Pangeran Berhati Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 4 December 2013

Tetesan embun dan basuhan air wudhu’ itu terlihat dari wajah Aisyah. Dia bergegas menyapa dunia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi agama islam di Jember, Jawa Timur. Dia merupakan wanita cantik dengan beragam kerudung hijau khas yang selalu ia kenakan di setiap harinya. Saat ini, dia sedang mengikuti mata kuliah dalam bidang komunikasi dan penyiaran islam yang nantinya dia akan menjadi seorang pendakwah. Semua terasa menyenangkan baginya, menyenangkan bagi lahir dan batinnya.

Saat matahari mulai menampakkan warna jingganya di sebelah barat, dia teringat akan kewajibannya yang selalu dia lakukan setiap senja itu tiba. sungguh dia seorang wanita yang sempurna. Dia setiap senja, selalu menyibukkan dirinya di sebuah Taman Pendidikan al-Qur’an yang memang di peruntukkan bagi anak-anak yang tergolong telah yatim/piatu. Sungguh mulia hati Aisyah ini. Dia saat ini sedang mengajarkan bagaimana membaca huruf hijaiyah dengan benar dan cara menulis huruf arab dengan benar pula. Semua murid yang belajar dengan Aisyah ini merasa sangat senang. Karena Sifat Aisyah yang ramah dan memang sabar dalam memberikan ilmu agama kepada mereka.

Hingga saat suatu malam, ada sebuah kejadian. Dimana, salah satu murid Aisyah berteriak memanggil-manggil namanya
“Kak Aisyah.. Kak Aisyah…?” suara Didi mengagetkan semuanya.
“Didi.. ada apa?” Aisyah menjawab dengan lembutnya
“Ini kak ini..” Didi menunjuk makanan yang sangat banyak itu terdapat di depan pintu TPA mereka
“Didi, apa kamu tau, siapa yang telah berbaik hati mengirim makanan ini?” Jawab Aisyah
“Tidak kak, Didi tidak tau” Sahut Didi
“Lantas, siapa seorang yang telah mengirim makanan sebanyak ini?” Aisyah menjawab
“mau kita apakan makanan ini kak?”
“begini saja, makanan ini, kakak bagikan kepada kalian satu persatu ya, kalian bawa pulang, besok kita cari tahu siapa orang baik yang sudah mengirimkan ini semua”
“iya kak” jawab Didi dengan penuh semangat

Memang matahari telah berganti bulan dan bertaburan bintang di langit dengan indah dan sinarnya yang memancar di setiap sudut jalan yang Aisyah lewati malam ini. Dia masih memikirkan kejadian yang memang membuat dia bertaya-tanya dalam hati “siapa sebenarnya seseorang yang telah berbaik hati memberi makanan sebanyak itu untuk anak-anak yatim itu?” gumam Aisyah. Dia benar-benar terus bertanya dalam hati, apakah seorang direktur, manajer atau apa lah sejenisnya. Pintu dari kayu yang di cat dengan warna putih itu dibuka oleh Aisyah dengan lesunya. Dia masih memikirkan tentag siapa dan untuk apa seseorang itu melakukan semua itu.

Tampak sudah air wudhu’ membasahi di seluruh wajah Aisyah yang ayu nan jelita itu. Wajahnya bersinar bak bulan purnama malam itu. Dia baru saja selesai berdoa kepada ALLAH SWT untuk meminta petunjuk tentang siapa yang telah mengirimkan makanan itu tadi.

Semua Aisyah mulai seperti biasanya, dia saat ini bertekad ingin mengetahui siapa dan apa sebenernya yang seseorang itu lakukan hingga memberikan makanan kepada anak-anak yatim yang telah 3 tahun terakhir ini menjadi murid Aisyah. Sungguh mengejutkan, disaat seorang lelaki berparas tampan memakai pakaian muslim dan memakai kopyah hitam berjalan mengendap-endap mendekati pintu TPA. Apa mungkin lelaki ini yang memang mengirimkan makanan kemarin itu? Aisyah terus bertanya-tanya dalam hati. Dan memang benar dugaan Aisyah, lelaki itu mendekat dan meletakkan makanan seperti kemarin saat dia menaruhnya persis di depan pintu TPA itu. Sungguh tak menyangka. Dengan cekatan, sebelum lelaki itu bergegas pergi jauh Aisyah segera memanggil lelaki itu.
“Akhi.. tunggu…!!”
lelaki itu pun terkejut dan langsung segera melarikan diri, dengan cekatan pula murid-muridku menghalangi lelaki itu
“Maaf ukhti.. saya tidak sopan, menaruh makanan itu tanpa memberikan sepatah kata pun”
“Tidak akhhi.. tidak apa-apa” jawab Aisyah dengan senyuman
“Maaf sebelumnya ukhti, saya Abdullah, saya sebenarnya telah memperhatikan ukhti tiga tahun terakhir ini. dan memang ukhti wanita baik nan soleha seperti apa yang saya inginkan. Saya.. Saya harap, ukhti mau menjadi istri saya”
sontak dengan rasa tak percaya, Aisyah tertegun mendengar pengakuan dari Abdullah itu. Aisyah akhir-akhir ini memang berdoa untuk segera mendapat jodoh yang memang bisa memipinnya hingga sukses di dunia maupun di akhirat bersama pemimpin rumah tangganya tersebut. Sungguh rencana ALLAH SWT memang indah bagi setiap hamba-hambaNya yang bersabar dan penuh tawakal kepada ALLAH SWT. Aisyah pun menjawab dengan lembutnya.
“terima kasih akhi, saya benar-benar tersanjung mendengarnya, saya akan menjadi yang terbaik semampu saya untuk akhi dalam menjadi pendamping hidup akhi”

Semua rencana ALLAH SWT memang indah, Aisyah telah menemukan jodohnya yang memang berparas tampan seperti layaknya pangeran dan berhati baik dan putih hatinya. pantas saja disebut sebagai “Pangeran Berhati Putih”. kini, Aisyah telah menjadi pendamping hidup Abdullah dan menjalankan sebuah pesantren yang memang perbesaran dari TPA yang sudah Aisyah jalankan sebelumnya. Dan memang mereka dapat hidup sebagai pasangan suami istri yang sakinah, mawadah, warahmah.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dwi Putri Hidayatullah
Facebook: Dwi Putry Hidayatullah

Cerpen Pangeran Berhati Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jagalah Aku Dari Cinta

Oleh:
“shodaqallahul ‘adziim” Alhamdulillah telah khatam aku mengaji ilmu al-Qur’an di pesantren sepuh ini, Pesantren Darul Qur’an namanya. Iya, di pesantren kecil yang bertembok kayu berwarna kuning sederhana dan berlantai

Cinta dan Rahasianya

Oleh:
“La Tahzan” mungkin kalimat itulah jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku. Jawaban atas kesedihan yang selama ini selalu menyesakkan dadaku, jawaban atas kegalauan hatiku, jawaban atas kebimbangan hatiku, dan mungkin

The Secret of Ramadhan (Part 1)

Oleh:
“Nasya bangun.. Sahuurr… 15 menit lagi Adzan Shubuh…” teriak Ibu Nasya. “Iya.. Iya bentar…” balas Nasya. ‘Issh anak ini, tidur kaya kebo. Meningan diguyur air segelas aja dah’ geram

Bukan Luth

Oleh:
Gema azan memenuhi udara. Lantunan ayat suci menepis garangnya matahari senja yang kini terseret ke ufuk Barat. Berganti senyum redup sang rembulan. Usai menunaikan salat magrib. Aku membaca ayat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *