Mendung (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 June 2019

Lima menit dalam posisi berpelukan akhirnya kulepaskan pelukanku lalu menatap kedua bola matanya yang indah itu.
“sayaaang.. kok kamu dulu mau sih menungguku? padahal lumayan lama dan juga aku melamarmu tidak sesegera yang kamu inginkan?” tanyaku pada istriku yang masih dalam rangkulanku
“perasaan dulu sebelum kita menikah sudah kuceritakan deh?” istriku balik bertanya
“hah? sudah po ya? kok aku lupa ya?” Tanyaku polos
“huhh.. selain nggak peka suamiku ternyata juga agak sedikit pikun” disusul tawa cekikikan istriku
Aku hanya diam, menunggunya bercerita, istriku yang melihatku menatapnya penasaran lantas memutar bola matanya malas lalu membenarkan posisi duduknya.
“oke, aku akan cerita, tapi awas aja kalo suatu saat nanti bertanya seperi ini lagi” gerutunya
Aku mengangguk mengiyakanya.

“sayaang, dulu itu aku menunggumu lamaa sekali” dia mulai bercerita dengan raut wajah sedih
“maafkan aku sayang” potongku.
“diam!! mau dilanjut nggak nih ceritanya?” Sedikit membentak kearahku
Aku jadi takut, istriku selaian gemesin juga sangat menyeramkan. Kemudian dia melanjutkan cerita setelah memastikanku agar diam mendengarkan ceritanya.
“lalu…” lanjut mulai bercerita

Flasback on
-Tiga bulan setelah kejadian di bawah payung-
“braaakkk” pintu kamarku dibuka dengan keras oleh seorang lelaki setengah baya, karena dia sudah beberapa kali memanggilku tapi aku hanya diam.
Aku di sini duduk memeluk lututku di pojok tempat tidur, air mata ini sudah setelah sholat maghrib tadi tidak berhenti mengalir rasanya mataku sudah sembab dan tisu berceceran berserakan. Kabar yang kudengar minggu lalu bahwa aku akan dijodohkan dengan anak tunggal pewaris kekayaan seorang pengusaha strawberry sangat membuatku terpukul, bagaimana tidak? bapakku sendiri tidak memberitahukan hal ini kepadaku terlebih dahulu tapi langsung mengambil keputusan. Aku yang sudah tau kalo hari ini lelaki yang ingin dijodohkan denganku itu mau berkunjung ke rumah, makanya aku mengurung diri di kamar dan tidak mau menemuinya. Setelah dipanggil beberapa kali oleh bapakku dan sengaja aku tidak memberikan jawaban, akhirnya bapakku membuka pintu kamar dengan paksa.

“cepat keluar, nak fahmie sudah menunggu di ruang tamu”
“tapi aku nggak mau bertemu dengan dia pak” jawabku sesenggukan
“jangan malu maluin bapakmu, jangan terus menunggu anak kuliahan itu, katanya mau melamar secepatnya tapi sampai sekarang malah tidak tau kemana”

Ayahku membicarakan mas iqbal, mas iqbal dulu sebelum meninggalkan desa ini sempat berpamitan pada bapak dan mengatakan akan melamarku secepatnya tetapi sampai tiga bulan selepas kepergianya malah tak ada kabar dan tak kunjung kembali. Itulah yang membuat bapakku tak sabar ingin segera menikahkanku tapi dalam hati kecilku masih tersimpan harapan suatu saat mas iqbal akan kembali.

“hapus air matamu lalu gantu baju dan temui nak fahmie” kali ini dengan sedikit gertakan
Lelaki yang dijodohkan denganku ini namanya fahmie nur nugraha, kata bapak dia adalah pewaris tunggal perusahaan strawberry milik ayahnya. Tapi apa peduliku? bukankah harta tidak menjamin kebahagiaan, dan pernikahan seharusnya didasari oleh cinta dari kedua insan, lalu untuk apa harta menjadi dasar dari ikatan suci pernikahan? sesuai perintah bapakku tadi kuhapus air mata dan mengganti baju yang lebih sopan lalu dengan berat menemuinya.

Aku keluar dari kamarku dengan senyum keterpaksaan lalu melihat wajahnya, iya memang dia agak sedikit tampan walaupun tubuhnya yang kurus, tapi yang membuatku sedikit risih adalah tatapan mata yang memunculkan aura kesombongan itu terus mengikutiku dari keluar kamar sampai duduk di depanya.

“nah ini anak bapak nak fahmie, namanya rini zahratul latifa” ucap bapak memperkenalkanku
“assalamualaikum mas fahmie” ucapku seramah mungkin
“waalaikumsalam dek rini”
Apa apaan dia memanggilku ‘dek’?
“ehm, kalian ngobrol aja di sini, bapak mau keluar”
“ee eh, nggak usah pak, biar kita aja yang ngobrol di luar bapak di sini saja” jawab mas fahmi
Hah? ‘kita’ dia bilang? maksudnya aku dan dia gitu… ihhh
Tapi karena tidak mau mengecewakan bapakku akhirnya aku mengiyakan ajakanya lalu mengikutinya dari belakang.

Saat ini aku dan dia, mas fahmie sedang duduk di halaman depan rumahku di atas batu yang memang difungsikan untuk duduk ini, melihat ikan nila di kolam yang berenang dengan bebas walaupun wadahnya tidak terlalu besar dan walaupun malam hari tapi bisa terlihat dengan jelas karena memang saat ini sedang bulan purnama.

“nanti kalo kamu udah jadi istriku, kita nggak tinggal di sini lagi, di rumahku saja yang lebih luas dan lebih mewah dari ini” ucapnya dengan begitu sombong
Aku? istrimu? apa apan ini!
“nanti aja ya mas dibicarakanya, bahkan mas fahmie kan baru bertamu sekali kesini” jawabku sehalus mungkin agar dia tidak tersinggung
“iya sayang, secepatnya aku nikahin kamu kok, nggak kayak anak kuliahan itu”
Ingin sekali kumaki habis habisan lelaki ini, berani beraninya memanggilku ‘sayang’ dan bahkan berani mengatakan mas iqbal seperi itu. Ya allah jauhkan lelaki sombong ini ya allah.

Aku dan mas fahmie mengobrol seadanya, dia bercerita terus tentang kekayaan ayahnya dan kemewahan kehidupanya, aku merasa mual dengan gaya berbicaranya yang sangat sombong. Bahkan itu bukan hasil kerja kerasnya sendiri tapi dari ayahnya, terus kenapa lelaki ini terus yang menyombongkan diri? dia terus bercerita dan aku hanya tersenyum paksa dan sesekali menjawabnya dengan ‘oh ya, lalu, kok bisa, terus’ setidaknya agar pantas bisa katakanan ‘ngobrol’ dengan kominikasi dua arah nggak kayak pidato yang hanya satu orang saja yang bicara. Sampai mungkin karena dia lelah bercerita apa kenapa, dia pamit ingin pergi ke kamar mandi tetapi handphonenya ditinggal di atas meja kecil di hadapanku, ah dia ceroboh sekali.

Sampai benda segi empat kaca itu berbunyi dengan layar menyala memunculkan wajah seorang perempuan berjilbab yang sedang tersenyum dengan nama yang tertera ‘triya’. Sampai tiga kali benda itu berdering aku tidak peduli, kalau nanti mas fahmie balik lalu melihatku mengangkat teleponya wah bisa bahaya. Sampai deringan ke empat rasanya aku tak tahan juga, sambil celingukan jaga jaga kalau mas fahmie muncul aku menggeser warna hijau di layarnya lalu mendekatkan di telinga kiriku, mataku melotot tak percaya dengan apa yang kudengar.
“assalamualaikum suamiku sayang, kamu kemana sih? cepet pulang yaa, apa kamu nggak kangen sama anakmu nih, anakmu semakin lucu hlo sayang hehe, oh ya nanti beliin bubur di supermarket ya, ini sudah mau habis buburnya” cerocos perempuan di ujung telepon tanpa memberi kesempatan untukku bicara.

Mataku memerah melotot ke sembarang arah, mulutku menganga tak percaya apa yang telah kudengar baru saja, seorang perempuan membicarakan anaknya kepada mas fahmie dan mengatakan ‘suamiku sayang’, langit cerah malam ini seperti berubah menjadi petir bersahutan, aku tidak percaya mas fahmie bisa sejauh ini, dia sudah menikah dan punya anak tetapi kenapa malah ingin menikahiku? apa aku mau dijadikan istri keduanya? apakah bapakku tidak tau akan hal ini? Oh tidak aku tidak mau jadi istri keduanya, aku akan tetap menunggu mas iqbal apapun yang terjadi.

“halo sayang, kok diem aja sih, halooo” suara perempuan itu mengagetkanku, aku tidak menjawab, langsung menekan ikon warna merah dan meletakkan kembali di atas meja. Butiran bening di pelupuk mataku tak dapat kubendung lagi untuk menetes, aku menangis? apa yang kutangisi ini?. Sesaat kemudian mas fahmie datang dengan biasa, mungkin dia tidak tau apa telah terjadi. Aku melihatnya mendekat lalu menghapus air mataku, aku tidak mau dia melihatku menangis seperti ini.
“maaf ya, agak lama, perutku agak sedikit bermasalah, hehe” dia tertawa
Aku sudah tak tahan lalu berdiri.
“tadi anakmu minta dibeliin bubur, kata mamanya buburnya sudah hampir habis. Lebih baik kamu segera membelinya dan pulang, istri dan anakmu pasti sudah menunggumu di rumah” aku melihat ke sembarang arah lalu sedikit menoleh kearahnya yang tampak kebingungan kemudian dengan cepat aku sedikit berlari meninggalkanya sendirian.

Lelaki yang akan dijodohkan dengan seperti ini? pilihan ayahku apakah seperti ini? ah pikiranku sudah berkecamuk. Setelah kuceritakan dengan kedua orangtuaku aku langsung masuk ke kamar setelah melihat raut muka mereka yang terkejut tak menyangka apa yang telah terjadi. Di dalam kamar aku kembali menangis tersedu sedu sampai lelah dan akhirnya hanyut terbawa ke alam mimpi.
Flashback off

“lalu beberaapa hari setelah itu kan kamu datang, terus…”
Istriku berhenti cerita, mengendus enduskan hidungnya lalu sesaat kemudian menutup hidung.
“ihhh bau apaan nih? kamu kentut ya?” menatap ke arahku meminta jawaban
Aku balas memandangnya dengan nyengir konyol, dia seakan tau jawabanku langsung menggeser tubuhnya agak sedikit menjauh sambil tanganya teteap menutup hidung.
“makan apa sih kamu? sampai baunya kayak gini?” tanyanya
“kok malah balik tanya ke aku, tadi kan aku makan masakanmu masa lupa? tadi itu tuh sambalmu rasanya aneh”
Langsung kututup mulut ini dengan tanganku, menyadari kesalahan besar yang telah kubuat, istriku memang akan menjadi sangat berbahaya kalau disinggung soal hasil masakanya dan kini aku keceplosan mengatakannya, haduh habislah aku. Pernah suatu ketika aku singgung masakanya yang keasinan dan apa akibatnya? dia tidak masak selama tiga hari dan selama itu pula aku harus beli makanan di luar, dengan susah payah aku minta maaf kepadanya sampai akhirnya berhasil dengan memberinya buku resep masakan dan berjanji tidak akan mengkritik masakanya lagi. Tapi kali ini aku kelepasan, menyadari suasana akan sangat berbahaya jika aku tetap ditempat ini dengan secepat kilat aku berlari masuk ke dalam rumah.

“maaf sayaangg, nggak sengajaaa…” permintaan maafku sambil berlari
“mas iqbaaaaalll… seminggu ini makan di luaarrrr” teriaknya
Suaranya begitu keras sampai sampai masih bisa terdengar olehku. Membayangkan nasibku di rumah seminggu kedepan membuatku bergidik ngeri, secepatnya aku harus menemukan cara untuk meminta maaf kepada istriku ini. tapi apa?

‘Mendung’, mendung? Oh tidak, mungkin saat ini eh ups ralat! tidak ada kata ‘mungkin’, saat ini kehidupanku tidak ada mendung lagi, mendung yang gelap, angin yang bertiup kencang menandakan akan turun hujan. Setelah hujan reda, pelangi pun muncul dengan indahnya, sinar matahari mulai menembus awan dengan hangat, burung mulai bernyanyi yaa lagi cinta pastinya.

Jika seseorang telah ditakdirkan untukmu, sejauh apapun dia pergi pasti akan kembali. Kembali pada tempat seharusnya dia kembali, karena memang sudah ada tempat khusus nan indah yang telah disiapkan untuknya kembali.

SELESAI

Cerpen Karangan: Ahmad Rosidi
Facebook: ahmad rosidi
Masih pemula dan butuh saran serta kritik membangun.
salam kepada seluruh warga blora dan teman teman jurusan sejarah angkatan 2016
salam pena!

Cerpen Mendung (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


eX…

Oleh:
Semua mata mengarah padanya, pada seorang gadis yang berpenampilan sangat sederhana dan apa adanya, polesan make up yang tadi sempat digunakannya terlihat telah terhapus oleh keringat yang dari tadi

Cinta Dibawa Ojek

Oleh:
Hari itu hujan mengguyur jakarta dan sekitarnya. Jam kuliah sudah berakhir beberapa jam yang lalu dan hujan pun sudah reda. Matahari sudah hampir tenggelam, tapi Hana masih berdiri di

Symphony Aurora

Oleh:
Di ruang itu – dengan pencahayaan yang mendekati minim dan satu fenomena alam terlukis di langit-langit yang dipancarkan sebuah proyektor – mirip seperti malam musim panas di San Jose..

Takdir Indah

Oleh:
Tiga tahun berlalu semakin cepat, saat getaran aneh itu merambat dalam lingkup hati dan jiwaku. Aku bersyukur senantiasa karena tabrakan pagi indah itu, aku menemukan semangat baru yang membakar

Sepenggal Nama Mengubah Kisah

Oleh:
Mentari sedang kokohnya menyemburatkan teriknya, terlihat dua sahabat menyusuri jalan pulang dari kampus menuju pondok pesantren yang mereka tinggali. Mereka ini sama-sama semester akhir. Mereka terlahir dari rahim yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mendung (Part 3)”

  1. Siti Aliyah says:

    Mendung part 4 ditunggu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *