Penghangat Adzan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 10 March 2018

Di sebuah malam tanpa bintang, aku mengingat seseorang, seseorang yang kukasihi dan kusayangi sepenuh hati. Meskipun, itu hanya cinta satu arah. Dalam diam aku merenung, aku mengingat sesuatu hal, dan aku berpikir, bagaimana jadinya kelak? Aku takut takdir berkata lain tentang jodoh kepadaku. Bagaimana aku bisa melewati ujian tersebut kelak? Dapatkah aku bahagia, dan tersenyum kepadanya jika saja memang aku harus melihatnya berbahagia dengan keluarga kecil lain?. Walaupun sebenarnya yang menyimpan cinta yang cukup besar adalah aku? Aku terlalu takut memikrkan tentang takdir yang membawaku di masa depan kelak.

Setiap harinya tanpa henti aku mendoakannya, merindukannya, senantiasa memikirkan ia, dan tak pernah lupa untuk selalu memantaskan diri kepadanya. Aku jatuh cinta, ya, sebuah cinta yang kunantikan, namun ternyata cinta itu bertolak belakang, cintaku ini satu arah, aku yang mencintai dia, dan aku tak tau apakah dia juga diam diam menyukaiku? Atau justru merasa benci kepadaku jika ia mengetahui cintaku? Aku terlalu sering jatuh cinta. Namun, kali ini aku serius akan cintaku, seolah aku telah menemukan cinta sejatiku. Aku terlalu bahagia untuk memikirkannnya. Meskipun, aku tahu bahwa ini tidak benar namun, cintaku ini.. aku ingin menjadikannya seperti kisah Fatimah as zahrra, aku ingin seperti kisah Fatimah dan Ali. Cinta mereka tulus, mereka saling mencintai dan mengagumi secara diam diam, dan setan pun tak dapat mengetahui perasaan itu.

Mungkin ini terlalu muluk, karena pada dasarnya di sini hanya aku yang jatuh cinta. Mungkinkah dia diam diam juga mengagumiku? Atau bahkan merasa jatuh cinta cinta atau hanya sekedar menyukai apakah pernah terlintas pada dirinya?
Sungguh aku membayangkan betapa bahagianya aku, jika aku mampu menjadi tulang rusuknya. Menjadi pendamping hidupnya dimasa masa sulitnya. Aku ingin menjadi sesuatu yang berharga baginya. Seperti ketika kelak ia mengucapkan ijab dan qobul dan disaksikan oleh banyak orang, lalu setelahnya aku menjadi miliknya seutuhnya, dan kita melakukan solat witir sebelum tidur, dan untuk pertama kalinya kau menjadi imam solatku, lalu kau bersihkan kakiku, kau buka jilbabku, hingga kau melihat rambut indahku, mengucapkan doa di atas ubun ubunku, dan semuanya terjadi. Lalu kita lewati hari dengan tertawa bersama, berbahagia bersama, hingga waktunya tiba, di dalam perutku ada anak kita, betapa bahagianya, setiap hari kau usap perutku, kau bacakan qur’an untuk anak kita, kau dengarkan solawat solawat untuknya, Subhanallah, sungguh betapa bahagianya aku kelak.

Namun itu semua hanya sebuah bunga, bunga tidur tepatnya. Aku tau ini semua salah, tak boleh kubayangkan ini terlalu berlebihan. Namun, perasaan ini terus saja timul, hingga dosaku terlalu banyak karena terlalu sering memikrkanmu, hingga akhirnya aku dijauhkan olehmu. Aku berusaha mendekatka diri kepada sang pencipta. Aku mencoba memantaskan diri aku aku bisa cocok denganmu, namun aku terlalu takut, kau justru takkan menyukai perubahanku. Sudah biarlah, karena mungkin ini yang terbaik untukku, dan biarlah aku menjadi baik, agar pantas untukmu, jika saja aku tak berjodoh denganmu, maka berbahagialah dengan jodohmu.

Penghangat Adzanku…

Cerpen Karangan: Adelia Febriana
Facebook: Adelia Lala
namaku adelia biasa dipanggil delia aku adalah seorang siswi dari sebuah SMA

Cerpen Penghangat Adzan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mencintaimu Dengan Bismillah

Oleh:
Setiap rasa di setiap saat adalah cinta, selalu dan untuknya tak dapat tergantikan. Seperti hembusan angin membelaiku mesra, serasa terbuai meyakinkan tentang taburan mimpi yang bersahaja. Teringat, mengingat, menghayalkan

Takkan Pernah

Oleh:
Aku masih di sini hari ini, kemarin dan esok bahkan untuk selamanya jika itu mungkin tapi aku berharap itu takkan pernah terjadi karena yang membuatku aman, nyaman dan tentram

Kebahagiaan Sementara

Oleh:
Seperti biasa, aku ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum. Aku berjalan dari rumah menuju halte tempatku biasa menunggu angkutan yang jaraknya tidak begitu jauh, “Cuaca hari ini sedikit mendung.”

Ketidak Mungkinan Yang Aku Semogakan

Oleh:
Matahari sudah ada di atas kepala, bel sekolah pun seduh berbunyi aku duduk di bangku taman sendirian sambil memandangi matahari yang ada di atas kepalaku. Aku sedang menunggu sahabatku

In Your Eyes

Oleh:
Lonceng yang terbentuk dari logam kuningan yang tergantung di depan ruang guru berdentang tiga kali tanda jam pelajaran berganti dengan waktu istirahat. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas dan menghambur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Penghangat Adzan”

  1. Dinbel says:

    Kerenssssss ceritanya, good job untuk pengarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *