Puisi Terakhir Syahrul Untuk Alya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 19 August 2019

Namaku Alyani Deanita Azhar biasa dipanggil Alya atau Dea tapi di rumah aku akrab dipanggil Alya. Umurku 15 tahun aku baru saja lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negeri dan alhamdulillah aku sudah bisa melanjutkan pendidikanku di Madrasah Aliyah Negeri di Bandung dan sekarang aku sudah 2 bulan bersekolah di sana.

Hari ini aku dan kakakku Fariz yang umurnya beda jauh yaitu 6 tahun dan sekarang Kak Fariz berkuliah di Universitas islami di Kota Bandung. Keluargaku sangat islami dan religius sekali tidak beribadah bisa bisa umi dan Abi marah kepada kami. Karena ibadah itu penting untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Hari ini seperti biasa umi menyiapkan sarapan untuk aku, abi dan Kak Fariz, tapi hari ini aku tidak sempat sarapan karena aku ada jadwal piket yang harus dikerjakan 10 menit sebelum masuk kelas. Aku segera berpamitan pada umi dan abi “Mi, bi Alya berangkat dulu yah udah telat. Assalamua’laikum!” ucap salamku pada umi dan abi. “Alya tapi kamu belum sarapan nak!” teriak umi. “Gak papa, mi nanti Alya sarapan di sekolah aja!” balasku yang sudah berada di luar rumah dan segera bergegas berangkat. “Riz, adikmu itu sama persis seperti kamu waktu SMA dulu, disiplin waktu!” Sindir Abi pada Kak Fariz “Apaan sih bi, emang seharusnya kan kita harus disiplin waktu” kata Kak Fariz. Abi hanya tertawa kecil melihat Kak Fariz berkata seperti itu.

“Riz, nanti antarkan bekal ini ke sekolah adikmu, umi takut dia lupa sarapan!” kata umi sembari menyiapkan nasi goreng spesial kesukaan Alya. Kak Fariz hanya mengiyakan saja.

Hari ini aku sedikit telat karena sekolahku cukup jauh dari sekolah. “Al, tumben kamu telat 2 menit tak seperti biasanya” kata Dinda teman sebangkuku selama ini. “Tau atuh sekolah sama rumah cukup jauh jaraknya tapi harap dimaklum aja hehe” kataku dengan candaan khas dan logat Sundaku. Dinda hanya mengiyakan saja karena dia sudah tahu sifatku yang suka bercanda. “Ya udahh tuh sekarang kamu yang piket, aku mah udah dari tadi” suruh Dinda padaku. “Iya, dindot sayang” aku sedikit meledeknya “ih, kamu mah gitu!” Kata Dinda dengan wajah cemberut “Yeh, gitu aja marah” kataku sambil menyapu lantai yang kotor.

Tiba tiba aku tak sengaja menabrak teman sekelasku karena ku tak melihat dulu apa yang ada di depanku “Aduh!” kataku sambil memegang hidungku yang kena benturan dengan Syahrul, teman sekelasku yang sangat pandai dalam membuat puisi tapi dia agak pendiam tapi seketika ia sering bersuara di depan Alya dan diam diam ia menulis puisi untuk Alya dan katanya Syahrul memendam rasa suka padanya. Syahrul hanya terdiam dan tidak berkata apapun dia langsung menuju kursi tempat ia duduk. “Eh, bukannya minta maaf malah pergi gitu aja!” ucapku dengan nada agak tinggi. Tak ada respon dari Syahrul ia malah mengeluarkan buku catatannya, dan menulis kata demi kata.

“Syahrul bukannya kamu piket yah hari ini?” kata Dinda yang tak lain adalah seksi kebersihan di kelasku “Biar Alya aja yang piket aku mah ntar pulangnya” kata Syahrul yang tadinya tidak pernah bersuara tapi kini dia mengeluarkan kata kata yang sontak membuatku kesal. “Enak banget kamu jawab ntar pulang ntar pulang yang ada malah kabur, aku lagi yang piket” kesalku pada Syahrul. “Bawel banget sih kamu” balas kesalnya padaku “eh bawel gini juga aku mah ngingetin, ya udah sekarang kamu yang piket!” pintaku pada Syahrul. “Terusin aja piketnya nanggung tuh!” ucap Syahrul sembari menunjukkan lantai yang kotor “Ihh, kamu yah..” aku hampir saja menonjok muka Syahrul dan memandang wajahnya dan Syahrul terdiam ketakutan. Aku teringat ucapan umi padaku kalau memandang laki-laki yang bukan mahrom itu merupakan zina mata.

Tiba tiba datang seorang laki laki bertubuh tinggi di teras kelas yang tak lain adalah Kak Fariz tapi aku tidak menyadarinya “Assalamualaikum” ucap Kak Faris “Walaikumsalam” jawab Dinda. “Walaikumsalam” lanjut Syahrul dengan muka ketakutan menatap ke arah Kak Fariz. Aku pun heran mengapa Syahrul menjawab salam padahal di sini hanya ada aku dan Dinda “Eh, Syahrul kamu jawab salam dari siapa?” tanyaku pada Syahrul dengan sinis “itu siapa yang di depan” jawab Syahrul sembari menunjuk Kak Fariz. Aku pun kaget melihat Kak Fariz ada di teras kelas “Eh, Kakak” ucapku sembari tersipu malu.

Lalu aku menghampiri Kak Fariz dan menanyakan mengapa ia datang ke sekolahku “Kak, kakak ngapain ke sini?” tanyaku pada Kak Fariz “Ini Kakak mau nganterin bekal sekolah buat kamu soalnya tadi kamu gak sempet sarapan, nih!” jelas Kak Fariz sembari menyodorkan bekal. “Kamu lagi ngapain sih? Kok tatapan mata gitu bukan mahram tau” tanya Kak Fariz dengan rasa curiga “Ih, alya tau tapi jangan bilang umi yah!” bisikku pada Kak Fariz “Iya, gak bakalan tapi kalau Abi gak papa kan?” kata Kak Fariz. “Ih jangan juga” pintaku “Ya udah kakak berangkat dulu yah! takut telat, Assalamualaikum” Ucap Kak Fariz “Walaikumsalam” jawabku yang sambil menuju kursiku dan segera duduk.

Cerpen Karangan: Eva Fadilah

Cerpen Puisi Terakhir Syahrul Untuk Alya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jilbab Untuk Dara

Oleh:
Pagi itu suasana sekolah begitu asri dengan sinar matahari yang mulai menyinari muka bumi ini secara perlahan, jajaran-jajaran gedung yang berdiri kokoh menambah elok keindahan kota ini. Setiap pagi,

Dibalik Alasan

Oleh:
Senyumku masih berseri-seri, mengingat tentang kebersamaan aku dan Ka. Di senja yang indah kemarin sore, betapa tampannya Ka dengan stylean Ka yang terlihat modern menemuiku di rumah. Ka meminta

Dia Cemburu

Oleh:
“Happy anniversary, sayang.” Ujar sosok di belakangku tiba-tiba. “Hah, kita kan udah.” Aku gak enak meneruskan kata berikutnya tapi sosok yang kini di depanku sambil membawa tart berbentuk hati

I’m Here For You

Oleh:
“hoamm…” tubuhku menggeliat meregangkan otot-otot. Selimut tebal masih melingkati dan menutupi badanku. Aku masih merasakan kantuk yang mendalam… Tapi apa boleh buat, aku harus bangun. Walaupun masih terasa sangat

Sosok Dalam Bayang

Oleh:
Sinar mentari mulai menaik ke ubun-ubun. Aisy menepi. Duduk di pinggiran teras musala sembari menunggu panggilan zuhur memanggil. Hanya dirinya sendiri. Tidak sepenuhnya benar sendiri, karena ditemani khayalan aneh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *