Perfect of Ramadhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Felly!!!,” panggil Riska manja dengan memasuki ruangan kerja Felly.
“Tumben, lo ke sini? Lagi free?,” jawab Felly setelah sahabatnya duduk di sofa ruangan kerja Felly.
“Bukan free.. Tapi, kerjaan gue udah kelar! Lagian, tumben banget sih elo jam segini udah tutup, hah?,” tanya Riska dengan mengerutkan dahinya.
“Kepo, ya?,” gurau Felly dengan tetap menggerakkan mouse komputernya.
“Tch! Fel, gimana kalau sepulang kerja kita ke mall? Gue suntuk banget nih hari ini. Mau ya? Kita sekalian makan malem. Lo pasti belum makan malem, kan?,” tawar dan tanya Riska yang berderet layaknya kereta api.
“Okay. Tapi, setelah gue selesai ngerjain kerjaan gue!”
“Apa?!!! Aduh nih anak ya?! Lu ngerjain apaan sih? Ini udah jam pulang. Yah.. meskipun nggak biasanya lo udah tutup jam sekarang.”
“Hahahaha. Udah deh, Ris! Itu mulut jangan protes mulu! Daripada l berkicau terus, gimana kalau lu liatin itu majalah-majalah yang baru terbit beberapa hari yang lalu? Banyak barang-barang branded. Kali aja lu minat.”
“Modelnya juga branded, kan?”
“Hahahaha! Iya dong. Model untuk majalah yang baru launching kemarin gue taruk model-model yang baru.”
“Hmmmmm gitu ya… boleh deh!,” kata Riska dengan mengambil majalah-majalah baru yang ada di bawah meja.
“Ngomong-ngomong, lu kapan buka pendaftaran lagi untuk model baru?”
“Entahlah! Rencananya sih, setelah lebaran nanti.”
“Dengan persyaratan yang sama seperti sebelumnya?”
“Enggak. Untuk kali ini, sedikit berbeda.
Riska tidak menjawab. Melainkan ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya membuka lembaran-lembaran majalah. Hingga akhirnya, Riska merasa bosan. Ia beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan ke arah Felly yaang tengah fokus dengan pekerjaannya. Karena merasa penasaran, Riska mengintip pekerjaan Felly dai belakang. Bahkan, sekalipun Riska mencolek punggung Felly agar Felly sadar dan mau memperhatikan dia, Felly tetap fokus dengan pekerjaannya.

“Lu ngapain bikin schedule kayak begini? Nggak biasa-biasanya lu punya jam terbang dikit? Lu mau kencan kan sama Arka?,” tuduh Riska.
“Ris, Ris! Inget, lu puasa sekarang! Jangan main fitnah aja, dong!”
“Hehehe. Iya-iya. Maaf. Tapi, untuk apaan lu bikin beginian.”
“Karena gue nggak mau semua yang terjadi di bulan Ramadhan tahun lalu, bisa terjadi lagi di tahun sekarang.”
“Hah?! Maksudnya apaan? Emang, yang terjadi di ramadhan tahun lalu apaan?”
“Gara-gara kerjaan, gue nggak ikutan sholat tarawih satu bulan penuh! Lu tahu, gue gila di depan kerjaan! Dan gue sadar, selama itu penghasilan gue nggak ada barokahnya tahu nggak?!”
“Hahahahaha.. itu mah salah lu sendiri dodol! Kerja keras itu ada batasannya.”
“Iya sih…”
“Tapi, lu kapan selesainya, Fel?! Masih lama, ya?”
“Enggak kok, Ris. Tinggal satu kolom lagi.”
“Beneran?,” tanya Riska.
“Seriusan gue, Ris!”
“Ya udah, deh kalau gitu! Gue tinggal chattingan sama anak-anak,” kata Riska dengan meninggalkan Felly dan kembali duduk di atas sofa ruangan Felly.

Tak lama kemudian, Felly beranjak dari tempat duduknya. Memasang jasnya daan menghampiri Riska yang tengah asik dengan ponselnya. Saat Riska sadar, mereka langsung menuju ke lift untuk sampai di lantai satu. Lalu, menjalankan roda mobilnya ke tempat yang sudah direncnaakan sebelumnya.
“Kita makan dulu atau shooping dulu nih, Fel?,” tanya Riska.
“Makan dulu, aja. Udah adzan soalnya, nggak baik hukumnya kalau udah waktunya buka tapi kita nggak buka.”
“Bener juga, sih. Eh tapi, kita enaknya makan dimana?”
“Restoran Jepang.”
“Lu buka puasa mentah-mentah begitu sih? Nasi kenapa?”
“Hehehehe… Korea gimana? Bulgogi.”
“Pedes nggak?”
“Kayaknya sih, iya.”
“Duh lu tuh ada-ada aja, sih!”
“Ok. Masakan nusantara, ya?”
“Sip!,” kata Riska.

Mereka pun menaiki eskalator ke lantai dua. Kemudian memasuki restoran yang dituju. Sesampainya di sana, Felly menapatkan lambaian dari seseorang yang mengenalnya. Alex. Laki-laki tampan dengan darah Brazilnya yang melekat. Hal itu terlihat dengan mata birunya yang begitu berbinar.
“Jangan bilang lo bakalan bicara bisnis kalau sama orang itu,” ucap Riska berbisik.
“Felly! Apa kabar? Udah lama nggak ketemu.”
“Alex! Kapan kamu ada di Indonesia? Udah lama?”
“Yahhh lumayan, lah. Oh ya, kebetulan kamu di sini. Kayaknya, ini waktu yang tepat ya, buat ngomongin join aku di perusahaan kamu?”
“Hahahahaha.. kita udah rencanakan semua itu sejak kuliah dulu. Masiiiihhh aja inget.”
“Iya dong. Oh ya, Bram sam Billy kemana? Tumben kalian dateng cuman berdua?”
“Tadi sih, kita niatnya shooping. Tapi ternyata, malah makan dan ketemu kamu di sini.”
“It’s nothing dong, gue malah seneng nih! Kalian mau pesen apa? Biar gue pesenin. Oh ya, sekalian juga kenalin! Ini semua rekan kerja gue yang datang dari Brazil dan Belanda,” kata Alex dengan memperkenalkan nama mereka satu persatu.

Suasana begitu hangat dengan perbincangan yang hangat. Mulai dari bisnis, hubungan, hingga gurauan-gurauan ringan. Hingga akhirnya, waktu berbuka telah habis. Felly hendak berpamitan untuk menunaikan ibadah sholat tarawih. Namun, Alex dan rekannya berpamitan untuk kembali ke kantor karena harus mengurus pekejaan mereka kecuali Riska.
“Lu tarawih, kan?,” tanya Felly.
“Iya-iya! Gue tarawih!”

Mereka pun berangkat ke masjid yang ada di sekitar. Kemudian, mengambil wudhu dan sholat berjamaah hingga selesai. Setelah itu, mereka kembali ke mall untuk sekedar mencari-cari barang yang ingin mereka beli dan menghilangkan penat. Felly tidak menyangka, kepenatan yang memenuhi ruangan pikirannya seketika menghilang setelah ia mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang di baca oleh imam tarawih dan diikuti oleh makmumnya. Begitu segar dan menenangkan.
“Felly!,” panggil seseorang saat Felly tengah asik melihat-lihat baju muslim.
Felly pun menolehkan kepalanya ke arah belakang. Dan benar saja, matanya seketika penuh dengan amarah saat melihat wajah dan sorotan mata laki-laki itu.
“Kenapa kau berani muncul di depanku, hah?!,” tanya Felly ketus.
“Maaf karena aku tidak langsung memberitahumu kalau aku udah balik dari New York.”
“Aku nggak bisa maafin kamu, Arka!”
“Tch! Aku tebus dengan kencan semalam yang bertabur coklat. Gimana?”
“Nggak!”
“Sayang….,” panggil Arka manja.
“Lo pikir gue pengemis apa?”
“Hehehehe. Bentar-bentar. Kamu ke sini sama siapa?,” tanya Arka dengan sorotan matanya yang menuduh.
“Seharusnya aku yang nanya begitu ke kamu! Rasain nih! Rasain! Dasar!,” kata Felly dengan melemparkan baju-baju pilihannya ke arah Arka.
“Aku dateng sama Mamaku. Kamu dateng sama cowokmu, ya?,” tuduh Arka sambil mengikuti Felly yang tengah berpindah tempat untuk sekedar melihat-lihat high girls.
Dan kini, Felly kembali hendak melemparkan high girls yang sudah ia pilih sekenanya tanpa mempertimbangkan kebiasannya yang selalu melihat merk dan juga kualifikasi bahan yang tertera di bandrol.
“Et, et, et, et! Iya-iya! Kamunya nggak jaawab sih ke sini sama siapa?,” kata Arka.
“Kamu nggak ngasih aku kesempatan untuk jawab, Ka.”
“Ya udah, sekarang jawab dong.”
“Riska! Aku ke sini sama Riska! Itu orangnya, kalau kamu nggak percaya.”
“Pulangnya aku aku anter, ya?”
“Mama kamu gimana?”
“Aku telfon supir. Dia pasti ngerti kok kalau aku haruss gimana sama calon istri.”
“Tch!”
“Tapi, sebelum itu kita makan malem bareng nggak papa, kan?”
“Aku udah makan.
“Itu, kan buka.”
“Iya deh, terserah kamu akam. Nyerah aku.”
“Hahahaha. Ini mbak!,” ucap Arka dengan menyerahkan kartu kreditnya saat mereka ada di meja kasir.
“Riska, gue pulang sama Arka ya? Lu hati-hati di jalan.”
“Ok, Fel. Sukses untuk dinnernya!,” kata Riska dengan meninggalkan Felly dan menuruni eskalator.

Sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Arka mengantar Felly pulang. Tapi sebelum itu, Felly meminta Arka untuk menghentikan mobilnya. Arka menuruti apa yang dikatakan oleh Felly.
“Sampai kapan kita akan seperti ini, Ka?,” tanya Felly.
“Maksud kamu apa, sayang?”
“Aku ingin kita putus. Dan ini cincinmu. Aku sudah tidak berhak memakainya lagi!,” ucap Felly dengan keluar dari mobil.
Arka yang tidak mengerti apa-apa, segera keluar mobil dan mengerjar Felly. Jalanan yang ramai menjadi melodi peristiwa itu. Lampu jalanan yang bersinar menjadi sorotan saksi ntuk mereka berdua. Dan udara yang ada, terasa begitu sesak dengan sekali sentuhan meski dengan niatan membelai.
“Felly! Berhenti!,” seru Arka dengan mengejar langkah Felly.
“Berhenti aku bilang!!!,” kata Arka gemas dengan meraih lengan Felly kasar.
“Lepasin!,” kata Felly dingin.
“Felly! Apakah kamu melakukan ini hanya karena masalah aku tidak mengabarimu sepulang dari New York? Kau begitu kekanak-kanakan, Felly! Kau…”
“Kita udah putus.”
“Apa?! Kau bercanda kan?,” kata Arka tak percaya.
“Apakah aku terlihat bercanda?!,” jawab Felly dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.
“Nggak! Semua ini nggak mungkin, Fel! Kamu bercanda! Kamu bercanda!!!,” bentak Arka.
“Aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan, Arka!,” kata Felly dengan meninggalkan Arka dan menenteng belanjaannya.
“Jika memang itu keputusanmu, jelaskan padaku gadis gilaaaa!!!,” bentak Arka saat ia telah merasakan hal yang dikatakan Felly memang benar-benar hal yang serius.
Felly menghiraukan ucapan Arka. Ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Arka yang masih berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apakah kau akan balas dendam terhadapku setelah apa yang terjadi tujuh tahun silam?,” kata Arka lemah. Namun, masih dapat terdengar.
Seketika langkah Felly terhenti. Matanya terbelalak. Jantungnya terasa begitu sakit. Dadanya terasa sesak. Dan, badannya seketika gemetar. Kata-kata itu, seperti sambaran petir bagi Felly.
“Aku hanya nggak mau jadi boneka kamu! Boneka yang bisa kamu perlakukan semaumu! Boneka yang harus mau memegang tanganmu saat kita berjalan bersama! Boneka yang harus mau menyayangi hanya dengan sebatas ikatan cincin! Boneka yang hanya bisa melayani rindumu dikala kamu merindu! Aku ingin menjadi seutuhnya untuk kamu! Aku lebih gila daripada tujuh tahun silam! Karena aku lebih menakutkan akan kehilangan kamu!!!,” bentak Felly dengan air mata yang mengalir begitu deras.
“Felly…,” panggil Arka lirih.
“Aku tidak pernah sedikitpun punya pikiran untuk balas dendam. Arka, di dalam cinta, tidak ada kata balas dendam! Aku mencintaimu karena anugerah dari Tuhan! Bahkan, sedikitpun aku tidak berani berbohong padamu! Karena aku takut, akan kehilangan kamu! Tapi sekarang aku sadar, cinta itu nggak akan ada artinya sama sekali kalau cinta itu nggak ada restu dari Allah! Sekalipun kedua orangtua kita merestui dan mengikatkan kita dengan pertunangan, nggak seharusnya kita melakukan semua hal bersama!!! Aku tidak pernah kecewa atau menyesal dengan apa yang udah kita lewati bersama! Aku menyesal karena kamu tidak pernah sadar apa yang aku mau! Dan aku ngerasa, selama ini kamu masih belum mengenal siapa aku, Ka. Jadi, kita akhiri saja semuanya. Di bulan suci ini, aku ingin bersih dari segala noda. Sekalipun noda itu adalah anugerah dari Allah. Yaitu, cinta!,” kata Felly dengan meninggalkan Arka yang termangu dan ternganga dengan amarah Felly yang meledak layaknya gunung merapi yang meletus.

Malam itu menjadi malam yang begitu pekat bagi Arka dan Felly. Hubungan mereka yang begitu lekat dan terajut rapi selama ini, kembali rusak karena kesadaran dan jalan pikiran salah satu individu. Dan, untuk kata-kata itu. Yah… kata-kata yang diucapkan oleh Felly terus terngiang di kepala Arka hingga ia tak dapat memejamkan matanya hanya sekedar untuk menutup mata.

“Maafkan aku…,” ucap seseorang di depan pintu. Arka. Arkana Aditya.
“Untuk apa kau kemari?,” tanya Felly dengan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah ia melihat siapa orang yang datang ke kantornya.
“Maaf karena aku tidak bisa mengerti apa yang kau mau. Tapi…”
“Jika memang kau sudah selessai berbicara, pergilah dari sini! Kehadiranmu hanya bisa menggangguku!,” kata Felly ketus tanpa menatap mata Arka. Melainkan tetap fokus dengan pekerjaan yang ada di depannya.
“Tch! Felly!,” panggil Arka ketus dengan nada yang penuh dengan rasa sakit di hatinya.
Felly tidak merespon dan tetap dalam posisi yang sama.
“Felly!!!,” panggil Arka dengan mendekat ke arah Felly yang tidak merespon apapun yang dikatakan oleh Arka.
Felly terjingkat saat Arka memukul meja kerja Felly dengan begitu keras. Dan hal itu, membuat Felly menatap mata Arka yang berair. Jauh di dalam sana, Felly merasakan kesakitan yang amat sangat saat ia menatap lekat-lekat mata laki-laki itu. Felly merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Arka. Begitu juga dengan kesedihan. Ia merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang ia rasakan setelah peristiwa tujuh tahun silam. Yah.. peristsiwa dimana mereka berpisah untuk pertama kalinya.
“Kita mau kemana, Ka?,” tanya Felly kepada Arka yang tengah menyeretnya keluar kantor.
“Kau akan tahu sendiri nanti.”
“Nggak! Kamu harus jawab aku!!!,” kata Felly memaksa.
“Aku nggak akan membiarkan kamu membuat aku gila Felly! Aku nggak akan biarkan peristiwa itu terjadi lagi.”
“Tch! Apakah kau takut mengalami hal yang sama denganku?,” tanya Felly dengan sorotan mata yang sinis.
“Tch! Dasar cewek gila!,” kata Arka dengan kembali menyeret Felly agar Felly tetap berjalan di belakangnya dan mengikuti langkah Arka.
Arka memaksa Felly untuk memasuki mobilnya. Kemudian ia menjalankan mobilnya dan berhenti di suatu bangunan.
“Kenapa kau membawa aku ke sini?,” tanya Felly dingin.
“Haruskah aku menjawabnya jika kau sudah tahu jaawabannya?”
“Arka!,” bentak Felly.
“Aku memang bukan cowok yang sempurna untuk kamu, Fel! Tapi asal kamu tahu, aku ingin menjadi sempurna di matamu! Memang, aku salah selama ini. Aku benar-benar minta maaf untuk itu.”
“Apakah kau mau menebus kesalahanmu?,” tanya Felly ragu.
Arka menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Sesuai dengan apa yang kau inginkan.”
“Apa kau yakin?,” tanya Felly.
“Yakin! Sekayin-yakinnya!”
Felly tak bisa berkata apapun selain mengikuti langkah Arka ke dalam bangunana itu. Menuliskan identitas dalam daftar pernikahan. Yah… pernikahan suci, di tengah bulan yang suci. Dan juga, cinta yang suci dengan ijab kobul atas nama Allah dan Al-Qur’an. Karena sesungguhnya, cinta yang suci adalah cinta yang mendapat restu dari Allah.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Perfect of Ramadhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Pergi Kau Kembali

Oleh:
Hari-hari terlewati bersama lirihnya air mata dalam batin. Ketaksanggupan mata menangis membuat batin semakin tersiksa. Mengingat kembali betapa besar karunia Tuhan karena pernah menghadirkannya dalam hidupku. Teralun gending suara

Terikat Dalam Sajadah Cinta

Oleh:
Siang ini matahari enggan tersenyum kepadaku. Ia lebih senang menutup diri di balik gumpalan kapas putih di langit. Aku pun enggan beranjak dalam aktivitasku. Aku yang setiap hari selalu

Annisa

Oleh:
Annisa yang berarti perempuan. Nama yang indah. Siapa yang tak mengenal nama Annisa? Seorang mahasiswi di fakultas kedokteran di universitas ternama di surabaya. UNAIR (universitas air langga) dia seorang

Kisah Sang Putri Hawa

Oleh:
Hilang, sinar rembulan kembali ke tempat peraduannya lalu datang sang mentari menghangati pagi itu. Kicauan burung dan hijaunya dedaunan menyempurnakan indahnya pagi itu, sungguh sempurna ciptaan Allah. Di sebuah

Bukan Kim Tapi Kian

Oleh:
Waktu itu, setiap pagi pesan SMS mu tak pernah luput dari Hp-ku. Dan tanganku tak pernah luput dari menggenggam Hp. Setiap pesan SMS masuk dengan ligat jariku menekan-nekan tombol

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perfect of Ramadhan”

  1. dinbel says:

    Iccccchhhh soswitsssssssss bangetsssssssss ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *