Pesantren In Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Tak pernah sedikitpun Nadia berpikir bahwa Reza adalah jodohnya. Bahkan dia selalu merasa jengkel jika melihat Reza. Bagaimana tidak, dulu anak kota nan sombong itu selalu memamerkan barang-barang miliknya yang mahal-mahal. Reza memang bandel. Dia adalah anak ke 2 dari tiga saudara. Kakak dan adiknya perempuan semua.

Reza memang beruntung terlahir dari orang tua yang berada. Namun, kesibukan orangtuanya membuat dia tumbuh menjadi seseorang yang bandel dan tidak mempunyai rasa tanggung jawab. Hingga akhirnya saat usianya menginjak 6 tahun. Dia dimasukkan di pondok pesantern milik Kyai Ahmad. Pada saat itu Nadia berumur 4 tahun

Nadia adalah seorang putri yang cantik jelita. Saat ia dipanggil abinya untuk menemui ayah dari Reza tapi, ia membuat ulah. Teh panas yang baru saja disajikan oleh uminya tak sengaja tumpah di baju Pak Razak. Semua yang ada si sana terperanjat kaget. Nadia hanya bisa tertunduk takut dan kena marah Abinya.

“Maafkan Nadia bi,” katanya dengan nada takut.
“Abi nggak masalah kalau kamu menumpahkan teh di baju abi. Tapi, kamu menumpahken teh di baju pak Razak. Tamu abi,” kata Kyai Ahmad dengan nada marah.
“Abi Razak, Nada minta maaf. Lain kali tidak Nadia ulangi,” kata Nadia dengan manja.
“Tidak apa-apa nak, kamu ini lucu dan menggemaskan. Bagaimana bisa Abi marah sama Kamu,” katanya dengan tertawa kecil lalu mengendong Nadia.

Akhirnya semua tersenyum melihat tingkah Nadia. Namun, Reza tiba-tiba masuk ke rumah Pak Kyai dan melihat Nadia di gendong Pak Razak. Reza pun marah besar, sampai-sampai Nadia ingin main bersamapun tak mau. Hal itu terjadi hingga bertahun-tahun.

Waktu pun terus berlalu, hampir 18 tahun Reza dan Nadia masih saja marahan. Hingga suatu saat, Pak Kyai memanggil Nadia dan Reza.
“Nad, kamu mau sampai kapan marahan terus sama Reza. Dan kamu Reza hitung coba berapa tahun kamu marahan sama Nadia?” tanya Pak Kyai.
“Abi, aku nggak marah sama Mas Reza. Hanya saja Mas Reza yang selalu jaga jarak setiap kali aku deketin,” jawab Nadia.
“Nggak kok Kyai. Saya sudah tidak marah sama Nadia. Saya hanya merasa aneh saja setiap deket dengan Nadia dan saya memang menjaga jarak dengan akhwat,” jawab Reza.
Nadia memandang Reza dengan tatapan tajam. Ia takut kalau Reza ada rasa dengannya. Nadia tak ingin jika nanti ia menyakiti hati Reza. Karena sesungguhnya Nadia sudah mempunyai idaman hati. Ia adalah Khafi. Orang yang membantunya di pasar.

“Aneh kenapa, emangnya aku dakocan apa?” sindir Nadia.
“Nadia! Jangan bicara begitu sama Reza. Bagaimanapun dia adalah…” bentak Pak Kyai namun, kata-katanya terputus.
“Dia apa bi?” tanya Nadia.
“Tidak apa-apa, sekarang kamu kembali ke pondok. Kasihan santri-santriwati yang sudah menunggu. Sana cepat,” kata Pak Kyai kepada Nadia.

Karena takut, Nadia pun segera pergi ke pondok tempatnya mengajar. Sedangkan Reza sengaja Pak Kyai tidak suruh mengajar karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Pak Kyai mempersilahkan Reza duduk.

“Maaf Pak Kyai, ada apa ya??” tanya Reza.
“Begini nak, saya rasa kepemimpinan saya di pondok ini sudah habis. Saya ingin nak Reza menggantikan saya,” jelas Pak Kyai.
“Bukannya ada Nadia?” tanyanya Ragu.
“Ya memang, saya ingin kalian berdua mengurus pondok ini bersama. Saya mau kalian menikah,” kata Pak Kyai mengagetkan Reza.
“Tapi maaf pak, sepertinya tidak mungkin saya menikah dengan Nadia,” jelas Reza.
“Lho, memengnya kenapa nak?” Tanya Pak Kyai.
“Begini Pak, kemarin saya lihat Nadia sedang bicara sama Khafi, anaknya Pak Samsudin. Saya rasa Nadia suka sama dia. Jadi saya tidak bisa menikah sama Nadia,” jelas Reza.
“Jadi begitu,” kata Pak Kyai singkat.

Tiba-tiba seorang santri datang dengan terburu-buru. Ia mengatakan kalau Pak Samsudin dan putranya datang ke pondok.

“Baik nak, persilahkan mereka masuk,” kata pak kyai.

Santri tersebut segera memprsilahkan Pak Samsudin dan Khafi masuk untuk menghadapnya. Reza merasakan hatinya tak tenang dangan kedatangan Keluarga Pak Samsudin.

“Assalamualaikum,” sapa Pak Samsudin dan Khafi.
“Wa’alaikumsalam, silahkan masuk,” jawab Pak Kyai.
“Terimakasih Kyai,” kata Pak Samsudin.
“Ada perlu apa ini Pak Samsudin?” tanya Kyai.
“Begini Kyai, kedatangan saya kemari bermaksud melamar putri Kyai, Nadia,” jawab Pak Samsudin.
“Pak Kyai saya permisi dulu,” kata Reza.
“Baiklah nak, oh iya. tolong nanti jam 4 sore kamu kesini lagi,” kata Pak Kyai.
“Baik Kyai,” kata Reza.

Reza memang merasakan hatinya berkecamuk tak karuan. Sepertinya ia merasakan suatu hal yang membuatnya tak nyaman. Benar saja, ia memang cemburu dengan Khafi. sudah sejak lama memang Reza mempunyai perasaan pada Nadia. Tapi, ia takut kalau nantinya akan membuat hati Nadia sakit karena kenakalannya dulu. Sekarang ini, Reza sedang meratapi nasibnya. Orang yang ia sayangi akan menikah dengan orang lain.

Nadia telah selesai mengajar murid-muridnya dan segera menuju kediaman Abinya. Ia sudah tahu bahwa Khafi telah datang untuk melamarnya. Wajahnya begitu berseri mengetahui hal tersebut.

“Assalamualaikum,” sapa Nadia.
“Wa’alaikum salam,” jawab seluruh orang di rumah Pak Kyai.
“Nadia sini nak,” panggil Pak Kyai.
“Baik Abi. Nadia, apa kamu mau terima lamaran Khafi?” tanya Pak Kyai.
“Nadia mau Abi,” jawab Nadia.

Rasa bahagia yang sangat besar terlihat dari wajah Nadia dan Khafi. tapi justru rasa sedihlah yang berada di hati Reza. Reza adalah sosok yang sagat tegar. Dahulu memang Reza sosok yang nakal. Tapi seiring berjalannya waktu. Reza menjadi orang yang bijak dan tanggung jawab.

Sore ini Reza sudah bersiap-siap menuju kediaman Kyai Ahmad. Reza memang pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Tapi, tidak dengan Kyai Akmad. Ia bisa mengetahui jika Reza sedang sedih.

“Nak, nagaimana perasaanmu saat ini. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Kyai Ahmad.
“Baik Kyai, memangnya ada apa Kyai?” tanyanya kembali.
“Jadi begini, saya dan Abi kamu sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dan Nadia. Waktu itu, Abi kamu menjenguk kamu. Tapi kamu marah karena abimu menggendong Nadia. Sebenarnya, waktu itu saya dan abi kamu sedang membicarakan rencana perjodohan kamu dan Nadia,” jelas Kyai Ahmad. “Dan saya mohon sama kamu, kamu jangan panggil saya Kyai. Saya ingin kamu panggil saya Abi,” tambah pak kyai.
“Tapi, saya tidak mungkin mengganggu hubungan Nadia dengan Khafi Kyai, maksud saya Abi. Biarlah Bi Allah yang menentukan. Saya yakin jika Nadia bahagia bersama Khafi. Saya juga bahagia jika Nadia bahagia Bi,” jelas Reza. “Hanya Allah Bi yang tahu jodoh saya, Nadia ataupun Khafi. Makanya Reza serahkan urusan ini pada Allah,” tambah Reza.
“Saya tahu bagaimana perasaanmu pada putri abi yang sebenarnya. Kejar dia jika kamu benar-benar menyayanginya. Jujur, sebenarnya abi kurang suka dengan Khafi. Tadi saat dia datang, tak ada sopan-sopannya. Bahkan saya lihat matanya juga jelalatan melihat santriwati-santriwati yang lewat,” kata Kyai.
“Tapi, saya tidak mungkin merebut Nadia yang jelas-jelas sudah di khitbah oleh Khafi. Saya tidak ingin, hubungan saya dan Nadia kembali memburuk,” kata Reza.
“Semua terserah padamu, jika kamu tidak ingin Nadia tersakiti nantinya perjuangkan dia tapi jika kamu tetap ingin nadia tersakiti, ya kamu biarkan saja dia menikah dengan Khafi,” ucap Kyai Ahmad tersenyum.

Waktu terus berlalu, sekitar 2 minggu lagi, akan dilaksanakan pernikahan Nadia dan Khafi. Pagi ini, Khafi mengajak Nadia untuk fitting baju pengantin yang akan dikenakan esok. Khafi sudah menunggu Nadia untuk segera berangkat. Ia menggunakan mobil sedan keluaran terbarunya. Setelah selesai menunggu Nadia, Khafi segera menancap gas menuju boutique langganan keluarganya. Namun, saat melewati jalan yang sepi, ia kehilangan kendali. Ia menambah kecepatan mobilnya dan tak menyadari jika ada truk di depan. Hingga terjadilah kecelakaan yang menyebabkan Khafi meninggal di tempat dan Nadia Kritis.

Saat kejadian itu terjadi, hati Reza saat itu benar-benar takut. Ia segera melaksanakan shalat duha saat itu juga. Ia juga melantunkan doa memohon keselamatan untuk Nadia. Entah mengapa hari ini ia benar-benar memiliki firasat yang buruk. Sampai panggilan Kyai Ahmad menghentikan kegiatannya. Ia segera menghampiri Kyai Ahmad yang sangat khawatir.

“Asaalamuallaikum Kyai ada apa?” Tanya Reza.
“Nak, kalau kamu tidak keberatan, tolong antarkan umi dan Abi ke Rumah Sakit Bakti Husada. Nadia dan Khafi tadi kecelakaan,” pinta Kyai Ahmad
“Inalillahi, baik Kyai saya siapkan mobil sebentar,” ucap Reza tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Setelah sampai ke RS. Kyai Ahmad segera menanyakan ruangan Nadia. Ia juga mendapat informasi yang membuat hatinya sedih. Khafi meninggal di lokasi kecelakaan. Saat itu pula Reza bingung setelah Nadia siuman nanti, bagaimana caranya menjelaskan keadaannya nanti. Reza benar-benar frustasi saat itu. Ia segera bergegas menuju mushola RS. Dan mengadukan perasaannya sekarang pada sang pemilik Kehidupan.

Di suatu tempat yang sangat luas, Nadia terduduk seorang diri. Ia seperti menunggu seseorang menjemputnya. Di tempat itu pula Nadia melihat seseorang mendekatinya dan memintanya untuk berbahagia dengan orang yeng benar-benar menyayanginya. Ya, ia Khafi, ia sangat ingin melihat Nadia bahagia bersama dengan Reza.

“Nadia, mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama, berbahagialah dengan orang yang benar-benar menyayangimu. Ia akan segera datang menjemputmu,” pinta Khafi.
“Tidak mas, kamu sumber kebahagiaanku. Kamulah orang yang aku sayangi,” isak Nadia.
“Kamu salah, rasa cinta yang aku miliki untukmu adalah nafsu semata. Sedangkan rasa cinta orang yang akan menjemputmu adalah cinta hakiki,” kata Khafi. “Selamat tinggal Nadia,” lanjutnya.

Nadia terdiam beberapa saat, perlahan ia mendengar suara orang melantunkan ayat suci Al Quran. Nadia seperti mengnal suara tersebut, namun ia tak memiliki ingatan sama sekali mengenai suara indah tersebut. Ia memandang di sekitarnya. Tak beberapa lama datang seseorang dengan wajah bercahaya menghampirinya dan mengajaknya pulang.

Reza terus membacakan doa-doa supaya Nadia cepat sadar dari komanya. Saat ini ia berada di ruang rawat Nadia. Bersama dengan Kyai Ahmad dan Bu Nyai. Ia terus melantunkan ayat-ayat suci yang tertulis di Al-Quran saku yang ia miliki.

“Umi..” kata nadia cercekat. Reza segera menyudahi bacaannya.
“Alhamdulillah Nadia,” ucap syukur Abi, Umi, dan Reza.
“Tunggu sebentar, Umi panggilkan dokter,” kata Bu Nyai.

Bu Nyai meninggalkan ruang rawat Nadia. Di ruang itu, Reza tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Nadia benar-benar telah kembali. Kyai Ahmad hanya tersenyum menatap kebahagiaan Reza. Dia ingat benar rasa takut Reza akan kehilangan orang yang begitu Reza cintai.

“Nadia, Abi ingin bicara serius dengan Kamu dan Reza. Boleh?” Tanya Kyai Ahmad.
“Boleh bi,” ujar Nadia.
“Begini nak, Abi dan Umi ini kan sudah tua. Abi rasa sekarang ini saatnya abi berhenti dari kursi kepemimpinan abi. Abi ingin kamu dan Reza meneruskan perjuangan Abi dan Umi, Abi berharap kalian dapat menikah,” jelas Abi tegas.
“Tapi Bi, bagaimana dengan Mas Khafi?” Tanya Nadia.
“Kamu ingat kecelakaan yang menimpamu. Kecelakaan itu pula yang merenggut nyawa Khafi. Setelah diselidiki oleh polisi itu semua juga karena kecerobohannya,” kata Kyai Ahmad.” sekarang bagaimana apa kamu mau menikah dengan Reza?” Tanya Kyai Ahmad
“Nggak mungkin bi, Nggak mungkin Mas Khafi meninggal,” histeris Nadia.
“Maaf Nadia. Tapi itu kenyataannya. Aku menemukan amplop ini tiga hari setelah kecelakaan itu. Aku belum sama sekali membukanya,” kata Reza menyerahkan amplop yang berada di sakunya.

Perlahan Nadia membuka Surat itu. Hanya beberapa kalimat tetapi sangat membuat hatinya bergetar hebat. Isakannya semakin kuat.

Untuk Nadia,

assalamualaikum wr.wb
Mungkin saat kamu baca surat ini aku sudah tidak ada di sampingmu. Aku sadar atas perbuatan ku dahulu yang terkesan melecehkanmu. Aku sudah sadar jika cinta yang aku miliki bukanlah cinta yang hakiki dari Allah. Selama ini aku hanya terpaku pada cinta buta yang jelas-jelas itu berdosa. Maafkan Aku Nadia. Semoga engkau bahagia bersama Reza. Aku tau dia sangat mencintaimu.

Khafi

Nadia terlihat anggun mengenakan kebaya putih longgar karena ia tak ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya pada siapapun kecuali suaminya nanti. Ia sedang menunggu saat-saat yang paling mendebarkan. Saat dimana ia akan menjadi seorang istri.

‘SAH’ kata itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Sekarang, dituntun Resya dan Sasya sahabat dari ia kecil. Nadia berjalan anggun menyusuri lantai masjid yang digunakan sebagai tempat ijab qobul. Ia menghampiri sang suami yang memandangnya sembari tercenyum penuh cinta. Nadia meraih tangan kanan Reza dan menciumnya ta’zim. Setelah Nadia mencium tangan suaminya, Reza mencium dahi Nadia penuh cinta.

Acara pernikahan yang sebenarnya antara Nadia dan Khafi dibatalkan. Hingga sekarang yang ada hanyalan pernikahan Nadia dan Reza. Raut bahagia tak luput dari pandangan kedua pihak keluarga.

4 tahun pernikahan telah berlalu. Kini mereka dikaruniai seorang putra yang tak kalah tampan dari Reza yang diberi nama Muhammad Zainal Mustofa.

“Assalamualaikum,sayang,” sapa seseorang yang tak asing bagi Nadia. Ia Reza Suaminya.
“Wa’alaikumsalam, Mas Reza darimana. Nadia cari kemana-mana nggak ketemu,” Nadia menjawab salam suaminya dengan manja.
“Maafkan Mas Nad, tadi mas dari masjid bantu-bantu buat penajian besok,” kata Reza cekikikan. Ya, memang Reza seseorang yang tampan dan beruntung bisa mendapatkan seorang istri secantik dan sesolehah Nadia.
“Oh, pantas saja Nadia cari-cari nggak ketemu, tapi apa yang dibawa Mas?” tanyanya pada suaminya.
“Ini, tadi sebelum Mas bantu-bantu abang pergi ke pasar dulu. Mas lihat ada jilbab ini, lantas Mas beli kerudung ini. Mudah-mudahan saja cocok buat Nadia,” jawab Reza singkat. “Mas ke dalam dulu Nad,” lanjutnya.
“Mas Nadia pengen jalan-jalan. Nadia bosan di kamar terus,” ucapnya manja menginggat memang akhir-akhir ini ia memang sangat mudah lelah. Apalagi tadi pagi ia mengalami mual hebat sehingga asupan makanan yang dimakannya keluar semua.
“Memangnya mau jalan ke mana?” Tanya Reza.
“Abi…” panggil seorang anak kecil.
“Aduh Anak abi udah besar tapi masih saja manja,” ledek Reza.
“Yang manja tuh Umi. Dari tadi pagi waktu Abi ikut bersih-bersih mushola. Umi mual-mual terus bi,” ucap Zainal polos. Walaupun baru berusia 3 tahun, Zainal sudah sangat fasih jika berbicara. Para santri santriwati saja sampai kewalahan jika ada jadwal piket bersih ‘ndalem’. ainal yang tak berhenti untuk mengajak mereka bicara.
“mual? Kamu sakit Mi?” Tanya Reza
“Enggak kok Bi, Cuma kayaknya ada yang aneh deh bi,” kata Nadia menginggat. “Asthagfirullah Bi, bulan ini aku nggak haid bi,” lanjut Nadia berbisik pada Reza.
“Maksud kamu? Bisa jadi kamu Hamil?” Tanya Reza. Nadia, mengangguk.
“Udah kamu Cek?” tanyanya lagi.
“Belum bi, apa kita ke dokter?” Tanya Nadia.
“Ya sudah ayo!! Aku nggak mau kejadian waktu kamu mengandung Zainal terulang lagi”ajak Reza.

Raut bahagia tak mampu Reza sembunyikan lagi. Ia benar-benar bahagia mendengar ucapan Dokter bahwa Nadia hamil putranya yang ke dua, bahkan diperkirakan kali ini putranya kembar. Reza membelokkan mobilnya ke taman bermain karena tak kuasa menolak permintaan putranya yang terus merengek minta jalan-jalan.

“Terimakasih, sudah menjadi Istri dan Ibu dari anak-anakku Nadia. Aku mencintaimu karena Allah,” ucapnya kemudian mengecup puncak kepala Nadia.
“Iya. terimakasih juga telah menjadi Suami dan Ayah bagi anak-anakku mas. Aku pun mencintaimu karena Allah,” ucap Nadia membalas perkataan Reza.

Cerpen Karangan: Rizky Khorina Firdausi
Blog / Facebook: Rizky Khorina Kiki

Cerpen Pesantren In Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Ibu Dan Harapan Khasanah

Oleh:
Semua orang menyayanginya. Guru, temannya, serta anak-anak kecil dan para orang-orang tua di tempat tinggalnya. Namanya adalah Teuku. Seseorang yang memiliki postur tinggi tegap, hidung mancung, dan wajah tampan

Sarwani

Oleh:
“Afwan akh, ana tidak bisa menerima khitbahnya. Ana…” Sarwani tak mampu lagi melanjutkan membaca pesan itu. Membaca awalnya saja sudah membuat hatinya remuk redam tak karuan. Dia menghela napas

Cinta Atas RidhoNya

Oleh:
“San, kamu sudah cukup umur Le. Apa belum ada wanita yang sreg di hatimu?” tanya Ummi Husna pelan. “Masih belum siap lahir batin Ummi. Hasan ragu, apakah ada wanita

Memendam Cinta 3 Tahun

Oleh:
3 tahun sudah aku memendam perasaan cinta dan kagum pada seorang kakak kelas yang kini telah lulus dari SMK, aku berharap 3 tahun ini aku bisa melalui masa-masa sekolahku

Assalamualaikum Cantik

Oleh:
Kilauan sinar matahari yang masuk ke kamarku memaksaku untuk membuka mata ini, padahal mataku masih enggan untuk dibuka. Seperti biasa ketika bangun tidur, aku selalu membuka jendela kamarku untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *