Perbedaan Pagar Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 17 November 2020

Jihana Putri. Aku biasa dipanggil Jihan. Gadis berjilbab yang masih duduk di bangku kuliah jurusan ekonomi. Aku duduk di kursi nomor tiga dari depan, pada barisan nomor dua dari sebelah kiri.

Seorang dosen memasuki kelasku, membawa seorang mahasiswa baru. Setelah mengucapkan salam pembuka, dosen itu menyuruh mahasiswa baru tersebut memperkenalkan diri. Dia bukan asli orang Indonesia, bisa dilihat dari caranya berbicara bahasa Indonesia. Pun dengan wajahnya, hidungnya mancung, kulit putih, rambut tak sehitam orang Indonesia. Australia. Tempat yang disebut sebagai tempat asalnya.

Perkenalan telah selesai. Ia duduk persis di kursi sebelah kiriku.
“Jonathan.” mengulurkan tangannya padaku.
“Jihan.” merekatkan kedua telapak tanganku di depan dada sambil tersenyum. Ia menarik tangannya kembali.

Dengan membawa tas gendong dan memakai jilbab pashmina berwarna merah muda, sepulang kuliah aku memantapkan kaki melangkah ke suatu tempat yang begitu ramai. Aku sedikit melangkah di antara orang-orang yang tampak asyik duduk di bangku masing-masing. Terdengar suara sorakan gembira begitu melihat benda kecil berbentuk bundar melayang melewati seorang penjaga dan masuk dengan mulus ke jaring-jaring berwarna putih. Aku duduk di sebuah tempat, ikut menonton jalannya pertandingan. Sepak bola. Entah mengapa aku begitu menyukai olahraga tersebut. Hanya suka menonton, tidak untuk bermain.

Tiba-tiba, seseorang yang duduk tak jauh dariku, menghampiriku.
“Sihan?”.
“Assalamu’alaikum.”. Dia tak menjawab, hanya terdiam.
“Jihan. J-I-H-A-N.”.
“Ji…han?”. Aku mengangguk. Jonathan.

Pertandingan telah selesai. Aku masih dengan Jonathan sejak tadi. Ia mengajakku menonton bola jika ada pertandingan lagi. Aku bersedia, asal ada waktu luang. Kami pun banyak mengobrol. Jonathan menanyakan arti dari “assalamu’alaikum” yang aku ucapkan padanya tadi.
“Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian. Bagi umat Islam, wajib dijawab dengan “wa’alaikumsalam”.”. Aku pernah sekolah Islam setelah lulus sekolah dasar. Jadi aku cukup mengerti tentang agamaku.

Aku kembali pada kegiatan kuliah. Rutinitas yang telah cukup lama aku jalani. Dengan beberapa tumpuk buku di tangan, juga tas gendong di punggung, aku berjalan menuju ruang kelas. Seseorang memanggilku dari belakang. Aku berhenti melangkah, menoleh mencari arah suara yang memanggilku. Dia tak salah sebut namaku lagi. Jonathan.
“Assalamu’alaikum.” ucapku padanya.
“Oh iya. Wa’alaikumsalam (sambil terbata)”. Jonathan memberikan sesuatu padaku. Sebuah tiket. Ia mengajakku menonton pertandingan sepak bola lusa. Aku menerimanya. Tapi kali ini, aku melihat ada yang berbeda dari Jonathan. Pandanganku terfokus pada sebuah kalung yang berada di leher Jonathan. Kalung yang merupakan ciri khas mengenai keyakinannya. Pantas, assalamu’alaikum saja dia tidak mengerti.

Aku berkutik dengan laptopku di dalam kamar, bersama dengan Indira teman satu sekelasku. Gadis berambut panjang dengan tubuh kurus itu sedang asyik dengan cemilannya sambil tak berhenti bicara. Soal Jonathan. Dari pembicaraan itu, aku tahu bahwa Jonathan masih memiliki keturunan Indonesia. Ibunya Australia, dan ayahnya Indonesia. Itu sebabnya ia cukup lancar berbahasa Indonesia. Indira menyarankan aku agar memiliki hubungan khusus dengan Jonathan. Selain itu, ia pun memuji ketampanan Jonatahan. Bukan masalah itu. Aku mengakui dia memang tampan. Tapi…
“Beda iman.”. Indira seperti tak percaya. Dengan gampangnya ia menyuruhku untuk membujuk Jonathan agar masuk Islam. Aku berhenti mengerjakan tugasku.
“Islam bukan agama yang memaksa pemeluknya untuk memeluk agama Islam In. Jadi, kalaupun Jonathan masuk Islam, itu harus dari hati dan keyakinannya sendiri, bukan karena aku.”.
“Susah kalau udah ngomongin masalah agama sama lo.”.

Aku bertemu Jonathan di kampus. Aku yang memakai kaos bergaris-garis, celana jeans panjang, kerudung biru, juga tas gendong di punggung, memang sengaja menemuinya, ingin memberikan sesuatu padanya. Sebuah benda kecil berbentuk setengah lingkaran yang kemarin aku beli di toko souvenir. Peci. Ia ragu menerimanya.
“Tapi.. Kamu tahu kan aku bukan…”.
“Aku tahu.” aku memotong.
“Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan dari aku kalau kita udah pisah.” sambil tersenyum. Pun dengannya.

Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa aku tak lagi duduk di bangku kuliah. Rutinitas yang membosankan itu telah selesai satu tahun yang lalu. Aku tak lagi memiliki kegiatan yang begitu berarti. Hanya membantu keluarga, atau bekerja. Sarapan pagi baru saja selesai. Aku sibuk di dapur membasmi cucian piring dan teman-temannya yang telah menumpuk.

Tiba-tiba, ibu memanggilku. Ibu bilang, ada orang yang menungguku di ruang tamu. Aku yang memakai pashmina merah muda, baju panjang biru pudar, menuruti kata ibuku. Kudapati ayah sedang berbincang dengan tiga orang tamu. Aku terkejut. Aku duduk di antara ayah dan ibu.

“Assalamu’alaikum Jihan.” seorang lelaki memakai peci setengah lingkaran yang sangat aku kenali. Jonathan.
“Wa’alaikumsalam.”. Ia tak lagi terbata mengucapkan salam. Baru kuketahui dua orang lagi merupakan kedua orangtuanya. Ibu Jonathan menyapaku dengan ramah. Aku membalasnya.

“Kedatangan kami ke sini ingin melamar kamu untuk Jonathan. Jonathan telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya untuk menjadi seorang muallaf.” ayah Jonathan angkat bicara. Aku tertegun.
“Mohon maaf. Tapi saya tidak ingin Jonathan menjadi seorang muallaf hanya karena saya. Saya ingin itu dari hatinya, juga keyakinannya.”.
“Kamu salah Han. Aku udah lama tertarik dengan Islam, bahkan jauh sebelum aku mengenalmu. Tapi setelah aku mengenalmu, aku jadi lebih banyak ngerti tentang Islam. Setelah lulus, aku enggak langsung balik ke Australia. Aku belajar dan mendalami agama Islam di sini. Itu sebabnya aku ingin menjadi seorang muallaf. Kamu telah mengajarkanku banyak hal Han.” terang Jonathan. Ayah Jonathan menanyakan jawabanku. Aku melirik pada ayah dan ibu. Mereka terserah padaku. Aku berpikir sekitar sepuluh detik.

“Bagaimana Jihan? Apa kamu mau menikah dengan Jonathan?” tanya ibu Jonathan. Aku menatap ketiga tamu itu. Aku tersenyum, mengangguk, mereka terlihat begitu senang. Perbedaan memanglah sebuah pagar pembatas. Tapi, pagar dari Tuhan itu kini telah terbuka begitu lebar, dan Jonathan masuk ke dalamnya. Sehingga tiada lagi pagar pembatas antara aku dengan Jonathan.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Blog / Facebook: Elfa Ria Puspita

Cerpen Perbedaan Pagar Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan ini

Oleh:
sudah beberapa hari ini aku duduk termenung di sini. Di kamar berubin putih tulang dan berdinding biru dongker. Hanya beranjak pergi untuk ke kamar mandi, ibadah dan ketika rasa

Perbedaan Cinta

Oleh:
“Dion kamu kenapa sih dari tadi melamun? Tanya Bryan mengagetkanku”. Sebelumnya kenalkan namaku Muhammad Dion Rafael dan temanku Bryan Arsenio. Aku bersahabat dengannya sudah sangat lama. Kami tinggal di

Manakah Cintamu

Oleh:
Pikiranku mulai melayang memikirkan seorang lelaki yang sangat mengecewakan hati semua wanita, bahkan aku yakin tidak akan ada wanita yang mau diperlakukan demikian. Kecewa sudah pasti tidak luput juga

Cinta Tapi Gak Mau Pacaran

Oleh:
Pagi itu kelas 11 IPA 4 sedang pelajaran olahraga. Semua perempuan pergi ke wc untuk ganti baju. Sedangkan laki-laki ganti bajunya di kelas. Setelah ganti baju, semuanya pun ke

Takdir allah

Oleh:
Panggil saja aku Zahra, Aku mempunyai kakak laki-Laki, Namanya Kak Sandi. Semenjak lulus dari Sekolah Menengah keluargaku memondokkanku di Pondok pesantren Al-Azhar. Cantik dan Pintar, itu yang ada pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *