Mendung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 May 2017

“bawa keluargamu untuk menemui bapakku secepatnya sebelum aku dilamar orang lain” pinta gadis dengan payung ungu itu.
“haahh… secepat itu kah?”
“kalau gak mau ya udah”
Gadis itu ingin berlari, tetapi dengan cepat tanganku menangkap tanganya dan menahanya untuk tetap di sini. Hujan turun dengan derasnya, kita sekarang berada di bawah payung yang sama.

Angin semilir yang turun membawa hawa dingin menerpa tubuh ini, tubuh yang sudah hampir tiga jam menunggu di sini, di bawah kaki gunung dengan ketinggian 3428 mdpl. Hanya satu tujuan aku menunggu di sini yaitu dia, gadis semampai dengan kerudung abu abunya, cerita ini berawal dua bulan yang lalu.

Perkenalkan namaku Iqbal Saputra Adi, seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan praktek lapangan di daerah Purbalingga. Tubuh ini sudah beku rasanya, udara dingin semakin menusuk di setiap sendi tubuh ini, tapi aku akan tetap menunggu di sini untuk seseorang yang sudah berjanji menemuiku di sini, namanya Rini Zahratul Latifa. Gadis yang membuatku tak sanggup berkedip jika memandang wajahnya, wajah putih khas orang dataran tinggi, dengan sepasang mata yang bulat dihiasi bulu mata lentik. Dua bulan lalu adalah awal pertemuan kami, pertemuan yang memang tidak direncanakan sebelumnya tetapi sangat indah.

Langit sepertinya sedang sedih, terbukti begitu banyak hal yang dipendamnya dan disimpan pada setiap gumpalan hitam di atas kepala kami, sepertinya langit ingin menumpahkan segala resahnya melalui titik air yang jatuh dan setiap angin yang berhembus. Aku dan empat anggota kelompok baru saja sampai di sini, disambut dengan hujan yang begitu derasnya, terpaksa mobil kami harus mengurangi kecepatanya karena jalan yang licin dan jarak pandang menurun.

Kami berhenti di sebuah warung di pinggir jalan untuk mencari minuman hangat untuk menghangatkan tubuh, karena suhu memang sangat dingin untuk kami yang terbiasa dengan udara panas perkotaan, di warung itu masing masing memesan teh hangat dan kopi hangat. Setelah membayar kami langsung melanjutkan perjalanan karena takut kemalaman karena di sepanjang jalan tidak ada penerangan jalan, akan sangat berbahaya jika melanjutkan perjalanan dengan keadaan gelap.

Tiba tiba saat kami sudah masuk di mobil, ada seorang gadis yang mengetuk kaca mobil depan sebelah kanan, aku yang sedang berada disitu membuka kacanya.
“iyaaa, ada apa?” sapaku.
“saya bisa numpang sampai desa binangun nggak mas?” pinta gadis ini dengan suara yang menyejukan.
Sejenak aku terpaku memandangi wajahnya. Wajah yang anggun dihiasi sepasang mata bulat nan sejuk jika dipandang.
“mass…” sambil melambaikan tanganya tepat didepan wajahku.
“eh.. eh.. iya boleh boleh”
Aku menyuruh teman di sampingku untuk pindah ke belakang.
“pindah ya ful, urusan wanita harus didahulukan” pintaku dengan nada bercanda
“huhh, gini kalau udah urusan cewek, kita yang temennya sendiri dinomor duakan”
“hahaha… untuk kali ini aja ful”
“iya iyaa, aku pindah nih” dengan berat akhirnya saiful mau juga pindah ke kursi tengah.

Setelah saiful pindah, gadis ini langsung aku persilahkan untuk masuk mobil. Dia masuk dengan senyumnya yang manis, seakan senyuman itu membawaku jauh ke dalam dunia khayal yang semu. Selama tiga puluh menit aku dan gadis ini saling diam, jadi ingat lagunya jamrud yang berjudul pelangi di matamu, tiga puluh menit kita di sini tanpa suara… ada pelangi di bola matamu dan memaksa diri ini tuk bilang aku sayang padamu. Ahh… padahal namanya saja aku belum tahu huhh… jam dinding pun tertawa, karena aku hanya diam dan membisu ingin kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depanmu. Astaghfirullah.. di dalam mobil tidak ada jam dinding, kemudian aku melihat jam tanganku kemudian aku senyum senyum sendiri. Tiba tiba gadis di sampingku meminta berhenti…
“mas, berhenti di sini aja mas. Ini sudah dekat kok dengan rumahku”
“oh iyaa” aku memberhentikan mobil, walaupun cuaca masih gerimis.
“terima kasih ya mas…”
Sebelum aku menjawab, gadis ini sudah keluar dari mobil dan aku juga keluar sambil membawa payung agar dia tidak kehujanan.
“ehh.. ehh.. tunggu” sedikit berlari aku menghampirinya.
Dia menoleh.
“ini pakai payung, biar nggak kehujanan.”
“nggak usah mas, cuma gerimis kok lagian rumahku juga udah dekat.”
“gak apa apa, pakai aja, (memberikan payung) kenalkan namuku iqbal” menyodorkan tanganku untuk bersalaman.
“namaku rini zahratul latifa, panggil aja rini.” menyatukan kedua telapak tanganya dan meletakan di depan dada.
“kalau mau mampir silahkan mas.” ajak rini.
Klakson mobil ditekan oleh temanku dari dalam mobil.
“kapan kapan aja ya.” aku mengerti isyarat temanku untuk segera masuk ke mobil.

Kami melanjutkan perjalanan, hari sudah mulai gelap tetapi kami sedikit lebih tenang karena sudah sampai di perkampungan, lampu lampu rumah warga sudah mulai dinyalakan jadi tidak terlalu gelap walaupun gerimis masih saja mengguyur diiringi dengan suhu yang semakin menusuk tulang. Setelah beberapa lama, akhirnya sampai di balai desa setempat.

53 hari kemudian
Suara adzan membangunkanku dari mimpi indah dengan gadis yang pernah kutemui sewaktu aku baru datang, bergegas aku mengambil air wudhu kemudian shalat berjamaah di mushola dekat rumah pak RW tempat kami menginap. Baru kali ini aku shalat berjamaah karena biasanya shalat sendiri di kamar alasannya adalah tidak kuat dengan dinginya udara luar. Brrrr… dinginya, gumanku dalam hati. Setelah shalat ingin langsung kembali tidur, aku bangkit dari duduk dan berjalan bergegas ke luar mushola, namuun…
“bissmillahirrahmanirrahiim…”
Suara merdu itu mengalun indah pada setiap ayat yang dia lantunkan, aku sejenak terdiam lalu berjalan menuju arah datangnya suara itu, tak disangka suara itu berasal dari seorang gadis yang kutemui kemarin, Rini. Aku mendengar dengan seksama alunan indah itu sampai aku tak sadar alunanya berhenti.
“loh… mas iqbal ada di sini?” suara yang mengagetkanku.
“eh.. rini… itu… kok udah selesai..? eh… maaf.” Jawabku gugup.
“dari tadi mas iqbal mendengarkanku?”
“lantunan yang indah” pujiku kepadanya.
Rini hanya menunduk sambil tersenyum malu, wajah cantiknya semakin terpancar dengan sebuah tahi lalat kecil di atas bibirnya. Lembutnya embun pagi menyapa, suara burung berkicau saling bersautan, aku dan rini berjalan bersama. Aku bercerita banyak kenapa aku di sini dan apa tujuanku, dan rini juga bercerita tentang dirinya, entah mengapa kami begitu cepat akrab.

“ohh… jadi begitu, sebenarnya kamu ingin kuliah di kota… emm..” dengan sedikit nada bercanda.
“iihh… ngejek aku yaa.. awas ya”
“mending nggak usah kuliah, bener kata orangtuamu lebih baik menikah.”
“emangnya kamu mau sama aku?”
“ha!?” aku kaget.
Kami berhenti, mata kami saling bertemu dengan sejuta makna dari tatapan ini, angin berhembus menerpa tubuh kami berdua. Titik air jatuh di kepalaku dan menyadarkanku.
“eh maaf rin.” Sambil mengalihkan pandangan.
“aku juga minta maaf.” Menunduk malu, tapi terlihat senyum kecil di bibirnya.
“kamu bisa nggak temui aku lusa di kebun strawberry?” Ajakku
“emang ada apa?”
“aku mau bicara sesuatu dan ini penting.” Yakinku
“kenapa nggak bicara sekarang aja?”
“nanti aja di sana ya, sekarang kayaknya juga udah mau hujan.” Aku mengelak.
“jam enam pagi yaa…”
Rini tidak menjawab tetapi tersenyum disertai anggukan kecil, aku tau maksudnya. Dari percakapan sebentar itu aku pun tahu kalau selama hampir dua bulan ini dia menyempatkan waktu untuk memperhatikanku.

Jam tiga pagi aku terbangun, suara binatang malam saling berlomba lomba mengeraskan suaranya seakan tidak tega jika malam ini terlalu sunyi untuk dilewati. Sekejap udara dingin langsung menusuk tulangku, kembali aku merapikan selimut untuk kembali tidur tetapi sebersit aku ingat seseorang yaa rini, aku ingat pagi nanti aku sudah janji untuk bertemu di kebun strawberry, aku juga sangat ingat apa yang akan kukatakan padanya. Tapi aku tak tahu apa yang membuatku begitu yakin dengan perasaanku ini, terlalu cepat memang untuk dikatakan ini sebuah kata yang agung yaitu `cinta`. Aku mendirikan shalat malam untuk meminta petunjuk yang jelas tentang perasaanku dan apa yang harus kulalukan, hanya kepadamu yaa rabb.

Suara ayam berkokok membangunkanku, nampak secercah cahaya mentari menembus sela sela dinding kayu kamarku, aku melihat jam dan…
“astaghfirullah… Aku kesiangan!” jam tanganku menunjukan pukul 11.23 WIB.
Padahal aku sudah janji denganya pagi ini untuk mengungkapkan perasaanku sambil melihat matahari terbit bersama, pasti itu akan sangat indah tetapi itu tidak mungkin karena aku bangun kesiangan, aku tak tahu apa yang harus aku katakan padanya jika bertemu nanti. Aku menyalahkan diriku sendiri karena kebodohanku.
“bodoh!” gumanku memaki diri sendiri.

Seharian aku melamun dan memikirkan apa yang harus aku katakan padanya jika bertemu nanti pasti dia sangat kecewa. Hari ini memang aku libur praktek karena hari minggu, perlu diketahui aku mengajar di salah satu sekolah menengah atas di desa binangun ini. Adzan dhuhur berkumandang, bergegas untuk shalat berjamaah di mushola alasan lain adalah untuk bertemu denganya, untuk meminta maaf dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Aku bertemu denganya didepan mushola, dia seperti menghindariku dan langsung berjalan keluar, aku dengan sedikit berlari mengejarnya dan memberhentikan langkahnya.
“tunggu… tunggu.. rin”
“ada apa lagi mas? Sudah lupa yaa, tahu nggak mas, aku nunggu kamu mas” dengan sedikit membentak
“iya maaf rin tadi kesiangan, aku bangun jam…” belum selesai aku bicara
“sebenarnya mas mau ngomong apa mas, jujur sekarang!” matanya menatap tajam mataku
“aku nggak bisa kalau di sini”
“ya udah, nanti sore temui aku di tempat yang kamu janjikan.” Berbicara mebelakangiku
“tapiii..”
Belum selesai aku bicara, dia berjalan meninggalkanku. Aku tahu dia kecewa karena aku tak datang, padahal aku yang membuat janji, kembali aku memaki diriku sendiri, sore nanti aku harus datang aku tak mau membuatnya kecewa lagi.

Langit sepertinya ingin menahanku untuk menemuinya, awan hitam bergelayutan ingin segera jatuh ke bumi, angin bertiup kencang menahanku untuk berjalan menemuinya, aku tak mau mengecewakanya. Kulihat dari kejauhan ada seorang gadis dengan payung ungunya, kerudungnya melambai lambai ditiup angin. Aku menghampirinya…
“rin, maafkan aku mungkin ini terlalu cepat, tapi harus aku katakan sekarang. Aku mencintaimu Rini Zahratul Latifa” aku katakan sejujurnya.
“tidak perlu minta maaf, allhamdulilah… aku menunggu kamu mengatakanya dan sekarang aku mendengarnya.” sambil membelakangiku
Aku kaget dia berkata seperti itu, apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku, sejenak memenuhi otakku apa yang dikatakanya tadi. Sampai dia membalikan badan dan kemudian…
“bawa keluargamu untuk menemui bapakku secepatnya sebelum aku dilamar orang lain” pinta gadis dengan payung ungu itu.
“haahh… secepat itu kah? Tapi aku kan… aku masih kuliah.” Untuk kedua kalinya aku kaget dengan perkataanya
“kalau gak mau ya udah”
Gadis itu ingin berlari, tetapi dengan cepat tanganku menangkap tanganya dan menahanya untuk tetap di sini. Hujan turun dengan derasnya, kita sekarang berada di bawah payung yang sama. Kita tersenyum bersama seakan tak peduli dengan hujan dan angin.

Cerpen Karangan: Ahmad Rosidi
Facebook: Ahmad Rosidi
Ahmad Rosidi, kelahiran Blora, jawa tengah..
ini merupakan cerpen kedua saya, kritik dan saran sangat saya perlukan.
salam pena!

Cerpen Mendung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You Ken

Oleh:
Namaku Odelina Azkanah sebut saja Lin. Aku dibesarkan oleh nenekku di bandung, karena orangtuaku yang sibuk dengan pekerjaannya. Setelah umurku 15 tahun aku pun ikut kedua orangtuaku. Disini aku

Amarylis

Oleh:
“Hei, kenapa kamu marah kubilang cantik?” Galih menarik tanganku. “Jangan merayuku lagi! Aku nggak suka!” “Tapi aku suka.” “Galih..!!!” Buku yang kupegang spontan melayang padanya. Itu lima tahun lalu.

Unexpected

Oleh:
Matahari kembali hadir, meninggalkan peraduannya tersenyum ceria menyapa bumi. Meninggi dan semakin meninggi bersamaan dengan lembayung fajar di ufuk timur yang bergegas sirna. Aku memasuki sekolah beriringan dengan beberapa

Jatuh Hati

Oleh:
Aku rebeca, siswi menengah atas yang telah mematikan saklar cintaku.Tapi apalah daya, jika aku malah jatuh hati pada muridku sendiri. ‘ada ruang hatiku yang kau temukan Sempat aku lupakan,

Satu Hari Berdampak Selamanya

Oleh:
Terdengar suara ketukan pintu dan suara dari luar pintu kamarku. “Re!” Ucapnya. Panggilan itu membuatku menutupkan novel yang sedang aku baca. “Iya bu, masuk saja!” Ucapku dengan sedikit berteriak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mendung”

  1. Irma Amaliya says:

    Bagus kok…
    Saya menikmati disetiap alurnya.

  2. Suci Miranda says:

    So sweet…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *