nanti coba aku carikan”
“boleh sih, tapi kan kamu pernah bilang kalau diurus sama baby sitter nanti takutnya malah nggak kenal bundanya sendiri” dengan tatapan yang sangat meneduhkan
“jadi pengen meluukk” pintaku manja pada istrkiku
“silahkan aja kalau berani, tapi tepat setelah kau melepaskan pelukan nanti, kita langsung nikah” ucapnya mengagetkanku
Itu persis sama yang dia katakan saat hujan dan dibawah payung yang sama saat itu.
“kata kata yang dulu ya? kamu pikir sekarang aku nggak berani? hm?”
“mana buktinya? Aku masih belum di pel-”
Belum sempat dia menyelesaikan kata katanya tubuhku sudah merengkuh tubuhnya erat dalam pelukan hangatku. Ah ya allah aku bahagia sekali. Terimakasih ya allah.

Cerpen Karangan: Ahmad Rosidi
Facebook: ahmad rosidi
Masih pemula dan butuh saran serta kritik membangun.
salam kepada seluruh warga blora dan teman teman jurusan sejarah angkatan 2016
salam pena!

Cerpen Mendung (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When I Meet You

Oleh:
Kicauan burung serta cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar seorang gadis yang masih tertidur lelap, wajahnya yang tersenyum-senyum menandakan ia sedang menikmati mimpi indah. Rasanya tak ingin mimpi

Dermaga Tania

Oleh:
Tak kuasa Tania menggenggam tangan suaminya yang kekar itu. Air matanya jatuh menggelinang membasahi tangan mungil lembutnya itu. Pintu depan sudah terbuka lebar. Angin laut berhembus kencang menerpa gubuk

Sebuah Nama Sebuah Cerita

Oleh:
“Mas, bisa minta tolong starterin motorku?” Pintaku pada seorang pria tinggi di depanku waktu aku selesai mengisi bensin. Tak biasanya aku meminta bantuan kepada orang lain, apalagi dengan orang

Pertemuan yang Tak Bisa Kuhindari

Oleh:
“Aku tertegun melihatnya kembali, seseorang yang sudah lama kuhindari. Aku memang masih punya janji kepadanya, tapi aku memang tak bisa menepati. Perpisahan karena emosi terjadi karena pemikiran kilatku, aku

Yes! I’m Your Home (Part 2)

Oleh:
Matahari semakin melesat ke bawah. Udara sudah berubah menjadi lebih sejuk dari sebelumnya. Aku melirik jam tangan yang melilit di tangan kiriku. Sudah menjelang pukul 4 sore. Aku pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *