Perjalanan ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

sudah beberapa hari ini aku duduk termenung di sini. Di kamar berubin putih tulang dan berdinding biru dongker. Hanya beranjak pergi untuk ke kamar mandi, ibadah dan ketika rasa lapar menghampiri. Kalian mungkin berpikir-pikir kenapa aku begini. Mungkin ada salah satu tebakan dari kalian yang benar. Aku begini karena cinta.

Hari ini aku ada jadwal belajar bersama anak-anak didikku. Kami belajar bersama di dekat masjid jami’ kota metropolitan ini. Kasihan aku melihat mereka, ternyata masih ada orang yang lebih sulit dariku. Mereka itu anak-anak pengemis jalanan, yang aku didik tanpa ridho orangtua mereka. Kami sebenarnya bukan belajar sungguhan, tapi, hanya belajar diselingi permainan yang banyak. Aku pun tak keberatan jika mereka meminta aku untuk menyudahi pelajaran. Lalu, seterusnnya bermain apa saja. I’m fine. Aku sangat suka bermain dengan anak-anak. Entah kenapa, melihat mereka tertawa, bermain, kejar-kejaran, ada rasa senang tersendiri. Mungkin, masa kecilku tak sebahagia mereka.

“mbak Raya, ayo bikin origami, aku udah capek kejar-kejaran sama Ridho”. Kata Rohmat.
Iya, nama panggilanku Raya. Nida Soraya, lulusan S1 jurusan sastra, Universitas Indonesia. Keluargaku bukan keluarga yang harmonis. Tapi aku, masih bisa mendapatkan kasih sayang yang cukup dari keluargaku. Yaa, meski setiap hari mama, dan papa harus berangkat pagi dan pulang malam. Dan aku hanya di rumah sendiri. Agamaku Islam. Dulu, aku masih belum bisa menemukan siapa diriku. Aku hanya Islam turunan. Tapi, sekarang alhamdulillah, i’m can to be come this one more good, dari masa laluku. O ya, aku lulusan S1 jurusan sastra tapi sekarang ini, aku sama sekali tidak bekerja. Aku hanya berkelana dengan modal satu sepeda motor matic, hadiah ulang tahunku yang ke-17. Aku berkelana mengelilingi ibu kota, melihat kondisi masyarakat di berbagai daerah.

“ayo! Kalau begitu kita sekarang bikin origami yang model baru yaa…!”.
“ayooooo… mbak”. Teriak beberapa anak-anak yang kira-kira jumlahnya sekitar 20. Pertemuanku dengan mereka hanya dua kali dalam seminggu. Karena, aku juga sibuk dalam berbagai organisasi lainnya. Sudah hampir jam lima. Aku pamit pada mereka, janji pertemuan selanjutnya akan aku bawakan buku dongeng. Sudah lama aku tidak mendongeng sejak suatu kejadian. Tapi sekarang aku sudah menerima. Karena ada rencana-Nya yang indah.

“Bima!”.
“sepertinya ada yang memanggilku?”. Batinku bertanya.
“Bima!”. Aku yakin, ada yang memang benar-benar memanggilku. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Langsung aku terkejut. Melihat di depanku ada seorang perempuan berjilbab.
“Ia!”.
“lho, masih ingat to?”. Sindirnya. Ia teman kuliahku dulu waktu kami masih satu universitas. Sekarang aku sudah pindah, dan belum sekalipun kami bertemu setelah perpindahanku. Senangnya aku bisa bertemu denhgannya sekarang ini.
“ya masih lah. Teman seperjuangan, kok dilupain?!”. Tawa kami bergelak. Aku sudah lama memendam perasaan padanya. Saat bertemu ini, seperti ada rasa yang aneh di hatiku. Aku dengar Ia juga pernah memendam perasaan padaku tapi entah sekarang.

“terus gimana kuliahnya sekarang lancar?”. Tanyaku balik.
“alhamdulillah, aku dapat beasiswa”.
“Wah? Yang bener? Aku belum dapet”.
“ya udah ditunggu aja, sabar. Nanti juga ada keberuntungan yang lain”.
“mau ke mana nih, setelah ini?”. Tanyaku. Ku pernah sempat bilang pada kawan-kawan di kampus dulu, kalau aku akan bisa menaklukkan hati Ia. Karena Ia itu sangat anti pacaran. Aku ingin membuktikan kalau Ia bisa aku dapatkan.

“nggak ke mana-mana sih. Emang kenapa?”.
“mau nggak dinner?”.
“sama siapa?”. Tanyanya mendelik.
“kita berdua!”. Aku sudah tahu Ia akan menolak, tapi aku luncurkan jurus berikutnya.
“kita cari tempat yang ramai. Nggak sepi kok”.
“tapi…”.
“udahlah, yuk. Janji nggak ngapa-ngapain”.
“ya udah, tapi jangan lama-lama. Aku masih banyak acara”.
“iya.., banyak acara? Kayak seleb aja”. Candaku. Tak ada ekspresi apapun darinya. Ya sudah aku cepat membawanya jalan, sebelum Ia berubah pikiran. Sejak saat itu aku lebih sering bertemu dengan Ia, mengajaknya jalan.

Sudah saatnya..
“Ia,”. Tanyaku saat pertemuan yang kesekian kali dengannya.
“ya?”.
“aku kira, kita kan udah lama deket gimana kalo..”.
“kalo apa?”. Aku kira Ia akan tahu. Ia sama sekali tidak tahu kode-kode seperti itu.
“gimana kalo kita pacaran?”. Aku lihat wajahnya bertambah pucat, ada gurat kecemasan di wajah ayunya yang dibalut jilbab putih. Aku kira aku benar dengan tebakanku kalau Ia akan menolak. Tapi, nyatanya..
“aku mau”. Ada rasa aneh di hatiku. Entah apa itu. Akhinya aku berhasil menaklukkannya.
“aku nggak salah denger kan Ia?”.
“nggak”. Jawabnyaa dengan lesung pipinya yang terlihat.
“makasih Ia..”.

Setelah itu kami semakin dekat. Ke mana-mana kami bersama. Kawan-kawan dulu yang pernah aku janjikan bahwa aku bisa menaklukkan hati Ia, mereka tidak percaya.
“mana mungkin Ia mau dipacarin sama kamu?. Dia kan anti pacaran tingkat dewa?!”. Respon Dika setelah aku beri tahu tentang aku dan Ia yang memang sekarang kami sedang pacaran.
“kenyataannya begitu..,”. jawabku enteng.
“Ia kamu guna-guna ya Bim?”. Jawab Sandi.
“eh, sembarangan kamu ngomongnya! Ya enggaklah. Buat apa aku guna-guna perempuan, udah banyak tau perempuan-perempuan yang tertarik sama aku”. Dengan Pdnya aku jawab pertanyaan Sandi.
“ya udah deh, kami akui kamu hebat, applause for you success”. Mereka bertepuk tangan untukku dengan ekspresi wajah kalah. Sekarang aku merasa senang, tapi kelanjutan cerita ini tak terlalu aku suka.

Aku pernah cerita pada kalian kalau aku sudah lama tidak mendongeng karena suatu kejadian. Aku akan ceritakan pada kalian tentang suatu kejadian itu.

“Ia, minta tolong dongengin”.
“aku lagi pusing, capek Bim”.
“ih.. pelit banget.. dongengin dikit napa sih?”.
“aku capek Bim.. nanti kalau nggak capek yaa aku dongengin…”.
“terserah kamulah”.

Bima laki-laki yang pernah menjadi pacarku dan teman kuliahku dulu, sangat suka dongeng. Dari kecil sampai sekarang ia sangat suka, saat aku yang mendongeng. Tapi entah kenapa siang itu, saat aku sedang capek-capeknya, dia memaksaku untuk mendongeng. Dan sama sekali tidak bisa mengerti aku. Aku yang baru pulang dari salah satu organisasi, belum meletakkan tas di bangku taman, langsung saja dia memintaku untuk mendongeng. Kami memang sedang janjian untuk bertemu.

Siang itu langsung ia pergi meninggalkanku. Berhari-hari tak menghubungiku. Aku resah, aku hubungi tidak bisa, aku tanyakan pada teman-teman dekatnya mereka jawab sudah beberapa hari ini Bima tidak kelihatan. Aku bingung. Akhirnya aku putuskan bahwa sikapnya yang seperti ini, menandakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungannya denganku.

Bukannya aku belajar dari kesalahanku itu, aku sekali lagi terjerembab di lubang yang lebih dalam. Aku pergi ke tempat-tempat diskotik, aku sering ganti-ganti pacar, tapi aku masih menjaga harga diriku. Aku seperti lupa diri bahwa aku hidup ini ber Tuhan. Sampai suatu saat aku menyadari bahwa selama ini yang aku lakukan salah.

Sudah beberapa hari ini aku duduk termenung di sini. Di kamar berubin putih tulang dan dan berdinding biru dongker. Hanya beranjak pergi untuk ke kamar mandi, ibadah dan ketika rasa lapar menghampiri. Ini semua karena cinta. Menurutku sangat sulit untuk mendapat cinta-Nya. Tapi ternyata tidak, jika kita mau berusaha. Sekarang aku telah berubah. Aku sudah berbeda dari yang dulu. Aku berhijrah. Aku tidak mau kembali masuk ke dalam lubang yang sama juga tak mau ada orang yang salah jalan seperti aku dulu. Terima kasih Allah, ada cerita indah dibalik rencana-Mu.

THE END

Cerpen Karangan: Alifah
Facebook: Alifah

Cerpen Perjalanan ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You Good Bye

Oleh:
Aku merindukanmu Hanya itu yang ingin gadis itu sampaikan. Gadis yang kini berdiri dengan mata nanar di koridor sekolahnya, membiarkan rambut tergerainya berantakan akibat terpaan angin yang berlalu lalang

Tunggulah Aku Di Pelaminan

Oleh:
“Aku… mencintaimu kak, entah kapan cinta itu mulai tumbuh dan berkembang di dalam dada… aku tak tahu dan aku tak mengerti, yang aku tahu… jantungku selalu berdebar kencang saat

Cinta Dua Untai Tasbih (Part 1)

Oleh:
“Arifah… hiks hiks hiks.” Tiba-tiba Sinta, sahabatku memelukku. Ia terisak-isak di pelukanku. Aku tak tahu mengapa ia seperti ini. “Ada apa Sinta? Kenapa kamu menangis seperti ini? Bila kamu

Terikat Dalam Sajadah Cinta

Oleh:
Siang ini matahari enggan tersenyum kepadaku. Ia lebih senang menutup diri di balik gumpalan kapas putih di langit. Aku pun enggan beranjak dalam aktivitasku. Aku yang setiap hari selalu

Dia Cemburu

Oleh:
“Happy anniversary, sayang.” Ujar sosok di belakangku tiba-tiba. “Hah, kita kan udah.” Aku gak enak meneruskan kata berikutnya tapi sosok yang kini di depanku sambil membawa tart berbentuk hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *