Merindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Pagi buta, masih terlihat gelap sunyi dan sepi, menumbuhkan sebuah rasa hawa dingin sejuk, menakjubkan, menanti indahnya surise. Dini hari itu Fahmi, lelaki yang dua tahun lalu baru saja lulus dari Pesantren Al-Mubarokah di kota Jawa tengah. Ia duduk bersila di atas sajadahnya dengan menata hati dan fikirannya pada hafalan Alqurannya agar tetap terjaga baik. Sampai Adzan subuh berkumandang barulah Fahmi menghentikan deres-nya, Fahmi berucap “Alhamulillah” dan mendengarkan sampai lantunan panggilan indah itu usai, tak lupa Fahmi berdoa dan dilajutkan dengan sholat sunnah Fajar dan sunnah Qobliyah.

“Mi…” suara halus nan lembut itu membuat Fahmi menghentikan hafalan Al-Qurannya.
“Dalem, Bu.” Fahmi menyahut, ia tutup Al-Quranya dan ia letakan pada meja kecil di belakangnya. Baru saja Fahmi berdiri, Ibunya sudah berada dalam kamar putranya.
“Kamu sudah sholat sunnah?”
“Sudah, Bu.”
“Tadi juga Ibu sudah sholat sunnah di kamar, kita sholat subuh dulu.” Ibunya mengambil posisi untuk menjadi makmum.
“Mumtazah mana Bu?” Resah Fahmi ketika sang Ibu menyuruhnya segera sholat, sedangkan adikkanya Mumtazah belum terlihat.
“Adikmu sedang Udzur (Haid). sudah cepat sholat, nanti keburu siang.” Fahmi mengangguk lalu membenarkan posisinya dan mengimami.

Matahari sudah memberikan kehangatan, sinarnya begitu cerah hingga awan-awan di atas sana begitu terlihat biru menawan. Fahmi keluar dari kamarnya membawa beberapa kitab untuk materinya di hari itu, tepatnya materi untuk para santri Darul Falah. Ia masih teringat ketika Bapak kyai Ghufron memintananya untuk menjadi salah satu pengajar di pesantrennya. Waktu itu Pak kyai beserta Istri dan putrinya, Roudhotul Jannah, gadis yang masih berumur Duapuluh satu tahun, yang sekarang masih berpesantren di jawatimur. Jannah, Panggilannya. Terlihat sangat anggun dengan balutan gamis putihnya yang dipadu dengan jilbab hitam.

“Assalamu’alaikum pak kyai.” Fahmi mencium punggung tangan lelaki lansia itu, lalu menelungkupkan kedua telapak tangannya memberi salam kepada tamu perempuan. Fahmi duduk di samping Ibunya. “Begini nak Fahmi, saya meminta Nak Fahmi untuk mengajar di pesantren, kebetulan satu minggu yang lalu Pengajar santri menikah dan sekarang tinggal di luar kota. Saya sudah sregg sama nak Fahmi, apalagi Nak Fahmi kan sudah pernah belajar banyak kitab-kitab di pesantren. Besok jam tujuh pagi nak Fahmi ke Pesantren yah? Selesai ngaos (ngaji) biasaya sampai jam empat sore.” Pak kyai memperhatikan detil lelaki yang berada di depannya itu.
“Jika pak kyai yang meminta, saya tidak bisa menolak, sebab pak kyai juga salah satu guru saya.” Fahmi tersenyum, ia tak sedikitpun untuk melirik ke Jannah, padahal Jannah duduk tepat di samping pak kyai. Jannah juga tak pernah mengangkat kepalanya ketika berhadapan dengan orang lain, sekalipun itu Fahmi, tetangganya sendiri.
“Ya sudah, saya pamit nggih, besok jangan lupa yah? Saya yakin para santri bisa lebih giat belajar jika Ustadznya seperti nak Fahmi yang begitu rajin.” Fahmi tersenyum lalu menyalami pak kyai yang sudah berdiri.

Fahmi memasuki kelas tiga Aliyah santri istri (perempuan) yang materi kitabnya sudah lumayan lebih tinggi. Terlihat para santri begitu tenang membaca-baca kitab Nadzomnnya yang hari itu harus di storkan pada Ustadznya. Begitujuga dengan Mumtazah, adiknya yang memang merauk ilmu di pesantren itu. Satu persatu santri istri berdiri di tempatnya dan menyetorkan. Fahmi tak pernah memberi sanksi berat pada murid-muridnya jika hafalan yang ia berikan tidak habis dimakan para santri, biasanya Fahmi malah mengulang menerangkan materi yang belum dipahami oleh santri.

Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rerumputan, bunga-bunga, ranting kecil, pohon-pohon ikut bergerak mengikuti arus, begitupula dengan bumi dan langit yang ikut berdzikir kepada Allah Azzawajalla. Fahmi masuk ke Ndalem (rumah pak kyai) karena pagi tadi pak kyai menyuruhnya untuk di temui ketika jam sekolah usai.
“Assalamu’alaikum.” Fahmi menyalami tangan itu lalu duduk di shofa panjang.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab pak kyai.
“Pripun pak kyai?”
“Punten sekali nak, begini. Besok Jannah harus wangsul (pulang) ke Pesantren, waktu liburannya sudah habis, jadi besok saya dan Istri harus mengantarkan Jannah ke jawa timur.” Fahmi mengangguk-anggukan kepalanya. “Saya ingin, ketika saya dan keluarga kesa (berangkat) nak Fahmi yang mengurus pesantren ini.” Lanjut pak kyai.
“Enggih pak kyai insyaallah.”
“Alhamdulillah.” Jawab pak kyai. Lalu keluarlah gadis dengan balutan gamis hijaunya dari balik pintu itu membawa dua cangkir gelas berisi teh hangat, Fahmi sempat menatapnya, namun buru-buru ia buang. Jannah kembali masuk setelah Jannah meletakan teh di atas meja.

Pagi itu suasana Pondok Pesantren Darul Falah masih terasa sama, damai dan ramai oleh para santri yang berlalu lalang di area pesantren. Tapi entah kenapa ketika ia melihat Jannah pergi dengan mobil sedan coklat itu terasa hambar hatinya. Berkali-kali Fahmi menanyakan dirinya sendiri. Apa yang terjadi? Kenapa Aku jadi seperti ini? Fahmi tetap berusaha baik-baik saja sekalipun sejujurnya hatinya tak dapat ia mengerti.

Malam itu seusai ngajar diniah malam di pesantren, Fahmi bermunajat dan iktikaf kepada sang Haliq, Allah Azza Wajala. Di masjid pesantren tiang jaler (laki-laki). Ia terus menghalafal Al-Qurannya tanpa henti berharap bayang-bayang wajah gadis itu cepat hilang, namun entah mengapa sampai tiga hari lamanya Fahmi melakukan itu hingga ia Hatam Al-Quran sehari satu kali masih saja wajah Jannah membayanginya. Bahkan ia merindukan gadis itu. Ia doakan Jannah dalam setiap sholatnya.
“Ya Allah ya Rabbi yang maha mengetahui segala urusan manusia juga hati dan Jodoh. Hamba memohon segala yang hamba minta padaMu. Salah satunya adalah Jodoh yang terbaik untuk hamba. Istri yang dapat memberikan ketenangan dunia dan akhirat. Hamba tak dapat berbuat apa-apa selain meminta padaMu untuk tolong jagalah wanita yang berada di sana, hamba merindukannya, merindukan akhlaq, sopan-santun dan kepribadiannya yang sholehah. Jika Engkau meridhoi maka dekatkanlah. Tapi jika Engkau tidak berkenan, hamba mohon biarkan hati hamba menemukan yang lebih Engkau Ridhoi.” Fahmi menitikan airmatanya hingga ia tak sadar ia tertidur dalam itikafnya.

Hari-Harinya teramat berat ketika nama Jannah terus menerus menyelimuti hati dan otaknya. Jannah, putri dari bapak kyai terpandang, jika diibaratkan adalah seperti matahari yang selalu bersinar mengalahkan sinar rembulan dan bintang. Fahmi sempat sholat istikhoroh beberapa kali, jelas terasa dalam mimpi itu, Jannah berdiri beberapa meter darinya, Jannah tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Fahmi, lalau Jannah masuk ke pesantrennya. Fahmi terbangun ia langsung beristighfar, nafasnya masih teratur. Mungkin dalam mimpi itu Jannah ingin menyelesaikan pesantrennya dulu.

Fahmi memberanikan dirinya menemui Pak kyai yang sedang duduk di ruang tengah. Fahmi menceritakan apa yang sedang terjadi pada hatinya beberapa minggu ini. Tak sanggup jika harus mengurung diri dalam kerinduan. Fahmi juga memberika secarik amplop surat untuk Jannah.

Cirebon 17 Rajab 1436 H
Assalamu’alaikum wahai ‘Raudhotul jannah’ Semoga selalu dalam keadaan sehat dan banyak keberkahan. ‘Jannah’ maafkan jika saya lancang mengirimimu surat. Tapi ini kejujuran hati yang harus saya katakan. uhibbuki hubban syadidan, zaujatan abadan, Yaa Roudhotul jannah.

Fahmi kembali menghafal Al-Qurannya, satu juz lagi ia hatam. Dan Fahmi mensepesialkan nama Jannah untuk doa doanya menjadi daftar berikutnya setelah keluarganya. Itu Hataman ke tiganya di bulan puasa. Masih sekitar duapuluh tiga hari lagi lebaran datang. Kerinduan itu kembali hadir ketika Fahmi menyebut nama Jannah dalam doanya bahkan dadanya berdesir hebat. Terdengar suara pintu kamarnya dibuka namun Fahmi tak menoleh karena masih dalam tahap hataman. Seusainya doa hataman di rampungkan Fahmi melirik meja yang berada di belakangnya, ada ponsel dan secarik amplop coklat, Fahmi meraih amplop itu lalau membuka.

Kediri 25 Rajab1436 H
Assalamu’alaikum Mas Fahmi. Alhamdulillah Jannah sehat, bagaimana dengan kabar Mas Fahmi dan keluarga? semoga sehat juga. Terimakasih atas kejujuran Mas Fahmi, jannah senang membacanya, Insyaallah Abah dan Umi akan menjelaskan semuanya.
Wassalamu’alaikum wrwb.

Fahmi tercengang membaca balasan surat dari Jannah, kertasnya basah terkena tetesan airmata. Baru saja tadi pagi Pak kyai mampir ke rumahnya membicarakan hal yang menjadi hari harinya merindu, dan pak kyai beserta Istri merestuinya. Insyaallah bulan syawal acara walimah akan dilaksanakan.
Rindu itu kembali hadir dan hadir lagi, Fahmi menahan rindunya dengan doa doa untuk calon istrinya sampai ahir waktu yang sudah Allah perkenankan untuk keduanya bertemu dalam satu jiwa karena ibadah.

Cerpen Karangan: Vaa Kharisma
Gadis yang masih duduk di semester enam ini lahir di Cirebon 20 Januari..

Cerpen Merindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Duhai Khalqillah

Oleh:
Cinta tak pernah aku cari. Bahkan aku tak pernah berfikir untuk mencintai insan Allah selain ibu. Ia malaikatku. Cintaku padanya adalah cinta yang tak pernah kuberikan pada orang lain.

Pangeran Bersorban

Oleh:
Ada kekhawatiran tersendri bagi setiap anak perempuan yang dilangkahi. Dilangkahi dalam artian didahulukan menikah oleh adik perempuannya. Tak terkecuali dengan Aina Nathania seorang gadis sederhana yang sudah cukup dewasa

Gadis Sepertiga Malam

Oleh:
“Shodakallahhuladzim…” Nada menutup Al-Qur’an lalu menciumnya, seraya berdo’a “Ya Allah lindungilah aku dari sifat sombong, iri dan dengki. Jauhkanlah aku dari segala sesuatu yang membuat diriku buruk di mata

Kisah Tak Sampai

Oleh:
Nuansa pagi yang indah di bulan ramadhan mengawali hariku untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan pesantren kilat dan berbuka puasa bersama di sekolahan. Pagi itu adalah pagi yang sangat indah yang

Jangan Terlalu Cepat, Aku belum Siap

Oleh:
Aku menatap lurus sebuah lukisan mawar merah di dalam kamarku. Dalam kesunyian dan keheningan malam yang mulai mengundang orang-orang untuk sejenak memejamkan mata seusai beraktivitas seharian. Aku masih saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *