Not Just A Dream

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 12 March 2016

Setelah makan malam Luna dan keluarganya duduk di ruang tengah.

“Luna, ada yang mau Aah bicarakan,” kata Pak Anwar.
“Ada apa Yah?”
“Kamu kan udah kelas 3 SMA sebentar lagi lulus, Ayah mau kamu menikah dengan Arif, keponakan Pak Muslim,”
“Tapi kan Yah, Luna masih SMA pengetahuan Luna tentang agama belum cukup untuk menikah,”
“Luna, Kamu kan masih bisa belajar. Dulu kamu juga pernah belajar di pesantren,”
“Tapi Yah..”
“Udah nggak ada tapi-tapi..” kata Pak Anwar tegas. Luna tahu keputusan ayahnya memang tak bisa dirubah.

“Makasih ya sayang kamu udah mau jadi istri aku, ana uhibbuki fillah.” kata Arif sambil mendekap Luna, wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. “Astagfirullah hal’azim,” ucap Luna begitu bangun dari mimpi yang beberapa minggu ini menghantuinya. Mimpi itu seolah menghakimi Luna atas kesalahannya beberapa minggu lalu. Luna lalu beranjak dari tempat tidur untuk berwudu dan segera melaksanakan salat subuh. Saat berada di kantin sekolah, Luna dipanggil oleh bibi pemilik kantin yang merupakan ibu dari kakak kelasnya.

“Luna, bisa tolong Bibi nggak?”
“Apa yang bisa saya bantu Bi?” tanya Luna ramah.
“Bantu Bibi dong, banyak banget yang pesan nih,”
“Ya udah sini biar Luna bantu ngantar pesanan,” ucap Luna lalu mengambil beberapa piring nasi goreng.
“Makasih ya Luna, Kamu Emang calon menantu yang baik.” puji Bi Tini.

Mendengar itu wajah Luna memerah. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ternyata semua yang ada di kantin itu memperhatikannya. Tanpa Luna sadari di antara mereka ada sepasang mata yang sejak tadi menatap kagum ke arahnya. “Cie Luna dipuji sama ibunya Kak Yazid,” goda Cindy begitu sampai di kelas.
“Apa sih, itu cuma ucapan makasih aja kok,”
“Ahh masa iya?” goda Cindy. Belum sempat Luna memasuki rumahnya, terdengar suara memanggilnya dari samping rumah.

“Luna,”
“Oh.. Arif, ada apa?” tanya Luna canggung
“Aku mau kasih ini ke kamu,” Arif lalu menyodorkan sebuah bungkusan.
“Apa nih?”
“Nanti kalau udah ketemu kasih tahu aku yaa jawabannya,” Kata Arif sambil berlalu masuk ke rumah pamannya yang berada di samping rumah Luna.
Luna lalu membuka bungkusan itu, yang ternyata berisikan brownies kesukaannya. Saat sedang asyik menikmati brownies itu Luna merasa menggigit sebuah benda keras. Cincin.

Luna lalu menemui Arif. “Maksud cincin ini apa Rif?” tanya Luna sambil memberikan cincin itu pada Arif.
“Rif?” tanya Luna tak sabar.
“Lun, ka-kamu mau ngak jadi pa-pacar aku?” Tanya Arif terbata-bata.
“Apa? Rif, kamu kan tahu aku gak mau pacaran. Itu sama aja kamu ngajak aku ke neraka,” Kata Luna masih terkejut.
Luna lalu pulang ke rumahnya meninggalkan Arif yang masih menunduk.

Sejak itu Arif selalu menghindar jika bertemu Luna. Luna memang sekelas dengan Arif sejak kelas XI. Hubungan mereka pun hanya sebatas teman, karena selama ini Luna memang menjaga jarak dengan teman laki-lakinya. Luna juga tidak menyangka kesalahannya malah membuat Arif jatuh hati padanya. Waktu itu Luna dan teman-temannya jalan-jalan ke pekanbaru. Ini adalah perjalanan pertama Luna naik bus.

“Bu Luna muntah terus nih, aku nggak tahan Bu, nanti aku malah ikutan muntah” keluh Fitri yang menjadi teman sebangku Luna. “Ya udah siapa yang mau tukar tempat duduk sama Fitri?” tanya Bu Ayat.
“Saya mau Bu, tapi nanti kalau saya muntah, Luna juga muntah bisa gawat Bu,” jawab Cindy.
“Ya udah, aku aja.” kata Arif akhirnya. Sebenarnya Luna ingin protes. Dia mau teman sebangkunya perempuan. Tapi sepertinya tak ada yang mau duduk di sebelahnya. Luna lalu membatasi jarak mereka dengan sebuah boneka yang dibawanya.

“Hueeeeek!!” Luna kembali muntah lalu bungkusan muntah itu diberikan pada Arif untuk dibuang.
“Siapa yang mau bakso panas?” goda Arif sebelum membuang bungkusan itu.
“Arifff!!!” teriak cewek-cewek yang tidak tahan melihatnya.

Setelah beberapa lama muntah akhirnya Luna tertidur. Saat terbangun kepala Arif sudah bersandar di pundaknya. Luna lalu memindahkan kepala Arif ke arah yang berlawanan dari dirinya, lalu dia tidur lagi. Beberapa kali Luna terbangun karena kepalanya pusing.

“Kenapa Lun?” tanya Arif yang saat itu tidak tidur.
“Kepala aku sakit,” keluh Luna.
“Pake freshcare dulu nih,”

Setelah itu Luna tertidur nyenyak sekali. Dan tanpa dia sadari kepalanya telah bersandar di pundak Arif. Arif tidak tega membangunkan Luna, dia pun akhirnya ikut tertidur dan kepalanya bersandar di atas kepala Luna. Saat Tio terbangun dari tidurnya dia melihat kejadian itu dan membangunkan teman yang lain.

“Intan,” panggil Tio hampir tak terdengar.
“Apa?”
“Lihat tuh ustazah sama Arif tidurnya mesra banget,”
“Astagfirullah, mending kita bangun kan mereka sekarang,” tambah Cindy yang sudah terbangun.
“Jangaan, kita foto dulu, moment langka nih,” tambah Tio sambil mengeluarkan kameranya dan mengabadikan momen itu.

Arif bangun duluan lalu disusul Luna yang terbangun karena menangkap sinar flash yang berasal dari kamera canon Tio. Luna terperanjat melihat semua teman-temannya yang ada di bus menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Selamat pagi Arif, selamat pagi Luna.” ucap Siti dengan senyum penuh arti. “Ada apa sih?” tanya Luna heran. Arif masih memilih diam. Dia tidak menyangka ia akan tertidur dan malah menyandarkan kepalanya pada Luna. Terlebih lagi karena semua teman sekelasnya menyaksikan kejadian itu. Hening. Tak ada yang menjawab pertanyaan Luna.

6 tahun kemudian. Luna masih mematut diri di cermin. Takut ada yang salah dengan penampilannya.
“Luna, mempelai laki-laki udah datang tuh,” kata Cindy memberitahu. Cindy lalu membimbing Luna ke luar kamar. Pria berlesung pipi itu menoleh ketika Luna ke luar dari kamar. Mata mereka bertemu. Lalu mereka buru-buru menundukkan pandangan. Aliran listrik seolah menjalar di tubuh mereka.

“Saya terima nikahnya Luna Alfatiry binti Anwar dengan mas kawin hafalan al-Qur’an dan seperangkat alat salat, tunai.”
“Bagaimana saksi?” tanya Pak Anwar.
“Sah..” ucap para saksi mengesahkan.
“Alhamdulillah.”

“Makasih ya sayang kamu udah mau jadi istriku, ana uhibbuki fillah.” (aku mencintaimu karena Allah) Kata Yazid sambil mendekap Luna, wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
“Ahabbakalladzi ahbabtani lahu.” (Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya),” balas Luna persis seperti mimpinya dulu. Tapi sekarang bukan Arif yang menjadi suaminya melainkan Yazid, kakak kelas yang ternyata diam-diam menyimpam rasa pada Luna. Yazid lalu mengecup Mesra kening Luna.

“Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik pula.”

Cerpen Karangan: Isma Ardayani
Facebook: Isma Ardayanii
Isma Ardayani 20 desember 1998

Cerpen Not Just A Dream merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prinsip Cinta Yang Berbeda

Oleh:
Kringg… Bel istirahat pun berbunyi, kulangkahkan kaki menyusuri sudut sekolah. Langkahku terhenti di depan bangku taman sekolahku. Duduk adalah pilihanku. “Citraa”, teriak seseorang. Ya, itu pasti Zahra, sahabatku. Mendengar

Gadis Sepertiga Malam

Oleh:
“Shodakallahhuladzim…” Nada menutup Al-Qur’an lalu menciumnya, seraya berdo’a “Ya Allah lindungilah aku dari sifat sombong, iri dan dengki. Jauhkanlah aku dari segala sesuatu yang membuat diriku buruk di mata

Inikah Hadiah Karena Keikhlasanku?

Oleh:
Malam ini Bulan terasa lebih Indah. Ia mulai memancarkan sinarnya hingga awan pun tak berani untuk menutupi kilaunya yang megah. Suara binatang malam pun ikut menari menambah lengkapnya suasana

Bidadari Aswan

Oleh:
“Mamas’e dulu kan sering manggung.. Jadi, yaa dari situ lah bisa masyhur. Apalagi didukung dengan suara yang sama nggantengnya dengan muka mamas’e ini. Tahu sendiri lah, hehe..,” Ya. Waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *