Nostalgia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 November 2018

“Jika memang rasaku ini semu, maka ia akan hilang seiring dengan berjalannya waktu”
Kataku terkias di atas secarik kertas, kutulis dengan pena kesayanganku.
Dengan pena itu kucoba rapal bayangnya yang hanya ada dalam anganku. Bahkan bungkus coklat itu masih hangat dalam ingatku. Sampai saat ini ia masih kusimpan apik di dalam bukuku. Darinya dulu. Meski bukan sebuah kado istimewanya untukku. Ia berikan sebungkus coklat pada semua muridnya dulu. Tepatnya sebagai tanda perpisahan karena ia akan melanjutkan studinya di tempat yang bahkan saat itu aku belum tau. Dan kejadian itu telah berlalu tiga tahun yang lalu. Rasanya, ingin mengulang kembali kenangan itu. Melihatnya yang sibuk mengajari muridnya yang nakal, dan juga mendengarkan cerita darinya yang sangat penuh akan hikmah.

Aila, namaku Laila Azizatus Zahra. Saat ini umurku genap tujuh belas tahun. Tepat satu bulan yang lalu ulang tahunku. Kata orang-orang umur tujuh belas itu masa jatuh cinta. Masa yang menyenangkan katanya. Tapi justru aku takut, aku lebih memilih menjadi anak kecil yang tak mengerti apa-apa, dari pada menjadi remaja. Masaku sekarang ini adalah masa transisi dan pencarian jati diri. Itulah yang membuatku takut. Aku takut jatuh cinta yang pada akhirnya akan membuatku jatuh pada lubang yang sangat dalam, hingga aku sulit keluar dari lubang itu. Dan rasa ini, rasa kagumku padanya. Mungkin hanya rasa biasa, mungkin.

Hobiku menulis. Menulis segala tentangnya. Berkhayal dengan cerita tak masuk akal, berimajinasi dengan cerpen fantasi. Ia yang selama ini selalu memenuhi sajak puisiku. Ia adalah tokoh utama di setiap ceritaku.
Dan namanya adalah Kak Ali. Sosok guru yang Sholih dan tawadhu’. Ia adalah guru favoritku sewaktu aku duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Aku mengaguminya. Mengagumi setiap perbuatannya, mengagumi setiap perkataanya, mengagumi sikapnya, mengagumi semua yang ada pada dirinya.

“Krriiinggg” bel sekolahku berbunyi satu kali. Tanda pelajaran akan berganti.
Lamunanku terpecah. lamunanku tentangnya sedari tadi, tepatnya sejak guru matematikaku masuk ke dalam kelas. Pelajaran matematika itu memang membosankan, hanya membahas angka, angka, dan angka.

Beberapa menit kemudian. Palajaran berganti, pak Aman masuk ke kelasku. Ia adalah guru bahasa indonesia yang cukup fenomenal dengan penilaian sinisnya terhadap murid-muridnya. Dengan segera kumasukkan buku matematikaku dan mengeluarkan buku bahasa indonesiaku. Tumpukan kertas yang kujepit dengan tablechis juga kukeluarkan, barang kesayanganku yang selalu kubawa. Penaku juga telah kupegang dengan erat, seakan jariku enggan melepaskannya.

Kali ini kami mempelajari mengenai sajak dan puisi. Pas sekali denganku, ini memang bagian yang sudah aku nanti-nanti. Pak Aman mulai menjelaskan, lalu kami diminta membuat contoh puisi.

“Salam rindu ku haturkan padanya
Ia yang ada di lembah tengah pulau Jawa
Ia yang sedang mencari cinta dari Sang Penciptanya
Aku ada di sini,
Di lembah sunyi tak berpenghuni
Dikelilingi api syetan yang siap menerkam diri
Ku coba tancapkan rindu tak berakar di hatiku
Namun rindu itu tak juga berakar sedari dulu
Seperti aku yang tak bisa menyentuh bayanganmu
Aku bagai lilin kecil yang butuh api untuk menerangi
Tapi api itu tak jua datang
Diakah api itu?
Sudahlah,,
Biarkan dia meneruskan perjalanannya,
Agar ia sampai di tempat yang jauh nan mulya
Biarkan ia pergi ke bulan
Biarkan ia bersinar bagai bulan purnama di tengah-tengah gelapnya langit malam
Dan aku akan tenggelam bersama rindu”

Aku masih sangat ingat saat pertama kali aku mengenalnya. Aku tak pernah melupakan meski hanya secuil kenangan tentangnya. Bagaimana aku bisa lupa, sedang semua peristiwa tentangnya selalu kutancapkan dengan erat dalam kepalaku.

Matahari mulai terbenam. Menyusup lewat celah perbukitan. Cahaya mega mulai menyeruak dari balik pepohonan dan rerumputan. Dan malam pun telah siap menyelimuti langit bersama rembulan dan bintang-bintang. Aku masih termangu di depan rumah, menanti orang-orang pulang dari sholat maghrib berjamaah di mushola. Ketika mereka pulang, barulah aku berangkat mengaji bersama temanku. Umurku masih tiga belas tahun.

Kulepaskan sandal dari kaki kiriku, lalu kulanjutkan dengan kaki kanan. Aku dan teman-teman langsung masuk ke ndalem. Di sana sudah ada temanku yang lainnya. Kami memulai kajian dengan berdoa bersama.
“Itu siapa? Guru baru ya?” Tanyaku pada teman di sampingku.
“Kak Ali namanya”
“O… Yang namanya Kak Ali ini orangnya”

Sistem mengajar di tempat mengajiku membagi kami menjadi tiga kelas. Kelas Ula, kelas Wustho, dan kelas Aliy. Aku berada di kelas Aliy. Dan ia mengajar di kelas Ula. Memang tak berada di satu ruangan, tapi aku sengaja lewat di depan kelas tempat ia mengajar. Hanya untuk sekedar mengintipnya yang sedang sibuk menertibkan murid-muridnya. Maklum saja, yang ia ajar mayoritas anak yang masih di bangku taman kanak-kanak.

Saat itu ia masih bersekolah di sekolah yang sama denganku. Ia masih kelas tiga Madrasah Aliyah, dan aku di kelas tiga Madrasah Tasanawiyah. Dia adalah salah satu santri di pondok tempatku mengaji. Tapatnya santri yang baru saja pindah ke pondok itu beberapa hari yang lalu.
Sejak saat itulah aku mulai mengenalnya. Meski ia mungkin tak mengenalku. Kuputuskan untuk menjadikannya guru favoritku. Meski ia tak pernah mengajar kelasku.
Ia mempunyai warna kesukaan yang sama denganku. Dulu kebetulan hobiku juga sama dengannya. Menggambar. Kegemaran yang sama sekali tak pernah terlewatkan di setiap hariku. Pelukis, itu menjadi sebuah impian yang ingin aku wujudkan sejak dulu. Dan ia menjadi sebuah bumbu yang luar biasa pada hobiku itu. Masih kuingat pertama kali ia mulai mengenalku.

Tanganku mulai menari di atas layar ponsel. Mencari-cari kata indah penuh majas dan merangkai sebait frasa indah untuknya. Sebenarnya bukan hanya untuknya saja. Kukirimkan puisi itu pada semua guruku. Hanya sekedar rangkaian kata bertemakan islami. Ia bertanya nomor siapa ini. Sontak aku langsung menjawab dengan menuliskan nama panjangku.
Mungkin ia pernah melihatku yang asyik ngobrol dengan temanku saat mengaji. Hingga aku tak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai diriku.
Dan waktu berlalu. Ia mulai dikenal banyak murid. Sebagai guru yang tampan, guru yang menyenangkan, guru yang pandai menggambar, dan sebagainya. Tapi bagiku ia guru yang paling istimewa.

“Kupu-kupu apa yang paling menyenangkan?”
“Kupu-kupu apa?”
“Kupunyai guru sepertimu.. Hahaha”
Masih ingat sekali aku dengan rayuan gombal itu. Yang pernah dilesatkan temanku padanya. Memang tak hanya aku yang ngefans dengannya, tapi banyak dari temanku juga mengidolakannya.
Bersyukurnya aku. Untung saja saat itu bukan aku yang mengirimkan gombalan itu kepadanya. Memang sangat konyol jika aku mengingatnya.
Tapi dulu. Aku tak begitu dekat dengannya. Hanya berani memandanginya dari kejauhan. Tak pernah berbicara atau bertegur sapa dengannya. Tak seperti kawanku yang lainnya.

Beberapa bulan berlalu. Kini umurku empat belas tahun. Kami semua semakin akrab dengannya. Apalagi dengan adanya pertukaran guru antar kelas. Minggu pertama kami diajar Kak Hanafi. Lalu minggu kedua Kak Shidqon. Dan ini minggu yang paling istimewa, minggu ketiga kami diajar Kak Ali. Benar-benar sangat menyenangkan.

“Kakak mau lanjut ke mana? Kuliah apa mondok?” Tanya salah seorang temanku padanya.
“Lihat nanti aja ya…” Jawabnya gampang.
“Mau mondok kan”
“Doakan saja”
“Berarti nggak bakalan ketemu kakak lagi dong, jangan-jangan pas balik ke sini udah berkeluarga” Goda temanku.
Kuharap tidak. Kuharap nantinya ia masih sering-sering ke sini. Hanya sekedar sowan atau apalah. Aku hanya mampu terdiam, aku tak berani berbicara padanya seperti temanku yang lainnya. Ketika ia pergi, ketika itulah aku tak akan melihatnya lagi. Aku tak bisa lagi melihat guru favoritku itu.

“Tolong dibuka halaman 114, silahkan dikerjakan. Lalu jawabannya tulis di bukumu!” Kata Pak Aman pada murid-murid. Dan seperti biasa jawabannya pasti “Iya, Pak…”
Dan kembali lamunanku tentangnya terpecah. Memang saat ini bukan waktunya aku terbang tinggi dalam nostalgiaku. Apalagi pelajarannya bahasa indonesia, pelajaran yang satu tahun belakangan ini menjadi mata pelajaran kesukaanku. Rugi jika kulewatkan pengajaran Pak Aman. Dan tanpa terasa bel berbunyi tiga kali, tanda sekolah telah usai. Pak Aman keluar. Dan kami pun bersiap untuk pulang. Berdoa dengan mengikuti panduan dari audio sekolah.

Hari ini panas sekali. Air dalam botol minumanku pun telah habis, setetes pun tak tersisa. Terlihat di depanku ada dua sekawan yang sedang berdiri di bawah parkiran, sekedar perteduh dari teriknya matahari. Wajah mereka mengerut kepanasan, mata mereka pun ikut menyipit. Mereka semua pulang, kembali ke rumah masing-masing, dan bersiap dengan tugas rumah untuk pelajaran esok hari.
Dan aku. Aku masih harus bersabar untuk pulang. Tugas dari para mashayikh telah menantiku. Sudah hampir dua tahun ini aku menjadi salah satu dari pengurus OSIS. Sebuah kebanggaan memang, menjadi orang yang dipilih dari ribuan murid di sekolahku. Tapi tak jarang juga menjadi hal yang kukeluhkan.

“Assalamu’alaikum kantor” aku masuk, dan meletakkan tasku dikursi.
Hari ini aku sangat sibuk. Tepat dua minggu lagi kepengurusan kami akan diganti. Aku dan teman-temanku akan segera reorganisasi dari OSIS. Kebetulan aku ada dibagian dekorasi bersama Alin. Rencananya hari ini kami akan membeli barang-barang keperluan dekorasi acara debat calon ketua esok hari. Dengan segera kami berangkat ke toko tujuan kami.

“Ini yang mana, La” Tanya Alin padaku.
“Ini kita beli yang mana?” Tanya Alin sekali lagi.
Tapi aku sama sekali tak mendengarnya. Karena di sana ada banyak sekali peralatan melukis. Yang membuat mataku hijau bagai melihat harta karun segunung. Mataku sedari tadi tak berhenti melirik ke sana kemari. Tanganku juga rasanya gatal ingin menyentuh barang-barang luar biasa itu. Ada kanfas yang bertumpukan. Cat air dan cat minyak yang disusun berjejer dengan rapi. Kuas-kuas yang ditata rapi berdasarkan ukurannya, mulai ukuran kecil sampai besar semuanya ada.
Dulu aku tak punya peralatan seperti ini di rumahku. Dan ia masih sangat aktif dalam kegiatan kesenian di sekolahku. Aku hanya melihatnya, yang begitu mahir mengayunkan kuasnya ke sana kemari. Berharap aku juga bisa melukis sepertinya.

Dan saat ini. Saat duniaku dipenuhi barang-barang itu. Saat hariku tak pernah terlepas dari pensil warna, kuas dan cat. Ia tak lagi ada. Ia telah miliki kesibukan lainnya diluar sana. Ingin rasanya kutunjukkan hasil karyaku padanya. Meski mungkin tak ada pujian “gambar kamu bagus” atau perkataan sejenisnya, tapi setidaknya ia akan tau itu adalah karyaku. Setidaknya ia pernah melihat karyaku yang lebih baik dari gambaran konyolku dahulu.

Angin berhembus dari arah selatan. Bersama dengan suara gemuruhnya. Semakin menambah dingin malam ini. Aku dan teman-teman berjalan bersama menuju pondok. Sudah beberapa hari ini aku tak mengaji karena sakit.
“Ini gambaran kamu, La?” Tanya Raisa padaku.
“Iya. Kenapa?” Jawabku.
“Bagus banget…”
“Ah, biasa aja”
“Pinjem ya” Kata Raisa sambil memegang kertas itu.

Lalu Raisa pergi dan menyodorkan kertas itu kepada dia. Memberitahunya bahwa gambar itu hasil karyaku. Dia sedang duduk sambil memperhatikan murid-murid kecilnya. Malu memang, karena hanya sebuah coretan sketsa tak jelas yang tak bisa kubanggakan didepannya. Dia tak berkata sedikitpun, enggan berkomentar meski hanya dengan kata indah atau bagus. Ia hanya tersenyum manis melihat gambaku itu.

“Aila! Kita jadi beli yang mana? Hijau apa biru?” Teriak Alin padaku.
“Loh, kok. Bukan kertas yang ini…”
“Kamu sih.. Dari tadi aku nanya, kamu malah di sini. Megang kuas sambil senyum-senyum lagi”
“Cuma keinget cerita dulu aja”
“Cerita apa?” Tanya Alin penasaran.
“Itu kertasnya, aku ambil dulu ya” Kataku mengalihkan pembicaraan.
“Ah, Aila.. Cerita apa?”
“Cerita pendek, cerpen” Jawabku menyeleweng.

Dua tahun telah berlalu. Umurku telah genap enam belas tahun tepat satu bulan yang lalu. Dan aku masih mengaguminya. Sudah dua puluh lima bulan ini aku tak pernah lagi melihatnya, mendengar suaranya. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya. Setelah malam itu ia memberikan sebungkus coklat pada murid-muridnya. Sejak saat itulah ia menghilang. Pergi melanjutkan studinya di sebuah pondok yang sangat jauh dari daerahku.

Hari ini sangat membosankan. Aku hanya tidur sepanjang siang. Sambil memelototi layar ponselku. Membuka beranda dan menelusuri akun-akun temanku.
“Assalamu’alaikum, Mbak” Katanya dalam chat facebook.
Aku terkejut setengah mati. Benarkah ini dia. Yang dulu diam-diam kulihat dari kejauhan, yang dulu selalu kuperhatikan saat mengaji. Ternyata ia masih ingat denganku.
“Wa’alaikumussalam, Kak” Jawabku singkat. Tanganku masih gemetar.
“Apa kabar?”
“Baik, kakak juga apa kabar?” Aku balik bertanya padanya.
“Baik juga, pondok apa kabar sekarang?”
“Sekarang pondoknya diperluas lho, Kak. Kakak kapan maen ke sini?” Tanyaku penuh harap semoga ia lekas kemari dan menyapa aku dan teman-teman di sini.
“Belum tau” Jawabnya membuatku lemas.
“Kapan Khatam?” Godaku padanya.
“Doain aja, cepet khatam. Aila Qur’annya gimana? Masih jalan kan?” Pertanyaannya yang membuat dadaku tiba-tiba saja sesak. Tanganku semakin bergetar dan basah dengan keringat dingin.
“Berhenti, Kak. Udah nggak pernah lagi setoran. Tapi masih pengen lanjut lagi”
“Yang penting Murojaahnya, jangan lupa murojaahnya yang istiqomah”

Aku masih tak percaya. Baru saja aku chattingan dengan guru favoritku itu. Aku masih berharap bertemu dengannya. Tapi jika memang tak bisa, aku masih bisa menyapanya lewat chat seperti ini.

Sejak saat itu. Kami sering chatting via facebook. Meski hanya sebulan sekali, tapi ini sudah cukup untukku. Padahal, dulu saat ia ada di tempat yang sama denganku, aku tak pernah ngobrol dengannya. Sepertinya jarak dan waktu telah berhasil membuatku akrab dan lebih mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi dan juga semangat. Tak salah aku menjadikannya guru favoritku.

Akhirnya kami mendapatkan barang keperluan yang kami butuhkan. Dan kami pun kembali ke sekolah.
“Kapan nih kita bikin hiasannya?” Tanyaku.
“Langsung sekarang aja” Jawab Alin.
“Astaghfirullah.. Lupa, kertas duplex-nya kan kita belum beli”
“Tadi katanya udah semuanya, jadi balik lagi dong ke sana”

Akhirnya kami kembali ke toko itu. Membeli barang yang kami butuhkan dan kembali ke sekolah lagi. Lelah sekali rasanya, tapi bagaimanpun ini adalah tugas kami. Yang memang seharusnya kami kerjakan.

“Tadi dia ke sini” Kata Mia membisik-bisik padaku.
“Dia siapa?” Jawabku juga berbisik.
“Kak Ali. Tadi aku lihat dia lewat depan sini, kayaknya mau ke pondok”
Deg. Jantungku serasa berhenti, nafasku pun entah mengapa menjadi sesak. Dia ada di sini, di tempat yang sama dengan yang aku tempati. Sudah tiga tahun, tiga puluh enam bulan. Dan sekarang kesempatanku untuk bertemu dengannya. Bukan hanya lewat facebook saja, tapi aku bisa melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri.

“Mana? Sekarang di mana?” Tanyaku girang.
“Kalau sekarang ya udah di pondok. Mungkin bentar lagi balik, lewat sini lagi” Jawab Mia.

Kuputuskan untuk menunggunya lewat seperti yang Mia katakan tadi. Kulihat jalan itu, satu jam berlalu. Dan dia belum juga lewat di jalan itu. Hingga dua jam berlalu, ia belum juga melewati jalan itu.
Mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengannya. Bukan hari ini, mungkin esok, bulan depan, tahun depan, atau entah kapan. Tapi aku yakin Allah akan mempertemukan aku dengannya. Entah kapan waktunya, entah di mana tempatnya, dan entah dengan keadaan seperti apa.

Semua kenangan tentangnya, peristiwa tentangnya, dan segala tentangnya. Akan selalu kusimpan dalam memoriku. Ia akan tetap menjadi guru favoriku. Dan aku akan terus mengaguminya.

Cerpen Karangan: Alaiyya Ayu
Blog / Facebook: Alaiyya Ayu
Namaku Alaiyya, umurku 17 tahun, aku hanya penulis abal-abalan. Mengapa hanya menjadi pembaca, jika kita juga bisa menjadi penulisnya.

Cerpen Nostalgia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Tuhan

Oleh:
“Huh ngeselin banget, rasanya ingin tak bunuh.” Kataku pada Fira temanku yang lagi asyik dengan hpnya. “Yang ngeselin siapa? Yang mau dibunuh siapa? Emang kamu berani bunuh aku? Aku

Still Love You For Another 13 Years

Oleh:
Aku berjalan perlahan, dua langkah mendekati sebuah bangunan. Ku pandang nanar. Sebuah rumah tua yang tak berpenghuni, namun masih tampak bercahaya. Lidahku kelu. Satu jam lamanya kakiku berpijak pada

Rahasia Hati

Oleh:
Di suatu sore, ada seorang anak perempuan manis bernama Riani. Dia sedang memandang bagaimana hujan meneteskan beribu buih-buih air hujan yang membasahi genting rumahnya. Dia pun melihat jam yang

Sosok Masa Lalu Dari Semarang

Oleh:
Sekarang aku mengerti rasanya jauh dari orang yang kusayangi. Aku juga mengerti bagaimana caranya menghadapinya. Aku juga mengerti aku pergi namun bukan berarti aku lari. Aku mengerti mungkin bagimu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *