Musuh Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 23 May 2019

Hai musuhku, bagaimana kabarmu saat ini. Nampaknya aku melihat senyum yang lain di wajahmu. Senyum yang selama empat tahun belum pernah aku lihat. Senyum yang selama empat tahun yang aku impi-impikan. Bagaimana tidak, selama itu pula kau menyikapiku sebagai teman, musuh atau rekan kerja, itupun aku tidak tau. Tapi saat aku sadar bahwa senyum itu bukan untuk aku, mau bilang apa.

Hai musuhku. Aku akui dari awal kita berjumpa aku mulai punya rasa yang spesial dan itu rasa dimana aku belum pernah ngerasain seumur hidupku. Seiring berjalannya waktu rasa itu semakin menjadi-jadi. Saat aku mengamatimu dari kejauhan, caramu bercanda, prinsip hidupmu, lekuk tubuhmu, dan cara kamu berpakaian. Aku yakin bahwa itu semua nafsu belaka.

Hai musuhku. Aku nggak tau apa yang harus aku lakuin karena saat kita bercanda, bertengkar dan saat kita menjadi teman kerja. Aku merasa kamu nggak nyaman dengan responku tehadap kamu. Mungkin karena kamu tipe yang berprinsip teguh dan sangat religius sedangkan aku orang yang selalu mengedepankan nafsu dari pada hati dan aku akui aku memang nggak sesensitif cowok lain.

Hingga akhirnya datanglah dia untuk menjadi rekan kerja kita. Dia yang lebih dari aku, dia selalu membuat kamu tersenyum dan dia yang sedikit banyak merubah fakta-fakta yang ada pada diri kamu. Dulu aku akui saat kamu dekat sama cowok lain rasa cemburu itu sesekali menghampiri, walau tak sedikitpun membuat aku sakit hati. Tapi dia, dia yang membuatmu berubah 180 derajat. Dia yang bisa memenangkan hatimu. Dia pula yang akhirnya membuatku patah hati. Dan karena dia aku bertengkar denganmu hingga aku melihat air mata di pipimu. Oh tuhan betapa kagetnya aku hingga dada ini sesak untuk bernafas karena melihatmu bersedih seraya meneteskan air mata. Sejak saat itu aku mulai sadar, bahwa ini bukan sekedar nafsu atau cinta belaka, tapi ini adalah keadaan hati yang dipenuhi cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadapmu. Hingga hari-hariku terasa gelap. Aku sering melamun, menangis dan teriak sendiri. Ya tuhaaan maafkan hambamu ini yang telah melupakanmu hanya karena kalah oleh nafsu syetan.

Hai musuhku, andai kamu tau, tak sedetikpun aku melupakanmu baik dalam bangun atau tidurku. Dan andai kamu tau bahwa kaulah satu-satunya gadis yang selalu ada dalam do’aku selepas sholat fardu dan sholat malamku agar kau selalu bahagia di dunia dan akhirat. Aku ingat saat aku ingin mencium bibirmu kamu menolak dengan alasan “Jangan, bibir ini hanya untuk suamiku kelak” Seraya menundukkan kepalamu. Ohhh tuhaaan inilah gadis yang aku cari. Karena aku yakin dengan prinsip dan kereligiusannya, dia mampu menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anakku menuju jalan yang diridhoi tuhan.

Seiring bejalannya waktu kamu kian dekat dengannya dan sebaliknya semakin jauh denganku. Hingga sedikitpun aku tak pernah benar di matamu walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk memperbaiki hubungan ini, entah kamu sadar itu atau nggak. Tapi aku yakin ini jalan yang terbaik dari tuhan untuk aku dan kamu. Aku ikhlas karena prioritas dalam hidupku adalah bahagiamu bukan sebaliknya.

Hingga pada suatu hari, ada satu kejadian dimana membuat aku tersentak kedua kalinya bukan karena melihat air mata di pipimu lagi melainkan kau dengan pdnya mengangkat dagumu tinggi-tinggi seraya bercumbu mesra dengan dia tanpa menghiraukan prinsip-prinsip yang sering kau ucapkan kepadaku bukan itu saja dengan pdnya juga kau mengumbar kemesraan selama 12 jam per hari di tempat kerja tanpa sedikitpun menghiraukan perasaanku. Yaaaa tuhaaaan betapa hancurnya hati ini kau cambuk hatiku hingga hancur tak tersisa. Atau mungkin ini peringatan dari tuhan karena aku tanpa sadar telah menjauh darinya. Ampuni aku yaaa tuhaaan ampuni hambamu yang terlalu banyak dosa.

Selepas kejadian itu aku terus memohon kepada tuhan agar menunjukkan jalan yang diridhoinya. Dan akhirnya aku sadar bahwa kejadian itu adalah sebuah jawaban bahwa kau secara tidak langsung memaksaku melepaskanmu dari setiap do’aku dan bisa aku pastikan kau bukan calon ibu dari anak-anakku. Kau hanyalah kenangan pahit yang harus kukubur dalam-dalam walaupun faktanya sulit bagiku untuk ngejalaninya. Tapi aku optimis karena aku masih punya tuhan. Tuhan yang memberiku perasaan itu dan tuhan pula yang sanggup mengambilnya. Aku pasrah kepadamu. Amiiin ya rob.

Cerpen Karangan: Al Einstein
Blog / Facebook: AL Eins Tein

Cerpen Musuh Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inikah Senja

Oleh:
Ketika senja berlalu pergi, ketika sinar jingganya mulai kelam, ketika langit biru mulai menghitam, Ia, wanita yang manis itu menumpahkan segala air mata pengharapannya. Menumpahkan segala rasa sesal akan

Kisahku dan Gadis Berjilbab Biru

Oleh:
Siang itu waktu menunjukkan tepat pukul dua siang, dan aku pun mulai beranjak dari tempat tidurku untuk segera bergegas berangkat kerja. berhubung waktu itu ada jadwal meeting dengan client

Pelukan Terakhir

Oleh:
13 Januari 2007 Hana, minggu ini aku akan pulang, seperti yang engkau harapkan. Aku akan menemuimu, mencurahkan kerinduan yang selama ini kupendam. Namun, janganlah kau terlalu berharap banyak padaku.

Awan Itu Kamu

Oleh:
Hampir setiap pagi aku tak dapat melihat senyuman mentari. Awan hitam selalu sibuk untuk menutupi cahayanya. Membuatku harus menggunakan payung untuk melindungiku dari tusukan air yang berjatuhan dari langit.

Edelweis

Oleh:
Barangkali kau melihatku hanya sekejap mata. Barangkali kau mengenalku hanya semaumu saja. Barangkali kau tak tahu tentangku. Ahh.. barangkali aku yang terlalu mendamba. Mungkin hati masih tertutup awan kelabu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *