Menunggu Di Balik Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Pancaran sinar itu telah kabur dengan hiasan kabut gelap. Tersenyum dalam tatapan hati yang kosong dengan pandangan yang hanya menuju pada suatu sudut. Dimana tempat itu adalah tampat perpisahan Nissa dengan Irish. Jarak akan memisahkan mereka, dengan sorotan mata Nissa di sekumpulan merpati yang semakin riang berterbangan dengan setabur makanan hingga membuat lamunan Nisaa kacau. Di sanalah tempat biasa Nissa dengan Irish menikmati angin sore dan menaburkan tawa mereka.

“Jika kelak kamu jodohku aku akan menjeputmu di sini, jika kelak aku tidak bisa bersamamu maka aku yang akan mengingatmu pertama jika kita dipertemukan walaupun dengan rangkulan tangan orang lain”. Kata itu dan kalimat itu dalah ucapan terakhir dari Irish. Nissa terus mengingat dan mengucapkan kalimat itu seiring dengan terbenamnya matahari dengan matanya yang berkaca-kaca. Sejak kepergian Irish Nissa sering mengucapkan kalimat itu dan memandang langit senja.

Kriiiing.. terdengar bunyi bel sepeda yang berada di luar pagar lalu memancing Nissa untuk pergi menuju pagar di luar rumahnya. Lisa merupakan teman bermain Nissa dulu yang akrab dengannya hingga sekarang, tetapi sudah tidak sedekat dulu untuk bersamanya, karena cinta segitiga antara Nissa, Irish dan Lisa. Namun semua itu sudah termaafkan, semenjak Irish pergi maka Lisa berfikiran tidak akan ada lagi yang dapat mendapatkan cinta irish. Dengan kegiatan di setiap harinya mereka mengisi kegiatan untuk mengabdikan diri di madrasah waktu mereka masih kanak-kanak dulu. Walaupun dengan hal seperti itu tapi Nissa menjalankannya dengan begitu penuh keikhlasan dan rasa senang.

Sedangkan Irish di Bandung tampak sibuk dengan perusahaan milik orangtuanya, dengan sedemikian komunikasi antara mereka terputus. Irish tampak tidak mengingat tentang kekasihnya, Anissa. Irish terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dalam meniti kariernya. Kerja keras irish membuahkan hasil yang cukup manis, semuanya menjadi meningkat, dan kehidupan Irish menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Begitu banyak waktu yang telah Anissa lewati tanpa sosok seorang Irish, seorang sosok penyemangat Anissa yang mampu memberikan kesan indah di setiap harinya dulu. Sekarang ia hanya bisa merasakan kesenangan saat ia bersama dengan keluarga dan muridnya, sedangkan kesedihan saat ia mengingat akan wajah Irish

Kapan kamu akan datang dan menjemputku di sini, kamu tahu aku sangat merindukanmu, di setiap malamku di setiap sujudku aku selalu berbisik namamu. penantianku dalam waktu yang panjang sangat membuatku lemah, hanya kenanganmu dan hanya kau.. ya hanya kamu Irish. Batin Anissa mulai terselimuti oleh kabut kesedihan dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya. Anissa telah mencoba untuk menahan kesedihannya namun kabut kesedihan itu serasa mengundang tetesan air mata Anissa. Di tengah gelap dan sepihyna malam ia tidak bisa terpejam, yang ada hanyalah bayangan jelas wajah Irish.

Di tengah lamunan Anissa, ternyata ia melupakan suatu hal bahwa esok harinya madrasah tempatnya mengabdi akan pergi berlibur ke pantai. Dengan susah payah akhirnya Anissa dapat terpejam setelah ia beristigfar sebanyak mungkin agar hatinya merasa lebih baik dan lebih tenang.

Kilau sinar matahari daru ufuk timur sudah mulai menyinari pohon rindang di halaman madrasah tersebut. Anissa dan Lisa tampak sedang mengatur muridnya untuk berbaris dan menuju pantai di dekat pelabuhan yang menjadi tempat favorit Anissa. Berhubungan dengan acara penting mendadak pak Sobirin ketua yayasan madrasah tersebut mempercayakan semuanya kepada Anissa dan Lisa.

Terlihat wajah para murid tersenyum, bahkan tertawa bahagia karena hari pertama mereka akan bermain di pantai. Segera mereka merapikan barisannya dan berjalan menuju pantai yang juga terdapat banyak merpati di sana.
“Kalian mainnya jangan jauh-jauh ya, cukup di dekat sini saja, ustad sobirin pesan ke kaka tadi” pesan Anissa kepada para semua murid madrasah yang ada di sana. Sedangkan Lisa tampak senang bermain dengan para murid yang lainnya. Anissa hanya memperhatikan mereka di bawah pohon rindang dengan senyuman manisnya ia merasa bahagia walaupun kadang bayangan Irish seakan muncul di hadapannya. Terasa lama dan tak ada kegiatan lain selain melihat anak-anak maka Anissa mempunyai fikiran untuk memberi makan merpati di sana, dengan pengunjung yang lain Anissa pun bergabung memberi makanan pada merpati yang sangat banyak dan menghiasi keindahan pantai tersebut.

Bruuuuk… Anissa meraskan ia telah menabrak orang di belakakangnya, karena ia berjalan mundur sambil menaburkan makanan pada merpati-merpati yang sedang ramai di hadapannya dengan berebut makanan. Anissa segera berbalik dan meminta maaf orang yang telah ditabraknya.
“eemh maaf saya tidak sengaja” ucap Anissa ia mununduk dan menganggukan kepala, ia tidak melihat orang tersebut yang telah ia tabrak. Subhanallah alangkah terkejutnya Anissa apakah ia harus senang atau menangis pada saat itu juga. Lelaki yang ia nanti selama ini untuk menjemputnya namun sekarang telah bersama seorang wanita yang merangkul tangan kiri lelaki itu. Irish ternyata orang yang Anissa tabrak ialah Irish. Alangkah terkejutnya Anissa. “eh iya gak papa, lain kali hati-hati mbak” bahkan Irish tidak mengenal Anissa lagi.

Tanpa menucapkan satu kata apa pun Anissa berlari dan tak tertahan air matanya membanjiri pipinya ia menangis terisak-isak, langkahnya terhenti di sebelah pohon Anissa merasa tidak kuat untuk melanjutkan langkahnya tersebut. Sesak di dada Anissa, batin Anissa serasa mati. Sekian lama menunggu dalam penantian yang sungguh-sungguh menyiksa batinnya dalam segala keinduannya, namun semua penantiannya terbuahkan dengan hasil yang seperti ini, terasa sia-sia menantian, ketulusan dan jug kesetiaan Anissa. Namun ia harus menerima semua hasilnya dengan cara seperti saat ini.

Tak disangka ternyata Irish telah menikah dengan Imas, yaitu putri dari rekan kerja ayahnya dulu. Anissa yang mendengar kabar ini sangat terpukul. Hampir beberapa hari ini ia tidak pergi ke madrasah dan keluar dari kamarnya. Ia masih belum cukup kuat untuk menerima semuanya. Sedangkan ibu Anissa sangat cemas dan khawatir melihat keadaan Anissa yang sudah beberapa hari mengurung diri di kamar. Pada hari itu juga ibu Anissa pergi untuk menemui pak Sobirin agar memberi pencerahan untuk Anissa.

“Nduk, keluarlah ini ada paK sobirin di luar, beliau ingin berbicara denganmu nduk” ibu Anissa sambil mengetok pintu kamar Anissa sambil mmebujuk Anissa keluar dari kamarnya. “enggeh buk” ucap Anissa sambil membuka pintu dengan masih menunduk, terasa sangat berat beban yang ia bawa sekarang. Ibunya hanya menggeleng sedih melihat putri kesayangannya seperti itu. “Anissa kemarilah nak, kenapa denganmu to nduk kok jadi seperti ini?” tanya pak sobirin kepada Anissa. “Anissa baik-baik saja ustad” jawab Anissa dengan sedikit senyuman namun kesedihan itu tidak dapat tersembunyi dalam raut wajah Anissa. “gini nduk, segala sesutu pasti sudah diatur maslah jodoh, kematian, juga rizki Allah telah mengaturnya, kita sebagai mana manusia hanya mampu berencana dan berusaha, namun kita juga tidak bisa memaksakan semuanya, semuanya telah ada pada jalannya masing-masing nduk, semuanya sudah tergaris Anissa kamu harus kuat dan sabar insya allah, Allah tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya nduk, Tawakkal saja dan jangan tinggalkan kewajibanmu sebagai umatnya, kamu besok ikut bapak saja ke kediaman bapak, di sana ada yayasan siapa tau kamu akan terhibur di sana dan kamu tidak akan sendiri ada putri bapak yang seumuran di bawahmu yang akan menemanimu, bagaimana kamu mau?” sedikit nasehat dari pak Sobirin yang membuat Anissa sedikit tersadar bahwa di balik semua ini pasti ada keindahan yang telah menunggunya, karena kita tidak tahu apa yang terjadi hari demi hari kedepannya. Anissa belajar mengikhlaskan semua walaupun itu sulit dan sangat sakit, namun Anissa harus tabah dan berdoa agar di balik semua ini terdapat hikmahnya tersendiri.

Pada pagi harinya Annisa bergegas dan bersiap-siap untuk pergi ke kampung halaman pak sobirin di Solo. Ia akan berangkat bersama pak Sobirin yang dijemput oleh cucunya yaitu Usman. “mari silakan nduk, ini cucu bapak namanya Usman” kata pak Sobirin memperkenalkan cucunya yang juga sudah lebih dewasa dari Anissa. Mereka pun segera berangkat sesudah Anissa berpamitan kepada Ibunya serta para murid dan juga Lisa.

Sesampainya di Solo Annisa disambut dengan baik oleh keluarga pak Sobirin, setelah bersalaman dengan keluarga pak Sobirin Anissa segera diantar oleh anak bungsu pak Sobirin, yaitu Sukma yang umurnya sekitar lebih muda dari Annisa.
Kehidupan di sana sangat baik hari demi hari Anissa pun mulai melupakan Irish dengan memulai berbagai macam kegiatan di yayasan tersebut. Anissa sering dibantu oleh Sukma dan Usman untuk urusan sesuatu mulai dari kebutuhan tertentu saat hendak mengadakan berbagai macam kegiatan di yayasan Nurul Diniyah tersebut. Udara terasa sangat panas entah kenapa tidak ada angin yang berhembus pada waktu itu. Karena pada malam harinya nati akan diadakan pengajian serta berbagai macam hiburan, panggung sederhana telah diatur oleh Usman sedangkan penataan ruang diatur oleh Anissa, Sukma dan bu Mirna ibu dari Usman. Semuanya telah sibuk mempersiapkannya.
“pak sepertinya Anissa gadis yang baik ya, cocok menjadi bagian keluarga dari kita to pak” kata ibu marni dengan tersenyum sambil menghampiri pak Sobirin yang sedang mengamati pekerjaan mereka. “kalau itu saya serahkan kepada Anissa dengan Usman nduk, bagaimana pun kita menjodohkan mereka kalau Anissa dengan Usman masih tidak bisa melupakan kejadian silamnya masing-masing” jelas pak Sobirin kepada bu Marni. Karena selain dari Anissa, Usman juga mempunyai masa lalu yang sangat membuatnya enggan untuk mencintai wanita lain karena tunangannya dulu lebih memilih lelaki lain dan kemudian menikah.

Namun sekian lama mereka selalu bersama dan saling bantu dalam kegiatan apapun yang kadang juga menghadiri pengajian bersama sepertinya Usman menyukai sosok Anissa begitupun sebaliknya dengan Annisa, ia juga menyukai kepribaduian Usman yang dianggapnya sangat baik dan sopan terhadap orang di sekitarnya. Anissa sempat menilai bahwa Usman sosok lelaki yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kekasihny dulu, Irish. “dik Anissa nanti kita ke acara pengajian lagi, adik bisa atau tidak tapi sepertinya sukma tidak bisa ikut karena kurang enak badan” tanya Usman kepada Annisa yang sebenarnya bermaksud untuk mengajak Anissa untuk pergi ke pengajian bersama. “Anissa izin ustad Sobirin dulu ya mas” jawab Anissa dengan tersenyum dan kemudian pergi. Usman tampak senyum senyum sendiri dengan sikap Anissa yang sangat baik dan juga lembut itu.

Pak Sobirin mengizinkan Anissa dan Usman untuk pergi menghadiri pengajian di masjid seperti biasanya. Sedangkan Bu Marni, Usman dan Anissa tanpa bertanyapun langsung menginjinkan mereka pergi. Bu Marni sangat menyayangi Anissa sepeti anaknya sendiri karena ia mengenal Anissa anak yang baik dan juga berbakti tidak ada kalanya bu Marni ingin memiliki menantu seperti Anissa. Di waktu itu juga Usman bertujuan juga ingin menjadikan Anissa sebagai wanita yang akan ia jaga dan ia sayangi hingga kelak. Sepulang dari acara pengajian tersebut nampak jam menunjukkan jam 20.00 Bu Marni sedang bersama dengan pak Sobirun yang membicarakan sesuatu. “Assalamualaikum” Usman dan Anissa mengucap salam. “walauikumsalam” mereka menjawab salam Anissa dan Usman serentak. “Umi, kakek Usman ingin melamar Anissa dan menjadikan Anissa bagian dari kelurga ini, karena Anissa ynag membuat Usman bersemangat kembali dan Usman mengenal Anissa seorang wanita yang baik” pinta Usman dengan memegang tangan Bu Marni dan pak Sobirin. Alangkah terkejutnya Bu Marni yang langsung tertawa senang dengan memukul pundak Usman. “oalah le.. kamu ini memang sudah menyukai Anissa to, kalau begitu ya umi setuju” jawaban bu Marni yang tentu membuat Usman senang. “Usman, Anissa apakah kalian ini sudah pas dan yakin untuk menjalin ikatan?” tanya pak Sobirin. Anissa hanya tersenyum dan mengagguk sedangkan Usman menjawab pertanyaan kakeknya dengan penuh keyakinan. “hahaha baiklah, kalau kalian sudah yakin dan sama-sama mempunyai kecocokan besok kita akan pergi kerumah Anissa untuk melamarnya dan juga segera menentukan tanggal pernikahannya” jawab pak Sobirin kemudian setelah Usman meyakinkan semuanya, selain itu pak Sobirin juga senang terhadap Anissa.

Pada pagi harinya mereka telah sampai di kediaman Anissa dan segera menyampaikn niat baik kedatangannya tersebut bahwa ingin melamar Anissa. Bu Ati ibu dari Annisa sangat tak menduganya, ternyata Anissa akan dilamar oleh keluaraga pak Sobirin. Pada hari itu juga mereka sah utnuk menjalin ikatan dan dua hari selanjutnya acara ijab dan pernikahan akan segera dilaksnakan. Setelah itu keluarga pak sobirin berpamitan untuk pulang, namun pak Sobirin tetap tinggal di yogyakarta dengan mengurusi madrasahnya.

Tok tok tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Anissa segera bergegas utnuk membuka pintu. “Astagfirullah ada apa ini” Anissa benar benar terkejut atas kedatangan Irish yang semulanya melupakan Anissa dan ia bergandengan dengan wanita lain di hapan Anissa pada waktu silam. “Nis, apa kabar, aku kesini untuk menemuimu dan aku ingin meminta maaf atas kesalahanku yang kemarin” irish menggenggam tangan Anissa dan sangat menyesali perbuatannya berapa waktu silam. “Anissa sudah melupakan semuanya dan Anissa telah mengikhlaskan semuanya, jadi tolong jnagan ungkit yang sudah terjadi” Anissa menarik tangannya dengan air mata menetes tetapi ia tidak melihat Irish karena ia merasa sakit atas apa yang telah Irish perbuat, sekian lama ia menunggu Irish namun Irish telah menikah dengan wanita lain. “aku ke sini ingin melamarmu Niss, seperti janjiku aku akan menjemputmu” ucap irish dengan membawa cincin dan berlutut di hadapan Anissa. “bangunlah Irish, tidak ada gunanya lagi, semuanya telah terlambat dua hari lagi Anissa akan menikah dengan Usman”. Anissa menguatkan diri dan menahan air matanya yang hendak jatuh kembali. “tidak, tidak mungkin, selama ini kamu setia menungguku tapi kenapa sekarang kamu akan menikah bersama lelaki lain” jawab Irish yang kemudian bangun dengan muka yangs angat kecewa dan penuh sesal. “kenapa dulu kamu juga tega meninggalkan Anissa ynag sudah setia di sini menunggumu berapa tahu lamanya, tapi maaf Irish Anissa sudah dimiliki orang lain dan menoleh lah kebelakang dia adalah calon imam Anissa besok” ucap Anissa lagi lagi ia menahan air matanya yang akan jatuh.

Irish menoleh ke belakang dan merasa sangat terkejut. Lelaki yang ada di hadapannya dan lelaki yang akan menjadi calon imam Anissa adalah Usman tunangan mantan Istri yang telah Irish rebut dahulu. Irish benar-benar tidak bisa bernafas saat ini. Rasa sedih, sesal dan bersalah yang ia rasakan sekarang. “apa kabar Man, jaga Anissa sebaik mungkin, maafkan semua kesalahanku dulu Niss, dan juga kamu Man, Assalamualaikum” Irish pergi meninggalkan Anissa dan Usman. Mereka juga tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini dan mereka juga dipertemukan dalam keadaan dan jalan yang seperti ini. Usman segera membawa masuk Anissa ke dalam rumahnya dan berusaha menghilangkan rasa sedih Anissa walaupun Usman sendri merasa terpukul karena ia bertemu dengan orang yang telah merebut tunangannya dulu dan juga lelaki yang pernah menjadi kekasih Anissa.

Acara pernikahan Usman dengan Anissa pun sudah dimulai, semuanya berjalan dengan lancar dan kedunya telah sah menjadi pasangan suami istri. Keduanya sangat bahagia begitupun ibu Ati dan bu Marni. Namun kebahgiaan mereka berhenti menjadi duka, terdengar kabar bahwa Irish mengalami kecelakaan pada saat akan menghadiri acara pernikahan mereka. Anissa sangat-sangat terkejut dan begitupun dengan Usman. Setelah semuanya selesai mereka segera pergi ke rumah sakit menemui Irish. Namun yang masuk dalam ruangan itu hanyalah Anissa dengan Usman atas permintaan Irish akhirnya dokter menginzinkannya.

“Anissa, Usman berbahagialah kalian, jadilah keluarga yang sakinah, Niss kamu harus menjadi istri ynag baik kelak untuk suamimu dan juga kamu Man, jadilah imam yang dapat membimbing keluargamu menuju surga, maafkan semua kesalahanklu” Irish memegang tangan Anissa dan Uman lalu menyatuhkannya, setelah menyebut nama allah Irish menutup matanya dan menghembuskan nafas tetrakhirnya. Tangis dari Anissa pun mengisi seluruh ruangan itu, begitu juga Usman yang sangat sedih atas kepergian Irish. Tak ada dendam sedikitpun untuk Irish. Usman telah merelakan semuanya yang sudah terjadi begitu juga Anissa yang telah memaafkan Irish.

Sekarang Anissa akan hidup berbahagia dengan Usman dan bukan dengan kekasinya yang ia tunggu beberapa tahun lamanya. Ia hanya bisa mengiklaskan kepergian mantan kekasihnya yang sangat ia cintai dulu.
Sesuatu yang direncanakan terkadang tidak akan juga menjadi nyata, hanya mampu berusaha untuk hasil akhirnya biarlah Allah yang menentukannya.

Cerpen Karangan: Soviya (Viviy)
Facebook: viviy

Cerpen Menunggu Di Balik Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manakah Cintamu

Oleh:
Pikiranku mulai melayang memikirkan seorang lelaki yang sangat mengecewakan hati semua wanita, bahkan aku yakin tidak akan ada wanita yang mau diperlakukan demikian. Kecewa sudah pasti tidak luput juga

Pertanyaan Terakhir Ibu

Oleh:
Jiya berjalan pulang dari sekolahnya dengan perasaan tidak menentu. Tadi, di sekolah, ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya. Bagaimana jawaban Jiya? Apakah dia menerimanya? Jiya tidak menerima maupun

Penantian Yang Tak Berujung

Oleh:
“Penantianku selama kurang lebih 7 bulan tidaklah sia-sia, dia yang aku tunggu kini telah kembali.” Dia adalah seorang pria yang merupakan kakak tingkat di kampusku, aku mengenalnya sejak pertama

Kutemukanmu Dalam Duhaku

Oleh:
Seberkas cahaya menerobos masuk tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Tak biasanya, aku terbangun dari alam bawah sadarku dengan cara seperti ini. Kaget setengah mati ketika kudengar suara yang

Allah, Selalu Bersama Mu

Oleh:
Masalah, ujian, cobaan, entah apa namanya yang terus menerus menemaniku saat ini. Aku terlahir dalam sebuah keluarga kecil dan aku anak satu-satunya. Seringkali aku merasa sangat kesepian karena tiada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *