Perempuan Embun Pagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 8 August 2016

Senja yang indah di ufuk barat, berwarna merah dan semburat jingga disertai burung burung yang terbang kembali ke sarang setelah seharian mencari makan.
Aku duduk disini, di atas motorku memandangi luasnya lahan persawahan yang ditanami padi sudah mulai menguning dan juga memandangi karya sang Pencipta yang selalu membuat aku kagum atas cipataanNya, namun bukan itu saja, saat ini aku sedang memikirkan sesuatu ehh… seseorang lebih tepatnya, yaa.. dia adalah seorang gadis yang sejak SMK sudah membuat jantung ini bergedup lebih cepat seperti putaran mesin 1000 rpm. Entah apa yang membuatku begitu, aku tak tahu. Sekarang sudah sepuluh tahun setelah aku pergi meninggalkan tanah kelahiranku dan juga dia, mungkinkah sekarang dia masih mengingatku? bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah dia masih menungguku? Pertanyaan itu selalu memenuhi otakku. Tiba tiba aku disadarkan dari lamunanku oleh bunyi ponselku…
“nak, kamu dimana? Cepat pulang, sudah mau maghrib.” Terlihat nama pengirimnya adalah Ibu. Segera saja kunyalakan motorku dan bergegas pulang ke rumah, dan benar saja suasana sudah mulai gelap, aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan lamunanku.

Sesampainya di rumah, aku langsung saja bergegas menuju mushola yang terletak dekat rumahku untuk shalat berjamaah, sudah satu minggu aku berada di rumah dan selama itu pula ibuku selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap harinya. “kapan kamu mau nikah?” mendengarnya aku selalu mengingat dia, apakah dia sudah menikah? Apa dia mau menikah denganku? Huuhh… semakin menambah pusing kepalaku.

Namaku Muhammad rasyid. Seorang laki laki yang masih menyimpan perasaan yang sama untuk dia, yang masih mengharapkan dia, yang masih menginginkan dia, namanya adalah Annisa Fajria, perempuan embun pagi begitulah aku menyebutnya. Tatapan mata teduh yang sejuk bagai embun dipagi hari, wajah ayu Akhas Blora, tubuh mungil dengan kerudung panjangnya, selalu membuat aku senyum senyum sendiri bila mengingatnya. Asstaghfirullah… Kenapa aku membayangkanya?

Seusai melaksanakan shalat subuh, ternyata pagi ini embun pagi cukup banyak, dan aku ingat kepada dia lagi… hufftt. Pagi ini di rumahku ada tamu, dia adalah pamanku namanya pak dhe No, aku tak tahu apa maksud kedatanganya kemari.
“piye le? Sudah punya calon?” dengan logat khas Blora, pamanku membuka percakapan. (piye le artinya gimana nak)
“belum dhe, kalau ada yaa dicarikan dhe, siapa tahu cocok” balasku dengan sedikit nada bercanda.
“ada! anak perempuan tetangga pak dhe, belum menikah, kamu mau?”
Ternyata pamanku menanggapi serius, sesaat aku menoleh ibuku dan dibalas dengan senyum beserta anggukan.
“emm… boleh dhe,” balas singkatku
“kalau begitu lusa kamu datang ke rumah pak dhe, nanti tak ajak main ke rumahnya (anak perempuan itu)”.

Malam ini begitu indah, langit yang cerah dipenuhi milyaran bintang yang saling berlomba lomba menampakan sinarnya tetapi meraka tetap kalah dengan cahaya bulan purnama, walaupun hanya satu bulan, namun cahayanya sudah cukup menandingi bintang bintang itu. Aku kembali mengingat kata kataku kepada pak dhe tadi pagi, kenapa aku begitu mudah mengiyakan tawaran pak dhe? Padahal aku kan masih mengharapkan Annisa? Aahhhh… Aku marah pada diriku sendiri.
Hari ini aku ke rumah pak dhe No, setelah mendirikan shalat isya` tentunya. Dengan mengendarai motorku, aku masuk lorong yang menuju rumahnya, ke arah timur dari lorong rumahku tidak jauh memang. Aku dan pak dhe No mengobrol sebentar mengenai perempuan ini, dari keterangan pak dhe ternyata perempuan ini seorang akuntan dan saat ini sudah bekerja. Dia juga bercerita, teman temanya yang lain sudah menikah, hanya dia saja yang belum. Hanya kujawab perkataan pak dhe dengan anggukan pelan dan keragu raguan.
“ayo segera ke rumahnya, nanti kemalaman” ajaknya.
“nggeh dhe..” jawabku (iya)

Kami berjalan menuju rumahnya, tidak jauh dari rumah pak dhe karena memang tetanggaan. Sesampainya di rumahnya kami disambut oleh kedua orangtua perempuan ini. Aku tahu mereka orangtuanya karena sebelum memasuki rumah, pak dhe berbisik kepadaku.

Aku duduk di samping pak dhe, dan berhadapan dengan tuan rumah. Kami mengobrol sekedarnya dan bapak itu juga bebarapa kali bertanya kepadaku tentang berbagai macam hal, terlihat bapak itu tersenyum saat aku melontarkan jawaban atas pertanyaanya. Tiba tiba…
“assalamualaikum..” suara perempuan mengucapkan salam.
“waalaikumsalam…” kami serentak menjawab.
Semua melihat ke pintu tempat perempuan itu, tetapi aku hanya menunduk. Siapakah dia? Sebersit pertanyaan menyambar benakku.
“naahh… ini perkenalkan anak perempuan saya” ucap bapak itu kepadaku
“iyaa pak..” jawab singkatku sambil menunduk.

Tanganku disenggol oleh pamanku, aku mengerti maksudnya.
“ya sudahh.. kalian bicara disini yaa.. kami mau bicara di luar” ucapan ibu itu kepada kami berdua. (aku dan perempuan itu)
“nggeh” sahut kami hampir bersamaan.

Beberapa menit kami saling diam, sehingga menimbulkan suara binatang malam semakin terdengar jelas di telingaku. Suasana dingin sampai aku membuka percakapan.
“apa kabar?” ucapku pelan.
“sampai segitu kakunya, kamu nggak ingat aku?”
Mendengar kata kata itu, aku langsung melihat wajah perempuan berjilbab panjang di depanku, dia tersenyum begitu manisnya hingga membuat jantungku ini bergedup seperti putaran mesin 1000 rpm.
“masyaallah… Aku benar benar tak percaya ini.”
“ini kenyataan kok, kamu tidak bermimpi” kata perempuan itu meyakinkanku.
“apakah kamu tahu kenapa aku disini?” Tanyaku.
“emm.. jadi kapan kamu bawa rombongan keluargamu kesini?”
“haahh… kamu sudah menerimaku?”
Tidak ada jawaban dari perempuan di depanku, perempuan embun pagi, Annisa Fajria. Hanya tatapan teduh nan sejuk dari matanya lantas tersenyum lalu disertai anggukan kecil.

1 Bulan kemudian
Suasana begitu ramai di rumah calon istriku, kerabat dari kedua keluarga sudah berdatangan memenuhi undangan yang kami kirim, raut muka bahagia terlukis pada semua yang hadir, tetapi tidak denganku, aku sangat gugup menghadapi ini, walaupun aku sudah hafal lafal yang harus aku ucapakan tetapi entah mengapa aku begitu gugup. Tiba tiba perempuan di sampingku menyentuh lenganku, seketika aku menoleh ke arahnya.
“Aku yakin kamu bisa…” dengan senyum manisnya.
Aku tidak menjawab, tetapi ada rasa yakin luar biasa memenuhi dadaku. Tangan bapak dari perempuan di sampingku menjabat erat tanganku dan ijab qobul dimulai.
Setelah itu aku menjawab, ku dekatkan mikrofon ke mulutku, ku ucapkan dengan yakin “qobiltu nikaha…”
Sah! Alhamdulilah…

Cerpen Karangan: Ahmad Rosidi
Facebook: Ahmad Rosidi
bantuanya yaa, masih pemula
aku kelahiran Blora, 1 Juli 1998

Cerpen Perempuan Embun Pagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Atas Sajadah

Oleh:
Perbedaan. Mungkin, dengan perbedaan semuanya menjadi indah saling melengkapi satu sama lain dan saling menyempurnakan. Namun, bagaimana jika perbedaan itu menyangkut keyakinan kita, masihkah kita menyebutnya indah dan bisa

Karena Aku Memilih Hatinya

Oleh:
Tidak hanya sekedar “Beautiful”, tapi “Pretty.” Zahra perempuan 25 tahun ini tidak hanya sekedar cantik, tapi dia mempunyai hampir semua yang ingin dimiliki oleh kaum hawa. Hampir semua orang

Ramadhan Cinta Untuk Nya

Oleh:
“Citra, sini!!!”, teriak Risa Di kejauhan gue pun mengangguk dan berlari ke arahnya. Kenalin, temen gue yang satu ini. Dia adalah saah satu sahabat gue di rumah, kita udah

Semanggi Berhelai 4

Oleh:
Persahabatan adalah segalanya dalam hidup. Dia akan berubah menjadi dewasa layaknya kedua orang tua yang senantiasa menasehati. Sebagai kakak dan juga adik yang selalu setia. Aku sangat beruntung mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *